PEMBELAAN DARI SYAIKH ABDULLAH AL-BUKHORI KEPADA IMAM AL IJLI

March 31, 2014 at 12:44 pm | Posted in Mustholah Hadits | Leave a comment

PEMBAHASAN SEPUTAR TAUTSIQ IMAM AL IJLI

(Oleh Syaikh DR. Abdullah Al Bukhori dalam http://www.shahab.net)

 

Soal : Mengapa tautsiq Al’ijli tidak dianggap (tidak mu’tabar) ?

Jawab :

Sebelum menjawab pertanyaan ini, aku memandang pertanyaannya kurang tepat,  ketika penanya berkata “tidak mu’tabar”. Karena senantiasa para ulama dan para peneliti biografi perowi dari sisi jarh dan ta’dil, mereka semuanya menukil pendapat al-Hafidz Al’ijli, mereka memandang –sebagaimana akan datang penukilan dari sebagian mereka, dengan izin Allah- berkaitan sebagian pendapatnya apakah sesuai atau bertentangan (dengan ulama lain) dan ini adalah pembahasan lainnya. Seandainya penanya berkata : ‘apakah benar Imam Al’ijli disifati dengan tasaahul (gampang) mentautsiq atau hal tersebut tidak benar?’. Maka pertanyaannya lebih tepat dan jawabannya lebih jelas.

Termasuk perkara yang sangat disayangkan yakni telah tersebar diantara penuntut ilmu –khususnya yang perhatian terhadap ilmu hadits- ucapan tasahulnya al-‘Ijli, tanpa menelitinya lagi, namun mungkin mereka memiliki alasan! Yakni ketika mereka mendapatkan ucapan sebagian ulama kontemporer yang pakar dalam hal ini. Para ulama tersebut adalah orang yang memilki keutamaan dan telah mendapatkan 1 atau 2 pahala (karena ijtihadnya). Akan tetapi ketika memperhatikan dan menelitinya, maka perkara ini butuh penelitian besar berkaitan pendapat ini dan dalil-dalilnya, timbangannya adalah timbangan yang teliti yang penuh penjelasan atas dalil-dalil tersebut. Aku akan memaparkan –dengan izin Allah- orang yang mengatakan ucapan ini dengan dalilnya –jika ada- dan disana akan disebutkan pentarjihannya. Wallahul Muwafiq. Kembali kepada permasalahan, jawaban dari pertanyaan ada beberapa sisi :

 

yang pertama Pembukaan

Sebelum menjawab pertanyaan, alangkah baiknya untuk menyebutkan biografi Imam al-‘Ijli secara ringkas, sehingga kita mengetahui kedudukan beliau dalam ilmu hadits dan ilmu jarh wa ta’dil serta pujian ulama kepadanya, demikian juga kedudukan kitabnya berkaitan jarh wa ta’dil dikalangan ulama. Aku katakan :

  1.   Nama, nasab, kelahiran dan wafatnya

Beliau adalah Al Hafidz Abul Hasan Ahmad bin Abdullah bin Shoolih bin Muslim al-‘Ijli al-Kuufiy, tinggal di Thoroblus barat. Al-Khothiib al-Baghdaadiy berkata : ‘kufah asalnya, beliau tumbuh di baghdad, lalu belajar di Kufah dan Bashroh’. (Taariikh Baghdaad (4/214). Lahir pada tahun 182 H, menuntut ilmu hadits tahun 197 H, lalu meninggal pada tahun 261 H di Thorooblus (lihat sumber sebelumnya dan Siyar A’lamin Nubalaa’ (12/502).

  1.    Pujian ulama kepadanya

Al Hafidz Abul Hasan al-Lu’lu’iy berkata : ‘aku mendengat guru-guru kami di maghrib berkata : ‘tidak ada yang seperti Abul Hasan Ahmad bin Shooloh al-‘Ijli al-Kuufiy di negeri kami, tidak ada yang menyamainya pada zamannya berkaitan pengetahuan tentang hadits, kekokohan dan kezuhudannya’. (Taarikh Baghdaad (4/214).

Imam Yahya bin Ma’in berkata : ‘beliau tsiqoh anak tsiqoh anak tsiqoh’ (Taarikh Baghdaad (4/215).

Al Hafidz al-Waliid al-Andalusiy mengomentari ucapan Ibnu Ma’in : ‘hanyalah Ibnu Ma’in memberikan tazkiyah kepadanya, karena beliau mengenalnya di Irak, sebelum pindahnya Ahmad bin Abdullah al-‘Ijli ke Maghrib, al-‘Ijli sepadan dengannya dalam masalah hapalan, namun umurnya lebih muda. Al-‘Ijli pindah ke Maghrib pada saat masa-masa fitnah Ahmad bin Hanbal. Ahmad bin Abdullah al-‘Ijli ini lebih dulu menuntuy ilmu hadits dan lebih tinggi serta lebih utama sanadnya disisi penduduk Maghrib dalam masalah hadits, waro’ dan zuhud dibandingkan Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhori. Al-‘Ijli banyak haditsnya, pindah dari Kufah ke Irak, setelah mendalami ilmu hadits, lalu tinggal di Thorblus barat’. (Taarikh Baghdaad (4/215).

Al Hafidz Abbaas bin Muhammad ad-Duuriy, muridnya Imam Ibnu Ma’in berkata : ‘kami menganggap al-‘Ijli semisal Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in’ (Taariikh Baghdaad (4/214) dan Tadzkirotul Hufadz (2/561).

Al Hafidz Ali bin Ahmad bin Zakariyaa al-Athroblusiy berkata : ‘sesungguhnya Ibnu Ma’in dan Ahmad bin Hanbal mengambil hadits dari al-‘Ijli’ (Taarikh Baghdaad (4/214).

Al Hafidz al-Khothiib al-Baghdadiy berkata : ‘al-‘Ijli agamnya bagus, pindah ke negeri Maghrib, lalu tinggal di athroblus, bukan Athroblus yang ada di Syaam, lalu menyebarkan haditsnya disana (Taarikh Baghdaad (4/214).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah al-Harooniy dalam (Minhajus Sunah (1/66) berkata : ‘maksudnya disini adalah bahwa para ulama semuanya bersepakat atas kedustaan Rofidhoh dibandikan sekte-sekte lainnya dari kalangan ahlu kiblat. Barangsiapa yang memperhatikan kitab-kitab Jarh wa Ta’dil yang dikarang berkaitan nama-nama perowi dan kondisi mereka, seperti : kitab-kitabnya Yahya bin Sa’id al-Qohthoon, Ali ibnul Madiiniy, Yahya bin Ma’in, Al-Bukhori, Abu Zur’ah, Abu Haatim ar-Rooziy, an-Nasa’i, Abu Hatim ibnu Hibban, Abu Ahmad ibnu ‘Adiy, ad-Daruquthnu, Ibrohim bin Ya’quub, al-Jauzajaaniy, as-Sudiy, Ya’qub bin Sufyan, al-Fasawiy, Ahmad bin Shooilih al-‘Ijli, al-‘Uqoiliy, Muhammad bin Abdullah bin ‘Ammaar al-Maushuliy, Al-Haakim an-Naisaabuuriy, al-Hafidz Abdul Ghony bin Sa’id al-Azdiy al-Mishriy dan yang semisalnya dari para ulama yang bersungguh dan ahli kritik yang mahir terhadap kondisi-kondisi sanad, niscaya ia akan melihat dalam kitab-kitab mereka pendustaan kepada perowi Syiah lebih banyak dibandingkan perowi dari sekte lainnya.

Syiakhul Islam juga berkata (al-Minhaj (7/34-35) : ‘kami akan menyebutkan sebuah kaedah yakni apa yang dinukil oleh para ulama (tentang para perowi-pent) bahwa kebanyakan shoduq dan kebanyakan pendusta, maka rujukan dalam membedakan ini dan itu dikembalikan kepada ulama hadits, sebagaimana kita merujuk ulama Nahwu untuk membedakan nahwu arab dan nahwu bukan arab, kita merujuk kepada ulama bahwa untuk masalah apa yang merupakan bahasa dan bukan bahasa, demikian juga ulama syair dan pengobatan serta yang semisalnya. Setiap ilmu ada pakar yang mahir didalamnya. Ulama hadits lebih pakar dibandingkan para ulama lainnya, labih jujur dan lebih tinggi serta lebih baik agamanya. Mereka adalah sebesar-besarnya manusia dalam masalah kejujuran dan amanah, serta ilmu dan ketelitian. Mereka yang dikatakan sebagai ulama jarh wa ta’dil seperti : Maalik, Syu’bah, Sufyaan, Yahya bin Sa’id, Abdur Rokhman bin Mahdiy, Ibnul Mubaarok, Wakii’, asy-Syaafi’i, Ahmad, Ishaq bin Roohawiyah, Abu Ubaid, Ibnu Ma’in, Ibnul Madiiniy, al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Abu Zur’ah, Abu Hatim, an-Nasa’i, al-‘Ijli, Abu Ahmad ibnu Adiy, Abu Hatim al-Bustiy, ad-Daruquthni dan semisal mereka dari kalangan ulama jarh wa Ta’dil yang tidak bisa dibatasi, sekalipun sebagian mereka lebih pandai dibandingkan yang lain dan sebagian mereka lebih adil dibandingkan yang lain dalam timbangan ucapannya, sebagaimana manusia dalam masalah ilmu…’.

Al-Hafidz pakar sejarah Islam Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi berkata : ‘al-‘Ijli Imam Al Hafidz lagi Zuhud’ (Siyar A’lamin Nubalaa (12/505). Dalam (Tadzkirotul Hufadz (2/560) mengomentarinya : ‘Imam Hafidz panutan’.

Al-Hafidz ibnu Naashiruddin ad-Dimasyqiy berkata : ‘al-‘Ijli adalah Imam, hafidz, panutan, termasuk orang yang bersih, beliau dianggap seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in’ (Syadzrootu adz-Dzahab (3/266).

  1.    Kedudukan Kitab Jarh wa Ta’dilnya dikalangan Ulama

Sesunggunya kitabnya Al Hafidz al-‘Ijli dalam masalah jarh wa ta’dil adalah tulisan yang agung dan itu adalah kitab yang sangat besar manfaatnya, tinggi kedudukannya, dalam ungkapannya dan penuh manfaat dalam babnya. Telah terdahulu ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang menunjukkan keagungan kitab dan penulisnya, aku akan menambahkan ucapan ulama lainnya.

Al-Hafidz adz-Dzahabi berkata : ‘anaknya yang shoolih meriwayatkan dari Imam al-‘Ijli tulisan dalam masalah jarh wa ta’dil dan ini adalah kitab yang sangat bermanfaat yang menunjukkan keluasan hapalannya’ (Tadzkirotul Hufadz (2/560-561).

Adz-Dzahabi juga berkata dalam (as-Siyar (12/506) berkata : ‘beliau memiliki tulisan dalam jarh wa ta’dil, yang penuh dengan faedah yang menunjukkan ketelitian tulisannya dan keluasan hapalannya’.

Al-Hafidz Ibnu Naashiruddin ad-Dimasyqiy berkata : ‘kitabnya dalam jarh wa ta’dil menunjukkan atas keluasan hapalannya dan kekuatan penelitiannya’ (Syadzarootu azd-Dzahab (2/141).

Ash-Shofadiy berkata daam (al-Waafiy bil Wafiyaat (7/97) : ‘anaknya Shoolih bin Ahmad meriwayatkan darinya kitabnya Jarh wa Ta’dil, yaitu kitab yang penuh faedah yang menunjukkan amanah dan keluasan hapalannya’.

Ini sebagian penukilan tentang Imam al-‘Ijli dan kitabnya yang menunjukkan kepada anda ketinggian kedudukan beliau –Rakhimahullah- berkaitan dengan ilmu hadits yang mulia dan beliau termasuk pembesarnya ulama kritik dan ulama jarh wa ta’dil serta kedudukan kitab dan keutamaannya.

 

Apakah al-Hafidz al-‘Ijli Mutasaahil?

  1.     Apakah ada seorang Hufadz yang mensifati al-‘Ijli dengan tasaahul dalam masalah tautsiq atau tidak?

Aku jawab, saya belum menemukan satupun dari ulama dari kalangan Hufadz yang mensifati al-Hafidz al-‘Ijli dengan tasaahul atau bahwasanya beliau tidak bisa dipegangi tautsiqnya ketika bersendirian terhadap seorang perowi, kami tidak menemukan ucapan berkaitan hal ini.

Bahkan dengan melihat dan mengamati dengan jujur dari apa yang telah dinukilakan sebelumnya dari sebagian ulama –dalam biografi beliau yang panjang- yang menunjukkan pujian kepadanya dan bahwa beliau adalah seorang Imam dari Aimah ahli kritik dan pembesarnya Hufadz, bersamaan dengan agamanya yang kokok, waro’ dan zuhud. Beliau disamakan dengan Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, sedangkan keduanya adalah Aimah Ahlus sunnah dan hufadznya agama. Demikian pujian kepadanya tetap dan selalu mengirinya hingga masa mutaakhirin seperti Imam adz-Dzahabi dan Ibnu Naashiruddin dan selainnya, tidak ada yang seorang pun yang mensifatinya dengan Tasaahul.

Namun pada masa ini ada orang yang mensifati Imam al-‘Ijli dengan tasahul. Yang pertamakali saya temukan yang mensifati beliau dengan tasahul adalah al-‘Alamah al-Muhaddits Dzahabinya zaman sekarang yaitu Abdur Rokhman bin Yahya al-Mu’alimiy –Rokhimahullah- (w. 1386 H), beliau berkata dalam (at-Tankiil (1/66) : ‘al-‘Ijli mirip dengannya (Ibnu Hibban) dalam mentautsiq para perowi majhul yang terdahulu’. Dalam (al-Anwaarul Kaasyifah (h. 72) berkata : ‘tautsiq al-‘Ijli, aku mendapatinya melalui penelitian, seperti tautsiqnya Ibnu Hibban atau lebih luas lagi’. Dalam tahqiqnya terhadap (al-Fawaid al-Majmu’ah) ada beberapa catatan kaki, misalnya (no. 879/252-253), beliau berkomentar ketika disebutkan tautsiq Ibnu Hibban dalam kitanya (ats-Tsiqoot) dan ucapan al-‘Ijli Tabi’i tsiqoh : ‘adapun Ibnu Hibban, maka kaedahnya ma’ruf dan al-‘Ijli sepertinya atau bahkan lebih tasahul dalam mentautsiq at-Tabi’iin, sebagaimana diketahui dengan penelitian. (lihat juga no. 660/h. 202 dan no. 1354/418).

Yang mengatakan seperti ini juga Imam Muhaddits dunia Muhammad Naashiruddiin al-Albani –Rakhimahullah- di beberapa kitabnya, misalnya ucapan beliau didalam (Shahih Sunan Abu Dawud (7/no. 2345/361-al-Kitaabul Kabiir) setelah menukil tautsiq al-‘Ijli kepada seorang perowi, kata beliau : ‘mungkin berdasarkan ini, saya mengatakan bagusnya sanad hadits dalam ta’liqku atas (al-Misykah), yang demikian itu sebelum jelas bagiku bahwa al-‘Ijli mutasaahil dalam tautsiq seperti tasaahulnya Ibnu Hibban, maka Alhamdulillah atas petunjuknya’.

Beliau berkata juga didalam (Silsilah al-Ahaadits ash-Shohihah )2/no. 633/h. 218-219) : ‘al-‘Ijli maruf dengan tasaahul dalam tautsiq, seperti Ibnu Hibban secara sempurna, maka tautsiqnya tidak diterima jika menyelisihi ucapan Aimah yang terpercaya kritikan dan jarhnya’.  (lihat juga Silsilah al-Ahaadits Shohihah (6/jenis pertama dibawah no. 2750/hal. 572-573) dan (Silsilah al-Ahaadits adh-Dhoifah dan al-Maudhuu’ah (12/no. 5848/h. 760-761).

Demikian juga al-‘Alamah Muhaddits Yaman Mujaddid Muqbil bin Haadiy al Wadi’iy –Rakhimahullah- yang berkata dalam kitabnya (al-Muqtarih fii Ajwibah ba’du Asilah al-Mustholah (no. 32/37-38) dan pertanyaannya adalah tentang tautsiq al-‘Ijli dan sisi kemajhulannya?, maka beliau menjawab : (lihat website kami www.ikhwahmedia.wordpress.com).

Dari penukilan para ulama yang mulia, nampak jelas bahwa sebab mereka mensifati al-Hafidz al-‘Ijli dengan Tasaahul adalah :

  1.      Pentautsiqkan beliau kepada perowi yang tidak ada ucapan ulama lain yang mentautsiqnya.
  2.      Menyelisihi para Hufadz lainnya dalam penilaiannya kepada beberapa perowi yang mana beliau mentautsiqnya, sedangkan para ulama lain menyelisihinya, entah dengan mendhoifkannya atau memajhulkannya atau yang semisalnya dengan.

Jawaban terhadap kesimpulan ini adalah :

  1.      Telah terdahulu penjelasan kedudukan al-Hafidz al-‘Ijli dan keutamaannya dalam ilmu hadits dan beliau termasuk pembesarnya ulama kritikus, maka orang seperti ini tidak masalah kesendiriannya didalam mentautsiq perowi, maka apa perbedaan antara beliau dengan para Hufadz kritikus lainnya? Suatu sikap adil adalah bahwa para ulama kritikus yang lainnya yang menyendiri dalam ta’dil tidak ada yang mengkritiknya, bahkan terkadang mereka menyelisihi jumhur Hufadz dalam penilaian sebagian perowi. Maka menurut kami dapat diambil perkataan al-Hafidz al-‘Ijli, sebagaimana kami melazimkan juga mengambil perkataan para Aimah lainnya seperti Ahmad bin Hanbal, Bukhori, Yahya bin Ma’in, Ali ibnul Madiniy, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Abu Dawud dan selainnya, yang mana para Aimah tersebut juga tidak selamat (dari kesalahan). Waka wajib bagi orang yang bersikap obyektif untuk menganggap kritikan al-‘Ijli baik tautsiq maupun pendhoifan, selama tidak nampak hujjah dan petunjuk atas kesalahannya. Wallahul Muwafiq.
  2.      Penyelisihan al-‘Ijli terhadap ulama lainnya berkaitan penilaian seorang perowi, terhitung seperti ucapan ulama lain yang saling bertentangan dalam penilaian seorang perowi, pendapat-pendapat al-Hafidz al-‘Ijli terhadap seorang perowi tidak lepas dari 3 keadaan :
  3.    Beliau menyendiri dalam menilai seorang perowi baik pendoifan atau penta’dilan yang tidak ada ulama lain yang menilai seperti beliau, maka ini adalah penilaian terhadapnya dan wajib untuk dijadikan pegangan, yang mana menerimanya mengharuskan mengabaikannya, kecuali jika jelas bukti kekeliruannya.
  4.    Pendapatnya sesuai dengan para kritikus lainnya baik ta’dil maupun jarh, maka ini jelas diterima.
  5.    Pendapatnya menyelisihi kritikus lainnya, maka kami katakan disini, telah tetap keimamannya dan dianggap sebagai Imam kritikus, beliau disamakan dengan Imam Ahmad dan Imam Ibnu Ma’in, beliau lebih tinggi sanadnya dan lebih tua umurnya dibandingkan Imam Bukhori, sebagaimana telah terdahulu penukilan dari sejumlah ulama. Maka penyelisihannya jika –sebagaimana dikatakan- itu benar dengan mentautsiq rowi yang dimajhulkan oleh ulama lainnya, maka bagaimana ini? (jawabnya) berapa banyak roei yang dimajhulkan seorang Imam, namun diketahui oleh Imam lainnya. Akan datang contoh-contohnya –dengan izin Allah-.

Jika penyelisihan berkaitan pentautsiqkan perowi, namun ulama lain mendhoifkan atau mematrukkannya, maka telah diketahui dan disepakati oleh ulama hadits bahwa perselisihan Aimah terhadap seorang perowi baik perekomendasian atau pencelaan adalah sesuatu yang biasa, lihatlat (Tahdzibul Kamaal) karya al-Hafidz al-Mizziy misalnya, disana akan didapatkan contoh yang sangat banyak sekali berkaitan masalah ini, ini semua dibangun diatas ijtihad dan pengamatan mereka, maka jika perkaranya demikian, perlu memperhatikan kaedah ulama ketika terjadi pertentangan antara jarh dan ta’dil dikalangan kritikus dan ini adalah kaedah yang maruf dalam ilmu hadits.

  1.      Diantara yang menunjukkan teranganggapnya tautsiq al-‘Ijli adalah sebagaimana sebelumnya dalam terjemah ringkas al-‘Ijli yang memiliki kedudukan dalam ilmu hadits dan kitabnya (al-jarh wa at-Ta’diil) adalah kitab yang agung yang menunjukkan keluasan hapalan dan penelitiannya. Telah berlalu ucapan Aimah yang berpegang dengan pendapatnya al-‘Ijli, bahkan terdapat bantahan kepada ulama yang memajhulkan seorang rowi dan telah tetap tautsiq dari al-‘Ijli. Diantara dalil kedudukan ini adalah apa yang disebutkan oleh Imam adz-Dzahabi yang menghitungnya sebagai ulama mutaqodimin dalam masalah jarh wa ta’dil di kitabnya (dzikru man yu’tamadu qoulahu fii al-Jarh wa at-ta’dil (tingkatan kelima no. 286/h. 179) yang pertamakali disebutkan dalam tingkatan ini adalah Imam Bukhori. Disebutkan juga oleh al-Hafidz as-Sakhowiy dalam kitabnya (al-I’laan bit Taubiikh liman Dzamit Tariikh, fasal al-Mutakallamuun fii ar-Rijaal (344)), demikian juga dalam kitabnya (fathul Mughiits (4/hal. 358 cet. Ali Husain, pembahasan ma’rifatus Tsiqoot wa adh-Dhu’aafaa’). Aku akan menampilkan disini sejumlah ulama yang menunjukkan diterimanya pendapat beliau.
  2.    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dibeberapa kitabnya, misalnya di (Iqtidhoou ash-Shiroothol Mustaqiim (1/h. 236), beliau berkata : ‘adapun Abdur Rokhman bin Tsaabit bin Tsaubaan, Yahya bin Main, Abu Zurah dan Ahmad bin Abdullah berkata : ‘Laa ba’sa bih’.

Aku (Syaikh Bukhori) berkata : ‘Ahmad bin Abdullah adalah al-‘Ijli, anda lihat, Syaikhul Islam menukil ucapan al-‘Ijli dengan para ulama lainnya, apakah ini dapat ditakwilkan tasahul atau semisalnya.

Syaikhul Islam juga berkata (sumber yang sama (1/237) : ‘adapun Abu Muniib al-Jarosiy, dikatakan oleh Ahmad bin Abdullah al-‘Ijli ia tsiqoh, aku tidak mengetahui seorang pun yang menyebutkan kejelakan, ia telah mendengar dari Hasaan bin ‘Athiyyah, dan Imam Ahmad serta selainnya berhujjah dengan haditsnya’.

Aku berkata : ‘Syaikhul Islam tidak menyebutkan seorang pun yang mentautsiqnya selain al-‘Ijli dan menukilnya tanpa ada kritikan yang menunjukkan beliau berpegang dengannya’.

Silakan baca penjelasan lebih lanjut dari Syaikh Abdullah al-Bukhori dalam www.shahab.net.

Pada akhir pembahasan, Syaikh Abdullah berkata :

“berdasarkan penjelasan sebelumnya, nampaklah bagi orang yang obyektif bahwa pendapat tentang tasahulnya al-Hafidz al-‘Ijli tidak benar, menurut yang nampak bagiku. Al-Hafidz al-‘Ijli memiliki kedudukan yang tinggi dikalangan Hufadz dan kritikus hadits serta kitabnya dianggap sebagai kitab yang agung dan penuh manfaat, sebagaimana disaksikan oleh para ulama…’.                      

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: