Amal Sholih yang Ikhlas dapat Digunakan untuk Bertawasul kepada Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa

May 25, 2014 at 1:05 am | Posted in Taliq Riyadhus Shoolihin | Leave a comment

Amal Sholih yang Ikhlas dapat Digunakan untuk Bertawasul kepada Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa

 

Hadits No. 12

وعن أبي عبد الرحمان عبدِ الله بنِ عمرَ بن الخطابِ رضيَ اللهُ عنهما ، قَالَ :سمعتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – ، يقول : (( انطَلَقَ ثَلاثَةُ نَفَرٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى آوَاهُمُ المَبيتُ إِلى غَارٍ فَدَخلُوهُ، فانْحَدرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الغَارَ ، فَقالُوا : إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أنْ تَدْعُوا اللهَ بصَالِحِ أعْمَالِكُمْ .

قَالَ رجلٌ مِنْهُمْ : اللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوانِ شَيْخَانِ كبيرانِ ، وكُنْتُ لا أغْبِقُ قَبْلَهُمَا أهْلاً ولاَ مالاً ، فَنَأَى بِي طَلَب الشَّجَرِ يَوْماً فلم أَرِحْ عَلَيْهمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُما نَائِمَينِ ، فَكَرِهْتُ أنْ أُوقِظَهُمَا وَأَنْ أغْبِقَ قَبْلَهُمَا أهْلاً أو مالاً ، فَلَبَثْتُ – والْقَدَحُ عَلَى يَدِي – أنتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُما حَتَّى بَرِقَ الفَجْرُ والصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ عِنْدَ قَدَميَّ ، فاسْتَيْقَظَا فَشَرِبا غَبُوقَهُما . اللَّهُمَّ إنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابِتِغَاء وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هذِهِ الصَّخْرَةِ ، فانْفَرَجَتْ شَيْئاً لا يَسْتَطيعُونَ الخُروجَ مِنْهُ .

قَالَ الآخر : اللَّهُمَّ إنَّهُ كانَتْ لِيَ ابْنَةُ عَمّ ، كَانَتْ أَحَبَّ النّاسِ إليَّ – وفي رواية : كُنْتُ أُحِبُّها كأَشَدِّ مَا يُحِبُّ الرِّجَالُ النساءَ – فأَرَدْتُهَا عَلَى نَفْسِهَا فامْتَنَعَتْ منِّي حَتَّى أَلَمَّتْ بها سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ فَجَاءتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمئةَ دينَارٍ عَلَى أنْ تُخَلِّيَ بَيْني وَبَيْنَ نَفْسِهَا فَفعَلَتْ ، حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا – وفي رواية : فَلَمَّا قَعَدْتُ بَينَ رِجْلَيْهَا ، قالتْ : اتَّقِ اللهَ وَلاَ تَفُضَّ الخَاتَمَ إلاّ بِحَقِّهِ ، فَانصَرَفْتُ عَنْهَا وَهيَ أَحَبُّ النَّاسِ إليَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِي أعْطَيتُها . اللَّهُمَّ إنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابْتِغاءَ وَجْهِكَ فافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فيهِ ، فانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لا يَسْتَطِيعُونَ الخُرُوجَ مِنْهَا .

وَقَالَ الثَّالِثُ : اللَّهُمَّ اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ وأَعْطَيْتُهُمْ أجْرَهُمْ غيرَ رَجُل واحدٍ تَرَكَ الَّذِي لَهُ وَذَهبَ، فَثمَّرْتُ أجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنهُ الأمْوَالُ، فَجَاءنِي بَعدَ حِينٍ ، فَقالَ : يَا عبدَ اللهِ ، أَدِّ إِلَيَّ أجْرِي ، فَقُلْتُ : كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أجْرِكَ : مِنَ الإبلِ وَالبَقَرِ والْغَنَمِ والرَّقيقِ ، فقالَ : يَا عبدَ اللهِ ، لاَ تَسْتَهْزِىءْ بي ! فَقُلْتُ : لاَ أسْتَهْزِئ بِكَ ، فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فاسْتَاقَهُ فَلَمْ يتْرُكْ مِنهُ شَيئاً . الَّلهُمَّ إنْ كُنتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابِتِغَاءَ وَجْهِكَ فافْرُجْ عَنَّا مَا نَحنُ فِيهِ ، فانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ )) مُتَّفَقٌ عليهِ .

“dari Abu Abdir Rokhman Abdullah bin Umar bin al-Khothoob rodhiyallahu anhumaa ia berkata, aku mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “ada 3 orang dari umat sebelum kalian yang sedang bepergian, hingga mereka kemalaman lalu akhirnya menginap di sebuah goa. Tiba-tiba sebuah batu dari atas gunung jatuh dan menutupi pintu goa. Mereka berkata : ‘kita tidak akan selamat di tengah padang pasir ini, kecuali jika kalian berdoa kepada Allah dengan amal-amal sholih kalian’.

Salah satunya berdoa : ‘Ya Allah, saya memiliki kedua orang tua yang sudah renta, aku tidak pernah mendahulukan keluarga dan hartaku dalam melayani mereka. Pada suatu hari saat aku mencari kayu bakar, ada sesuatu yang membuatku lambat pulang dan aku tidak menjumpai kedua orang tuaku, kecuali mereka sudah tertidur, aku membuatkan susu untuk mereka, namun mereka masih tertidur, aku tidak suka membangungkan mereka dan mendahulukan keluarga dan hartaku sebelum keduanya minum, maka aku tertidur –sedangkan gelas susu masih ada di tanganku-, aku menunggu mereka bangun, hingga akhirnya fajar sudah menyingsing, padahal anak-anakku merengek (minta susu tersebut). Lalu ketika kedua orang tuaku bangun, aku segera meminumkannya. Ya Allah jika aku melakukan hal tersebut karena mengharap Wajah-Mu, maka berilah jalan keluar kami agar dapat terbuka batu tersebut. Maka batunya bergeser, namun belum bisa dijadikan jalan keluar.’

Orang yang kedua berkata : ‘Ya Allah aku memiliki sepupu wanita, ia adalah wanita yang paling aku cintai –dalam lafadz lain : ‘aku mencintainya, sebagaimana seorang laki-laki mencintai wanita-‘, aku sangat ingin berhubungan dengannya, namun ia selalu menolakku, hingga ia mendapatkan kesulitan (keuangan) selama berapa tahun, lalu ia mendatangiku dan aku memberinya 120 dinar, dengan syarat ia melakukan apa yang aku inginkan selama ini. Hingga pada saat aku akan berhubungan dengannya –dalam riwayat lain : ‘ketika aku sudah berada diatas kedua kakinya, ia berkata : ‘bertakwalah kepada Allah, janganlah memasukkan cincin, kecuali setelah resmi (akad pernikahan)’ . maka aku pun meninggalkannya, padahal ia adalah wanita yang selama ini aku cintai, aku biarkan emas yang telah kuberikan padanya. Ya Allah jika aku melakukan ini, karena mengharap Wajah-Mu, maka keluarkan kami dari goa ini’. Batu tadi bergeser, namun masih belum bisa memberikan jalan keluar.

Orang yang ketiga berkata : ‘Ya Allah aku memiliki karyawan dan aku rutin memberikan upahnya kepada mereka semuanya, kecuali pada waktu itu ada seseorang yang ia pergi sebelum menerima upahnya, kemudian aku kembangkan upah orang tersebut, hingga akhirnya menjadi harta yang sangat banyak. Lalu setelah beberapa waktu, orang tersebut mendatangiku, lalu berkata : ‘wahai Abdullah, berikanlah upahku yang dulu!’. Aku menjawab : ‘semua yang engkau lihat berupa Unta, Sapi, Kambing dan Unggas adalah upahmu’. Ia berkata : ‘Wahai Abdullah, engkau jangan mengejekku!’. Aku berkata : ‘aku tidak mengejekmu, maka ia mengambil seluruh harta tersebut dan sama sekali tidak menyisakannya. Ya Allah jika aku melakukan hal ini karena mengharap Wajah-Mu, maka keluarkan kami dari goa’. Maka bergeserlah batu tersebut dan mereka bisa keluar dari sana”.

Disepakati keshahihannya oleh Bukhori-Muslim.

 

Faedah :

  1. Amalan sholih yang ikhlas kepada Allah dapat memberikan pertolongan kepada pelakunya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’alaa.
  2. Berbakti kepada kedua orang tua adalah seutama-utamanya amal sholih.
  3. Kesulitan hidup tanpa dibarengi keimanan yang kuat, akan membuat pelakunya mudah bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa.
  4. Menunaikan hak kepada yang berhak adalah seutama-utamanya amal.
  5. Yang menarik ketiga amalan ini adalah sesuatu yang tidak disenangi oleh syahwat, yaitu seorang anak mendahulukan orang tua dibandingkan harta dan keluarganya, seorang pemuda yang mendapatkan kesempatan berbuat mesum dengan pasangan yang sangat ia inginkan dan pengusaha yang memiliki kekuasaan menunaikan hak-hak bawahannya.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: