TAFSIR AYAT-AYAT SUJUD TILAWAH (bag. 1)

July 6, 2014 at 11:07 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

TAFSIR AYAT-AYAT SUJUD TILAWAH

 

Makalah ini berisi tentang tempat dimana terdapat ayat yang disyariatkan kepada seorang Muslim untuk sujud ketika membaca Al Qur’an. Tentu saja tempat-tempat tersebut adalah tauqifiyyah, berdasarkan petunjuk Nabi sholallahu alaihi wa salam, bukan dari ijtihad orang lain. In Syaa Allah, makalah ini akan disusun secara berseri dengan menyebutkan dalil-dalil tentang penetapan bahwa ayat tersebut adalah ayat yang diperintahkan untuk sujud tilaawah dengan disertai penjelasan ulama tentangnya kemudian penafsiran ayat tersebut untuk mengetahui makna yang terkandung didalamnya. Dan diakhir pembahasan akan ditampilkan hukum fikih seputar sujud tilaawah.

Kita mulai pembahasan dengan menyebutkan ayat pertama dalam Al Qur’an yang disebut sebagai ayat sujud Tilaawah, yakni dalam ayat ke-206, ayat terakhir dari surat Al A’raf. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ

Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud (QS. Al A’raf : 206).

Syaikh Sayyid Sabiq dalam “Fiqhus Sunnah”  menyebutkan :

فعن عمرو بن العاص أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أقرأه خمسة عشر سجدة في القرآن، منهما ثلاث في المفصل وفي الحج سجدتان.

 رواه أبو داود وابن ماجه والحاكم والدارقطني وحسنه المنذري والنووي، وهي:

1 – إن الذين عند ربك لا يستكبرون عن عبادته ويسبحونه وله يسجدون. (206 – الاعراف)

Dari ‘Amr bin al-Ash Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam membacakan untuknya 15 ayat sujud dalam Al Qur’an, diantaranya 3 ayat dalam surat al-Mufashol dan dalam surat al-Hajj ada 2 ayat sajadah.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Hakim, ad-Daruquthni dan dihasankan oleh al-Mudziri dan an-Nawawi, ayat-ayat tersebut adalah : (diantaranya surat Al A’raf ayat 206 diatas).

Akan tetapi penghasanan Imam al-Mundziri dan Imam Nawawi dikritik oleh Imam Al Albani dalam Tamaamul Minnah, kata beliau :

كلا ليس بحسن لأن فيه مجهولين فقد قال الحافظ في ” التلخيص ” بعد أن نقل تحسين المنذري والنووي للحديث : ” وضعفه عبد الحق وابن قطان وفيه عبد الله بن منين وهو مجهول والراوي عنه الحارث بن سعيد العتقي وهو لا يعرف أيضا وقال ابن ماكولا : ليس له غير هذا الحديث “

Tidak seperti itu, hadits tersebut tidak hasan, karena didalamnya ada perowi majhul, Al Hafidz berkata dalam at-Talkhiish, setelah menukil penghasanan al-Mudziri dan an-Nawawi terhadap hadits tersebut : ‘hadits ini didhoifkan oleh Abdul Haq dan Ibnu Qothoon, didalamnya ada Abdullah bin Muniin, perowi majhul dan ia diriwayatkan oleh al-Haarits bin Sa’id al-‘Itqiy, ia juga tidak dikenal’. Ibnu Makuulaa berkata, ia tidak memiliki selain hadits ini.

Dalam Sunan Ibnu Majah dari sahabat Abu Dardaa rodhiyallahu anhu beliau berkata :

سَجَدْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى عَشْرَةَ سَجْدَةً، لَيْسَ فِيهَا مِنَ الْمُفَصَّلِ شَيْءٌ: الْأَعْرَافُ

Saya pernah sujud bersama Nabi sholallahu alaihi wa salam sebanyak 11 ayat sajadah, tidak ada satupun ayat ddalam surat al-Mufashol (yang panjang-panjang), ayat-ayat sajadah tersebut yaitu : Al A’raaf,….

Namun hadits ini didhoifkan oleh Imam al-Bushiiri dan Imam Al Albani, karena dalam sanadnya ada seorang perowi yang bernama Utsman bin Faid, perowi yang dhoif.

Qodarullah –fiima na’lam, saya belum menemukan riwayat baik yang shahih maupun yang dhoif, yang secara jelas menyatakan bahwa ayat 206 dari surat Al A’raaf adalah ayat sajadah sebagaimana yang dimaksud, hanya saja kami mendapati perkataan ulama yang mengatakan bahwa ayat 206 surat Al A’raaf adalah ayat sajadah. Hanya saja terdapat perkataan ulama yang mengatakan bahwa ayat 206 dari surat Al A’raaf adalah salah satu diantara ayat sajadah.

Asy-Syaikh DR. Fahd bin Abdul Aziiz al-Faadhil, dosen di universitas king Abdul Aziz, telah membuat suatu makalah yang dipublikasikan oleh Majalah Buhuts Islamiyyah, beliau menulis beberapa pendapat ulama tentang tempat-tempat sujud tilawah dalam Al Qur’an, beliau berkata :

أولا : ذهب الإمام مالك في رواية ابن وهب عنه ، وأحمد في رواية عنه ، وإسحاق ، والطبري رحمهم الله ، أن سجدات القرآن الكريم خمس عشرة سجدة هي : .

Yang pertama : Imam Maliik sebagaimana dinukil oleh Ibnu Wahhab, Imam Ahmad dan salah satu riwayat, dan Imam ath-Thobari, mereka berpendapat bahwa ayat sajadah ada 15 ayat, yaitu : …(ayat ke-206 surat Al A’raaf) dan seterusnya….

Lalu beliau melanjutkan :

ثانيا : ذهب الإمام أبو حنيفة ، والثوري ، والشافعي في المشهور عنه ، وأحمد في المشهور من المذهب ، وأبو ثور – رحمهم الله – إلى أن سجدات القرآن أربع عشرة سجدة

Yang kedua : Imam Abu Hanifah, Imam ats-Tsauriy, Imam Syafi’I dalam pendapat yang masyhur darinya, Imam Ahmad dalam pendapat yang masyhur di maddzhabnya dan Imam Abu Tsaur berpendapat bahwa ayat sajadah ada 14 ayat (diantaranya ayat 206 surat Al A’raaf).

Masih lanjutannya :

ثالثا : ذهب الإمام مالك في رواية المذهب والشافعي في رواية – رحمهما الله – إلى أن سجدات القرآن إحدى عشرة سجدة ليس منها شيء من المفصل

Yang ketiga : Imam Malik dalam salah satu riwayat dan madzhab Syafi’I dalam salah satu riwayat, berpendapat bahwa ayat sajadah ada 11 tempat, tidak terdapat dalam surat al-Mufashol. Yaitu (diantaranya surat Al A’raaf :206).

Maka berdasarkan keterangan diatas para ulama bersepakat bahwa ayat 206 surat Al A’raaf, adalah salah satu ayat sajadah. Kesepakatan ini juga dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya :

وَهَذِهِ أَوَّلُ سَجْدَةٍ فِي الْقُرْآنِ، مِمَّا يُشْرَعُ لِتَالِيهَا وَمُسْتَمِعِهَا السُّجُودُ بِالْإِجْمَاعِ

Ayat ini (surat Al A’raaf : 206) adalah ayat sajadah pertama dalam Al Qur’an, disyariatkan bagi makmum dan yang mendengarkan ayat ini untuk sujud, berdasarkan ijma ulama.

Barangkali karena adanya kesepakatan ulama bahwa ayat 206 surat Al A’raaf adalah salah satu ayat sajadah yang disyariatkan untuk sujud ketika membaca dan mendengarnya, menyebabkan hadits-hadits lemah yang berbicara tentang hal ini, sebagaimana kami nukil diatas, menjadi kuat dan dapat dijadikan hujjah, karena kesepakatan ulama adalah salah satu dalil dalam syariat agama kita. Imam Al Albani dalam Tamaamul Minnah berkata :

وبالجملة فالحديث مع ضعف إسناده قد شهد له اتفاق الأمة على العمل بغالبه

Kesimpulannya, sekalipun hadits diatas dhoif sanadnya, namun dikuatkan dengan kesepakatan umat untuk beramal dengannya secara umum.

 

Tafsir ayat 206 surat Al A’raaf

إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ

Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud (QS. Al A’raf : 206).

Makna ayat ini :

Malaikat sebagai makhluk yang lebih besar dan lebih mulia saja, tidak merasa takabur atau enggan untuk beribadah kepada Allah. Imam Ibnul Jauzi mengatakan bahwa ibadah, maknanya bisa ketaatan atau sholat dengan khusyu’. Kemudian mereka para malaikat juga bertasbih yakni mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’alaa dari segala kekurangan atau ucapan Subhanallah. Kemudian kepada Allah sajalah mereka bersujud (sholat).

Sehingga sangat tepat sekali, kalau ayat ini merupakan ayat sajadah, karena kaum Mukiminin tentunya bukan orang yang enggan untuk bersujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa, sebagaimana kita sering mengulang-ulang bacaan ayat Al Fatihah :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Hanyalah orang-orang kafir saja yang enggan sujud kepada Allah, sebagaimana dalam firman-Nya :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang”, mereka menjawab:”Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman) (QS. Al Furqoon : 60).

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina (QS. Ghoofir : 60).

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ (42) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ (43)

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa. (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera (QS. Al Qolam : 42-43).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: