HUKUM MENJAMAK SHOLAT JUM’AT DENGAN SHOLAT ASHAR

April 13, 2014 at 3:31 pm | Posted in fiqih | 2 Comments

MENJAMAK SHOLAT JUM’AT DENGAN SHOLAT ASHR

 

Di negeri kita, kebanyakan instansi baik pemerintah maupun swasta, meliburkan karyawannya pada hari Sabtu dan Ahad, oleh karenanya tidak jarang orang-orang banyak melakukan perjalanan ke luar kota (bersafar) pada hari Jum’at. Timbul suatu pembahasan bagaimana seandainya seseorang menjamak antara sholat Jum’at dengan Ashar, karena ia akan melakukan perjalanan setelah sholat Jum’at dan diperkirakan akan sampai ke tempat tujuan setelah sholat ashar waktunya habis atau ia ingin mengambil keringan dengan menjamak sholatnya.

Sebelum membahas hukum terkait menjamak antara sholat Jum’at dengan sholat Ashar, ada beberapa point yang ingin kami sampaikan terlebih dahulu :

  1. Telah tsabit dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pensyariatan menjamak antara sholat dhuhur dengan Ashar.  Sa’id bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu bahwa beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بَيْنَ الصَّلَاةِ فِي سَفْرَةٍ سَافَرَهَا فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ فَجَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ

قَالَ سَعِيدٌ فَقُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ مَا حَمَلَهُ عَلَى ذَلِكَ قَالَ أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ

“bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menjamak antara sholat dalam safar yang Beliau lakukan pada saat perang Tabuk. Nabi sholallahu alaihi wa salam menjamak antara Dhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya.

Sa’id berkata : ‘aku berkata kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu, mengapa Beliau melakukan hal tersebut, jawabnya : “Nabi sholallahu alaihi wa salam ingin untuk tidak memberatkan umatnya” (HR. Muslim).

  1. Permasalahan ini terkait dengan ilmu ushul Fiqih, yakni dalam pembahasan Azimah dan Rukhshoh. Azimah adalah sesuatu yang diletakkan oleh Syariat pada asalnya, berkaitan dengan pembahasan, maka sholat pada waktunya masing-masing adalah Azimahnya. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. An Nisaa’ : 103).

Adapun Rukhshoh adalah suatu keringanan yang diberikan syariat dari hukum azimahnya. Dalam masalah ini adalah menjamak sholat. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al Baqoroh : 185).

  1. Qodarullah permasalahan hukum menjamak antara sholat Jum’at dan sholat Ashar adalah permasalahan yang tidak terdapat nash tegas dan jelas, baik  yang membolehkan atau yang tidak membolehkannya dan tidak juga dinukil dari kalangan ulama mutaqodimin pembahasannya, baik diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Syaikh DR. Abdur Rokhman as-Sudais berkata :

والمشهور عند كثير من الناس أنه لا يجوز الجمع، وبه كان يفتي الشيخ ابن باز وابن عثيمين ـ وينتصر لهذا القول ـ، وغيرهم.
والظاهر أن هذه المسألة من المسائل التي لم يتطرق لها المتقدمون في القرون المفضلة، وأقدم من رأيته نقل عنه ذلك من الحنابلة أبو يعلى الصغير المتوفى سنة 560 هـ، نقله عنه صاحب “الفروع” 3/134، وتتابع متأخرو الحنابلة على ذكره، كصاحب “الإنصاف” و”المنتهى” و”الإقناع”، وشراحها.
ومن الفقهاء من لا يرى بأسا بذلك، وهو مذهب الشافعية،وأختاره بعض المعاصرين كالشيخ ابن جبرين والشيخ البراك وغيرهم.

“yang masyhur pada kebanyakan manusia bahwa tidak diperbolehkan menjamak antara sholat jum’at dengan Ashar. Ini adalah yang difatwakan oleh Syaikh Bin Baz dan Ibnu Utsaimin, lalu tersebarlah fatwa ini kepada selain mereka.

Yang nampak bahwa permasalahan ini adalah masalah-masalah yang tidak dibahas oleh para ulama mutaqodimin pada masa-masa utama. Aku menemukan bahwa ulama yang pertamakali menyinggungnya adalah ulama Hambali yaitu Abu Ya’laa ash-Shoghiir yang wafat pada tahun 560 H, dinukil oleh penulis kitab al-Furuu’ (3/134), lalu diikuti oleh ulama Hanabilah mutaakhirin, seperti penulis kitab al-Inshof, al-Muntahaa dan al-Iqnaa’ dan para penulis syarahnya.

Diantara ahli fiqih yang berpendapat diperbolehkannya menjamak antara sholat Jum’at dengan Ashar adalah madzhab Syafi’i, lalu pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama kontemporer seperti Syaikh Ibnu Jibriin dan Syaikh Al-Barook serta selain mereka”.     

(sumber http://www.saaid.net/Doat/sudies/59.htm).

Sekarang kita akan membahas hukum menjamak antara sholat jum’at dengan Ashar, kita mulai dengan ulama yang tidak membolehkannya yang dalam hal ini saya akan mewakilkan dari penjelasan Imam Ibnu Utsaimin, kata beliau dalam “Majmu Fatawanya”  :

“telah banyak pertanyaan terkait menjamak sholat Ashar dengan sholat Jum’at pada waktu diperbolehkannya menjamak antara Ashar dengan Dhuhur. Maka aku akan menjawab pertanyaan tersebut –dengan meminta pertolongan kepada Allah dan mengharapkan hidayah dan taufiqnya- :

Tidak boleh menjamak sholat Ashar dengan Jum’at pada kondisi diperbolehkannya menjamak antara sholat Dhuhur dengan Ashar, seandainya seorang yang bepergian melewati sebuah daerah lalu ia sholat Jum’at bersama penduduk disana, maka ia tidak boleh menjamak dengan sholat Ashar. Seandainya juga turun hujan yang diperbolehkannya menjamak sholat –kami berpendapat bolehnya menjamak sholat Dhuhur dengan Ashar karena hujan-, maka tetap tidak boleh menjamak Ashar dengan Jum’at. Seandainya orang yang sakit yang diperbolehkan baginya menjamak, maka pada sholat jum’at ia sholat (dhuhur, jika tidak sanggup jum’atan-pent.) dan tetap baginya tidak boleh menjamak dengan Ashar. Dalilnya adalah Firman Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa :

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. An Nisaa’ : 103).      

Yakni waktu-waktunya telah ditentukan. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa telah menjelaskan waktu-waktu ini dalam ayatnya :

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (QS. Al Israa : 78)

Maka tergelincirnya matahariaktu tecirnya matahar sampai malam muncul dan semakin gelap yaitu sampai setengah malam. oleh menjamak Ashar dengan Jum sad aer sampai malam muncul dan semakin gelap yaitu sampai setengah malam adalah waktu untuk 4 sholat yaitu Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya yang dijadikan sebagai satu waktu, karena tidak ada pemisah antara waktu-waktu tersebut, yakni ketika keluar waktu salah satu sholat, berarti itu akan masuk kedalam waktu sholat berikutnya. Adapun yang terpisah adalah sholat Subuh karena ia tidak bersambung dengan sholat Isya dan dengan sholat Dhuhur.

Telah terdapat penjelasan dari Hadits nabawi berkaitan waktu-waktu ini secara rinci yaitu dalam hadits Abdullah bin ‘Amr ibnul Ash dan Jaabir rodhiyallahu anhumaa dan selainnya bahwa waktu Dhuhur adalah dari tergelincirnya Matahari sampai panjang bayangan sesuatu sama dengannya, lalu waktu Ashar dari mulai panjang bayangan sama dengannya sampai tenggelamnya Matahari, namun setelah matahari menguning adalah waktu darurat, kemudian waktu Maghrib mulai dari tenggelamnya matahari sampai hilang warna merah di langit dan waktu Isya mulai dari tenggelamnya ufuk merah sampai pertengahan malam. Sedangkan waktu sholat Subuh dari mulai terbitnya fajar sampai terbinya Matahari. Ini adalah hukum Allah berkaitan dengan waktu-waktu sholat dalam Kitabullah dan sunnah Rasulullah sholallahu alaihi wa salam. Maka barangsiapa yang sholat sebelum waktu yang telah ditentukan dalam Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya maka ia berdosa dan sholatnya tertolak, karena Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

“Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim ” (QS. Al Baqoroh : 229).

Dan sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak” (HR. Muslim).

Demikianlah orang yang melakukan sholat diluar waktunya tanpa ada udzur syar’i. Maka barangsiapa yang melakukan sholat Dhuhur sebelum tergelincirnya matahari, maka sholatnya batil, tertolak dan wajib mengulanginya lagi dan barangsiapa yang sholat Ashar sebelum bayangan sesuatu panjangnya sama dengan bendanya maka sholatnya batil, tertolak dan wajib mengulangi, kecuali ada udzur syar’i yang membolehkan, seperti jamak taqdim, sehingga Asharnya dikerjakan pada waktu Dhuhur.

Begitu juga barangsiapa yang sholat Maghrib sebelum tenggelamnya matahari, sholatnya batil, tertolak dan wajib mengulangi dan barangsiapa yang sholat Isya sebelum hilangnya warna merah dilangit, maka sholatnya batil, tertolak dan wajib mengulangi, kecuali ia memiliki udzur Syar’i yang membolehkannya jamak taqdim pada waktu Maghrib. Demikian juga barangsiapa yang sholat Subuh sebelum terbit fajar, maka sholatnya batil, tertolak dan wajib mengulangi. Ini adalah konsekuensi dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah sholallahu alaihi wa salam.

Berdasarkan hal ini, maka barangsiapa yang menjamak sholat Asharnya dengan sholat Jum’at, maka ia telah sholat sebelum masuk waktunya-yaitu ketika panjang bayangan semisal bendanya-, sehingga sholat Asharnya batil, tertolak dan wajib mengulangi. Jika ada yang bertanya, bukankah sah untuk mengkiyaskan menjamak Ashar dan Jum’at kepada sholat Dhuhur?

Maka jawabannya ini adalah tidak benar dari beberapa sisi berikut :

  1. Itu adalah qiyas dalam ibadah
  2. Sholat Jum’at adalah sholat yang tersendiri yang memiliki hukum-hukum yang berbeda dengan sholat Dhuhur, lebih dari 20 perbedaan, maka yang semisal ini terhalangi untuk mengikutkan salah satu sholat dengan lainnya.
  3. Qiyas ini menyelisihi dhohir sunnah, karena dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam menjamak antara Dhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya di Madinah, bukan karena takut, maupun hujan. Lalu Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu ditanya dan jawabannya, Nabi sholallahu alaihi wa salam menghendaki untuk tidak menyusahkan umatnya.

Pernah terjadi turun hujan yang memberatkan kaum Muslimin pada masa Nabi sholallahu alaihi wa salam, namun Beliau tidak menjamak antara Ashar dan Jum’at, sebagaimana dalam Shahih Bukhori dan selainnya dari Anas bin Maalik bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam meminta hujan pada hari Jum’at pada saat Beliau diatas mimbar, ketika Beliau masih di mimbar, hujan turun dengan lebat sampai membasahi jenggotnya dan seperti ini menunjukkan bahwa itu adalah hujan lebat yang membolehkan untuk menjamak sholat, seandainya boleh tentu Beliau sholallahu alaihi wa salam akan menjamak Ashar dengan Jum’at.

Pada jum’at lainnya datang seorang laki-laki lalu berkata : ‘wahai Rasulullah! Harta-harta telah binasa, tanaman telah rusak, maka berdoalah kepada Allah untuk menahan hujan tersebut. Maka semisal ini mengharuskan untuk melakukan jamak karena ini adalah kondisi yang membolehkan jamal, seandainya menjamak antara Ashar dengan Jum’at.

Jika ada yang bertanya apa dalilnya larangan untuk menjamak Ashar dengan Jum’at? Maka jawabannya adakah pertanyaan ini tidak perlu datang, karena asal ibadah adalah terlarang, kecuali dengan dalil, maka tidak perlu diminta dalil orang yang melarang beribadah Allah dengan sesuatu baik amalan yang dhohir maupun yang batin, hanyalah yang diminta mendatangkan dalil orang yang mengatakan disyariatkannya ibadah tersebut, sebagaimana Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman mengingkari orang yang beribadah kepada-Nya dengan sesuatu yang tidak disyariatkan :

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syuuraa : 21).

Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa juga berfirman :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah : 3).

Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak” (HR. Muslim).

Oleh karenanya, jika ada orang yang bertanya apa dalil larangan menjamak Ashar dengan Jum’at?, maka kami menjawab apa dalil diperbolehkannya menjamak? Karena asal kewajiban sholat Ashar adalah melaksanakannya pada waktunya, asal hukum ini berubah dengan dijamak ketika ada sebab yang membolehkan jamak, maka jika tidak ada sebab, kembali ke hukum asal dan terlarang untuk dikerjakan terlebih dahulu sebelum waktunya.

Jika ada yang bertanya lagi, bagaimana pendapat kalian jika seorang meniatkan sholat Jum’atnya dengan sholat Dhuhur agar sempurna jamaknya?

Maka jawabannya, jika ia adalah Imam sholat Jum’at di negerinya yakni bahwa penduduk negerinya, mereka semua meniatkan sholat Jum’atnya dengan sholat Dhuhur, maka tidak ada keraguan lagi batalnya sholat tersebut, karena sholat Jum’at adalah wajib bagi mereka, jika mereka menggantinya dengan Dhuhur, maka sungguh mereka telah mengubah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dengan sesuatu yang tidak diperintah-Nya, sehingga amal mereka batil dan tertolak berdasarkan sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak” (HR. Muslim).

 Adapun jika ia meniatkan Jum’atnya dengan Dhuhur, seperti seorang Musafir yang mengimami sholat Jum’at dan orang yang sholat dibelakangnya meniatkan dengan sholat Dhuhur untuk menjamaknya dengan sholat Ashar, maka ini tidak sah juga, karena ia telah menghadiri Jum’at, maka sholat jum’atnya memiliki konsekuensi dan diantara konsekuensi sholat Jum’at adalah orang yang melakukan sholat Dhuhur sebelum Imam salam, maka tidak sah sholat Dhuhurnya.

Berdasarkan kebenaran ini, sungguh ia telah luput darinya kebaikan yang sangat banyak yaitu pahala sholat Jum’at. Permasalahan ini telah diungkapkan oleh penulis kitab al-Muntahaa dan al-Iqnaa’ bahwa sholat Jum’at tidak sah dijamak dengan Ashar, hal ini disebutkan di awal bab sholat Jum’at. Aku menelitinya karena ada kebutuhan, dan Allah lah yang aku harapkan agar memberikan taufik kebenaran kepada kami dan bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya, sesungguhnya Dia Maha Dermawan dan Maha Mulia.

Ditulis oleh Muhammad as-Shoolih al-Utsaimiin pada 12/6/1419 H.           

 

Adapun pendapat yang membolehkan menjamak sholat Ashar dengan Jum’at, kami akan wakilkan kepada Imam Yahya bin Abil Khoir (w. 558 H), salah satu Aimah Syafi’yyah  dalam kitabnya “al-Bayaan fii Madzhabil Imam Syafi’i”  (2/494-cet. Daarul Minhaaj).

إذا أراد جمع صلاة العصر إلى صلاة الجمعة في المطر، فلا أعلم فيها نصًّا.والذي يقتضي القياس: أنه يجوز ويشترط وجود المطر عند الإحرام بصلاة الجمعة، وعند السلام منها، وعند الإحرام بالعصر، ولا يشترط وجود المطر في الخطبتين؛ لأنهما ليستا من الصلاة، وإنما هما شرط في صحة الجمعة، فلم يشترط وجود المطر فيهما كالطهارة والتيمم.

وإن أراد أن يؤخر الجمعة إلى العصر، على القول القديم جاز ذلك، ولا يشترط وجود المطر في وقت العصر، على ما مضى، ويخطب وقت العصر، ويصلي الجمعة؛ لأن كل وقت جاز فعل الظهر فيه، جاز فيه فعل صلاة الجمعة، كآخر وقت الظهر، وهذا القول ضعيف، وما ت فرع عليه.

“jika seorang ingin menjamak Ashar dengan Jum’at karena hujan, aku tidak mengetahui nash padanya. Dan konsekuensi dari qiyas adalah diperbolehkannya hal tersebut dengan syarat turunnya hujan ketika takbirotul Ihrom sholah Jum’at, lalu sampai salam sholat dan berlangsung terus pada sholat Ashar (yang dijamak taqdimkan). Tidak dipersyaratkan adanya hujan pada saat 2 khutbah, karena itu bukan sholat dan hanyalah sebagai syarat sahnya Jum’at, yang tidak dipersyaratkan dalam 2 khutbah ini seperti bersuci dan tayamum.

Barangsiapa yang menginginkan mengakhirkan sholat Jum’at di waktu Ashar, berdasarkan pendapat Qodiim, diperbolehkan dan tidak dipersyaratkan adanya hujan pada waktu Ashar, menurut apa yang telah lalu, khutbah dilakukan pada waktu Ashar lalu sholat Jum’at, karena setiap waktu yang diperbolehkan padanya melakukan sholat Dhuhur, boleh padanya sholat Dhuhur, sebagaimana ketika diakhirkan waktu Dhuhurnya, ini adalah pendapat yang lemah”.

 

Setelah kita memahami alasan pendapat yang membolehkan jamak dan yang tidak, maka sebenarnya kunci perbedaannya adalah apakah sholat Jum’at dapat diqiyaskan dengan kebolehan dijamaknya sholat Dhuhur dengan Ashar. Bagi yang mengatakan bahwa sholat Jum’at tidak bisa diqiyaskan dengan sholat Dhuhur, karena adanya beberapa perbedaan –yang dihitung oleh Imam Ibnu Utsaimin mencapai lebih dari 20 perbedaan-, maka dengan tidak adanya nash yang shahih dan jelas kebolehannya menjamak antara Jum’at dengan Ashar, menunjukkan bahwa tidak bolehnya menjamak, karena asal ibadah adalah tauqifiyah.

Sedangkan bagi yang mengatakan sholat Jum’at dapat diqiyaskan dengan sholat Dhuhur, maka mereka mengatakan kebolehannya menjamak Jum’at dengan Ashar. Karena telah datang nash yang shahih dan jelas kebolehannya menjamak Dhuhur dengan Ashar.

Tarjih

Dimungkinkan keluar dari perselisihan (khuruj minal khilaaf) dengan melakukan kedua sholat tersebut pada waktunya masing-masing kembali kepada hukum Azimah/hukum asalnya yaitu sholat tepat pada waktunya. Jika ada pertanyaan apakah seorang yang bersafar setelah sholat Jum’at dan diperkirakan sampai di tempat tujuan pada waktu Maghrib yang notabene berarti pada waktu Ashar ia sedang dalam perjalanan? Maka jawabannya ia bisa melakukan Ashar ditengah perjalanannya dan diberikan keringanan untuk mengqoshor sholatnya-adapun berkaiatan dengan jarak yang diperbolehkan seorang mengqoshor sholat, kami memiliki bahasan khusus tentangnya, silakan dirujuk-.

Jika ada pertanyaan lagi bagaimana seandainya dalam perjalanan tersebut tidak memungkinkan baginya untuk turun dari kendaraan, karena misalnya ia naik bis umum yang baru berhenti di tempat tertentu atau ia naik pesawat atau Kapal yang tidak mungkin turun ke daratan, bagaimana cara ia sholat diatas kendaraan?

Maka jawabannya, kami tampilkan dari fatwa Lajnah Daimah berikut :

Soal : terkait dengan Musafir yang harus sholat diatas pesawat atau diatas Kapal di tengah lautan atau ia tidak mendapati air dan tayamum, sedangkan ia mendapati waktu sholat (diatas pesawat/kapal) dan pada waktu itu ia tidak mengetahui arah kiblat, apakah boleh baginya untuk sholat dan bagaimana tatacara sholatnya, mohon petunjuknya?

Jawab :

Jika pada waktu sholat ia berada diatas pesawat atau kapal, maka wajib bagi kaum Muslimin untuk sholat hadir sesuai dengan kondisi dan kemampuannya, jika ia mendapatkan air maka ia wajib bersuci dengannya, jika ia tidak mendapatkan air atau ada air tapi tidak mampu menggunakannya, maka ia bertayamum, jika mendapati debu atau selainnya.

Jika ia tidak mendapati air, debu dan apa saja yang semisal dengannya, maka gugur bersuci baginya dan ia sholat sesuai dengan kondisinya, karena Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman : “bertakwalah kepada Allah semampu kalian”.

Ia wajib menghadap kiblat lalu berputar sesuai dengan arah pesawat, untuk sholat wajib, adapun sholat sunnah maka ia sholat mengarah sesuai dengan arah pesawat, karena Nabi sholallahu alaihi wa salam dulu pernah bersafar dan sholat sunnah diatas kendaraanya menghadap sesuai arah kendaraannya. telah tsabit dari hadits Anas bin Malik rodhiyallahu anhu yang menunjukkan disyariatkannya menghadap kiblat ketika takbirotul Ihrom ketika memulai sholat dalam safar.

Fatwa no. 6275 dengan diketuai oleh Imam bin Baz.

 

Namun apabila kami dipaksa untuk memilih pendapat apakah diperbolehkan menjamak sholat jum’at dengan sholat Ashar?, maka kami merajihkan diperbolehkannya menjamak kedua sholat tersebut. Alasannya :

  1. Sholat Jum’at  adalah pengganti bagi sholat Dhuhur pada hari Jum’at. Seorang yang memiliki udzur syar’i untuk tidak menghadiri sholat Jum’at tetap wajib baginya sholat Dhuhur, sehingga secara fungsi sholat jum’at sama hukumnya dengan sholat Dhuhur yang diperbolehkan dilakukannya jamak dengan Ashar, sebagaimana telah tsabit dalilnya.
  2. Alasan Jamak adalah keringanan yang diberikan oleh syariat, sebagaimana dalam perkataan Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu ketika ditanya alasan Nabi sholallahu alaihi wa salam menjamak sholat, kata Beliau : “Nabi sholallahu alaihi wa salam menginginkan untuk tidak memberatkan umatnya”. Maka hadits ini umum mencakup juga didalamnya keringanan menjamak Jum’at dengan Ashar.
  3. Tidak adanya penukilan bahwa pada saat turun hujan lebat, pada waktu pelaksanaan sholat Jum’at, ternyata Nabi sholallahu alaihi wa salam tidak menjamak Jum’atnya dengan Ashar, hal ini menunjukkan bahwa menjamak keduanya tidak diperbolehkan. maka kami jawab bahwa tidak adanya penukilan Nabi sholallahu alaihi wa salam menjamak kedua sholat itu, bukan berarti tidak diperbolehkan menjamak keduanya, karena menjamak bukanlah sesuatu yang wajib ketika ada sebab diperbolehkannya, bahkan ini menunjukkan bahwa menjamak hukumnya sunnah saja, bagi yang ingin mengerjakan maka dipersilakan mengerjakannya dan bagi yang tidak menginginkan juga dipersilakan.
  4. Dalam riwayat Muslim, pada saat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam berhaji, Beliau melakukan wukuf di Arofah, namun Beliau tidak melakukan sholat Jum’at, menggantinya dengan sholat Dhuhur lalu dijamak dengan Ashar. Karena pada waktu itu berarti Beliau sedang safar. Wukuf tersebut memang diperselisihkan oleh para ulama, apakah pada hari Jum’at atau hari Sabtu, namun telah terdapat dalam riwayat lain bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam melakukan wukuf pada hari Jum’at. Berdasarkan hal ini, maka menunjukkan sholat Dhuhur sebagai pengganti sholat Jum’at yang bisa dijamak, hanyalah Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam tidak melakukan sholat Jum’at karena Beliau sedang melakukan safar, dimana kewajiban Jum’at gugur padanya. Wallahu A’lam bis Showaab.

Kami tutup dengan perkataan Syaikh as-Sudais :

وهذه مسألة اجتهادية فرعية، ليس لعامة المتقدمين فيها كلام، فالخلاف فيه يسير، ويأخذ بأرجح القولين عنده إن قدر على التمييز بينها، أو يقلد أوثقهم في نفسه .

“ini adalah permasalahan ijtihadiyah far’iyyah, tidak ada pembahasannya dikalangan ulama Mutaqodimin, maka perselisihan padanya ringan, diambil pendapat yang rajih, jika mampu untuk membedakannya atau taqlid kepada ulama yang lebih ia percayai”.  

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Assalamu’alaikum pak Umar. Alhamdulillah akhirnya saya menemukan penjelasannya tentang masalah jamak Sholat Jum’at ~ Asar. Kesimpulannya tidak ada dalilnya yang membolehkannya. Pak Umar bisa baca sendiri ini. Wassalam.

    Like

  2. Artikel yang menarik dan mendidik…

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: