SYARAH

April 27, 2014 at 4:10 am | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment
Tags: , ,

بَابُ إِذَا جَامَعَ ثُمَّ عَادَ، وَمَنْ دَارَ عَلَى نِسَائِهِ فِي غُسْلٍ وَاحِدٍ

Bab 12Jika Berjima’ lalu Mengulanginya Kembali dan Barangsiapa yang Menggilir Istri-Istrinya

dengan Satu Kali Mandi

 

Penjelasan :

 

Yakni seseorang cukup dengan satu kali mandi junub sekalipun melakukan jima’ secara berulang-ulang atau dengan beberapa istrinya dalam satu waktu. Namun dianjurkan untuk berwudhu, ketika akan mengulangi jima’ atau akan berjima’ dengan istri lainnya lagi, sebagaimana hadits berikut :

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ، ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ، فَلْيَتَوَضَّأْ

“jika kalian mendatangi istri kalian (untuk berjima’-pent.) lalu ingin mengulanginya, maka hendaknya berwudhu” (HR. 6 ahli hadits, kecuali Bukhori).  

Continue Reading SYARAH…

SYARAH BUKHORI KITAB GHUSUL -BAB 11 BARANGSIAPA YANG MEMBASUH TANGAN KIRINYA DENGAN TANGAN KANANNYA

April 27, 2014 at 2:38 am | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment
Tags: , , ,

بَابُ مَنْ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فِي الغُسْلِ

Bab 11 Barangsiapa yang Membasuh dengan Tangan Kanannya kepada Tangan Kirinya ketika Mandi

 

Penjelasan :

 

Babi ini adalah penjelasan hukum membasuh dengan tangan kanannya untuk tangan kirinya ketika seorang mandi, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits berikut :

Continue Reading SYARAH BUKHORI KITAB GHUSUL -BAB 11 BARANGSIAPA YANG MEMBASUH TANGAN KIRINYA DENGAN TANGAN KANANNYA…

MENGQODHO SHOLAT SUNAH RAWATIB

April 27, 2014 at 1:33 am | Posted in fiqih | 4 Comments
Tags: , , ,

MENGQODHO SHOLAT SUNNAH RAWATIB

 

Terkadang karena kelelahan atau karena kelupaan, seseorang luput dari sholat pada waktunya. Misalnya sholat Subuh, seseorang ketiduran sehingga ia baru bangun pada saat Matahari sudah meninggi, maka apa yang harus ia lakukan dan kebiasaaanya ia mengerjakan sholat sunnah Qobliyah Subuh, sehingga apakah ia mengqodho sholat sunnah Qobliyah baru sholat Subuhnya atau bagaimana?

Jawabannya adalah terletak pada kisah yang diceritakan oleh sahabat mulia Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu :

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَفَلَ مِنْ غَزْوَةِ خَيْبَرَ، سَارَ لَيْلَهُ حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْكَرَى عَرَّسَ، وَقَالَ لِبِلَالٍ: «اكْلَأْ لَنَا اللَّيْلَ»، فَصَلَّى بِلَالٌ مَا قُدِّرَ لَهُ، وَنَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ، فَلَمَّا تَقَارَبَ الْفَجْرُ اسْتَنَدَ بِلَالٌ إِلَى رَاحِلَتِهِ مُوَاجِهَ الْفَجْرِ، فَغَلَبَتْ بِلَالًا عَيْنَاهُ وَهُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَى رَاحِلَتِهِ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا بِلَالٌ، وَلَا أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِهِ حَتَّى ضَرَبَتْهُمُ الشَّمْسُ، فَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلَهُمُ اسْتِيقَاظًا، فَفَزِعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَيْ بِلَالُ» فَقَالَ بِلَالُ: أَخَذَ بِنَفْسِي الَّذِي أَخَذَ – بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللهِ – بِنَفْسِكَ، قَالَ: «اقْتَادُوا»، فَاقْتَادُوا رَوَاحِلَهُمْ شَيْئًا، ثُمَّ تَوَضَّأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَرَ بِلَالًا فَأَقَامَ الصَّلَاةَ، فَصَلَّى بِهِمُ الصُّبْحَ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ: «مَنْ نَسِيَ الصَّلَاةَ فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا»، فَإِنَّ اللهَ قَالَ: {أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي} [طه: 14] قَالَ يُونُسُ: وَكَانَ ابْنُ شِهَابٍ: «يَقْرَؤُهَا لِلذِّكْرَى»

“bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam ketika berjihad pada perang Khaibar, Beliau berjalan pada malam hari, hingga ketika Beliau mengantuk di tempat peristirahatan, Beliau berkata kepada Bilaal : “jagalah untuk kami pada malam ini!”. Lalu Bilaal pun sholat sesuai kemampuannya, sedangkan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dan para sahabatnya tidur, ketika mendekati subuh, Bilaal rodhiyallahu anhu bersandar di tunggangannya menunggu sholat Subuh, namun rasa kantuk menyelimuti Bilaal rodhiyallahu anhu dan Beliau tertidur dalam keaadaan bersandar di tunggangannya. (ketika Subuh) Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tidak bangun, tidak juga Bilaal dan tidak juga seorang sahabat pun sampai terik Matahari mengenai mereka, adalah Rasulullah sholallahu alaihi wa salam yang pertamakali bangun, kemudian Beliau bangun dan berkata : “wahai Bilaal!”, maka Bilaal berkata : “demi bapakku dan ibuku wahai Rasulullah- yang telah mengambil jiwaku dan jiwamu”. Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata : “berjalanlah kalian”, lalu mereka pun berjalan, lalu Nabi sholallahu alaihi wa salam berwudhu, lalu memerintahkan Bilaal untuk mengiqomati sholat, kemudian Nabi sholallahu alaihi wa salam pun mengimami sholat Subuh. Ketika selesai sholat Beliau bersabda : ” Barangsiapa yang lupa sholatnya, maka sholatlah ketika ingat, karena Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman : “dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku”.

Continue Reading MENGQODHO SHOLAT SUNAH RAWATIB…

CARA DUDUK MAKMUM MASBUQ PADA RAKAAT TERAKHIR BERSAMA IMAM

April 22, 2014 at 3:29 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

TATA CARA DUDUK TASYAHUD AKHIR PADA SHOLATNYA MAKMUM MASBUUQ

 

Terkadang seorang terlambat untuk ikut sholat secara berjamaah, sehingga ia menjadi makmum masbuuq. Pada artikel sebelumnya kami telah membahas apakah seorang yang mendapatkan rukuknya Imam, terhitung mendapatkan rakaat sholat? Dan pendapat yang rajih adalah ia mendapatkan rakaat sholat berdasarkan atsar para sahabat tentang hal ini.

Pada pembahasan kali ini, kami akan menyebutkan bagaimana tata cara duduknya makmum yang masbuuq di rakaat terakhirnya bersama Imam. Qodarullah berdasarkan referensi yang saya dapatkan, tidak ditemukan dalil yang jelas dan tegas baik dari sunnah Nabawiyah maupun atsar shahabat tentang hal ini, sehingga dapat memutuskan perselisihan yang ada. Referensi yang saya dapatkan ada 3 pendapat tentang hal ini yaitu :

  1. Ia duduk iftirosy, duduk iftirosy adalah duduk tasyahud pada rakaat kedua pada sholat Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya, yaitu telapak kaki tangan ditegakkan dan pantat menduduki telapak kaki kiri yang dibaringkan menghadap samping kanan. Imam Nawawi dalam “al-Majmu Syarah al-Muhadzab” (3/451-cet. Daarul Fikr) berkata :

الْمَسْبُوقُ إذَا جَلَسَ مَعَ الْإِمَامِ فِي آخِرِ صَلَاةِ الْإِمَامِ فِيهِ وَجْهَانِ (الصَّحِيحُ) الْمَنْصُوصُ فِي الْأُمِّ وَبِهِ قَطَعَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَالْبَنْدَنِيجِيّ وَالْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ وَالْغَزَالِيُّ وَالْجُمْهُورُ يجلس مفترشا لانه ليس آخر صَلَاتِهِ

“Makmum masbuuq jika duduk bersama imam di akhir sholatnya Imam, maka ada 2 pendapat, yang shahih yang ternashkan dalam “al-Umm” dan ditegaskan oleh asy-Syaikh Abu Haamid, al-Bundaniijiy, Abu ath-Thoyyib, al-Ghozaliy dan mayoritas (ulama Syafi’iyyah) adalah duduk dengan iftirosy, karena duduk itu bukan akhir sholanya”.

Dalil pendapat yang pertama adalah :

  1. Duduk tawaruk diperuntukkan bagi akhir sholat, sedangkan makmum yang masbuk tadi duduk tasyahudnya bukan yang terakhir, maka berarti itu adalah duduk iftirosy, karena dalam tata cara sholat duduk tasyahud ada dua, iftirosy dan tawaruk.  Imam Bukhori dalam “Shahihnya” meriwayatkan dari jalan sahabat Abu Humaid as-Saa’idiy rodhiyallahu anhu bahwa beliau menunjukkan tata cara sholat Nabi sholallahu alaihi wa salam kepada 10 orang sahabat, kata beliau :

فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ الْيُمْنَى فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ

“jika Beliau duduk pada rakaat kedua, duduk  diatas kaki yang kiri dan menegakkan kaki kanannya (Iftirosy), jika beliau duduk pada rakaat terakhir, Beliau membaringkan kaki kiri, menegakkan kaki kanan dan duduk di tempatnya (tawaruk) ”

Istidlalnya bahwa duduk Tawaruk untuk rakaat yang terakhir, sedangkan orang yang masbuuq pada saat duduk bersama Imam di rakaat terakhir, baginya bukan rakaat terakhir, namun masih harus melanjutkan rakaat yang ketinggalan.

  1. Hikmah duduk iftirasy adalah untuk persiapan melanjutkan berdiri pada rakaat berikutnya, sedangkan tawaruk di akhir rakaat sholat dengan posisi yang seperti itu sangat tepat karena sholatnya akan berakhir. Gambarannya adalah pada sholat yang memiliki 3 atau 4 rakaat, pada saat tasyahud yang pertama dengan iftirosy, dimana nanti akan dilanjutkan dengan berdiri melanjutkan rakaat ke-3 atau ke-4. Maka hal ini diqiyaskan dengan makmuum masbuuq yang nantinya setelah duduk bersama Imam akan melanjutkan berdiri, menyempurnakan rakaat yang ketinggalan.  
  2. Pendapat kedua adalah makmum masbuuq duduk dengan tawaruk. Saya akan menukil fatwa asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad tentang ini :

السؤال: نرجو توضيح كيفية جلوس المسبوق إذا وجد الإمام في الركعة الأخيرة؟ وهل يدعو فيها بدعاء التشهد الأول أو الأخير؟

المسبوق إذا جاء والإمام في التشهد الأخير يجلس كجلوس الإمام وكجلوس المصلين الذين لم يسبقوا، فيجلس متوركاً كما جاءت في ذلك السنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، فالإمام يتورك ومن وراءه يتورك والمسبوق يتورك، ولا يعتبر نفسه أنه في التشهد الأول، بل يأتي بالتشهد ويأتي بالصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ويدعو ويكثر الدعاء حتى يسلم الإمام، فهو يتابع الإمام في هيئة الجلوس وفي كونه يتشهد ويصلي على النبي صلى الله عليه وسلم، ويتخير من الدعاء ما شاء، كما جاء ذلك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، وليس معنى ذلك أنه يجلس في التشهد يسكت، بل يفعل كما يفعل الإمام.

Soal : kami mengharapkan penjelasan bagaimana tata cara duduk (tasyahud) makmum masbuuq, jika mendapati Imam pada rakaat yang terakhir? Apakah ia berdoa dengan doa tasyahud yang pertama atau yang terakhir?

Jawab : makmum masbuuq jika mendapati Imam duduk tasyahud akhir, maka ia duduk seperti duduknya Imam dan seperti duduknya orang yang tidak terlambat. Ia duduk tawaruk, sebagaimana telah datang sunnah dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tentang hal itu. Jika Imam tawaruk, maka makmum dibelakangnya ikut bertawaruk, begitu juga yang masbuq.

Makmum masbuq tidak menghitung untuk dirinya sebagai tasyahud pertama, namun ia bertasyahud, bersholawat kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam, berdoa dan memperbanyak doanya hingga Imam salam. Ia mengikuti Imam dalam tata cara duduknya dan bertasyahud serta bersholawat kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam, lalu memilih berdoa sesuai yang ia kehendaki, sebagaimana datang dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam. Bukanlah maksudnya ia duduk tasyahud lalu dia, namun ia mengerjakan seperti apa yang dikerjakan Imam sholat” (sumber : http://ar.islamway.net/fatwa/32933).

Ternyata pendapat kedua ini juga dianut oleh beberapa ulama Syafi’iyyah. Imam Nawawi dalam “al-Majmu” (3/452) berkata :

يَجْلِسُ مُتَوَرِّكًا مُتَابَعَةً لِلْإِمَامِ حَكَاهُ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَوَالِدُهُ وَالرَّافِعِيُّ

(yang kedua) makmum masbuuq duduk tawaruk mengikuti Imam, pendapat ini dinukil Imamum Haromain, ayahnya dan ar-Roofi’iy.  

Dalilnya adalah hadits riwayat Bukhori dan Muslim dan ini lafadz Bukhori :

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا ، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا ، وَإِنْ صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا

“Hanyalah Imam untuk diikuti, jika ia bertakbir, maka kalian ikut bertakbir, jika ia rukuk maka ikutlah rukuk, jika ia sujud maka ikutlah sujud, jika ia sholat berdiri, maka sholatlah berdiri”.

Sehingga istidlalnya adalah jika imam duduk tawaruk pada rakaat terakhir –dengan asumsi Imam merajihkan rakaat terakhir dengan tawaruk-, maka makmum mengikuti Imam dengan duduk tawaruk juga, termasuk didalamnya makmum masbuuq.

  1. Dilihat kondisi berapa rakaat makmum masbuuq tersebut. Jika pada saat ia duduk dengan Imam pada rakaat terakhir ia mendapakan kurang dari 2 rakaat, maka ia duduk Iftirosy, namun jika ia sudah mendapatkan 3 rakaat, maka ia duduk tawaruk. Hal ini difatwakan oleh Syaikh Ali Hasan al-Halaby berikut :

السلام عليكم… شيخنا بارك الله فيكم…عندي سؤال حول صلاة المسبوق..كيف يجلس في التشهد الأخير من صلاة العشاء مثلا ( افتراشا أو توركا ) إذا كان مسبوقا وعليه إتمام ركعة أو ركعتين؟ أفتونا مأجورين..و جزاكم الله خيرا. والسلام

جواب السؤال

جلوسه باعتبار صلاته هو ،لا صلاة إمامه . فيفترش في الثانية ويتورك في الأخيرة

Soal : as-Salamu alaikum…syaikhunaa Barokallah fiikum…aku memiliki pertanyaan berkaitan sholat masbuuq…bagaimana cara ia duduk tasyahud akhir pada waktu sholat Isya misalnya (apakah Iftirosy atau Tawaruk, jika ia masih harus menyempurnakan 1 atau 2 rakaat? Kami mengharapkan fatwa anda….Jazakumullah Khoir. Was Salaam.

Jawab : ia duduk iftirosy pada rakaat kedua-nya dan ia duduk tawaruk pada rakaat terakhir (ketiga-nya). Duduknya adalah sesuai dengan sholatnya, bukan sholatnya Imam.

Qodarullah pendapat ini juga dianut ulama Syafi’iyyah, Imam Nawawi pada halaman berikutnya berkata :

(الثَّالِثُ) إنْ كَانَ جُلُوسُهُ فِي مَحَلِّ التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ لِلْمَسْبُوقِ افْتَرَشَ وَإِلَّا تَوَرَّكَ لِأَنَّ جُلُوسَهُ حِينَئِذٍ لِمُجَرَّدِ الْمُتَابَعَةِ فَيُتَابِعُ فِي الْهَيْئَةِ حَكَاهُ الرَّافِعِيُّ

(yang ketiga) jika ia duduk pada kondisi tasyahud yang pertama (telah mendapatkan 2 rakaat-pent.) maka ia duduk Iftirosy, jika lebih maka duduk tawaruk, karena duduknya pada waktu itu sekedar mengikuti, maka ia mengikuti rakaat sholatnya, pendapat ini dinukil oleh ar-Rofi’i.

Dalilnya adalah tentang tata cara sholat bahwa untuk tasyahud pada 2 rakaat pertama dengan Iftirosy, sedangkan tasyahud rakaat berikutnya dengan tawaruk.

Sehubungan dengan tidak adanya dalil yang tegas dan jelas berkaitan masalah ini, maka penulis memandang dengan cara duduk Iftirosy atau Tawaruk tetap sah sholatnya, sekalipun secara pribadi penulis merajihkan pendapat yang pertama bahwa makmum masbuq pada rakaat terakhir duduk Iftirosy dengan alasan :

  1. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam menjadikan duduk untuk tasyahud akhir dengan tawaruk, sedangkan makmum yang masbuuq tadi duduk tasyahud bukan untuk yang terakhir, namum masih harus menyempurnakan jumlah rakaat yang ketinggalan.
  2. Diqiyaskan dengan sholat yang memiliki 2 tasyahud dimana pada tasyahud yang pertama duduk Iftirosy dan terakhirnya dengan Tawaruk. Makmum yang masbuuq seolah-olah seperti orang yang duduk untuk tasyahud yang pertama –sekalipun mungkin ia juga sebelumnya duduk Iftirosy, bagi yang ketinggalan 1 rakaat sholat Dhuhur, misalnya- maka ia duduk Iftirosy dan nanti setelah menyelesaikan ketinggalannya baru ia mengakhiri sholatnya sehingga duduknya tawaruk.
  3. Posisi duduk Iftirosy yang tidak ‘terkunci’, tidak seperti duduk Tawaruk, dimana kaki kiri diduduki oleh pantat dan kaki kanan, sehingga seperti ‘terkunci’, menunjukkan bahwa duduk Iftirosy memang dipersiapkan untuk berdiri lagi, sedangkan tawaruk dengan posisi seperti itu memang untuk kondisi terakhir sholat, lalu salam.

HORMATILAH PEMIMPIN ANDA

April 20, 2014 at 2:22 am | Posted in Hadits | Leave a comment

HORMATILAH PEMIMPIN ANDA

 

Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah bersabda :

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ أَهَانَهُ اللَّهُ، وَمَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللَّهِ أَكْرَمَهُ اللَّهُ

“Barangsiapa yang menghinakan pemimpinnya, maka Allah akan menghinakan orang tersebut dan barangsiapa yang memuliakan pemimpinnya, maka Allah akan memuliakannya”

Takhrij hadits :

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Qodho’i dalam “al-Musnad” (no. 419-cet. Muasasah ar-Risaalah) danImam Tirmidzi dalam “as-Sunan” (no. 2224-cet. Musthofa al-baabi al-Halabiy) dengan setengah lafadz yang pertama,Imam al-Bazaar dalam “al-Musnad” (no. 3670) dengan lafadz setengah yang pertama, Imam Ibnu Abi Ashiim dalam “as-Sunnah” (no. 1018-cet. Al-Maktab al-Islamiy) dengan lafadz setengah yang pertama dan Imam Abu Dawud ath-Thoyalisi dalam “al-Musnad” (no. 928-cet. Daaru Hijr) dengan lafadz setengah yang pertama. Semuanya diriwayatkan dari jalan Sa’ad bin Aus al-‘Abdiy dari Ziyaad bin Kusaib al-‘Adawiy dari Abu Bakrah rodhiyallahu anhu : ‘aku mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : al-hadits.  

Continue Reading HORMATILAH PEMIMPIN ANDA…

TAFSIR AL FATIHAH AYAT 7

April 19, 2014 at 2:05 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tafsir “bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (Al Fatihah : 7)

 

  1. Mufrodat Ayat

غَيْرِ” (bukan) dikatakan oleh az-Zamakhsyariy sebagai badal dari   “ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ” (orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka) jika dikatakan maknanya bahwa mereka orang-orang yang diberi nikmat adalah orang-orang yang selamat dari kemurkaan dan kesesatan. Atau ia sebagai na’at/sifat, jika dikatakan maknanya adalah mereka yang terkumpul padanya kenikmatan mutlak yaitu keimanan dan keselamatan dari kemurkaan dan kesesatan. Oleh karenanya Imam Ibnu Katsiir menisbahkan pendapat bahwa i’rob ghoiri adalah sifat/na’at kepada pendapatnya jumhur ulama.

  “ الْمَغْضُوبِعَلَيْهِمْ ” (mereka yang dimurkai), yang dimaksud dengan al-Maghdhuub adalah Yahudi karena mereka mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya. Imam Syinqithi dalam tafsirnya menyebutkan 3 ayat yang berbicara tentang Yahudi Continue Reading TAFSIR AL FATIHAH AYAT 7…

TAFSIR AL FATIHAH AYAT KE-6

April 18, 2014 at 2:40 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Tafsir “(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” (Al Fatihah : 6)

 

  1. Mufrodat Ayat

Sebagaimana pada mukadimah tafsir terhadap awal surat al-Fatihah, dimana kami berpendapat bahwa ‘Basmalah’ bukan termasuk ayat dalam surat Al Fatihah. Namun jika Basmalah tidak dimasukkan sebagai ayat pertama dalam surat Al-Fatihah, maka ayatnya akan berjumlah 6 (enam) buah, sedangkan dalam hadits dikatakan bahwa Al-Fatihah adalah “Sab’ul Matsaniy” yang maknanya adalah 7 ayat yang dibaca berulang-ulang. Oleh karena Imam Ibnu Utsaimin sebagai salah satu mufassirin zaman ini, berpendapat sesuai dengan siyaq ayat-ayat dalam Al-Fatihah, maka di ayat yang ketujuh –menurut orang yang berpendapat Basmalah adalah ayat ke-1, dibagi menjadi 2 yaitu صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ dan غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَاالضَّالِّينَ.  

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ” ((yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka) ini adalah badal dari ayat sebelumnya “shiroothol Mustaqiim“, atau ini sebagai athof bayaan, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Katsiir. Jika hal ini bermakna badal maka seolah-olah kita mohon kepada Allah untuk diberikan petunjuk kepada jalan yang mustaqiim –sebagaimana ayat sebelumnya- dan diberikan petunjuk kepada jalan orang-orang yang dianugerahi nikmat. Sehingga dengan pengulangan ini memiliki faedah ‘Taukid’ (penekanan).

   Continue Reading TAFSIR AL FATIHAH AYAT KE-6…

SYARAH BUKHORI KITAB WUDHU BAB 10 MEMISAHKAN BASUHAN

April 18, 2014 at 1:38 am | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

بَابُ تَفْرِيقِ الغُسْلِ وَالوُضُوءِ

Bab 10 Memisahkan Basuhan ketika Mandi dan Wudhu

 

Penjelasan :

 

Bab ini adalah penjelasan hukum apakah diperbolehkan memisahkan membasuh anggota tubuh ketika mandi atau berwudhu. Imam Bukhori menukil atsar dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu, kata Imam Bukhori :

وَيُذْكَرُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ: «أَنَّهُ غَسَلَ قَدَمَيْهِ بَعْدَ مَا جَفَّ وَضُوءُهُ»

“disebutkan dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu bahwa beliau membasuh kedua kakinya, setelah mengering bekas basuhan anggota wudhu sebelumnya”.

 

Penjelasan : Continue Reading SYARAH BUKHORI KITAB WUDHU BAB 10 MEMISAHKAN BASUHAN…

HUKUM MENJAMAK SHOLAT JUM’AT DENGAN SHOLAT ASHAR

April 13, 2014 at 3:31 pm | Posted in fiqih | 2 Comments

MENJAMAK SHOLAT JUM’AT DENGAN SHOLAT ASHR

 

Di negeri kita, kebanyakan instansi baik pemerintah maupun swasta, meliburkan karyawannya pada hari Sabtu dan Ahad, oleh karenanya tidak jarang orang-orang banyak melakukan perjalanan ke luar kota (bersafar) pada hari Jum’at. Timbul suatu pembahasan bagaimana seandainya seseorang menjamak antara sholat Jum’at dengan Ashar, karena ia akan melakukan perjalanan setelah sholat Jum’at dan diperkirakan akan sampai ke tempat tujuan setelah sholat ashar waktunya habis atau ia ingin mengambil keringan dengan menjamak sholatnya.

Sebelum membahas hukum terkait menjamak antara sholat Jum’at dengan sholat Ashar, ada beberapa point yang ingin kami sampaikan terlebih dahulu :

  1. Telah tsabit dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pensyariatan menjamak antara sholat dhuhur dengan Ashar.  Sa’id bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu bahwa beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بَيْنَ الصَّلَاةِ فِي سَفْرَةٍ سَافَرَهَا فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ فَجَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ

قَالَ سَعِيدٌ فَقُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ مَا حَمَلَهُ عَلَى ذَلِكَ قَالَ أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ

“bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menjamak antara sholat dalam safar yang Beliau lakukan pada saat perang Tabuk. Nabi sholallahu alaihi wa salam menjamak antara Dhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya.

Sa’id berkata : ‘aku berkata kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu, mengapa Beliau melakukan hal tersebut, jawabnya : “Nabi sholallahu alaihi wa salam ingin untuk tidak memberatkan umatnya” (HR. Muslim).

  1. Permasalahan ini terkait dengan ilmu ushul Fiqih, yakni dalam pembahasan Azimah dan Rukhshoh. Azimah adalah sesuatu yang diletakkan oleh Syariat pada asalnya, berkaitan dengan pembahasan, maka sholat pada waktunya masing-masing adalah Azimahnya. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

Continue Reading HUKUM MENJAMAK SHOLAT JUM’AT DENGAN SHOLAT ASHAR…

IMAM SUYUTHI MUTASAAHIL?

April 10, 2014 at 11:17 pm | Posted in Mustholah Hadits | Leave a comment

IMAM SUYUTHI MUTASAAHIL?

 

Imam Al Albani dalam  “Tamaamul minnah” di mukadimah kitab tersebut ketika menyebutkan kaedah yang ke-8 point no. 2, beliau berkata :

أن السيوطي معروف بتساهله في التصحيح والتضعيف فالأحاديث التي صححها أو حسنها فيه قسم كبير منها ردها عليه الشارح المناوي وهي تبلغ المئات إن لم نقل أكثر من ذلك وكذلك وقع فيه أحاديث كثيرة موضوعة مع أنه قال في مقدمته: “وصنته عما تفرد به وضاع أو كذاب”

 “bahwa Suyuthi terkenal tasaahul dalam penshahihan dan pendhoifan, maka hadits-hadits yang dishahihkan atau dihasankan olehnya dan ini adalah jenis rumus yang banyak dicantumkan dalam kitab Jamiius Shoghiir, namun dibantah oleh pensyarahnya yaitu Imam al-Munawiy, hingga mencapai jumlah ratusan atau lebih dari itu, demikian juga banyak disebutkan didalam kitab tersebut hadits-hadits palsu, padahal Imam Suyuthi sendiri berkata didalam mukadimah : ‘aku menjaga kitab ini dari haditsnya para perowi pemalsu atau pendusta”.

 

 

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: