MUKADIMAH KITAB NIKAH

July 5, 2014 at 9:49 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

Kitab Nikah

 

Mukadimah Kitab Nikah

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، سيدنا محمد صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم

أما بعد

Pada kesempatan yang baik ini, kami akan memberikan penjelasan ringkas sunan Ibnu Majah pada pembahasan masalah pernikahan.  Itu adalah salah fase terpenting dalam kehidupan bani Adam, bahkan Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa mengistilahkan akad pernikahan sebagai sebuah Mitsaqon Gholiidhon (perjanjian yang sangat kuat), sebagaimana dalam Firman-Nya :

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (QS. An Nisaa’ : 21).

Imam Ibnul Jauzi dalam tafsirnya mengatakan bahwa salah satu penafsiran dari Miitsaaqon Gholiidhoon adalah akad nikah, sebagaimana dikatakan oleh Imam Mujaahid dan Imam Ibnu Zaid.

Salah satu karunia Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa yang terbesar kepada hambanya adalah dijadikannya pernikahan sebagai salah satu hal yang menentramkan jiwa dan mendapatkan kasih sayang dari pasangannya, sebagaimana Firman-Nya :

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar Ruum : 21).

Seorang yang telah menikah berarti ia telah menyempurnakan separuh agamanya, sebagaimana saba Nabi sholallahu alaihi wa salam :

إذا تزوج العبد فقد استكمل نصف الدين، فليتق الله في النصف الباقي

Jika seorang hamba menikah, maka berarti ia telah menyempurnakan separuh agamanya, sehingga bertakwallah kepada Allah untuk setengah lainnya (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, ditakhrij dengan lengkap oleh Imam Al Albani dalam “Ash-Shahihah” (no. 625).

Dalam fatwanya DR. Abdullah al-Faqiih ketika menyebutkan hadits ini, beliau berkata :

ومعنى ذلك أن النكاح يعف عن الزنى، والعفاف أحد الخصلتين اللتين ضمن رسول الله صلى الله عليه وسلم عليهما الجنة فقال: من وقاه الله شر اثنتين ولج الجنة، ما بين لحييه وما بين رجليه. خرجه الموطأ وغيره

Maknanya adalah bahwa nikah dapat menjaga diri dari perzinaan, dan menjaga diri adalah salah satu diantara 2 hal yang mana Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menjamin orang yang dapat menjaga kedua hal tersebut dengan surga, sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

Barangsiapa yang Allah jaga dari 2 kejelekan ini, akan mendapatkan surga, yaitu apa yang ada antara 2 jenggot (maksudnya mulut-pent.) dan kedua paha (yakni kemaluan-pent.) (HR. Malik dan selainnya).

Na’am, dengan banyak fitnah wanita, terutama pada zaman ini, maka menikah menjadi salah satu cara efektif untuk mencegah dari perzinaan –Na’udzu billahi min dzalik-. Oleh karena Nabi sholallahu alaihi wa salam mengajarkan kepada lelaki yang ketika keluar rumah, terfitnah dengan wanita lain agar mendatangi istrinya, Nabi bersabda :

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ، فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

Sesungguhnya wanita itu dari belakang dan depannya dihiasi bentuknya oleh setan, jika kalian melihat wanita (dalam kondisi terangsang-pent.), maka datangilah istrinya, karena hal tersebut dapat menangkal (keinginan berzina-pent.) dalam dirinya (HR. Muslim).

Bahkan menikah termasuk sunnah Nabi sholallahu alaihi wa salam yang barangsiapa membencinya, maka ia bukan termasuk umat Nabi sholallahu alaihi wa salam, sebagaimana sabanya :

وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

… dan aku pun menikahi wanita, maka barangsiapa yang membenci sunnahku, ia bukan golonganku (Muttafaqun alaih).

Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa mencela ulama-ulama ahli kitab yang mereka menjadikan perilaku membujang sebagai bagian dari ibadah kepada Allah, padahal Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا

Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya (QS. Al Hadiid : 27).

Imam Ibnu Jauzi dalam Tafsirnya berkata mengomentari bid’ah Rahbaniyyah ini :

وابتدعوا رهبانيةً ابتدعوها ، أي : جاؤوا بها من قِبل أنفسهم ، وهي غلوُّهم في العبادة ، وحمل المشاق على أنفسهم في الامتناعِ عن المطعم والمشرب والملبس والنكاح والتعبُّد في الجبال

 

Mereka membuat bid’ah kerahiban yakni hal tersebut berasal dari inisiatif mereka sendiri dan itu adalah bentuk berlebih-lebihan dalam beragama, mereka memberat-beratkan diri mereka sendiri dalam masalah bersenang-senang dengan makanan, minuman, pakaian, menikah dan mereka beribadah di gunung-gunung.

Bahkan Nabi sholallahu alaihi wa salam dengan tegas melarang perilaku kerahiban dalam sabdanya :

تزوجوا فإني مكاثر بكم الأمم يوم القيامة ، و لا تكونوا كرهبانية النصارى

Menikahlah kalian, karena aku akan membanggakan jumlah kalian dihadapan umat-umat manusia pada hari kiamat, dan janganlah kalian seperti Rahib Nashoro (HR. Baihaqi, dihasankan oleh Imam Al Albani dan ditakhrij dalam “ash-Shahihah” (no. 1782)).

Dalam lafadz lain yang lebih tegas, dari jalan Abu Qilaabah dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, beliau bersabda :

مَنْ تَبَتَّلَ فَلَيْسَ مِنَّا

Barangsiapa yang membujang, maka bukan termasuk golongan kami.

Namun Abu Qillabah yang nama aslinya Abdullah bin Zaid, seorang Tabi’i pertengahan yang tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim, hanya saja beliau meriwayatkan secara mursal dan mursal dikategorikan sebagai hadits lemah, oleh karenanya Imam Al Albani dalam “Adh-Dhoifah” (no. 4571), menghukuminya sebagai hadits dhoif.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: