SYARAH BUKHORI KITAB GHUSUL BAB 2 SUAMI ISTRI MANDI BERSAMA

March 1, 2014 at 3:01 pm | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

بَابُ غُسْلِ الرَّجُلِ مَعَ امْرَأَتِهِ

Bab 2 Seorang Mandi Bersama Istrinya 

Penjelasan :

Imam al-‘Ainiy dalam “Umdahtul Qoriy”  berkata :

أي هذا باب في بيان حكم غسل الرجل مع امرأته من إناء واحد  وجه المناسبة بين أبواب هذا الكتاب أعني كتاب الغسل ظاهر لأن كلها فيما بتعلق بالغسل وما يتعلق بالجنب

“yaitu bab ini menjelaskan hukum mandinya seorang suami bersama istrinya dalam satu bejana. Sisi kesesuaian diantara bab-bab kitab mandi ini adalah sangat jelas, karena semua yang berkaitan dengan mandi dan junub dibahas disini”.

Adapun berkaitan dengan hukum airnya telah berlalu penjelasannya dalam kitab wudhu –walhamdulillah-.

Berkata Imam Bukhori :

250 – حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: «كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، مِنْ قَدَحٍ يُقَالُ لَهُ الفَرَقُ»

3). Hadits no. 250

“Haddatsanaa  Adam bin Abi Iyaas ia berkata, haddatsanaa Ibnu Abi Dzi’b dari az-Zuhriy dari Urwah dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha beliau berkata : “aku bersama Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam mandi dari satu bejana yang disebut al-Faroq”.

Diriwayatkan juga dalam Shahih Muslim no. 319.

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua perowinya telah berlalu keterangannya

Penjelasan Hadits :

1. Al-Faroq adalah bejana yang dapat menampung air sebanyak 2 shoo atau 3 shoo, bahkan Al Hafidz Ibnu Hajar menulis bahwa Abu Ubaid menukil adanya kesepakatan ulama, volumenya adalah 3 shoo.

2. Al Hafidz menukil pendapat ad-Daawudiy tentang bolehnya seorang laki-laki melihat aurat istrinya, begitu juga sebaliknya. Syaikh Sholih al-Munajid dalam Fatawa Islam sual wa Jawab, berfatwa demikian :

السؤال :

هل يجوز للزوج والزوجة أن يستحما معا وينظر كل منهما إلى عورة الآخر ؟ قال لي أحدهم انه وقت الجماع يجب أن تكون الغرفة مظلمة تماما ولا يستطيع أحد الزوجين أن يخلع جميع ملابسه وقت الجماع فهل هذا صحيح ؟ اسأل الله أن يهدينا إلى الطريق المستقيم

الجواب:

الحمد لله .يجوز للمرأة أن تنظر إلى جميع بدن زوجها ويجوز للزوج أن ينظر إلى جميع بدن زوجته دون تفصيل لقوله تعالى { والذين هم لفروجهم حافظون إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون }. ( فتاوى المرأة) لابن عثيمين (121) .

وقد روى البخاري في الصحيح ” برقم (250).عن عائشة قالت كنت أغتسل أنا والنبي صلى الله عليه وسلم من إناء واحد .

قال الحافظ في “الفتح” (1/364) : واستدل به الداودي على جواز نظر الرجل إلى عورة امرأته وعكسه ويؤيده ما رواه ابن حبان من طريق سليمان بن موسى أنه سئل عن الرجل ينظر إلى فرج امرأته فقال : سألت عطاء فقال سألت عائشة فذكرت هذا الحديث بمعناه ، وهو نص في المسألة والله أعلم . انتهى

قلت : وأما ما ينسبه البعض إلى النبي صلى الله عليه وسلم من كراهية أن ينظر الرجل إلى فرج زوجته فلا يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم ، ومن ذلك ما يروى عن ابن عباس وأبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إذا جامع أحدكم فلا ينظر إلى الفرج فإنه يورث العمى ، ولا يكثر الكلام فإنه يورث الخرس . قال ابن الجوزي : موضوع . انظر “الموضوعات “لابن الجوزي (2/271-272) . والله أعلم

Soal : Bolehkah sepasang suami-istri mandi bersama dan saling melihat auratnya satu sama lain? Salah seorang berkata kepadaku bahwa pada waktu berhubungan badan, wajib untuk melakukannya di kamar yang sangat gelap, tidak perlu sepasang suami-istri melepaskan seluruh pakainnya waktu berjima’, apakah ini benar? Aku memohon kepada Allah untuk memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus.

Jawab :

Alhamdulillah. Diperbolehkan seorang istri melihat seluruh badan suaminya dan seorang suami melihat seluruh badan istrinya, tanpa ada pembatasan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

“dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al Mu’minuun : 5-7). (Fatawa al Mar’ah liibni Utsaimin hal. 121).

Imam Bukhori meriwayatkan dalam shahihnya (no. 250) dari Aisyah bahwa beliau berkata : “aku bersama Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam mandi dari satu bejana yang disebut al-Faroq”. Al Hafidz dalam “al-Fath” (1/364) berkata : ‘ad-Daawudiy berdalil dengan hadits ini atas bolehnya seorang suami melihat aurat istrinya dan sebaliknya, hal ini dikuatkan dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari jalan Sulaiman bin Musa bahwa beliau ditanya tentang seorang suami yang melihat kemaluan istrinya, maka ia menjawab : ‘aku pernah bertanya kepada ‘Athoo’ (persis seperti ini –pent.), maka beliau menjawab, aku bertanya kepada Aisyah, lalu disebutkan hadits ini dengan maknanya. Maka ini adalah nash dalam masalah ini, Wallahu A’lam’ -selesai-.

Aku berkata, adapun apa yang disandarkan oleh sebagian orang kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, bahwa Beliau membenci seorang suami melihat kemaluan istrinya, maka tidak shahih dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, diantaranya adalah apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhumaa bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “jika kalian berhubungan badan, maka jangan melihat kemaluan, karena akan mewariskan kebutaan dan jangan banyak bicara, karena akan mewariskan kebisuan”. Ibnul Jauzi berkata, hadits palsu. (lihat al-Maudhuu’aat liibnil Jauzi (2/271-272)). Wallahu A’lam.

3. Keharmonisan rumah tangga Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam yang terkadang mandi bareng istrinya, setelah berhubungan badan. Hendaknya suami-istri melakukan hal ini agar melanggengkan cinta kasih diantara mereka. Dan pergaulan yang baik dengan istri adalah termasuk salah satu akhlak yang mulia. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

أكْمَلُ المُؤمِنِينَ إيمَاناً أحْسَنُهُمْ خُلُقاً ، وخِيَارُكُمْ خياركم لِنِسَائِهِمْ

“Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling bagus akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik (pergaulannya) dengan istri kalian” (HR. Tirmidzi, dikatakan oleh Imam Tirmidzi sendiri sebagai hadits hasan shahih).

4. Boleh menceritakan keharmonisan rumah tangga, asalkan tidak secara vulgar, selama bertujuan untuk memberikan pelajaran bagi orang lain.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: