MUKADIMAH KITAB HAIDH

July 7, 2014 at 8:57 pm | Posted in Syarah Kitab Haidh min Shahih Bukhori | Leave a comment

بِسْمِ اللَّه الرَّحْمَن الرَّحِيم

6 – كِتَابُ الحَيْض

Kitab Haidh

 

Penjelasan :

 

Ini adalah lanjutan dari kitab Mandi yakni masih dalam pembahasan berkaitan dengan Thoharoh (bersuci). Kata “الحَيْض” definisinya menurut Imam Ibnu Utsaimin dalam “Syarhul Mumti’” adalah :

الحيض في اللُّغة: السَّيلان، يُقال: حَاضَ الوادي إذا سال. وفي الشَّرع: دم طبيعة يصيب المرأة في أيام معلومة إذا بلغت.

“Haid secara bahasa artinya sesuatu yang mengalir, dikatakan Haadho al Waadiy, jika ia mengalir. Adapun secara istilah syariat yaitu : darah kebiasaan yang terdapat pada wanita pada hari tertentu, jika telah menginjak usia baligh.

Darah haidh adalah sesuatu yang telah Allah Subhanahu wa Ta’alaa takdirkan kepada para wanita, sebagaimana sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam :

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ

Haidh adalah perkara yang Allah tetapkan atas anak perempuan bani Adam” (Muttafaqun alaih).

Hal ini berbeda dengan darah istihahoh yang merupakan darah yang muncul, karena adanya gangguan medis, sebagaimana sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam :

إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ، وَلَيْسَ بِحَيْضٍ

itu hanyalah peluh, bukan darah haidh” (muttafaqun ‘alaih).

Pengetahuan tentang haidh sangatlah penting, karena beberapa hukum syariat dikaitkan dengannya, seperti bersuci, sholat, puasa, perceraian dan semisalnya. Sehingga bukan saja wanita sebagai orang yang terkena haidh yang perlu mengetahui, tapi juga laki-laki sebagai bapak atau suami, perlu mengetahui juga hukum-hukum syar’I berkaitan dengan masalah haidh.

Hampir para ulama tidak pernah absen tulisannya, dari membahas masalah haidh ini, padahal mereka laki-laki. Namun sayangnya sebagian kelompok Islam meremehkan masalah ini, bahkan mereka mengejek para ulama yang tafaquh dalam masalah ini sebagai ‘ulama haidh dan nifas’, dan komentar-komentar kotor lainnya yang tidak layak disampaikan. Hal ini karena kebodohan mereka dan kurang adabnya mereka terhadap orang-orang yang berilmu, padahal Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

bukan golongan kami, orang tidak menyayangi juniornya dan tidak menghormati seniornya” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Al Albani).

 

Berkata ImamBukhori :

وَقَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ المَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي المَحِيضِ} [البقرة: 222]- إِلَى قَوْلِهِ – {وَيُحِبُّ المُتَطَهِّرِينَ} [البقرة: 222]

 “Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman : “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (QS. Al Baqoroh : 222).

 

Penjelasan :

Imam Bukhori memulai pembahasan Haidh dengan menyebutkan dalil dari Kitabullah, yakni dalam surat Al Baqoroh ayat 222. Imam Ibnu Utsaimin dalam Tafsirnya berkata :

قوله تعالى: { يسألونك } أي الناس، أو المسلمون؛ { عن المحيض }: يحتمل أن تكون مصدراً ميمياً فتكون بمعنى الحيض؛ أو تكون اسم مكان فيكون المراد به مكان الحيض؛ وهو الفَرْج؛ ولكن الأرجح الاحتمال الأول؛ لقوله تعالى: { قل هو أذًى }؛ فإنه لا يحتمل عوده إلى مكان الحيض.

قوله تعالى: { قل هو أذًى }: أي لكل من الزوج، والزوجة، وبيان ذلك عند الأطباء.

قوله تعالى: { فاعتزلوا النساء } أي اجتنبوا

والمراد بـ{ المحيض } هنا مكان الحيض – وهو الفرج -؛ فهي ظرف مكان؛ أي لا تجامعوهن في فروجهن؛ لأنه مكان الحيض.

قوله تعالى: { ولا تقربوهن }، أي لا تقربوا جماعهن كما يدل عليه ما قبله.

قوله تعالى: { حتى يطهرن } أي يتطهرن من المحيض بالاغتسال -، كقوله تعالى: {وإن كنتم جنباً فاطهروا} [المائدة: 6] أي اغتسلوا

قوله تعالى: { فإذا تطهرن }: جمهور أهل العلم على أن المراد اغتسلن؛ فإن القرآن يفسر بعضه بعضاً؛ فهي كقوله تعالى: {وإن كنتم جنباً فاطهروا} [المائدة: 6] ، أي اغتسلوا.

“Firman-Nya : {Mereka bertanya kepadamu}, yakni manusia atau kaum Muslimin. {tentang haidh }, kemungkinan itu adalah mashdar miim yang maknanya haidh, atau isim makan yang maknanya tempat keluarnya haidh, yaitu alat kelamin perempuan, namun yang kuat adalah makna yang pertama, karena Allah berfirman : {Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran}, sehingga tidak mungkin maknanya tempat keluarnya darah haidh”.

Adapun firman-Nya : {Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran}, yaitu katakanlah kepada setiap suami dan istri, bahwa hal tersebut kotor, sebagaimana dijelaskan oleh para dokter secara medis.

Firman-Nya : {Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri}, yaitu jauhilah para wanita. Ketika : {dari wanita pada waktu haidh}. Maksudnya tempat keluarnya haidh, yaitu alat kelamin wanita, dan itu adalah dhorf makaan (kata keterangan tempat), yakni jangan berhubungan badan di kelamin wanita, karena itu adalah tempat keluarnya haidh. Firman-Nya : {dan janganlah kamu mendekati mereka}, yakni jangan berhubungan badan dengan wanita haidh, sebagaimana telah disebutkan, {sebelum mereka suci}, yakni mereka selesai dari haidh dan mandi haidh, seperti Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa : {jika kamu junub maka mandilah} (QS. Al Maidah : 6), yakni telah mandi.

Firman-Nya : {Apabila mereka telah suci}, mayoritas ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mereka telah mandi, karena Al Qur’an menafsirkan satu sama lainnya, seperti Firman-Nya : { jika kamu junub maka mandilah } (QS. Al Maidah : 6), yakni telah mandi.

Syarat bolehnya seorang wanita haidh untuk dijima’I setelah berhenti darahnya lalu mandi haidh, dikatakan oleh jumhur ulama dan inilah yang benar, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’alaa mengatakan sucinya orang yang junub dengan mandi janabah, maka sucinya wanita haidh juga dengan mandi haidh.

Namun sebagian ulama berpendapat bolehnya menjima’I istri yang sudah selesai darah haidhnya, sekalipun belum mandi haidh, sebagaimana dinukil Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya :

إِلَّا يَحْيَى بْنَ بُكَيْرٍ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ وَهُوَ أَحَدُ شُيُوخِ الْبُخَارِيِّ، فَإِنَّهُ ذَهَبَ إِلَى إِبَاحَةِ وَطْءِ الْمَرْأَةِ بِمُجَرَّدِ انْقِطَاعِ دَمِ الْحَيْضِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْقُلُهُ عَنِ ابْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ أَيْضًا، وَقَدْ حَكَاهُ الْقُرْطُبِيُّ عَنْ مُجَاهِدٍ وَعِكْرِمَةَ عَنْ طَاوُسٍ كَمَا تَقَدَّمَ

“kecuali Yahya bin Bukair, salah satu ulama Malikiyyah, gurunya Imam Bukhori, beliau berpendapat bolehnya menjimai istri yang selesai haidh, dengan sekedar darah haidhnya telah berhenti. Pendapat ini juga dinukil oleh Ibnu Abdil Hakam, lalu Qurthubiy menukil pendapat ini juga dari Mujahid, Ikrimah dan Thawus, sebagaimana telah berlalu”.

Namun, Imam Syafi’i dalam “al-Umm” (5/184, Daarul Ma’rifah) berkata :

{فَإِذَا تَطَهَّرْنَ} [البقرة: 222] يَعْنِي – وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ – الطَّهَارَةَ الَّتِي تَحِلُّ بِهَا الصَّلَاةُ لَهَا وَلَوْ أَتَى رَجُلٌ امْرَأَتَهُ حَائِضًا أَوْ بَعْدَ تَوْلِيَةِ الدَّمِ وَلَمْ تَغْتَسِلْ فَلْيَسْتَغْفِرْ اللَّهَ وَلَا يَعُدْ حَتَّى تَطْهُرَ وَتَحِلَّ لَهَا الصَّلَاةُ، وَقَدْ رُوِيَ فِيهِ شَيْءٌ لَوْ كَانَ ثَابِتًا أَخَذْنَا بِهِ وَلَكِنَّهُ لَا يَثْبُتُ مِثْلُهُ.

{maka jika mereka (para wanita) itu suci} (QS. Al Baqoroh : 222) yakni –Wallahu Ta’aalaa A’lam- bersuci yang membolehkan untuk sholat (mandi haidh). Sekiranya seorang akan mendatangi istrinya yang telah selesai haidh atau setelah berhenti darah haidhnya, namun belum mandi, maka hendaknya ia memohon ampun kepada Allah dan jangan mengulanginya lagi, hingga istrinya bersuci (mandi) yang membolehkan untuk sholat. Telah diriwayatkan berkaitan dengan hal ini, seandainya itu tsabit tentu kami akan mengambilnya, namun tidak tsabit (baca : shahih) semisal hal ini”.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: