MANDI KARENA BERHUBUNGAN BADAN

June 23, 2014 at 9:22 pm | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

بَابُ غَسْلِ مَا يُصِيبُ مِنْ فَرْجِ المَرْأَةِ

Bab 29 Mandi karena Mengenai Kemaluan Wanita

 

Penjelasan :

 

Dalam bab ini Imam Bukhori ingin mengangkat hukum mandi bagi seorang yang berhubungan badan dengan istrinya, namun belum sempat keluar maninya, apakah tetap wajib baginya mandi atau tidak wajib?

Nanti –In Syaa Allah- Imam Bukhori akan membawakan perkataan sahabat yang memandang bahwa orang yang berhubungan badan, namun tidak keluar maninya, maka tidak perlu mandi, cukup baginya berwudhu. Hal ini dikatakan sahabat Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Zubair bin Awwam, Tholhah bin Ubaidillah dan Ubay bin Ka’ab rodhiyallahu anhum ajma’in. Jadi para sahabat berselisih pendapat tentang wajibnya mandi bagi orang yang berhubungan badan, namun tidak sampai keluar maninya.

Namun pendapat yang rajih adalah wajibnya mandi karena berhubungan badan, yakni ketika kemaluan laki-laki sudah masuk kedalam kemaluan istrinya, sekalipun tidak sampai keluar maninya. Imam Ibnu Bathol dalam “Syarah Bukhori” berkata :

قال ابن القصار: وأجمع التابعون ومن بعدهم على القول بهذا الحديث.

وإذا كان فى المسألة قولان بعد انقراض الصحابة، ثم أجمع العصر الثانى بعدهم على أحد القولين، كان ذلك مسقطًا للخلاف قبله ويصير ذلك إجماعًا، وإجماع الأعصار عندنا حجة كإجماع الصحابة

Ibnul Qoshoor berkata : ‘para tabi’in bersepakat dan ulama setelah mereka untuk mengamalkan hadits ini (yakni hadits di bab sebelumnya-pent.)’.

Permasalahan ini pada kurun sahabat ada 2 pendapat, kemudian generasi kedua (Tabi’in) bersepakat untuk mengambil salah satu pendapat (yakni wajibnya mandi karena berhubungan badan, sekalipun tidak sampai keluar maninya-pent.). maka hal ini sebagai pemutus terhadap perselisihan sebelumnya dan menjadi sebuah ijma. Dan ijmanya para tabi’in menurut kami adalah hujjah, sebagaimana ijmanya para sahabat’.

Jadi kesimpulannya, wajib bagi seorang yang berhubungan badan baik laki-laki dan wanita, sekalipun tidak sampai keluar maninya. Hal ini diperkuat juga dengan hadits riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 348) dari jalan Mathor dari al-Hasan dari Abi Roofi’ dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

«إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا، فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ» وَفِي حَدِيثِ مَطَرٍ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ

“Jika seorang telah menduduki 4 anggota tubuh wanita, lalu bersungguh-sungguh (berjima’), maka wajib baginya mandi”. Dalam riwayat Mathor : “sekalipun tidak sampai keluar maninya”.

 

Berkata Imam Bukhori :

292 – حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَارِثِ، عَنِ الحُسَيْنِ، قَالَ: يَحْيَى، وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ، أَنَّ عَطَاءَ بْنَ يَسَارٍ، أَخْبَرَهُ أَنَّ زَيْدَ بْنَ خَالِدٍ الجُهَنِيَّ، أَخْبَرَهُ أَنَّهُ، سَأَلَ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ فَقَالَ: أَرَأَيْتَ إِذَا جَامَعَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ فَلَمْ يُمْنِ؟ قَالَ: عُثْمَانُ: «يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ وَيَغْسِلُ ذَكَرَهُ» قَالَ عُثْمَانُ: سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ، وَالزُّبَيْرَ بْنَ العَوَّامِ، وَطَلْحَةَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ، وَأُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ – فَأَمَرُوهُ بِذَلِكَ. قَالَ: يَحْيَى، وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ، أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا أَيُّوبَ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ ذَلِكَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

45). Hadits no. 292

“Haddatsanaa Abu Ma’mar, haddatsanaa Abdul al-Waarits dari al-Khusain ia berkata, Yahya dan akhabaroniy Abu Salamah bahwa ‘Athoo’ bin Yasaar mengabarinya bahwa Zaid bin Khoolid al-Juhaniy mengabarinya bahwa dia bertanya kepada Utsman bin Affan rodhiyallahu anhu : ‘bagaimana pendapatmu jika seorang berjima’ dengan istrinya, namun tidak sampai keluar maninya?’, Utsman rodhiyallahu anhu menjawab : “berwudhulah, sebagaimana engkau berwudhu untuk sholat, lalu cucilah kemaluanmu. Aku mendengar ini dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam”. Lalu Zaid berkata : ‘aku bertanya lagi tentang hal tersebut kepada Ali bin Abi Tholib, Zubair bin al’-’Awwaam, Tholhah bin Ubaidillah dan Ubay bin Ka’ab rodhiyallahu anhum, lalu mereka memerintahkan hal tersebut’.

Al-Khusain berkata, Yahya dan Abu Salamah mengabariku bahwa Urwah bin Zubair mengabarinya bahwa Abu Ayyub rodhiyallahu anhu mengabarinya bahwa dirinya mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengatakan hal tersebut.

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua perowinya telah berlalu biografinya.

 

Berkata Imam Bukhori :

293 – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبِي قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو أَيُّوبَ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ، أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ: إِذَا جَامَعَ الرَّجُلُ المَرْأَةَ فَلَمْ يُنْزِلْ؟ قَالَ: «يَغْسِلُ مَا مَسَّ المَرْأَةَ مِنْهُ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّي» قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: «الغَسْلُ أَحْوَطُ، وَذَاكَ الآخِرُ، وَإِنَّمَا بَيَّنَّا لِاخْتِلاَفِهِمْ»

46). Hadits no. 293

“Haddatsanaa Musaddad, haddatsanaa Yahya dari Hisyaam bin Urwah ia berkata, akhbaroniy Bapakku ia berkata, akhbaroni Abu Ayyub rodhiyallahu anhu ia berkata akhbaroni Ubay bin Ka’ab rodhiyallahu anhu bahwa ia bertanya kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam : “wahai Rasulullah, jika seorang berjima’ dengan istrinya, namun tidak sampai keluar mani?”. Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “mandi karena menyentuh wanita, lalu berwudhu dan baru sholat”.

Imam Bukhori berkata : ‘mandi lebih hati-hati, dan ini adalah pendapat yang terakhir, hanyalah kami jelaskan untuk memutuskan perselisihan diantara mereka’.

HR. Muslim no. 346

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua perowinya telah berlalu biografinya.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Wajib mandi karena berhubungan badan, sekalipun tidak sampai keluar mani.
  2. Dianjurkannya berwudhu lagi setelah mandi, ketika hendak sholat.
  3. Menurut Imam Bukhori hadits no. 293 ini adalah hadits naasikh yang mengapuskan hadits-hadits yang sebelumnya, yang menunjukkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam hanya memerintahkan berwudhu bagi orang yang berhubungan badan yang tidak sampai keluar maninya.
  4. Permasalahan wajibnya mandi karena berhubungan badan, sekalipun tidak sampai keluar maninya adalah permasalahan ijma yang mana para Tabi’in telah bersepakat atasnya, maka tidak boleh seorang pun setelahnya menyelisihi ijma ini.

 

Dengan berakhirnya bab ini, maka berakhirnya juga kitab Ghusul dalam Shahih Bukhori –walhamdulillah-. Sholawat dan salam terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa salam, keluarganya dan para sahabatnya serta umatnya sampai akhir zaman.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: