HUKUM MANDI DENGAN TELANJANG

June 4, 2014 at 11:52 pm | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

بَابُ مَنِ اغْتَسَلَ عُرْيَانًا وَحْدَهُ فِي الخَلْوَةِ، وَمَنْ تَسَتَّرَ فَالتَّسَتُّرُ أَفْضَلُ

Bab 20 Barangsiapa yang Mandi dengan Telanjang pada Saat Sepi Menyendiri dan Barangsiapa yang Menggunakan Penutup maka Itu Lebih Utama

 

Penjelasan :

 

Yakni penjelasan tentang hukum mandi dengan kondisi telanjang pada saat tidak ada orang lain disitu, maka menurut Imam Bukhori hal ini boleh, sekalipun kata beliau yang lebih utama menggunakan penutup. Menurut al-Hafidz ini adalah pendapatnya kebanyakan ulama, namun Ibnu Abi Lailaa menyelisihi pendapat jumhur ulama, barangkali beliau berpegang dengan hadits :

فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ

Jika kalian mandi, maka gunakanlah penutup”. (HR. Abu Dawud, Nasa’i dan selainnya, dishahihkan oleh Imam al-Albani). 

Barangkali Imam Bukhori memandang 2 buah hadits (yang nanti akan ditampilkan-Insya Allah) tentang kisah mandinya Nabi Musa alaihi salam dan Nabi Ayyub alaihi salam, sebagai dalil bolehnya mandi dengan telanjang.

 

Berkata Imam Bukhori :

وَقَالَ بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اللَّهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ مِنَ النَّاسِ»

“Bahz bin Hakiim berkata, dari Bapaknya dari Kakeknya dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa Beliau bersabda : “Allah lebih berhak untuk di-malu-i daripada orang lain” .

Penjelasan biografi perowi hadits :

Kami memiliki tulisan terkait sekelumit biografi silsilah perowi ini, silakan dapat dirujuk disana.

 

Penjelasan Hadits :

Hadits ini diriwayatkan secara mua’laq oleh Imam Bukhori, namun oleh ashabus sunnan, kecuali Imam Nasa’i hadist ini memiliki sanad yang bersambung sampai kepada silsilah Bahz bin Hakiim. Kemudian Imam al-Albani dalam tahqiqnya terhadap kutubus sunan, memberikan penilaian hasan haditsnya.

Hadits ini memberikan faedah untuk mandi dengan menggunakan penutup, sekalipun di tempat yang sepi. Karena dalam lafadz haditsnya kakek Bahz yaitu Mu’awiyyah bin Haidah rodhiyallahu anhu berkata :

قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذَا كَانَ أَحَدُنَا خَالِيًا؟ قَالَ: «اللَّهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ مِنَ النَّاسِ»

“aku bertanya kepada Beliau : ‘Wahai Rasulullah, jika kami di tempat sepi (apakah boleh mandi telanjang)? Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : al-Hadits.

 

Berkata Imam Bukhori :

278 – حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ يَغْتَسِلُونَ عُرَاةً، يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، وَكَانَ مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ وَحْدَهُ، فَقَالُوا: وَاللَّهِ مَا يَمْنَعُ مُوسَى أَنْ يَغْتَسِلَ مَعَنَا إِلَّا أَنَّهُ آدَرُ، فَذَهَبَ مَرَّةً يَغْتَسِلُ، فَوَضَعَ ثَوْبَهُ عَلَى حَجَرٍ، فَفَرَّ الحَجَرُ بِثَوْبِهِ، فَخَرَجَ مُوسَى فِي إِثْرِهِ، يَقُولُ: ثَوْبِي يَا حَجَرُ، حَتَّى نَظَرَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ إِلَى مُوسَى، فَقَالُوا: وَاللَّهِ مَا بِمُوسَى مِنْ بَأْسٍ، وَأَخَذَ ثَوْبَهُ، فَطَفِقَ بِالحَجَرِ ضَرْبًا ” فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: وَاللَّهِ إِنَّهُ لَنَدَبٌ بِالحَجَرِ، سِتَّةٌ أَوْ سَبْعَةٌ، ضَرْبًا بِالحَجَرِ

31). Hadits no. 278

“Haddatsanaa Ishaq bin Nashr ia berkata, haddatsanaa Abdur Rozaq dari Ma’mar dari Hammaam bin Munabbih dari Abi Huroiroh rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda : “adalah banu Isroil mereka mandi dengan telanjang, satu sama lainnya saling melihat. Namun Nabi Musa alaihi salam mandi menyendiri. Maka kaumnya berkata : ‘demi Allah tidak ada yang menghalangi Musa untuk mandi bersama kami, kecuali karena ia memiliki penyakit Adar (buah pelirnya besar). Maka suatu hari Nabi Musa alaihi salam mandi, lalu meletakkan bajunya di sebuah batu, kemudian batu tersebut membawa lari bajunya, maka Nabi Musa alaihi salam pun keluar dari tempat yang ia berlindung ketika mandi (untuk mengejar batu tersebut-pent.), Beliau berkata : “bajuku wahai batu, hingga orang-orang bani Isroil melihat Nabi Musa alaihi salam. Mereka berkata : ‘demi Allah Musa tidak ada (penyakit yang kita kira-pent.), lalu Beliau pun mengambil bajunya dan memukul batu tersebut”.

Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu berkata : “demi Allah sesungguhnya ada bekas pada batu tersebut dengan 6 atau 7 pukulan yang memberkas di batu tersebut”.   

HR. Muslim no. 339

 

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua perowinya telah berlalu biografinya.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Hadits ini sebagai dalil bolehnya mandi dengan telanjang, karena Nabi sholallahu alaihi wa salam tidak mengingkari perbuatan Nabi Musa alaihi salam yang mandi dengan telanjang.
  2. Ini salah bukti kekurangajaran Yahudi kepada para Nabi, yang mana mereka ber-su’udzon kepada Nabi Musa alaihi salam yang nota bene adalah pemimpin dan Nabi mereka sendiri.

 

Berkata Imam Bukhori :

279 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” بَيْنَا أَيُّوبُ يَغْتَسِلُ عُرْيَانًا، فَخَرَّ عَلَيْهِ جَرَادٌ مِنْ ذَهَبٍ، فَجَعَلَ أَيُّوبُ يَحْتَثِي فِي ثَوْبِهِ، فَنَادَاهُ رَبُّهُ: يَا أَيُّوبُ، أَلَمْ أَكُنْ أَغْنَيْتُكَ عَمَّا تَرَى؟ قَالَ: بَلَى وَعِزَّتِكَ، وَلَكِنْ لاَ غِنَى بِي عَنْ بَرَكَتِكَ ” وَرَوَاهُ إِبْرَاهِيمُ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «بَيْنَا أَيُّوبُ يَغْتَسِلُ عُرْيَانًا»

32). Hadits no. 279

“dari Abi Huroiroh rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda : “ketika Nabi Ayyub alaihi salam mandi dengan telanjang, maka lewatlah didepannya belalang dari emas, maka Nabi Ayyub alaihi salam segera mengambil bajunya dan melemparkannya ke Belalang tersebut. Sehingga Rabbnya memanggilnya : “wahai Ayyub, kenapa engkau tidak cukup dengan apa yang telah aku berikan, sebagaimana engkau lihat?”. Nabi Ayyub alaihi salam menjawab : “bukan demikian, demi Kekuasaan-Mu, tidaklah aku merasa cukup dengan Keberkahan-Mu.”

Diriwayatkan oleh Ibrohim dari Musa bin Uqbah dari Shofwan bin Sulaim dari ‘Athoo bin Yasaar dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau bersabda : ” ketika Nabi Ayyub alaihi salam mandi dengan telanjang “.    

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

 

Semua perowinya telah berlalu biografinya, kecuali :

 

1.  Nama                      : Abu Abdillah Shofwaan bin Saliim

Kelahiran                : 60 H dan wafat tahun 132 H

Negeri tinggal         : Madinah

Komentar ulama      : Tabi’i wasiith, ditsiqohkan oleh Imam Sufyan bin ‘Uyyainah, Imam Ahmad, Imam Nasa’i, Imam Abu Hatim, Imam al-‘Ijli, Imam Ibnu Sa’ad dan Imam Ibnu Hibban.   

Hubungan Rowi       : ‘Athoo’ bin Yasaar adalah  salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

 

Penjelasan Hadits :

  1. Diperbolehkannya mandi dengan telanjang.
  2. Diperbolehkannya untuk mencara rezeki, selama itu halal dan tidak melalaikan dari beribadah kepada Allah.
  3. Bolehnya seorang termotivisa menjadi orang kaya, selama kekayaannya dapat mendatangkan keberkahan dalam hidupnya.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: