MUKADIMAH KITAB TAFSIR

July 7, 2014 at 11:45 pm | Posted in Syarah Kitab Tafsir min Shahih Muslim | Leave a comment

54 – كتاب التَّفْسِيرِ

Kitab Tafsir

 

Mukadimah Kitab Tafsir

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، سيدنا محمد صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم

أما بعد

Pada kesempatan yang baik ini, kami akan memberikan penjelasan ringkas Shahih Muslim pada pembahasan masalah Tafsir Al Qur’an. Al Qur’an sebagai kitab pegangan utama kaum Muslimin adalah sumber untuk memperoleh kebahagian dunia dan akhirat. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk (QS. Ali Imraan : 103).

Imam Ibnul Jauzi dalam Tafsirnya mengatakan ada 6 pendapat tentang makna “TaliAllah”, salah satunya kata beliau :

أحدها : أنه كتاب الله : القرآن : رواه شقيق عن ابن مسعود وبه قال قتادة ، والضحاك ، والسدي

Yang pertama maknanya adalah Kitabullah, yakni Al Qur’an, sebagaimana diriwayatkan oleh Syaqiiq dari Ibnu Mas’ud rodhiyallahu anhu dan ini juga pendapatnya, Qotadah, adh-Dhohaak dan as-Sudiy.

Oleh karena hal itu merupakan pegangan utama umat Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa salam, Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa memerintahkan kepada kita semua untuk mentadaburinya, sebagaimana firman-Nya :

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (QS.Muhammad : 24).

Imam Ibnu Jauzi dalam Tafsirnya menulis perkataan yang indah :

فهلا يتدبر هؤلاء المعرضون لكتاب الله، ويتأملونه حق التأمل، فإنهم لو تدبروه، لدلهم على كل خير، ولحذرهم من كل شر، ولملأ قلوبهم من الإيمان، وأفئدتهم من الإيقان، ولأوصلهم إلى المطالب العالية، والمواهب الغالية، ولبين لهم الطريق الموصلة إلى الله، وإلى جنته ومكملاتها ومفسداتها، والطريق الموصلة إلى العذاب، وبأي شيء تحذر، ولعرفهم بربهم، وأسمائه وصفاته وإحسانه، ولشوقهم إلى الثواب الجزيل، ورهبهم من العقاب الوبيل.

Maka hasunglah orang-orang yang menentang Kitabullah agar mereka mau mengamati Al Qur’an dengan sebenar-benarnya pengamatan, karena jika mereka benar-benar mempelajarinya, niscaya mereka akan mendapatkan petunjuk kepada seluruh kebaikan, mengingatkan mereka dari seluruh kejelekan, hatinya terpenuhi dengan iman, dadanya terisi dengan keyakinan, mereka akan sampai kepada cita-cita yang tinggi dan harapan yang maksimal, mereka akan mendapatkan jalan terang menuju Allah dan menuju ke Surga-Nya, jalan terang yang menyempurnakan dan menghancurkan surganya serta jalan terang kepada adab yang akan memperingatkan darinya. Mereka akan mengenali Rabbnya, Nama-Nama-Nya dan Sifat-Sifat-Nya serta kebaikan-Nya, yang akan menghasung mereka kepada pahala yang besar serta menjauhkan dari adab yang keras.

Tafsir itu sendiri secara bahasa adalah menjelaskan, menyingkap an menerangkan makna-makna rasional, adapun secara istilah didefinisikan oleh az-Zarkasyi sebagai : ilmu untuk memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Muhammad sholallahu alaihi wa salam, menerangkan makna-maknanya serta mengeluarkan hukum dan hikmah-hikmahnya (Syaikh Manna’ Al Qohththon, pengantar studi ilmu Al Qur’an-cet. Pustaka Al Kautsar).

 

Metode Penafsiran Yang Terbaik

Imam Ibnu Katsir dalam Mukadimah kitab Tafsirnya berkata :

فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: فَمَا أَحْسَنُ طُرُقِ التَّفْسِيرِ؟

فَالْجَوَابُ: إِنَّ أَصَحَّ الطُّرُقِ فِي ذَلِكَ أَنْ يُفَسَّر الْقُرْآنُ بِالْقُرْآنِ، فَمَا أُجْمِل فِي مَكَانٍ فَإِنَّهُ قَدْ فُسِّر فِي مَوْضِعٍ آخَرَ، فَإِنْ أَعْيَاكَ ذَلِكَ فَعَلَيْكَ بِالسُّنَّةِ فَإِنَّهَا شَارِحَةٌ لِلْقُرْآنِ وَمُوَضِّحَةٌ لَهُ

Jika ada yang bertanya, apa metode terbaik dalam menafsirkan Al Qur’an?

Maka jawabanya : sesungguhnya metode yang paling benar dalam menafsirkan Al Qur’an adalah menafsirkan Al Qur’an dengan Al Qur’an, apa yang disebutkan secara global dalam sebuah ayat, maka terkadang dijelaskan secara terperinci dalam ayat yang lain. Jika tidak ada, maka engkau berpegang dengan sunnah, karena itu sebagai penjelas Al Qur’an…

Lalu Imam Ibnu Katsir melanjutkan :

وَحِينَئِذٍ، إِذَا لَمْ نَجِدِ التَّفْسِيرَ فِي الْقُرْآنِ وَلَا فِي السُّنَّةِ، رَجَعْنَا فِي ذَلِكَ إِلَى أَقْوَالِ الصَّحَابَةِ، فَإِنَّهُمْ أَدْرَى بِذَلِكَ، لِمَا شَاهَدُوا مِنَ الْقَرَائِنِ وَالْأَحْوَالِ الَّتِي اخْتُصُّوا بِهَا، وَلِمَا لَهُمْ مِنَ الْفَهْمِ التَّامِّ، وَالْعِلْمِ الصَّحِيحِ، وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ، لَا سِيَّمَا عُلَمَاؤُهُمْ وَكُبَرَاؤُهُمْ، كَالْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ وَالْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، وَالْأَئِمَّةِ الْمَهْدِيِّينَ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Ketika tidak didapati tafsir dalam Al Qur’an dan juga sunnah, maka kita merujuk kepada ucapan para sahabat rodhiyallahu anhum, karena mereka mendapati dan menyaksikan peristiwa-peristiwa dalam Al Qur’an dan karena mereka pemahaman yang sempurna, ilmu yang shahih dan amal yang sholih, terlebih lagi para ulama dan pembesarnya, seperti kholifah yang empat dan Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu anhu.

Jika tidak ada juga, kata beliau :

ذَا لَمْ تَجِدِ التَّفْسِيرَ فِي الْقُرْآنِ وَلَا فِي السُّنَّةِ وَلَا وَجَدْتَهُ عَنِ الصَّحَابَةِ، فَقَدْ رَجَعَ كَثِيرٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ فِي ذَلِكَ إِلَى أَقْوَالِ التَّابِعِينَ، كَمُجَاهِدِ بْنِ جَبْر  فَإِنَّهُ كَانَ آيَةً فِي التَّفْسِيرِ

Jika tidak ada juga penafsirannya dari Al Qur’an, hadits dan ucapan sahabat, maka merujuk kepada ucapan Aimah Tabi’in, seperti Mujahid bin Jabr, beliau adalah pakar dalam tafsir…

Jika ternyata tidak ada ucapan para Tabi’in atau mereka berselisih dalam penafsirannya, maka Imam Ibnu Katsir memberikan solusinya kepada kita :

أَمَّا إِذَا أَجْمَعُوا عَلَى الشَّيْءِ فَلَا يُرْتَابُ فِي كَوْنِهِ حُجَّةً، فَإِنِ اخْتَلَفُوا فَلَا يَكُونُ بَعْضُهُمْ حُجَّةً عَلَى بَعْضٍ، وَلَا عَلَى مَنْ بَعْدَهُمْ، وَيُرْجَعُ فِي ذَلِكَ إِلَى لُغَةِ الْقُرْآنِ أَوِ السُّنَّةِ أَوْ عُمُومِ لُغَةِ الْعَرَبِ

Adapun jika para Tabi’in bersepakat atas suatu penafsiran, maka tidak ragu lagi bahwa itu adalah hujjah, namun jika mereka berbeda pendapat terhadap suatu penafsiran, maka itu bukan hujjah dan dikembalikan kepada bahasa Al Qur’an atau sunnah atau keumuman bahasa Arab.

Oleh karenanya, kami akan menampilkan kepada anda pembahasan tafsir Al Qur’an dengan menggunakan metode hadits dari hadits-hadits yang ada dalam Shahih Muslim. Karena Nabi sholallahu alaihi wa salam sendiri diberikan otoritas sebagai penafsir Al Qur’an, sebagaimana dalam Firman-Nya Subhanaahu wa Ta’aalaa :

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {إِنَّا أَنزلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا} [النِّسَاءِ: 105]

وَقَالَ تَعَالَى: {وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ} [النَّحْلِ: 44]

وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَا أَنزلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ} [النَّحْلِ: 64] .

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.

keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.

Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Nabi sholallahu alaihi wa salam sendiri juga bersabda :

إِنِّي أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

Aku diberi Al Qur’an dan yang semisalnya juga (maksudnya as-Sunnah). (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: