TAWASUL DENGAN JAH NABI

March 14, 2014 at 12:47 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

TAWASUL DENGAN JAH (KEHORMATAN) DIRI NABI SHOLALLAHU ALAIHI WA SALAM DAN ORANG-ORANG SHOLIH

 

Komisi tetap untuk pembahasan dan fatwa pemerintah Saudi Arabia, yang waktu itu diketuai oleh Samahatus Syaikh Bin Baz –Rokhimahullah- pernah ditanya dengan pertanyaan berikut :

Soal : seorang Muslim yang bersyahadat bahwa tidak ada ilaah yang berhak diibadahi, selain Allah dan Muhammad Rasulullah, ia berkata dalam doanya : ‘Yaa Allah berikan kepadaku demikian demikian, berupa kebaikan dunia dan akhirat dengan Jahnya Nabi sholallahu alaihi wa salam atau keberkahan Rasul, atau kehormatan al-Musthofa atau Jahnya Syaikh at-Tijaaniy atau keberkahan Syaikh Abdul Qodir atau kehormatan Syaikh as-Sanuusiy’. Maka bagaimana hukumnya?

Jawab :

Barangsiapa yang bertawasul kepada Allah dalam doanya dengan jahnya Nabi sholallahu alaihi wa salam atau kehormatannya atau keberkahannya atau jah selain Nabi sholallahu alaihi wa salam dari orang-orang sholih atau kehormatannya atau keberkahannya, ia berkata misalnya : ‘Yaa Allah dengan Jahnya Nabi-Mu atau kehormatannya atau keberkahannya, berikanlah daku harta dan anak, masukkan aku kedalam surga dan pelihara daku dari azab neraka’. Maka orang tersebut bukan musyrik yang dapat mengeluarkan dari keislaman, namun perkara ini dilarang dalam rangka tindakan pencegahan jatuh kedalam kesyirikan dan menjauhkan seorang Muslim melakukan sesuatu yang dapat menjerumuskannya kedalam kesyirikan.

Tidak ragu lagi bahwa tawasul dengan jahnya para Nabi dan sholihin adalah perantara diantara perantara-perantara kesyirikan yang mana hal ini terjadi setelah beberapa masa dan telah terbukti dan disaksikan dengan realita. Telah datang dalil-dalil yang sangat banyak dalam kitab dan sunnah yang menunjukkan dengan dalil yang pasti bahwa tindakan pencegahan kepada kesyirikan dan hal-hal yang haram adalah tujuan daripada syariat. Diantara dalil tersebut :

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS. Al An’aam : 108).

Maka Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa melarang kaum Muslimin mencela tuhan-tuhannya orang musyrik yang mereka ibadahi dari selain Allah, padahal perbuatan tersebut adalah batil, hal ini dalam rangka tidakan pencegahan agar orang musyrik tidak mencela Ilaah yang hak yaitu Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa, yangmana kaum musyrikin melakukannya dalam rangka membela tuhan mereka yang batil yang barasal dari kebodohan dan permusuhan.

Contoh lainnya lagi adalah larangan Nabi sholallahu alaihi wa salam menjadikan kuburan sebagai mesjid, khawatir untuk disembah. Contohnya lain, pengharaman seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita ajnabi, pengharaman seorang wanita menunjukkan perhiasannya kepada laki-laki ajnabi, pengharaman wanita keluar rumah dengan parfum, perintah laki-laki agar menundukkan pandangan dari perhiasan wanita dan perintah wanita untuk menundukkan pandangan mereka, semua hal tersebut adalah sebagai tindakan pencegahan kepada fitnah dan perantara terjadinya kekejian (perzinaan). Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya” (QS. An Nuur : 30-31).

Telah shahih dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa beliau bersabda :

“Allah melaknat Yahudi dan Nashroni, yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid”.

Karena tawasul dengan jah atau kehormatan dan semisalnya dalam masalah berdoa adalah ibadah dan ibadah adalah tauqifiyyah, sedangkan tidak ada dalil dari kitab dan sunah Rasul sholallahu alaihi wa salam, tidak juga dari para sahabat yang menunjukkan tawasul ini, maka diketahui bahwa hal ini adalah bid’ah. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak”.

 

Berikut teks aslinya :

س1: مسلم يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدًا رسول الله ويقول في دعائه: اللهم اعطني كذا وكذا من خيري الدنيا والآخرة بجاه النبي صلى الله عليه وسلم، أو ببركة الرسول، أو بحرمة المصطفى، أو بجاه الشيخ التيجاني، أو ببركة الشيخ عبد القادر، أو بحرمة الشيخ السنوسي فما الحكم؟

ج1: من توسل إلى الله في دعائه بجاه النبي صلى الله عليه وسلم أو حرمته أو بركته أو بجاه غيره من الصالحين أو حرمته أو بركته فقال: (اللهم بجاه نبيك أو حرمته أو بركته أعطني مالًا وولدًا أو أدخلني الجنة وقني عذاب النار) مثلًا فليس بمشرك شركًا يخرج عن الإسلام، لكنه ممنوع؛ سدًا لذريعة الشرك، وإبعادًا للمسلم من فعل شيء يفضي إلى الشرك، ولا شك أن التوسل بجاه الأنبياء والصالحين وسيلة من وسائل الشرك التي تفضي إليه على مر الأيام، على ما دلت عليه التجارب وشهد له الواقع، وقد جاءت أدلة كثيرة في الكتاب والسنة تدل دلالة قاطعه على أن سد الذرائع إلى الشرك والمحرمات من مقاصد الشريعة، من ذلك قوله تعالى: { وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } (1) فنهى سبحانه المسلمين عن سب آلهة المشركين التي يعبدونها من دون الله مع أنها باطلة؛ لئلا يكون ذلك ذريعة إلى سب المشركين الإله الحق سبحانه انتصارًا لآلهتهم الباطلة جهلًا منهم وعدوانًا،

ومنها: نهيه صلى الله عليه وسلم عن اتخاذ القبور مساجد؛ خشية أن تعبد، ومنها: تحريم خلوة الرجل بالمرأة الأجنبية، وتحريم إبداء المرأة زينتها للرجال الأجانب، وتحريم خروجها من بيتها متعطرة، وأمر الرجال بغض البصر عن زينة النساء، وأمر النساء أن يغضضن من أبصارهن؛ لأن ذلك كله ذريعة إلى الافتتان بها ووسيلة إلى الوقوع في الفاحشة، قال الله تعالى: { قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ }{ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ } (1) الآية . وثبت في الحديث أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: « لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد » (2) ؛ ولأن التوسل بالجاه والحرمة ونحوهما في الدعاء عبادة، والعبادة توقيفية، ولم يرد في الكتاب ولا في السنة الرسول صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه ما يدل على هذا التوسل، فعلم أنه بدعة، وقد قال صلى الله عليه وسلم: « من عمل عملًا ليس عليه أمرنا فهو رد » .

وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد ، وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو // عضو // نائب رئيس اللجنة // الرئيس //

عبد الله بن قعود // عبد الله بن غديان // عبد الرزاق عفيفي // عبد العزيز بن عبد الله بن باز //

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: