SYARAH BUKHORI KITAB WUDHU BAB 10 MEMISAHKAN BASUHAN

April 18, 2014 at 1:38 am | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

بَابُ تَفْرِيقِ الغُسْلِ وَالوُضُوءِ

Bab 10 Memisahkan Basuhan ketika Mandi dan Wudhu

 

Penjelasan :

 

Bab ini adalah penjelasan hukum apakah diperbolehkan memisahkan membasuh anggota tubuh ketika mandi atau berwudhu. Imam Bukhori menukil atsar dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu, kata Imam Bukhori :

وَيُذْكَرُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ: «أَنَّهُ غَسَلَ قَدَمَيْهِ بَعْدَ مَا جَفَّ وَضُوءُهُ»

“disebutkan dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu bahwa beliau membasuh kedua kakinya, setelah mengering bekas basuhan anggota wudhu sebelumnya”.

 

Penjelasan :

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam “Al Fath” berkata :

هَذَا الْأَثَر رَوَيْنَاهُ فِي الْأُمِّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْهُ لَكِنْ فِيهِ أَنَّهُ تَوَضَّأَ فِي السُّوقِ دُونَ رِجْلَيْهِ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ ثُمَّ صَلَّى . وَالْإِسْنَادُ صَحِيحٌ فَيُحْتَمَلُ أَنَّهُ إِنَّمَا لَمْ يَجْزِمْ بِهِ ؛ لِكَوْنِهِ بِالْمَعْنَى

“Atsar ini diriwayatkan dalam Al-Umm dari Maalik dari Naafi’ dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu, namun disebutkan kisah bahwa Ibnu Umar rodhiyallahu anhu berwudhu di pasar tanpa membasuh kedua kakinya, lalu pergi ke masjid, kemudian membasuh kedua khufnya lalu sholat. Sanadnya shahih, disebutkan oleh Imam Bukhori dengan tidak men-jazm-kannya, karena mungkin beliau meriwayatkannya dengan makna”.

Imam Bukhori mengambil faedah bahwa Ibnu Umar rodhiyallahu anhu memisahkan membasuh anggota wudhu ketika kering, karena melihat komentar Imam Syafi’i terhadap atsar ini, sebagaimana dinukil oleh Al Hafidz :

قَالَ الشَّافِعِيّ : لَعَلَّهُ قَدْ جَفَّ وُضُوءُهُ ؛ لِأَنَّ الْجَفَافَ قَدْ يَحْصُلُ بِأَقَلَّ مِمَّا بَيْنَ السُّوقِ وَالْمَسْجِدِ

“Syafi’i berkata : ‘mungkin wudhunya sudah kering, karena bekas wudhu kering ketika melakukan perjalanan dari pasar ke masjid’. 

 

Berkata Imam Bukhori :

265 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَحْبُوبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَاحِدِ، قَالَ: حَدَّثَنَاالأَعْمَشُ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الجَعْدِ، عَنْ كُرَيْبٍ، مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَتْ مَيْمُونَةُ: «وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ، وَغَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ، فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ»

18). Hadits no. 265

“Haddatsanaa Muhammad bin Mahbuub ia berkata, haddatsanaa Abdul Waahid ia berkata, haddatsanaa Al-A’masy dari Saalim bin Abil Ja’di dari Kuroib –Maulaa Ibnu Abbas- dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu, ia berkata : Maimunah berkata : “aku menyediakan air yang dipergunakan Nabi sholallahu alaihi wa salam untuk mandi. Nabi sholallahu alaihi wa salam mencuci kedua tangannya, lalu mencuci kedua tangannya dua kali dua kali atau 3 kali. Lalu beliau membasuh tangan kanannya baru tangan kirinya, lalu Beliau mencuci kemaluannya, lalu menggosok-gosokkan tangannya ke tanah, lalu berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung. Lalu membasuh wajahnya, lalu membasuh kepalanya sebanyak 3 kali, lalu membasuh seluruh anggota tubuhnya, lalu mentas (bs. Jawa). Kemudian Nabi sholallahu alaihi wa salam mencuci kedua kakinya.

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

 

Semua perowinya telah berlalu keterangannya, kecuali :

1.  Nama                      : Abu Abdillah Muhammad bin Mahbuub

Kelahiran                : Wafat 223 H

Negeri tinggal         : Bahsroh

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban. Imam Abu Dawud menukil dari Imam Yahya bin Ma’in yang memujinya dan menilainya sebagai shoduq.

Hubungan Rowi       : Abdul Waahid adalah salah seorang gurunya dan tinggal senegeri dengannya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

 

Penjelasan Hadits :

  1. Para ulama berbeda pendapat tentang boleh tidaknya memisahkan membasuh anggota tubuh ketika wudhu dan mandi, dalam bab ini nampaknya Imam Bukhori cenderung kepada pendapat bolehnya hal tersebut.
  2. Diantara yang berpendapat membolehkan memisahkan basuhan anggota tubuh adalah Ibnu Umar rodhiyallahu anhu, Ibnul Musayyib, Athoo’, Thowuus, an-Nakhoi’, al Hasan, ats-Tsauri, Abu Hanifah, Syafi’i dan Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakim. Dalil pendapat ini adalah hadits Maimunah rodhiyallahu anha dan perbuatan Ibnu Umar rodhiyallahu anhu dalam atsar diatas. Kemudian mereka berdalil bahwa Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa memerintahkan orang yang berwudhu untuk membasuh semua anggota wudhu, maka jika seorang telah membasuh seluruh anggota wudhu sekalipun terpisah-pisah, berarti telah melaksanakan perintah tersebut dan huruf wawu sebagai kata sambung dalam ayat atau hadits tentang wudhu, tidak harus menunjukkan segera untuk menyambung basuhan satu anggota tubuh dan anggota wudhu lainnya. Imam Thohawi berkata :

جفوف الوضوء ليس بحدث فلا ينقض، كما أن جفوف سائر الأعضاء لا يبطل الطهارة.

“keringnya bekas air wudhu tanpa adanya hadats tidak membatalkan wudhu, sebagaimana jika seluruh anggota wudhu telah mengering, tidaklah hal itu berarti membatalkan kesuciannya”.

  1. Deretan para ulama yang tidak membolehkannya Umar bin Khothoob, Qotaadah, Robii’ah, Auza’i, al-Laits dan dhohirnya madzhab Malik jika ia memisahkan basuhan hingga sampai mengering. Ibnul Qoshoor mengatakan jika pemisahannya ada jeda sedikit boleh, jika karena lupa juga boleh, sekalipun masanya panjang, namun jika sengaja tidak boleh. Dalil mereka adalah bahwa perbuatan Nabi sholallahu alaihi wa salam yang baru membasuh kaki setelah mandi junubnya selesai adalah dengan waktu yang sedikit, adapun perbuatan Ibnu Umar rodhiyallahu anhu yang menunjukkan bahwa waktunya banyak adalah perbuatan pribadi Beliau saja, maka hal ini tidak bisa menentang perbuatan Nabi sholallahu alaihi wa salam.
  2. Pendapat yang rajih yang kami pilih adalah bahwa memisahkan wudhu atau mandi diperbolehkan, sekalipun dianjurkan/disunahkan untuk dilakukan secara berurutan, karena ini adalah perbuatan yang biasa dilakukan Nabi sholallahu alaihi wa salam. Dan pada hadits Maimunah rodhiyallahu anha terdapat isyarat, Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah memisahkan wudhu, jika yang sedikit juga boleh, maka yang banyak juga diperbolehkan, sebagaimana dipraktekan Ibnu Umar rodhiyallahu anhu. Hal ini dapat dikiyaskan dengan ibadah haji, dimana diperbolehkan tidak berurutan melakukan tawaf sebanyak 7 kali, maksudnya misal seorang setelah melakukan 5 kali tawaf ia beralih melakukan aktivitas lain, lalu kembali melanjutkan 2 putaran yang tersisa, maka ini diperbolehkan. (demikian secara ringkas penjelasan Imam Ibnu Bathol dalam Syarah Bukhori).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: