JIKA 2 KHITAN BERTEMU

June 23, 2014 at 9:15 pm | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

بَابٌ: إِذَا التَقَى الخِتَانَانِ

Bab 28 Jika 2 Khitan Bertemu

 

Penjelasan :

 

Yakni 2 khitan maksudnya adalah 2 alat kelamin, milik laki-laki dan wanita. Bab ini menjelaskan hukum apabila seorang laki-laki berhubungan dengan istrinya, dimana kedua kemaluan mereka saling bertemu, maka inilah yang dinamakan dengan janabah.

Berkata Imam Bukhori :

291 – حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامٌ، ح وحَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الحَسَنِ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الغَسْلُ» تَابَعَهُ عَمْرُو بْنُ مَرْزُوقٍ، عَنْ شُعْبَةَ، مِثْلَهُ وَقَالَ مُوسَى: حَدَّثَنَا أَبَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، أَخْبَرَنَا الحَسَنُ مِثْلَهُ

44). Hadits no. 291

“Haddatsanaa Mu’adz bin Fadhoolah ia berkata, haddatsanaa Hisyaam (ganti sanad).

Haddatsanaa Abu Nu’aim dari Hisyaam dari Qotadah dari al-Hasan dari Abi Roofi’ dari Abu Huroiroah rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam Beliau Bersabda : “Jika seorang telah duduk  diatas 4 anggota tubuh (yakni kedua kaki dan kedua paha-pent.), lalu ia bersungguh-sungguh, maka telah wajib mandi”.

‘Amr bin Marzuuq memutaba’ah dari Syu’bah semisalnya. Musa berkata : haddatsanaa Abaan ia berkata, haddatsanaa Qotadah, akhbaronaa al-Hasan semisalnya.

HR. Muslim no. 348    

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua perowinya telah berlalu biografinya, kecuali :

 

1.  Nama                      : Abu Utsman ‘Amr bin Marzuuq

Kelahiran                : wafat 224 H

Negeri tinggal         : Bashroh

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Abu Hatim,  Imam Ibnu Sa’ad, Imam dan Imam Ibnu Hibban. Imam as-Saajiy dan Imam Daruquthni menilainya, shoduq. Sedangkan beberapa Aimah mendhoiifkannya seperti Imam Ali ibnul Madini, Imam al-‘Ijli dan Imam al-Hakim.  

Hubungan Rowi       : Syu’bah adalah  salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

 

Penjelasan Hadits :

  1. Orang yang telah berhubungan badan, maka wajib baginya mandi.
  2. Yang dimaksud dengan bertemunya dua khitan adalah seperti timba masuk ke sumur. Dalam riwayat Imam Tirmidzi dengan sanad yang dishahihkan oleh Imam al-Albani dari Ummul Mukminin Aisyah rodhiyallahu anha bahwa beliau berkata :

إِذَا جَاوَزَ الخِتَانُ الخِتَانَ وَجَبَ الغُسْلُ، فَعَلْتُهُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاغْتَسَلْنَا

“jika khitan laki-laki telah melampui khitan wanita, maka wajib mandi, aku dan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melakukan hal itu, lalu kami pun mandi (junub)”.

  1. Apabila telah dilakukan hubungan badan, namun tidak sampai keluar mani, apakah juga wajib mandi? Jawabannya ada di bab selanjutnya –In Syaa Allah-.
  2. Hadits ini isyarat bahwa wanita juga dikhitan seperti laki-laki. Syaikh Sayyid Sabiq dalam “Fiqhus Sunnah” berkata :

وأما المرأة فيقطع الجزء الاعلى من الفرج بالنسبة لها

adapun wanita, maka dipotong bagian atas kemaluannya”.

Dan dalil tentang dikhitannya wanita juga terdapat dalam hadits riwayat Imam Abu Dawud dalam “Sunannya” serta selainnya dengan sanad yang dishahihkan oleh Imam al-Albani dari jalan Ummu ‘Athiyyah al-Anshoriy rodhiyallahu anha beliau berkata :

أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتِنُ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ، وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ»

“seorang wanita berkhitan di Madinah, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda kepadanya : “jangan engkau berlebihan dalam memotongnya, karena itu lebih bermanfaat bagi wanita dan lebih disukai suaminya”.

Adapun hukum khitan bagi wanita, maka Imam al-Khothobi dalam “’Aunul Maubud” (14/124-cet. Darul Kutubil ‘Ilmiyyah) berkata :

وَفِي وَجْهٍ لِلشَّافِعِيَّةِ لَا يَجِب فِي حَقّ النِّسَاء ، وَهُوَ الَّذِي أَوْرَدَهُ صَاحِب الْمُغْنِي عَنْ أَحْمَد ، وَذَهَبَ أَكْثَر الْعُلَمَاء وَبَعْض الشَّافِعِيَّة إِلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبٍ .

 

“dalam salah satu pendapat Syafi’iyyah khitan tidak wajib bagi wanita, inilah yang dikatakan oleh penulis kitab al-Mughni dari Imam Ahmad dan ini adalah pendapat kebanyakan ulama dan sebagian Syafi’iyyah bahwa khitan untuk wanita tidak wajib”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: