TAFSIR AL FATIHAH AYAT KE-6

April 18, 2014 at 2:40 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Tafsir “(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” (Al Fatihah : 6)

 

  1. Mufrodat Ayat

Sebagaimana pada mukadimah tafsir terhadap awal surat al-Fatihah, dimana kami berpendapat bahwa ‘Basmalah’ bukan termasuk ayat dalam surat Al Fatihah. Namun jika Basmalah tidak dimasukkan sebagai ayat pertama dalam surat Al-Fatihah, maka ayatnya akan berjumlah 6 (enam) buah, sedangkan dalam hadits dikatakan bahwa Al-Fatihah adalah “Sab’ul Matsaniy” yang maknanya adalah 7 ayat yang dibaca berulang-ulang. Oleh karena Imam Ibnu Utsaimin sebagai salah satu mufassirin zaman ini, berpendapat sesuai dengan siyaq ayat-ayat dalam Al-Fatihah, maka di ayat yang ketujuh –menurut orang yang berpendapat Basmalah adalah ayat ke-1, dibagi menjadi 2 yaitu صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ dan غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَاالضَّالِّينَ.  

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ” ((yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka) ini adalah badal dari ayat sebelumnya “shiroothol Mustaqiim“, atau ini sebagai athof bayaan, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Katsiir. Jika hal ini bermakna badal maka seolah-olah kita mohon kepada Allah untuk diberikan petunjuk kepada jalan yang mustaqiim –sebagaimana ayat sebelumnya- dan diberikan petunjuk kepada jalan orang-orang yang dianugerahi nikmat. Sehingga dengan pengulangan ini memiliki faedah ‘Taukid’ (penekanan).

   الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ” (orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka), hal ini disebutkan dalam surat an-Nisaa’ ayat 69-70 :

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا * ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui”.

عَلَيْهِمْ” kebanyakan ulama qiroah membacanya dengan mengkasrohkan huruh ‘Haa’-nya ”Alaihim’, sedangkan Imam Hamzah membacanya dengan mendhommah huruf Haa-nya, sehingga dibaca ”Alaihum’.   

 

 

 

  1. Kesimpulan Makna Ayat Secara Global

Jalan Mustaqiim yang kita senantiasa mohon kepada Rabbunaa itu adalah jalan orang-orang yang telah dikarunia nikmat oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat.

 

  1. Faedah Ayat
  2. Metode, pedoman ataupun petunjuk hidup adalah dengan mengikuti jalan orang yang telah diberi petunjuk kepada Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa, yakni dari kalangan para Nabi, para shidiqiin, para Syuhada dan orang-orang sholih.
  3. Ayat ini dalil bahwasanya hidayah adalah salah satu kenikmatan Allah yang terbesar. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman mengisahkan doa seorang anak sholih :

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Al-Ahqoof : 15).

Saya telah menulis tafsir tentang doa ini –silakan merujuknya-.

  1. Ayat ini menunjukkan keimaman sahabat Abu Bakar rodhiyallahu anhu, karena beliau telah dijuluki oleh Rasulullah sholallahu alaihi wa salam sebagai seorang yang shiddiq, sehingga tercakup dalam ayat ini. (faedah dari Imam Syinqithi dalam tafsirnya).
  2. Jalan orang-orang seperti yang disebutkan dalam ayat diatas itulah yang layak diikuti, barangsiapa yang menyelisihi jalan tersebut, maka ia telah menempuh kesesatan dan balasannya di neraka jahannam. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An-Nisaa’ : 115).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: