SHOLAT SUNNAH MALAM PERTAMA

May 11, 2014 at 3:56 am | Posted in fiqih | Leave a comment

SHOLAT SUNNAH MALAM PERTAMA

 

Sholat bagi seorang Muslim adalah perkara yang sangat penting setelah tauhid kepada Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa. Dalam kondisi apapun sholat tidak lepas dari pensyariatannya. Selain sholat 5 waktu yang diwajibkan oleh syariat kepada kaum Muslimin yang menghiasi hari-hari mereka, maka masih banyak lagi sholat-sholat tathowu (tambahan) yang dapat diisi oleh setiap Muslim. Hampir dalam setiap moment-moment penting kehidupan umat Muslim, disana disyariatkan sholat.

Ketika seorang Muslim sedang berbahagia pada hari rayat, ada yang namanya sholat I’ed, pada saat menghadapi musuh di medan jihad, tetap ada sholat Khouf. Ketika seorang Muslim bimbang dengan pilihan hidupnya ada sholat Istikhoroh, pada saat musim paceklik, sehingga hujan seperti sesuatu yang paling dinanti, maka disyariatkan sholat Istisqo. Bahkan dalam moment-moment kesedihan tetap disyariatkan sholat, seperti sholat jenazah dan penulis memiliki sebuah artikel berkenaan dengan sholat eksekusi mati.

Salah satu moment yang paling membahagiakan hati seorang Muslim adalah ketika ia akan mengarungi bahtera kehidupan ini dengan pasangannya tercinta, yakni ketika ia akan melangsungkan akad/perjanjian yang Gholidh (yang kuat) yakni pernikahan. Maka tidak ketinggalkan juga syar’i menganjurkan umatnya untuk melaksanakan sholat, yaitu ketika ia akan menjalani malam yang terindah dalam hidupnya, malam pertama dengan kekasihnya. Inilah sholat sunnah malam pertama.

Fiima Na’lam- yang mempopulerkan sholat sunnah ini adalah al-Imam Muhammad Naashiruddin Al Albani –Jazakallah khoir atas pengorbanan beliau dalam berkhidmat kepada sunah Nabi- dalam kitabnya “Adabuz Zifaaf”, beliau berkata (hal. 94-cet. Daarul Islam) :

ويستحب لهما أن يصليا ركعتين معا لأنه منقول عن السلف

“dianjurkan pasangan suami-istri untuk sholat dua rakaat berjamaah, karena hal ini ternukil dari Salaf”.

Kemudian Imam Al Albani menyebutkan dua atsar dari sahabat yang menunjukkan disyariatkannya sholat sunnah ini yakni :

  1. Imam Ibnu Abi Syaibah dalam “al-Mushonaf” (no. 29733-cet. Maktabah ar-Rusydi)  meriwayatkan :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ، عَنْ دَاوُدَ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَوْلَى أَبِي أُسَيْدٍ: تَزَوَّجْتُ وَأَنَا مَمْلُوكٌ، فَدَعَوْتُ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْنُ مَسْعُودٍ، وَأَبُو ذَرٍّ، وحُذَيْفَةُ يُعَلِّمُونَنِي، فَقَالَ: «إِذَا دَخَلَ عَلَيْكَ أَهْلُكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلِ اللَّهَ مِنْ خَيْرِ مَا دَخَلَ عَلَيْكَ، ثُمَّ تَعَوَّذْ بِهِ مِنْ شَرِّهِ، ثُمَّ شَأْنُكَ وَشَأْنُ أَهْلِكَ»

“haddatsanaa Abdullah bin Idriis dari Daawud dari Abi Nadhroh dari Abi Sa’id Maulaa Abi Usaid ia berkata : “aku menikah dengan seorang budak, lalu aku mengundang beberapa orang sahabat, diantaranya yaitu Ibnu Mas’ud, Abu Dzar dan Khudzaifah rodhiyallahu anhum ajma’in, mereka mengajariku, kata mereka : “jika engkau masuk ke kamar istrimu, maka sholatlah dua rakaat, lalu mintalah kepada Allah kebaikan dari apa yang masuk kedalam rumah dan berlindung dari kejelekkannya, kemudian lakukanlah apa yang dilakukan kepada seorang istri”.

Kedudukan perowinya :

Abdullah bin Idris, perowi tsiqoh perowinya Bukhori-Muslim. Dawud adalah ibnu Abi Hindin, perowi tsiqoh dipakai oleh Muslim. Abu Nadhroh Mundzir bin Malik, perowi tsiqoh dipakai oleh Muslim. (demikian penilaian Al Hafidz dalam “at-Taqriib”). Adapun Abu Sa’id Maula Abi Usaid, maka Imam Al Albani dalam kitab diatas (hal. 95) berkata :

وهو مستور لم أجد من ذكره سوى أن الحافظ أورده في “الإصابة” فيمن روى عن مولاه أبي أسيد مالك بن ربيعة الأنصاري ثم رأيته في ثقات ابن حبان قال 5/588 هندية:

” يروي عن جماعة من الصحابة روى عنه أبو نضرة”.

“beliau Abu Sa’id mastuur, aku tidak menemukan yang menyebutkannya kecuali al-Hafidz dalam “al-Isobah”  menyebutkan beliau diantara orang-orang yang meriwayatkan dari Abu Usaid Maalik bin Robi’ah al-Anshori rodhiyallahu anhu. Lalu aku melihat dalam tsiqot Ibnu Hibban (5/588-cet. Hindiyah) : ‘beliau meriwayatkan dari sejumlah sahabat dan diriwayatkan haditsnya oleh Abu Nadhroh’.

Alhamdulillah penulis menemukan penilaian Imam al-Haitsami dalam “Majmuz Zawaaid” ketika mengomentari hadits no. 12000 (cet. Daarul Fikr), beliau berkata : ‘رواه البزار ورجاله رجال الصحيح غير أبي سعيد مولى أبي أسيد وهو ثقة(diriwayatkan oleh al-Bazaar, perowinya para perowi shahih, kecuali Abi Sa’id Maulaa Abi Usaid, beliau tsiqoh). Sehingga sanad atsar ini shahih. Wallahu A’lam.

  1. Dari Syaqiiq beliau berkata :

جاء رجل يقال له: أبو حريز فقال: إني تزوجت جارية شابة [بكرا] وإني أخاف أن تفركني فقال عبد الله يعني ابن مسعود: إن الإلف من الله والفرك من الشيطان يريد أن يكره إليكم ما أحل الله لكم فإذا أتتك فأمرها أن تصلي وراءك ركعتين”. زاد في رواية أخرى عن ابن مسعود:

“وقل: اللهم بارك لي في أهلي وبارك لهم في اللهم اجمع بيننا ما جمعت بخير وفرق بيننا إذا فرقت إلى خير”

“seorang laki-laki datang yang dipanggil dengan nama Abu Hariiz ia berkata : “sesungguhnya aku menikahi wanita perawan, aku khawatir ia tidak senang kepadaku, maka Abdullah –bin Mas’ud- berkata : “sesungguhnya kelembutan berasal dari Allah, sedangkan kemarahan berasal dari syaithon yang mengingkan agar kalian tidak menyukai apa yang Allah halalkan bagi kalian, jika engkau mendatanginya, maka perintahkan ia sholat dibelakangmu dua rakaat”.

Dalam riwayat lain terdapat tambahan dari Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu :

“lalu berdoalah, Ya Allah berkahilah aku dan keluargaku dan berkahilah untuk merka apa yang ada padaku, Yaa Allah persatukanlah kami dengan persatuan yang baik dan pisahkanlah kami jika berpisah adalah yang terbaik”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abdur Rozaq dalam “al-Mushonnaf” (no. 10461-cet. Al-Maktabul Islamiy) dan Imam Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya diatas (no. 17156) semuanya berasal dari al-A’masy dari Syaqiiq Abu Wail ia berkata : “al Hadits”.

Sulaiman bin Mihroon dan Abu Wail Syaqiiq bin Salamah adalah para perowi tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim. Sehingga sanad atsar ini shahih, sebagaimana juga dikatakan oleh Imam Al Albani.

Jadi sholat sunnah ini disyariatkan, sekalipun dalil pensyariatannya datang dari para sahabat, maka inilah yang dinamakan oleh para ulama ushul dan hadits, riwayat mauquf yang memiliki hukum marfu’, karena tidaklah mungkin hal ini bersumber dari ijtihad pribadi mereka para sahabat. Para ulama seperti Imam Abdur Rozaq memasukkan atsar ini dalam kitabnya kemudian beliau memberinya judul :

بَابُ مَا يَبْدَأُ الرَّجُلُ الَّذِي يَدْخُلُ عَلَى أَهْلِهِ

“Bab apa yang dimulai oleh seorang laki-laki ketika masuk ke rumah istrinya”.

Sedangkan Imam Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya, memberi judul babnya :

مَا يُؤْمَرُ بِهِ الرَّجُلُ إِذَا دَخَلَ عَلَى أَهْلِهِ؟

“apa yang diperintahkan bagi seorang laki-laki ketika masuk ke rumah istrinya”.

Kemudian apabila ada yang bertanya bagaimana kaifiyat sholat sunnah ini, maka berdasarkan atsar dan dalil-dalil sholat pada umumnya, bahwa sholat ini dikerjakan sebanyak 2 rakaat dengan tatacara sholat pada umumnya, dilaksanakan sebelum malam pertama, seorang berhubungan dengan istri pertamakali. Sang suami menjadi imam sholatnya dan sang istri menjadi makmum, sholat dibelakangnya. Setelah selesai sholat sang suami berdoa sebagaimana dalam atsar point no. 2 dan boleh ditambahkan dengan doa-doa kebaikan lainnya. Semoga pasangan baru yang mengamalkan sunnah ini, dapat diberikan kelanggengan dalam kehidupan rumah tangganya. Amiin.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: