TAFSIR AL FATIHAH AYAT 7

April 19, 2014 at 2:05 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Tafsir “bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (Al Fatihah : 7)

 

  1. Mufrodat Ayat

غَيْرِ” (bukan) dikatakan oleh az-Zamakhsyariy sebagai badal dari   “ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ” (orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka) jika dikatakan maknanya bahwa mereka orang-orang yang diberi nikmat adalah orang-orang yang selamat dari kemurkaan dan kesesatan. Atau ia sebagai na’at/sifat, jika dikatakan maknanya adalah mereka yang terkumpul padanya kenikmatan mutlak yaitu keimanan dan keselamatan dari kemurkaan dan kesesatan. Oleh karenanya Imam Ibnu Katsiir menisbahkan pendapat bahwa i’rob ghoiri adalah sifat/na’at kepada pendapatnya jumhur ulama.

  “ الْمَغْضُوبِعَلَيْهِمْ ” (mereka yang dimurkai), yang dimaksud dengan al-Maghdhuub adalah Yahudi karena mereka mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya. Imam Syinqithi dalam tafsirnya menyebutkan 3 ayat yang berbicara tentang Yahudi yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang dimurkai. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

فَبَآءُو بِغَضَبٍ على غَضَبٍ

“Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan ” (QS. Al Baqoroh : 90).

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِّن ذلك مَثُوبَةً عِندَ الله مَن لَّعَنَهُ الله وَغَضِبَ عَلَيْهِ

“Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah ” (QS. Al Maidah : 60).

إِنَّ الذين اتخذوا العجل سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan ” (QS. Al A’raf : 152).

Imam as-Sa’diy dalam Tafsirnya berkata ketika menafsirkan al-Maghdhuub adalah :

الذين عرفوا الحق وتركوه كاليهود ونحوهم

Yakni mereka yang mengetahui kebenaran, namun meninggalkannya, seperti Yahudi dan semacamnya.

  “وَلَا الضَّالِّينَ ” (dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat), yang dimaksud dengan al-Dhooliin adalah Nashroni, karena mereka beramal tanpa ilmu. Imam Syinqithi dalam tafsirnya menyebutkan 1 ayat tentang Nashroni yang mereka adalah kaum yang tersesat. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

وَلاَ تتبعوا أَهْوَآءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّواْ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّواْ كَثِيراً وَضَلُّواْ عَن سَوَآءِ السبيل

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus ” (QS. Al Maidah : 77).

Imam as-Sa’diy dalam Tafsirnya berkata ketika menafsirkan al-Maghdhuub adalah :

الذين تركوا الحق على جهل وضلال، كالنصارى ونحوهم

Yakni mereka yang meninggalkan kebenaran, karena kejahilan dan kesesatan, seperti Nashroni dan semacamnya.

Penafsiran bahwa al-Maghdhuub adalah Yahudi dan adh-Dhooliin adalah Nashroni telah datang dari lisan Nabi kita Muhammad sholallahu alaihi wa salam :

 

الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ ” : الْيَهُودُ، وَلا الضَّالِّينَ: النَّصَارَى”

“yang dimurkai adalah yahudi dan yang sesat adalah Nashroni”.

Hadits ini shahih telah ditakhrij oleh Imam Al Albani dalam “ash-Shahihah” (3263) dan saya telah menukilkannya dalam shahih tafsir al-Fatihah –silakan dirujuk bagi yang ingin melihat jalan-jalannya-. Dengan adanya sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam maka menyelesaikan perselisihan pendapat tentang makna ayat diatas. Walhamdulillah.

 

  1. Kesimpulan Makna Ayat Secara Global

Kita memohon juga kepada Allah, agar diselamatkan dari jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat, seperti kaum Yahudi dan Nashroni, sehingga kita dapat menempuh jalannya orang-orang yang selamat yang telah dianugerahi Allah kenikmatan dunia dan akhirat.

 

  1. Faedah Ayat
  2. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa telah menjelaskan kepada kita 2 jalan kehidupan yakni satu adalah jalan keselamatan dan satunya lagi jalan kebinasaan. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (QS. Al Balad : 10).

Imam as-Sa’diy dalam Tafsirnya berkata tentang ayat ini :

طريقي الخير والشر، بينا له الهدى من الضلال، والرشد من الغي

Yakni 2 jalan, jalan kebaikan dan jalan kejelekkan, Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa telah menjelaskan jalan petunjuk dari yang sesat dan pengarahan dari penyimpangan.

  1. Disebutkannya Yahudi dan Nashroni sebagai kaum yang wajib kita jauhi jalannya, karena mereka adalah 2 kaum yang banyak digandrungi pemikiran, metode dan jalan hidupnya oleh kaum Muslimin, sebagaimana telah disinyalir oleh Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dalam haditsnya :

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ»، قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ: اليَهُودَ، وَالنَّصَارَى قَالَ: «فَمَنْ»

“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka berjalan ke lubang Dhobb, niscaya kalian akan mengikutinya. Kami berkata, apakah mereka Yahudi dan Nashoroni? Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “siapa lagi?” . (Muttafaqun alaih, ini lafadz Bukhori).

Seharusnya seorang Muslim tidak meniru gaya, metode dan jalan hidup orang yang telah dimurkai dan sesat, karena barangsiapa yang menyerupai mereka, maka khawatir akan digolongkan kedalam barisan mereka dan balasannya tentu di akhirat adalah neraka Jahannam. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk mereka” (HR. Abu Dawud dan selainnya, dikatakan Hasan Shahih oleh Imam Al Albani).

  1. Seorang Muslim yang sejati adalah seorang yang mampu menegakkan keilmiyahan dan amaliyahnya, jadi agama Islam dibangun diatas hujjah dan implementasi bukan sekedar wacana omong kosong atau tindakan serabutan tanpa ilmu.
  2. Terakhir setelah membaca surat ini dalam sholat-sholat kita, maka kita tutup doa yang terdapat dalam akhir-akhir surat al-Fatihah dengan kata Aamiin. Yang bermakna semoga Allah mengabulkan permohonan kita dalam kedekatan munajat kepada-Nya melalui sholat. Dalam sebuah riwayat Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

ذَا قَالَ الإِمَامُ: {غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] فَقُولُوا: آمِينَ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ المَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Jika Imam berkata : ‘bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat’. maka ucapkanlah : ‘Aamiin’, karena barangsiapa yang ucapan Amin-nya bersamaan dengan ucapan malaikat, akan diampuni dosanya yang telah lalu”.  (Muttafaqun alaih).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: