Bab 1 Tentang Kebijaksanaan dan Akhlak Nabi

July 12, 2014 at 9:17 pm | Posted in Syarah Kitab Adab min Sunan Abi Dawud | Leave a comment

بَابٌ فِي الْحِلْمِ وَأَخْلَاقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Bab 1 Tentang Kebijaksanaan dan Akhlak Nabi

sholallahu alaihi wa salam

 

Penjelasan Bab :

Tidak diragukan lagi bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam memiliki akhlak yang tinggi, sehingga Beliau adalah manusia yang paling berilmu dan paling berakhlak yang ada di muka bumi. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa sendiri yang memberitahukannya kepada kita, melalui Firman-Nya :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (QS. Al Qolam : 4).

Bahkan istri beliau sendiri, Aisyah rodhiyallahu anha, pernah ditanya tentang akhlak Nabi sholallahu alaihi wa salam, maka jawabnya :

فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ

akhlak Nabi sholallahu alaihi wa salam adalah Al Qur’an”. (HR. Muslim (no. 139).

 

Imam Abu Dawud berkata :

4773 – حَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ خَالِدٍ الشُّعَيْرِيُّ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ يَعْنِي ابْنَ عَمَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، قَالَ: قَالَ أَنَسٌ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا، فَأَرْسَلَنِي يَوْمًا لِحَاجَةٍ، فَقُلْتُ: وَاللَّهِ لَا أَذْهَبُ وَفِي نَفْسِي أَنْ أَذْهَبَ لِمَا أَمَرَنِي بِهِ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَخَرَجْتُ، حَتَّى أَمُرَّ عَلَى صِبْيَانٍ وَهُمْ يَلْعَبُونَ فِي السُّوقِ، فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَابِضٌ بِقَفَايَ مِنْ وَرَائِي فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَضْحَكُ فَقَالَ: «يَا أُنَيْسُ اذْهَبْ حَيْثُ أَمَرْتُكَ» قُلْتُ: نَعَمْ، أَنَا أَذْهَبُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ أَنَسٌ: وَاللَّهِ لَقَدْ خَدَمْتُهُ سَبْعَ سِنِينَ، أَوْ تِسْعَ سِنِينَ، مَا عَلِمْتُ قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا، وَلَا لِشَيْءٍ تَرَكْتُ: هَلَّا فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا

1). Hadits no. 4773

Haddatsanaa Makhlad bin Khoolid asy-Syu’airiy, haddatsanaa Umar bin Yunus, haddatsanaa Ikrimah –ibnu ‘Ammaar ia berkata, haddatsani Ishaq –ibnu Abdillah bin Abi Tholhah ia berkata, Anas rodhiyallahu anhu berkata : “Rasulullah sholallahu alaihi wa salam adalah manusia yang paling bagus akhlaknya. Pada suatu hari, Beliau mengutusku untuk suatu keperluan, Anas berkata : “demi Allah, aku tidak ingin pergi, namun dalam diriku aku harus pergi untuk melaksanakan perintah, lalu aku pun pergi, hingga aku melewati anak-anak kecil yang sedang main di pasar, sampai akhirnya Rasullah sholallahu alaihi wa salam memegang pundakku dari belakang, aku pun memandang Beliau dan Beliau tertawa lalu berkata : “wahai Unais pergilah seperti yang aku perintahkan tadi!”. Aku pun menjawab : “baiklah aku pergi wahai Rasulullah”. Anas rodhiyallahu anhu berkata : “demi Allah, aku telah berkhidmat kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam selama 7 tahun atau 9 tahun, aku tidak pernah mendengar Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata tentang yang aku kerjakan, ‘kenapa engkau melakukan ini dan itu’ dan terhadap apa yang aku tidak mengerjakannya, ‘kenapa engkau tiak melakukan ini dan itu’”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori dan Muslim, kecuali Makhlad dan Ikrimah, hanya dijadikan hujjah oleh Muslim.

Hadits ini Shahih, lafadz yang hampir mirip dalam HR. Muslim (no. 2310). Hadits ini dihasankan oleh Imam Al Albani, barangkali beliau melihat penilaian terhadap Ikrimah bin ‘Amaar yang dinilai shoduq. Namun yang benar beliau tsiqoh, ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Ma’in, Imam Ahmad bin Shoolih, Imam Ibnu Syahiin, Imam Ya’quub bin Syaibah dan Imam Ibnu Hibban (tahzibain), kecuali jika beliau meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsiir, para ulama naqd mengatakan haditsnya idthirob jika meriwayatkan darinya, sedangkan disini ia tidak meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsiir.

 

Imam Abu Dawud berkata :

4774 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ يَعْنِي ابْنَ الْمُغِيرَةِ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: «خَدَمْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ بِالْمَدِينَةِ وَأَنَا غُلَامٌ لَيْسَ كُلُّ أَمْرِي كَمَا يَشْتَهِي صَاحِبِي أَنْ أَكُونَ عَلَيْهِ §مَا قَالَ لِي فِيهَا أُفٍّ قَطُّ، وَمَا قَالَ لِي لِمَ فَعَلْتَ هَذَا أَوْ أَلَّا فَعَلْتَ هَذَا»

2). Hadits no. 4774

Haddatsanaa Abdullah bin Maslamah, haddatsanaa Sulaimaan –ibnul Mughiiroh dari Tsaabit dari Anas rodhiyallahu anhu, beliau berkata : “aku berkhidmat kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam 10 tahun di Madinah, tidak semua perkaraku (baik) sebagaimana umumnya teman sebayaku yang sering berbuat keliru, namun Nabi sholallahu alaihi wa salam tidak pernah mengatakan sedikitpun kepada ‘ahh’ dan berkomentar terhadapku, kenapa engkau mengerjakan ini atau kenapa engkau tidak mengerjakan ini”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim. Tsabit adalah al-Bunaaniy.

Hadits ini Shahih, lafadz yang hampir mirip dalam HR. Bukhori (no. 6038) dan HR. Muslim (no. 2309), namun disebutkan “Anas berkkhidmat selama 9 tahun”. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’ab Arnauth.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Hanyalah Anas rodhiyallahu anhu terkadang tidak memenuhi perintah Nabi sholallahu alaihi wa salam, karena beliau ketika itu masih kecil dan seperti pada umumnya anak kecil, ingin bermain-main dengan temannya. Sehingga sebenarnya beliau belum terkena beban taklif dan tidak bisa dikatakan beliau ketika itu menyelisihi perintah Nabi sholallahu alaihi wa salam.
  2. Kelembutan dan akhlak ketinggian akhlak Beliau sholallahu alaihi wa salam tidak hanya ditujukan kepada anak kecil saja, tapi semua kalangan, misalnya saja kisah yang masyhur tentang orang Arab Badui yang kencing di Masjid, akhlak yang baik kepada istri-istrinya, bahkan kepada musuhnya sekalipun yakni bagaimana Nabi sholallahu alaihi wa salam menyolati Abdullah bin Ubay bin Salul, tokoh Munafiqin ketika mati, kemudian setelah itu, Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa melarang Nabi dan umumnya kaum Mukminin untuk mensholati orang munafik dan kafir selama-lamanya. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik

  1. Begitulah seharusnya sikap seorang Da’i dan sikap seorang Muslim pada umumnya, harus mengutamakan akhlak yang mulia dan memiliki kebijaksanaan yang tepat. Tentu semua itu butuh proses dan latihan terus-menerus, sebagaimana seorang yang ingin pandai, tentu ia harus banyak belajar. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إنما العلم بالتعلم والحلم بالتحلم

Sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan dipelajari dan kebijaksanaan itu diperoleh dengan belajar bijaksana. (HR. Al Khothiib dalam Tarikhnya, dihasankan oleh Imam Al Albani dalam ‘Ash-Shahihah (no. 342)’).

 

Imam Abu Dawud berkata :

4775 – حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ هِلَالٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَاهُ، يُحَدِّثُ قَالَ: قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: وَهُوَ يُحَدِّثُنَا: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْلِسُ مَعَنَا فِي الْمَجْلِسِ يُحَدِّثُنَا، فَإِذَا قَامَ قُمْنَا قِيَامًا حَتَّى نَرَاهُ قَدْ دَخَلَ بَعْضَ بُيُوتِ أَزْوَاجِهِ، فَحَدَّثَنَا يَوْمًا فَقُمْنَا حِينَ قَامَ، فَنَظَرْنَا إِلَى أَعْرَابِيٍّ قَدْ أَدْرَكَهُ فَجَبَذَهُ بِرِدَائِهِ فَحَمَّرَ رَقَبَتَهُ، قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: وَكَانَ رِدَاءً خَشِنًا، فَالْتَفَتَ، فَقَالَ لَهُ الْأَعْرَابِيُّ: احْمِلْ لِي عَلَى بَعِيرَيَّ هَذَيْنِ فَإِنَّكَ لَا تَحْمِلُ لِي مِنْ مَالِكَ وَلَا مِنْ مَالِ أَبِيكَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، لَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، لَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لَا أَحْمِلُ لَكَ حَتَّى تُقِيدَنِي مِنْ جَبْذَتِكَ الَّتِي جَبَذْتَنِي» فَكُلُّ ذَلِكَ يَقُولُ لَهُ الْأَعْرَابِيُّ: وَاللَّهِ لَا أُقِيدُكَهَا، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ، قَالَ: ثُمَّ دَعَا رَجُلًا فَقَالَ لَهُ ” احْمِلْ لَهُ عَلَى بَعِيرَيْهِ هَذَيْنِ: عَلَى بَعِيرٍ شَعِيرًا، وَعَلَى الْآخَرِ تَمْرًا ” ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَيْنَا فَقَالَ: «انْصَرِفُوا عَلَى بَرَكَةِ اللَّهِ تَعَالَى»

3). Hadits no. 4775

Haddatsanaa Haaruun bin Abdullah, haddatsanaa Abu ‘Aamir, haddatsanaa Muhammad bin Hilaal bahwa ia mendengar bapaknya menceritakan, Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu menceritakan kepada kami : “kami sedang duduk-duduk bersama Nabi sholallahu alaihi wa salam, ketika Beliau berdiri, kami pun berdiri, hingga kami melihat sebagian rumah istri Beliau. Pada suatu hari Beliau mengajari kami, kami pun berdiri ketika Beliau berdiri, kami melihat ada seorang baduwi menemui Nabi, lalu menarik Beliau dengan selendangnya, hingga memerah tengkuknya, kata Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu –selendangnya dari kain yang kasar-, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam pun menengoknya, lalu Baduwi tadi berkata : ‘bawakan untukku dua unta ini, karena engkau tidak membawakannya untukku dari raja dan tidak juga dari harta ayahmu. Maka Nabi sholallahu alaihi wa salam pun berkata : “tidak, Astaghfirullah, tidak, Astaghfirullah tidak, Astaghfirullah, aku tidak akan membawakannya, sampai engkau melepaskan selendangmu”. Ketika itu Baduwi tadi berkata : ‘demi Allah, aku tidak akan melepaskannya, lalu disebutkan kisahnya’. Lalu ia memanggil seseorang dan berkata : ‘bawa kedua unta ini, satu unta imbalannya gandum dan satu untanya lagi, imbalannya kurma’. Lalu Nabi sholallahu alaihi wa salam menoleh kepada kami dan berkata : “lakukan apa yang ia inginkan dengan keberkahan Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Haarun, perowi Muslim.

Abu ‘Aamir Abdul Malik bin ‘Amr, perowi Bukhori-Muslim.

Muhammad bin Hilaal, perowi shoduq.

Bapaknya, Hilaal bin abi Hilaal, perowi maqbul, Imam adz-Dzahabi memajhulkannya, beliau hanya ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban.

Hadits ini dhoif, lafadz yang mirip diriwayatkan juga dalam HR. Nasa’i (no. 4776) dan semuanya dhoif, karena majhulnya Hilaal bin Abi Hilaal (bapaknya Muhammad bin Hilaal), didhoifkan oleh Imam Al Albani.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: