MENASEHATI PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN

May 18, 2014 at 4:01 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

MENASEHATI PEMIMPIN PEMERINTAHAN

 

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengatakan bahwa agama ini adalah nasehat, maka para sahabat rodhiyallahu anhum bertanya, kepada siapa nasehat ini?, Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab :

«لله،وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسولِهِ، وَلأَئِمَّةِ المْسْلِمِينَ، وَعَامَّتِهِمُ»

“kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Pemimpin kaum Muslimin dan umumnya kaum muslimin” (HR. Muslim).

Dalam hadits ini terkandung faedah bahwa diantara pokok agama ini adalah menasehati pemimpin kaum Muslimin agar mereka senantiasa berada di jalan yang lurus, memerintah dengan adil dan melaksanakan hukum-hukum Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa. Namun perlu ditegaskan bahwa menasehati pemimpin kaum muslimin, bukanlah dengan cara mengumbar aibnya dimuka umum, memprovokasi rakyat agar memberontak dan melakukan agitasi-agitas agar tidak menyukai pemimpinnya. Semua ini menyelisihi manhaj salaf.

Imam Ibnu Mandah dalam “al-Iman” (1/424-cet. Ar-Risaalah, Beirut) berkata :

وأما النصيحة لأئمة المسلمين فحب صلاحهم ورشدهم وعدلهم واجتماع الأمة عليهم وكراهية افتراق الأمة عليهم والتدين بطاعتهم في طاعة الله والبغض لمن أراد الخروج عليهم

“adapun nasehat kepada pemimpin (pemerintahan) kaum muslimin adalah menyukai perbaikan untuk mereka, menunjuki mereka kepada keadilan, menyatukan umat dibawah kepemimpinannya, membenci perpecahan umat, berkeyakinan bahwa ketaatan kepada mereka berarti taat kepada Allah dan membenci orang yang ingin keluar dari pemerintahannya”.

Imam Nawawi dalam “Syarah Shahih Muslim” (2/38-cet. Daaru Ihyaau Turots, Beirut) juga berkata :

وَأَمَّا النَّصِيحَة لِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ فَمُعَاوَنَتهمْ عَلَى الْحَقّ ، وَطَاعَتُهُمْ فِيهِ ، وَأَمْرُهُمْ بِهِ ، وَتَنْبِيههمْ وَتَذْكِيرهمْ بِرِفْقٍ وَلُطْفٍ ، وَإِعْلَامهمْ بِمَا غَفَلُوا عَنْهُ وَلَمْ يَبْلُغهُمْ مِنْ حُقُوق الْمُسْلِمِينَ ، وَتَرْك الْخُرُوج عَلَيْهِمْ ، وَتَأَلُّف قُلُوب النَّاس لِطَاعَتِهِمْ

“adapun nasehat kepada pemimpin (pemerintahan) kaum muslimin adalah membantu mereka dalam kebaikan, menataati mereka dan perintahnya, menjelaskan dan mengingatkan mereka dengan lemah lembut, memberitahu mereka jika mereka lalai dan belum menyampaikan hak-hak kaum Muslimin, tidak memberontak mereka dan melembutkan hati manusia agar mentaati mereka”.

Imam bin Baz pernah ditanya dengan pertanyaan berikut :

Soal : apakah termasuk manhaj Salaf mengkritik pemimpin kaum Muslimin diatas mimbar? Dan bagaimana manhaj salaf dalam menasehati pemimipin?

Jawab :

Bukanlah termasuk manhaj Salah mengumbar aib pemimpin dan menyebutkannya diatas mimbar-mimbar, karena ini adalah perkara yang mudhorot yang tidak ada manfaatnya. Namun metode yang mutabaah menurut salaf adalah menasehati pemimpin secara langsung tatap muka (dengan “4 mata”), menulis nasehat kepadanya atau menghubungi ulama yang memiliki koneksi dengan mereka, sehingga tersampaikan kebaikan. (dinukil dari catatan kaki kitab as’ilah Manhajil Jadiidah dari kumpulan fatwa Syaikh al-Fauzan).

Imam Ibnu Utsaimin dalam “Syarah Riyadhus Sholihin” (2/395-cet. Daarul Wathoon, Riyaadh) berkata :

وعلى كل حال من النصيحة لأئمة المسلمين في العلم والدين أن لا يتتبع الإنسان عوراتهم، بل يلتمس العذر لهم

“kesimpulannya, termasuk nasehat kepada pemimpin kaum muslimin berkaitan dengan ilmu dan agama adalah agar manusia tidak mencari-cari aibnya, namun berusaha memberikan udzur kepada mereka”.

Dari penyatataan para Aimah diatas, jelaslah bagi kita bahwa metode yang benar yang diridhoi oleh Islam dalam memberikan nasehat kepada pemimpin kita yakni dengan nasehat yang lemah lembut, secara tersembunyi, tidak mengumbar aibnya dimuka umum, apalagi sampai melakukan provokasi agar kaum Muslimin mencabut ketaatan kepadanya. Metode ini diambil dari saripati nubuwah yang suci dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Ibnu Abi Ashim dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth :

جَلَدَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ صَاحِبَ دَارِيَا حِينَ فُتِحَتْ فَأَغْلَظَ لَهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ الْقَوْلَ حَتَّى غَضِبَ عِيَاضٌ ثُمَّ مَكَثَ لَيَالِيَ فَأَتَاهُ هِشَامُ بْنُ حَكِيمٍ فَاعْتَذَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ قَالَ هِشَامٌ لِعِيَاضٍ أَلَمْ تَسْمَعْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا أَشَدَّهُمْ عَذَابًا فِي الدُّنْيَا لِلنَّاسِ فَقَالَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ يَا هِشَامُ بْنَ حَكِيمٍ قَدْ سَمِعْنَا مَا سَمِعْتَ وَرَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ أَوَلَمْ تَسْمَعْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ

وَإِنَّكَ يَا هِشَامُ لَأَنْتَ الْجَرِيءُ إِذْ تَجْتَرِئُ عَلَى سُلْطَانِ اللَّهِ فَهَلَّا خَشِيتَ أَنْ يَقْتُلَكَ السُّلْطَانُ فَتَكُونَ قَتِيلَ سُلْطَانِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“‘Iyaadh bin Ghonam Rodhiyallahu ‘anhu sedang mencambuk penduduk Daaroyaa ketika mereka ditaklukkan, maka Hisyaam bin Hakiim Rodhiyallahu ‘anhu marah kepada ‘Iyaadh Rodhiyallahu ‘anhu dan mengucapkan kata-kata yang membuat marah ‘Iyaadh, lalu setelah beberapa hari, Hisyaam bin Hakiim Rodhiyallahu ‘anhu mendatangi ‘Iyaadh Rodhiyallahu ‘anhu untuk meminta maaf, kemudian Hisyaam berkata kepada Iyaadh : “bukankah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “sesungguhnya manusia yang paling keras siksaan adzabnya adalah mereka yang paling keras menyiksa manusia ketika di dunia”. ‘Iyaadh bin Ghonam berkata : “Yaa Hisyaam bin Hakiim, kami telah mendengar apa yang engkau dengar dan kami memandang sama seperti pandanganmu, bukankah engkau juga pernah mendengar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “barangsiapa yang ingin menasehati penguasanya tentang suatu perkara, maka janganlah diungkapkan secara terang-terangan, namun peganglah tangannya, lalu ajak menyendiri, jika ia menerima nasehat, maka itulah yang dikehendaki, namun jika ia enggan menerima nasehat, engkau telah menunaikan kewajibanmua”.

Engkau wahai Hisyaam, telah melakukan suatu perbuatan yang jika engkau lakukan dihadapan shulthon, aku khawatir shulthon tersebut akan membunuhmu, sehingga engkau menjadi orang yang terbunuh oleh Sulthonnya Allah”.

Syaikh Syu’aib Arnauth dalam “Ta’liqnya terhadap Musnad Ahmad” menukil ucapan Imam as-Sindiy yang berkata :

من أراد أن ينصح لسلطان”: أي نصيحة السلطان ينبغي أن تكونَ في السِّرِّ لا بين الخلق.

“maksud sabdanya : “barangsiapa yang ingin menasehati sulthon”, yaitu dalam menasehati shulthon (pemimpin) hendaknya secara tersembunyi, jangan diumbar didepan khalayak ramai”.

 Sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam ini benar-benar dilakukan oleh para sahabat, misal saja sahabat Usamah Rodhiyallahu ‘anhu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Abu wail Syaqiiq, kata beliau :

(( قيل لأسامة : لو أتيت فلانًا – وفي رواية لمسلم : ألا تدخل على عثمان فتكلّمه؟ -، قال : إنكم لترون أني لا أكلمه إلا أُسمعكم !، إني أكلمه في السّر. – وفي رواية مسلم : والله لقد كلمته فيما بيني وبينه – دون أن أفتح بابًا لا أكون أوّل من فتحه ))

“dikatakan kepada Usamah : ‘seandainya engkau mendatangi fulan-dalam lafadz Muslim- kenapa engkau tidak mendatangi Utsman Rodhiyallahu ‘anhu lalu berbicara kepadanya?’. Maka Usamah Rodhiyallahu ‘anhu berkata : “sesungguhnya kalian ingin agar apa yang aku bicarakan, kalian perlu mendengarnya!, aku telah berbicara kepada beliau secara sembunyi”. Dalam lafadz Muslim : “demi Allah, aku telah berbicara kepada beliau secara tatap muka, tanpa perlu aku membuka pintu, aku tidak ingin menjadi orang yang pertamakali membuka pintu (fitnah)”.

Al Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan hadits ini dalam Fathul Barinya :

( قال المهلّب : أرادوا من أسامة أن يكلم عثمان، وكان من خاصته، وممن يختلف عليه في شأن الوليد بن عقبة، لأنه كان ظهر عليه ريح نبيذ، وشهر أمره، وكان أخا عثمان لأمه، وكان يستعمله، فقال أسامة : (( قد كلمته سراً دون أن أفتح بابًا )) أي : باب الإنكار على الأئمة علانية، خشية أن تفترق الكلمة .

وقال عياض : مراد أسامة : أنه لا يفتح باب المجاهرة بالنكير على الإمام؛ لما يخشى من عاقبة ذلك، بل يتلطّف به، وينصحه سرًا، فذلك أجدر بالقبول ) .

“al-Muhallab berkata : “mereka menginginkan Usamah berbicara kepada Utsman Rodhiyallahu ‘anhu –Usamah memiliki hubungan khusus dengan Utsman Rodhiyallahu ‘anhu- berkaitan perkara al-Waliid bin ‘Uqbah, karena jelas sekali bau anggur –dari mulutnya- dan perkaranya sudah masyhur, ia adalah saudara Utsman dari ibunya, ia diberikan jabatan dalam pemerintahan Ustman. Usamah berkata : “aku telah berbicara secara rahasia dengannya, tanpa perlu membuka pintu fitnah”. Yakni pintu pengingkaran kepada pemimpin secara terang-terangan, karena khawatir akan tercerai berai kalimat persatuan.

Iyaadh berkata : ‘yang dimaksud Usamah Rodhiyallahu ‘anhu adalah beliau tidak ingin membuka pintu terang-terangan didalam mengingkari pemimpin, khawatir akibat tidak baiknya, namun beliau menempuh nasehat lemah lembut dan secara rahasia, karena ini lebih sesuai”. (dinukil dari catatan kaki kitab as’ilah Manhajil Jadiidah dari kumpulan fatwa Syaikh al-Fauzan).

Dari penjelasan diatas sangat terang sekali bagaimana metode Islam dalam menasehati penguasa kaum Muslimin. Namun sangat disayangkan beberapa aktivis Islam keluar dari metode ini dalam berhubungan dengan penguasanya. Kemudian pada saat-saat ini muncul syubhat yang aneh yang kelihatannya mereka berusaha mengambil celah –padahal tidak ada celah sedikitpun- yakni bahwa larangan mengumbar aib dan menasehati terang-terangan adalah bagi pemimpin yang ia berada dibawah kekuasaannya, adapun orang diluar kekuasaan wilayahnya, maka boleh menasehati, mengumbar penyimpangan-penyimpangannya –menurut dugaan mereka- dan aib-aibnya dengan tujuan memprovokasi umat atau mempengaruhi mereka agar tidak memilihnya kembali sebagai pemimpin atau motif-motif politik lainnya. Jadi menurutnya, orang di kota A boleh membuka aib pemimpin di kota B dan orang di kota B boleh membuka aib pemimpin di kota A dan seterusnya.

Tentu manhaj ini sangat jelas kerusakannya, karena bisa saja orang yang ada di kota A akan menyuruh provokator yang ada di kota B untuk membongkar aib pemimpin kota A, padahal apa yang disampaikan orang di Kota B tersebar luas tidak hanya penduduk yang ada di kota A tapi mungkin bahkan seluruh dunia dengan akses jaringan internet yang sudah mendunia, sehingga akhirnya terjadilah provokasi dan agitasi terhadap penduduk kota A dan wilayah sekitarnya juga akan ikut-ikutan karena efek pengaruhnya. Sehingga berdasarkan kaedah fikih yang telah disepakati bahwa “daf’ul Mafaasid yuqoddamu bil jalbil Mashoolih” (menolak kerusakan didahulukan dibandingkan mengambil manfaat). Artinya bahwa kerusakam-kerusakan yang timbul akan lebih dahsyat dengan adanya provokasi-provokasi diatas dibandingkan manfaat yang hendak diperoleh –jika ada- dengan membeberkan aib pemimpin di wilayah lain tersebut.

Sebenarnya bagi orang yang jeli, pada 2 atsar sahabat yang kami bawakan diatas terdapat bantahan terhadap manhaj yang menyimpang tadi, yakni Iyaadh bin Ghonam Rodhiyallahu ‘anhu dalam kisah diatas pada waktu itu adalah gubernur Daarooya dibawah pemerintahan Umar bin Khothob Rodhiyallahu ‘anhu, sedangkan Hisyaam bin Hakiim adalah penduduk Syaam yang sering berkeliling memberikan nasehat kepada kaum Muslimin, maka seandainya boleh bagi seorang yang diluar wilayah seorang pemimpin untuk menasehatinya secara terang-terangan diatas mimbar didepan khayalak, tentu ‘Iyaadh Rodhiyallahu ‘anhu tidak akan mengingatkan Hisyam Rodhiyallahu ‘anhu yang mengkritiknya secara keras ketika sedang memberikan hukuman kepada warganya.

Kemudian dalam atsar yang kedua Usamah Rodhiyallahu ‘anhu adalah penduduk Madinah, sedangakan al-Waliid bin Uqbah Rodhiyallahu ‘anhu pada waktu itu menjadi gubernur Kufah dibawah kepemimpinan Utsman bin Affan Rodhiyallahu ‘anhu, seandainya manhaj menyimpang diatas benar, tentu Usamah akan membeber aib al-Waliid Rodhiyallahu ‘anhu yang dikenal suka mabuk, didepan umum sebelum melaporkannya kepada Utsman Rodhiyallahu ‘anhu, namun ternyata beliau diam dan melaporkannya kepada Utsman Rodhiyallahu ‘anhu secara tersembunyi serta tidak koar-koar didepan umum, seandainya beliau tidak ditanya terus-menerus dan sebagai pengajaran kepada kaum Muslimin, tentu beliau tidak akan menyampaikan bahwa dirinya telah menghadap Utsman Rodhiyallahu ‘anhu berkaitan permasalahan al-Waliid bin Uqbah Rodhiyallahu ‘anhu.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’alaa memberikan petunjuk kepada kita untuk menempuh jalan yang benar dalam kehidupan dunia dan akhirat. Amiin

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: