HUKUM JUM’ATAN 2 KALI KARENA MASJID SEMPIT

June 21, 2014 at 10:33 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

HUKUM SHOLAT JUM’AT 2 KALI KARENA MASJID SEMPIT

 

Subhanallah pemandangan yang bagus adalah pada saat hari jum’at, dimana semua kaum Muslimin berkumpul di rumah dari rumah-rumah Allah untuk beribadah kepada-Nya. Bahkan tidak jarang masjid-masjid yang ada sampai overload, sehingga tidak bisa menampung para jamaah ataupun jika menampung, maka ada sebagian yang sholat di pinggir-pinggir masjid bahkan sampai turun ke jalan. Pembahasan kali ini adalah jika masjidnya benar-benar sudah full dan tidak ada lagi pinggiran atau tempat yang terdekat untuk menampung jamaah. Ada beberapa fatwa ulama yang membahas masalah ini dan kami akan nukilkan kepada pembaca sekalian :

  1. Fatwa dari Komisi tetap untuk pembahasan dan fatwa Saudi Arabia (8/263) yang diketuai oleh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, dengan anggota Abdul Luhain Qu’uud,  Abdullah bin Ghudyan dan Abdur Rozaq Afiifiy, berikut teks jawaban fatwanya :

وأجابت بما يلي : إنشاء جمعتين في مسجد واحد غير جائزة شرعا، ولا نعلم له أصلا في دين الله، والأصل أن تقام جمعة واحدة في البلد الواحد، ولا تتعدد الجمع إلا لعذر شرعي؛ كبعد مسافة على بعض من تجب عليهم، أو يضيق المسجد الأول الذي تقام فيه عن استيعاب جميع المصلين، أو نحو ذلك مما يصلح مسوغا لإقامة جمعة ثانية فعند ذلك يقام جمعة أخرى في مكان يتحقق بإقامتها فيه الغرض من تعددها فعلى الإخوة السائلين أن يلتمسوا مكانا آخر وسط من يأتون للمسجد المطلوب وإعادة صلاة الجمعة فيه ويقيموا فيه جمعة أخرى، حتى ولو لم يكن مسجدا كالمساكن الخاصة وكالحدائق والميادين العامة التي تسمح الجهات المسؤولة عنها بإقامة الجمعة فيها. 
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
 
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

Mengadakan 2 jum’at dalam satu masjid tidak boleh secara syar’i, kami tidak tahu hal ini memiliki dasar dalam agama Allah. Pada asalnya mendirikan jum’at itu satu kali dalam satu negeri, tidak berbilang, kecuali karena ada alasan syar’i, seperti jauhnya jarak orang yang wajib sholat jum’at atau sempitnya masjid yang pertama yang dijadikan referensi oleh jamaah sholat atau alasan lainnya yang dapat dijadikan alasan yang mendesak untuk diadakan jum’at yang kedua. Oleh karenanya,  jika kondisinya seperti itu, dapat diselenggarakan jum’atan, selain di tempat yang bisa diadakan jum’atan. Ini adalah alasan boleh berbilangnya jum’atan.

Berdasarkan hal ini, maka ikhwah yang bertanya hendaknya mencarikan tempat lain bagi orang-orang yang sudah datang di masjid (yang sempit tadi) agar mereka bisa melakukan sholat jum’at di tempat lain tersebut. jika tidak ada masjid lainnya, (bisa) menggunakan asrama atau ruangan besar atau lapangan umum yang penanggung jawabnya memberikan ijin untuk menyelenggarakan jum’atan disitu.

Jadi Lajnah Daimah berpendapat tidak boleh menyelenggarakan sholat jum’at 2 kali dalam satu masjid, sekalipun masjidnya sudah over load, namun hendaknya pengurus masjid mengusahakan tempat lain, sekalipun bukan masjid, untuk menampung jamaah yang tidak tertampung dalam masjid yang pertama.

  1. Sementara itu markaz fatawa dengan Mufti DR. Abdullah al-Faqiih pernah berfatwa sebagai berikut :

وأما إقامتها في مكان واحد مرتين لضيق المكان الذي تقام فيه الجمعة وعدم وجود مكان آخر لإقامتها، فلم نقف على كلام العلماء في هذه الصورة ولا وقوعها منهم عملا، والذي يظهر لنا أنه لا فرق بين إقامتها في مكان آخر أو في نفس المكان، ما دامت الحاجة للتعدد قائمة.

والله أعلم.

المفتي: مركز الفتوى بإشراف د.عبدالله الفقيه

Adapun mengadakan jum’atan di satu tempat sebanyak 2 kali, karena tempatnya sempit dan tidak ada lagi tempat lain untuk menyelenggarakannya, maka kami belum menemukan ucapan ulama dalam bentuk seperti ini dan belum menemukan realitanya.

Yang nampak bagi kami, tidak ada perbedaan untuk mengadakan jum’atan (lain) di tempat lain atau tempat itu sendiri, selama ada kebutuhan untuk mengadakan jum’atan secara berbilang.

Na’am Syaikh DR. Abdullah al-Faqiih berfatwa bolehnya jum’at dua kali, karena masjid yang sempit dan sudah tidak ada tempat lainnya lagi untuk mengadakan jum’atan. Namun beliau belum menyaksikan atau mendengar adanya kasus nyata seperti ini. Namun dibawah ini, kami akan tampilkan bahwa kasus seperti diatas terjadi, yakni di negeri-negeri kafir, dimana mereka melarang kaum Musliimin untuk membuat masjid di kota tersebut lebih dari satu, sementara jumlah kaum Muslimin bertambah dan puncaknya pada hari jum’at, masjid yang ada sudah tidak menampung lagi.

  1. Seorang ikhwah menyampaikan fatwa dari Syaikh Ibnu Manii’ (anggota Haiah Kibarul Ulama Saudi Arabia) di Multaqo ahlul hadits sebagai berikut :

قبل أيام قلائل كنت استمع برنامج سؤال على الهاتف وكان الضيف الشيخ ابن منيع فاتصل رجل من ايطاليا وأورد عليه نفس السؤال وذكر ان النظام عندهم لا يجيز لهم تعدد المساجد فأفتاه الشيخ بجواز اقامة جمعتين بإمامين وخطبتين ولكن لا أذكر انه قال له اذانين واقامتين, ولعله إكتفاءا بالاوليتين

Beberapa hari yang lalu, aku mendengar rekaman di telepon dari tamunya Syaikh Ibnu Manii’. Seorang ikhwah dari Italia menelpon Syaikh dan menanyakan sebuah pertanyaan kepada Syaikh bahwa aturan di negerinya, tidak boleh berbilangnya masjid, maka Syaikh berfatwa boleh baginya mengadakan 2 jum’at dengan 2 imam dan 2 khutbah.

Namun aku tidak ingat, apakah Syaikh menyebutkan dua adzan dan dua iqomat, barangkali adzan dan iqomat yang pertama sudah mencukupinya.

 

Dari pembahasan para ulama diatas, apabila terjadi kasus bahwa masjid yang digunakan untuk sholat jum’at sempit, sehingga jamaahnya over load, maka langkah yang dilakukan adalah :

  1. Mencari tempat lain untuk menyelenggarakan sholat jum’at bagi jamaah yang tidak tertampung, sekalipun tempat lain tersebut bukan masjid yang biasa digunakan untuk sholat.
  2. Apabila –Qodarullah- tempat lainnya tidak ada atau dilarang menggunakannya, sehingga satu-satunya penyelenggaraan sholat jum’at hanya di masjid tersebut, maka boleh untuk menyelenggarakan jum’atan yang kedua, dengan khutbah dan imam yang berbeda.
  3. Kemudian apabila ternyata dua gelombang tidak cukup, sehingga harus dilakukan beberapa kali lagi (in case). Wallahu a’lam, saya belum menemukan teks tegas dan jelas dari ulama kita, namun seandainya penyelenggaraan jum’atan dalam 2 gelombang diperbolehkan, karena adanya kebutuhan, maka tentunya lebih dari 2 gelombang diperbolehkan selama ada alasan sama yang mendasarinya. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (QS. Al Baqoroh : 185).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: