HORMATILAH PEMIMPIN ANDA

April 20, 2014 at 2:22 am | Posted in Hadits | Leave a comment

HORMATILAH PEMIMPIN ANDA

 

Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah bersabda :

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ أَهَانَهُ اللَّهُ، وَمَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللَّهِ أَكْرَمَهُ اللَّهُ

“Barangsiapa yang menghinakan pemimpinnya, maka Allah akan menghinakan orang tersebut dan barangsiapa yang memuliakan pemimpinnya, maka Allah akan memuliakannya”

Takhrij hadits :

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Qodho’i dalam “al-Musnad” (no. 419-cet. Muasasah ar-Risaalah) danImam Tirmidzi dalam “as-Sunan” (no. 2224-cet. Musthofa al-baabi al-Halabiy) dengan setengah lafadz yang pertama,Imam al-Bazaar dalam “al-Musnad” (no. 3670) dengan lafadz setengah yang pertama, Imam Ibnu Abi Ashiim dalam “as-Sunnah” (no. 1018-cet. Al-Maktab al-Islamiy) dengan lafadz setengah yang pertama dan Imam Abu Dawud ath-Thoyalisi dalam “al-Musnad” (no. 928-cet. Daaru Hijr) dengan lafadz setengah yang pertama. Semuanya diriwayatkan dari jalan Sa’ad bin Aus al-‘Abdiy dari Ziyaad bin Kusaib al-‘Adawiy dari Abu Bakrah rodhiyallahu anhu : ‘aku mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : al-hadits.  

Dalam beberapa riwayat, seperti dalam Musnad al-Bazaar terdapat kisah bagaimana Abu Bakrah rodhiyallahu anhu meriwayatkan hadits ini, yakni Ziyaad bin Kusaid al-‘Adawiy berkata :

خَرَجَ ابْنُ عَامِرٍ يَوْمَ جُمُعَةٍ فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ وَعَلَيْهِ ثِيَابٌ رِقَاقٌ، قَالَ: فَقَالَ أَبُو بِلَالٍ: انْظُرُوا إِلَى أَمِيرِكُمْ يَلْبَسُ ثِيَابَ الْفُسَّاقِ، قَالَ أَبُو بَكْرَةَ وَهُوَ تَحْتَ الْمِنْبَرِ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ: «مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ»

“Ibnu ‘Aamir keluar pada hari Jum’at, lalu beliau naik mimbar dengan memakai pakaian Riqooq, Abu bilaal berkomentar : ‘lihatlah amir kalian, ia mengenakan pakaian fasik!’, Abu Bakrah rodhiyallahu anhu berkata dibawah mimbar : “aku mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wa salam : “Barangsiapa yang menghina sulthon di dunia, maka Allah akan menghinakannya”.

Kedudukan perowi :

  1. Abu Muhammad Sa’ad bin Aus al-Bashriy, termasuk tabi’i shoghiir, ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban dan dikatakan shoduq oleh Imam as-Saajiy (tahdzibain). Didhoifkan oleh Imam Ibnu Ma’in, sedangkan Imam Abu Haatim menilainya, Shoolih (jarh wa Ta’dil Imam Ibnu Abi Hatim). Barangkali penilaian yang pertengahan untuk beliau adalah shoduq yang berarti hasan haditsnya, sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz dalam “at-Taqriib” yang menilainya, shoduuq lahu aghoolith (memiliki kekeliruan)
  2. Ziyaad bin Kusaib al-Bashriy, termasuk kalangan tabi’i wasith, hanya ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban (tahdzibul Kamaal). Oleh karenanya al-Hafidz menilainya maqbul dalam “at-Taqriib”
  3. Abu Bakrah Nufai’ bin Harits rodhiyallahu anhu, seorang shohabiyyun Jaliil.

Berdasarkan kondisi perowi diatas, maka kelemahan ada pada perowi Ziyaad dan beliau adalah majhul hal karena hanya memiliki 2 murid yaitu, Sa’ad bin Aus dan Mustalim bin Sa’id, sehingga hadits ini lemah jika tanpa adanya penguat. Namun Imam Al Albani dalam “Silsilah Ahaadits ash-Shahihah” (no. 2297) menemukan adanya penguat untuk jalan ini dari Imam Ibnu Abi ‘Aashiim dalam “as-Sunnah” (2/99) dari jalan Ibnu Luhaiyyah dari Abi Marhuum dari seorang laki-laki bani ‘Adiy dari Abdur Rokhman bin Abi Bakroh dari Bapaknya dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

من أجل سلطان الله أجله الله يوم القيامة

“Barangsiapa yang memuliakan pemimpinnya, maka Allah akan memuliakannya pada hari kiamat”.

Abdullah bin Luhaiyah perowi shoduuq yang mukhtalith setelah kitabnya terbakar (At-Taqriib), Abu Marhuum Abdur Rokhiim bin Maimun ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban, dikatakan Imam Nasa’i : ‘aku berharap ia laa ba’sa bih’, kemudian Imam Abu Hatim juga menilainya, tidak dijadikan hujjah haditsnya, namun ditulis haditsnya dan terakhir beliau didhoifkan oleh Imam Ibnu Ma’in (Tahdzibain). Maka perowi seperti ini layak dikatakan shoduq, sebagaimana penilaian al-Hafidz dalam “at-Taqriib”. Abdur Rokhman bin Abi Bakrah perowi tsiqoh dijadikan hujjah oleh Bukhori-Muslim. Maka kelemahan sanad ini ada pada perowi majhul yang tidak disebutkan namanya atau mubham. Berdasarkan hal ini, maka hadits ini lemah yang mungkin dapat dijadikan penguat.

Alhamdulillah Imam Al Albani menemukan penguat dengan lafadz yang semakna dalam musnad Imam Ahmad (no. 20433-cet. Ar-Risaalah) dari jalan Sa’ad bin Aus dari Ziyaad bin Kusaib dari Abu Bakroh dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dengan lafadz :

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا، أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا  ، أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang memuliakan sulthon Allah di dunia, maka Allah akan memuliakannya pada hari kiamat dan Barangsiapa yang menghinakan sulthon Allah di dunia, Allah akan menghinakannya pada hari kiamat”.

Oleh karenanya Imam Al Albani dalam kitabnya tersebut berkata :

و قد توبع على الشطر الأول منه في الطريق الأولى ، فالحديث حسن عندي . و الله أعلم .

“dan telah dikuatkan separuh lafadz yang pertama dalam jalan yang awal tadi (riwayat Imam Ibnu Abi Aashim-pent.), maka hadits ini hasan menurutku-Wallahu A’lam”

 Namun pentahqiq kitab Musnad Ahmad Syaikh Syu’aib Arnauth tidak mau menaikkan derajat hadits dalam Musnad Ahmad diatas dengan adanya jalan dari Imam Ibnu Abi ‘Aashim, kata beliau :

قلنا: وهذا إسناد ضعيف، ابن لهيعة سيئ الحفظ، وأبو مرحوم  ضعيف، والرجل من بني عدي مجهول، ولا يبعد أن يكون سعدَ بن أوس، وهو ضعيف، أو زيادَ بن كسيب، وهو مجهول. فيكون مدار الحديث على واحد منهما، ويبقى ضعيفاً. والله تعالى أعلم.

“kami katakan, sanad ini lemah, Ibnu Luhaiyah jelek hapalannya, Abu Marhuum dhoif, laki-laki dari Bani ‘Adiy majhul dan tidak jauh kalau ia adalah Sa’ad bin Aus yang dhoif atau Ziyaad bin Kusaib yang majhuul, maka poros hadits beredar diantara salah satu mereka, sehingga tetap dhoif haditsnya. Wallahu Ta’aalaa A’lam.

Namun kami condong kepada pendapat bahwa hadits ini hasan lighoirihi, karena perowi yang majhul dalam sanadnya Imam Ibnu Abi ‘Aashim bukan Sa’ad bin Aus atau Ziyaad bin Kulaib, hal ini berdasarkan catatan penulis kitab biografi perowi seperti Imam al-Mizzi dalam “Tahdzibul Kamaal” tidak menyebutkan bahwa kedua perowi tersebut adalah salah satu diantara deretan muridnya perowi Abdur Rokhman bin Abi Bakrah. Sehingga sanad ini dapat menguatkan sanadnya Imam Ahmad, karena perowi majhul dapat dijadikan sebagai penguat. Syaikh Abul Hasan pernah bertanya kepada Imam Al Albani sebagai tertulis dalam Multaqo ahlil hadits :

س13: فما القول في رواية مجهول العين إذا انضم إليه رواية مجهول مثله ؟

ج/ تقوي إحداهما الأخرى بشرط اختلاف المخرج . وكذا منقطع إذا انضم إليه منقطع آخر

Soal : bagaimana pendapat anda berkaitan dengan riwayat majhul ain jika terkumpul juga riwayat majhul ain yang seperti itu?

Jawab : saling menguatkan satu sama lainnya dengan syarat berbeda jalur periwayatannya, demikian juga hadits yang munqothi’ (terputus sanadnya) jika berkumpul bersama hadits munqothi lainnya (akan saling menguatkan).

Dan yang menarik adalah sebagaimana dalam salah satu riwayat, bahwa Abu Bakrah meriwayatkan hadits ini, karena ada komentar yang melecehkan dari Abu Bilaal terhadap pemimpin pada waktu itu yakni Ibnu ‘Aamir, yang kemudian Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu mengingatkannya dengan hadits ini. tahukah anda siapakan Abu Bilaal? Ia adalah Mardas bin Adiyah salah seorang pemimpin Khowarij pada waktu itu, sebagaimana disebutkan dalam “Tarikh Damasyqi” dan juga disebutkan Imam adz-Dzahabi dalam buku biografi perowinya. Maka tahulah kita, salafnya orang khowarij adalah para pencela pemimpin dan alangkah samanya hari itu dengan hari ini, syiar mereka sama, penghinaan dan pelecehan penguasa bahkan sampai pengkafiran. sedangkan salaf kita –Alhamdulillah- dari para sahabat dan ulama yang berjalan dibelakang mereka adalah senantiasa memberikan nasehat untuk tidak mencela penguasa Muslim. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ

“Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa” (QS. Al Baqoroh : 118)

 

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: