MEMBUKA TELAPAK TANGAN KANAN KETIKA SALAM KE KANAN DAN MEMBUKA TELAPAK TANGAN KIRI KETIKA SALAM KE KIRI

May 11, 2014 at 2:31 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MEMBUKA TELAPAK TANGAN KANAN KETIKA SALAM KE KANAN DAN MEMBUKA TELAPAK TANGAN KIRI KETIKA SALAM KE KIRI

 

Sering kita lihat, bahkan mungkin anda sendiri yang melakukannya yakni pada akhir sholat ketika salam, telapak tangan yang diletakkan diatas pahanya dari posisinya yang semula telungkup, pada saat bersalam sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, diikuti dengan membuka telapak tangannya yang kanan jika bersalam ke kanan dan yang kiri jika bersalam ke kiri.

Wallahu A’lam -fiimaa na’lam- tidak ada dalil untuk mengerjakan sifat sholat ini, bahkan yang ada adalah hadits yang melarangnya, berikut hadits-haditnya dengan berbagai macam lafadz :

  1. Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 431-cet. Daar Ihyau Turtots) meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubaidullah bin al-Qibthiyyah dari Jaabir bin Samurah rodhiyallahu anhu bahwa beliau berkata :

كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْنَا: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الْجَانِبَيْنِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَلَامَ تُومِئُونَ بِأَيْدِيكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمْسٍ؟ إِنَّمَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى أَخِيهِ مَنْ عَلَى يَمِينِهِ، وَشِمَالِهِ»

“kami pernah sholat bersama Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, kami ketika salam berkata, Assalamu alaikum wa rokhmatullah- Assalamu alaikum wa rokhmatullah, sambil berisyarat dengan tangan kami ke sisi kanan dan sisi kiri. Lalu Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “apakah kalian berisyarat dengan tangan kalian, seperti ekor kuda liar?, cukuplah kalian untuk meletakkah tangan kalian diatas pahanya, lalu mengucapkan salam kepada saudaranya di sebelah kanan dan kirinya”.

  1. Dalam lafadz lain masih dengan jalan diatas, Jaabir rodhiyallahu anhu berkata :

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا سَلَّمْنَا قُلْنَا بِأَيْدِينَا: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، فَنَظَرَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «مَا شَأْنُكُمْ تُشِيرُونَ بِأَيْدِيكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمْسٍ؟ إِذَا سَلَّمَ أَحَدُكُمْ فَلْيَلْتَفِتْ إِلَى صَاحِبِهِ، وَلَا يُومِئْ بِيَدِهِ»

“aku sholat bersama Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, kami ketika salam berkata dengan tangan kami Assalamu alaikum-Assalamu alaikum, maka Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melihat hal itu, lalu bersabda : “apa perkaranya, sampai kalian berisyarat dengan tangan kalian, seolah-olah itu ekor kuda liar? Jika kalian salam, maka ucapkanlah salam kepada teman kalian dan jangan berisyarat dengan tangan kalian”

Dhohirnya larangan ini adalah haram, karena Nabi sholallahu alaihi wa salam melarang hal tersebut, namun atas pertimbangan yang penulis belum mengetahuinya, Syaikh Sayyid Sabiq dalam “Fiqhus Sunnah” memasukkan hal ini kedalam hal-hal yang makruh dalam sholat, beliau berkata di point ke-enam :

الاشارة باليدين عند السلام

“berisyarat dengan kedua tangan ketika salam”.

Adapun Syaikh Mahmud Abdul Latiif dalam kitabnya “Jaamiul Ahkamis Sholat” berkata :

ولا تُشرع حركة الأيدي عند التسليم ، لا بالتلويح بها مع كل تسليمة، ولا بالإشارة بها، ولا بالرمي بها

 “tidak disyariatkan menggerak-gerakkan tangan ketika salam, tidak membalikkan (telapak tangan) pada saat kedua salam, tidak juga berisyarat atau menandai salamnya dengan tangan”.

 Wallahu A’lam, penulis lebih condong kepada pendapat diharamkannya melakukan sifat sholat sebagaimana judul tulisan ini, karena adanya teguran dari Nabi sholallahu alaihi wa salam kepada para sahabatnya yang melakukan sifat sholat tersebut, kemudian para sahabat rodhiyallahu anhum mematuhi hal tersebut, dalam salah satu lafadznya, Jaabir bin Samuroh rodhiyallahu anhu berkata :

فَلَمَّا صَلُّوا مَعَهُ أَيْضًا لَمْ يَفْعَلُوا ذَلِكَ   

“maka ketika mereka sholat bersama Nabi sholallahu alaihi wa salam berikutnya, mereka sudah tidak melakukannya lagi” (HR. Abu ‘Awaanah dalam Mustakhroj, Thabrani dalam Mu’jam Kabiir dan Ausath, dishahihkan oleh Al Albani dalam sifat sholat Nabi).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: