BAB 1 AWAL KALI YANG TERKENA HAIDH

July 14, 2014 at 8:34 pm | Posted in Syarah Kitab Haidh min Shahih Bukhori | Leave a comment

بَابُ كَيْفَ كَانَ بَدْءُ الحَيْضِ

وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَذَا شَيْءٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ»

Bab 1 Bagaimana Awal Pertamakali Haidh

Dan sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam : “ini adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan kepada anak perempuan bani Adam”.

 

Penjelasan Bab :

Yakni penjelasan sejak kapan Haidh terjadi pada Anak perempuan Bani Adam, karena ada pendapat yang mengatakan bahwa Haidh pertamakali menimpa anak perempuan bani Isroil.

Imam Bukhori berkata :

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: «كَانَ أَوَّلُ مَا أُرْسِلَ الحَيْضُ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ» قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: «وَحَدِيثُ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلم أَكْثَرُ»

Sebagian orang berkata : “Yang pertamakali diberikan Haidh adalah kepada wanita Bani Isroil”.

Imam Bukhori berkata : ‘hadits Nabi sholallahu alaihi wa salam lebih banyak (lebih kuat)’.

Penjelasan kedudukan hadits :

Yang dimaksud dengan sebagian orang adalah diantaranya Abdullah bin Mas’ud dan Aisyah rodhiyallahu anhum, karena Al Hafidz dalam al-Fath :

أَخْرَجَهُ عَبْد الرَّزَّاق عَنْ اِبْن مَسْعُود بِإِسْنَادٍ صَحِيح قَالَ ” كَانَ الرِّجَال وَالنِّسَاء فِي بَنِي إِسْرَائِيل يُصَلُّونَ جَمِيعًا ، فَكَانَتْ الْمَرْأَة تَتَشَرَّف لِلرَّجُلِ ، فَأَلْقَى اللَّه عَلَيْهِنَّ الْحَيْض وَمَنَعَهُنَّ الْمَسَاجِد ” وَعِنْده عَنْ عَائِشَة نَحْوه

Diriwayatkan oleh Abdur Rozaq dari Ibnu Mas’ud rodhiyallahu anhu dengan sanad yang shahih bahwa beliau berkata : ‘dulu laki-laki dan wanita Bani Isroil sholat bersama, lalu wanita igin merasa dimuliakan dibanding lelaki, sehingga akhirnya Allah memberikan kepada para wanita haidh yang menghalangi mereka untuk masuk masjid’.

Perkataan serupa juga diucapkan Aisyah rodhiyallahu anha.

Tapi Imam Bukhori menyanggah ucapan yang mengatakan bahwa haidh pertamakali terjadi pada wanitanya bani Isroil dengan hadits yang nanti beliau bawakan dengan sanad lengkap bahwa Haidh ini Allah tetapkan bagi wanita Bani Adam, sehingga seolah-olah beliau berisyarat bahwa Haidh sudah ada sejak wanita muncul dimuka bumi. Kemudian Al Hafidz menyebutkan bahwa :

وَرَوَى الْحَاكِم وَابْن الْمُنْذِر بِإِسْنَادٍ صَحِيح عَنْ اِبْن عَبَّاس ” أَنَّ اِبْتِدَاء الْحَيْض كَانَ عَلَى حَوَّاء بَعْد أَنْ أُهْبِطَتْ مِنْ الْجَنَّة ” ، وَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَبَنَات آدَم بَنَاتهَا ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ .

Al-Hakim dan Ibnul Mundzir meriwayatkan dengan sanad shahih dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu : “bahwa haidh pertamakali terjadi pada Hawa setelah beliau turun dari surga”.

Jika seperti itu berarti yang dimaksud dengan anak Adam adalah anak Hawa. Wallahu A’lam.

Namun perkataan-perkataan para sahabat tersebut kemungkinan besar diambil dari Isroiliyyat yang tidak dipastikan kebenaran dan kedustaannya. Yang jelas bahwa haidh Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa telah tetapkan kepada para wanita. Al-Hafidz juga menyebutkan bahwa dalam Al Qur’an, Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa menyebutkan kisah istri Nabi Ibrohim alaihi salam yang bernama Sarah, yakni Firman-Nya :

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ

Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia dhohikat (tersenyum), maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub (QS. Huud : 71).

Imam Ibnul Jauzi dalam tafsirnya menyebutkan 3 pendapat ulama tentang makna dhohikat dalam ayat in, salah satu pendapat kata beliau :

والثاني : أن معنى «ضحكت» : حاضت ، قاله مجاهد ، وعكرمة . قال ابن قتيبة : وهذا من قولهم : ضحكت الأرنب : إِذا حاضت . فعلى هذا ، يكون حيضها حينئذ تأكيد للبشارة بالولد ، لأنَ من لا تحيض لاتحمل

Pendapat kedua, makna dhohikat adalah haidh, ini dikatakan Mujaahid, dan Ikrimah. Ibnu Qutaibah berkata : ‘ini diambil dari ucapan dhohikat kelinci, jika kelinci tersebut haidh’. Berdasarkan hal ini, maka haidhnya Sarah ketika itu adalah penguat kabar gembira dengan kelahiran seorang anak, karena wanita yang tidak haidh, tidak bisa hamil.

Jika penafsiran ini diterima, maka hal ini dapat membantah pendapat yang mengatakan bahwa haidh pertama kali terjadi pada wanitanya bani Isroil, karena Sarah adalah nenek mereka yakni neneknya Nabi Ya’qub alaihi salam, dimana Isroil adalah nama lain dari Nabi Ya’qub alaihi salam.

 

Imam Bukhori berkata :

294 – حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ القَاسِمِ، قَالَ: سَمِعْتُ القَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَقُولُ: خَرَجْنَا لاَ نَرَى إِلَّا الحَجَّ، فَلَمَّا كُنَّا بِسَرِفَ حِضْتُ، فَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي، قَالَ: «مَا لَكِ أَنُفِسْتِ؟». قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَاقْضِي مَا يَقْضِي الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ» قَالَتْ: وَضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نِسَائِهِ بِالْبَقَرِ

  1). Hadits no. 294

Haddatsanaa Ali bin Abdullah ia berkata, haddatsanaa Sufyan ia berkata, aku mendengar Abdur Rokhman ibnul Qoosim berkata, aku mendengar al-Qoosim bin Muhammad berkata, aku mendengar Aisyah rodhiyallahu anha berkata : “kami pergi yang tidak kami niatkan, kecuali untuk berhaj, ketika kami sampai di Sarif, aku haidh, lalu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam masuk menemuiku dan aku sedang menangis, maka Beliau bersabda : “apa yang terjadi, apakah engkau haidh?”. Aku jawab, “iya”. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “itu adalah perkara yang telah Allah tetapkan kepada anak perempuan bani Adam, maka lakukanlah manasik yang diwajibkan dalam haji, selain thowaf di Baitullah”.

Lalu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menyembelihkan untuk istri-istrinya seekor sapi.

HR. Muslim no. 1211

Penjelasan kedudukan hadits :

Sufyaan disini adalah ibnu Uyyainah.

 Penjelasan Hadits :

  1. Karena Haidh adalah ketetapan Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa, maka hendaknya para wanita untuk lapang dada dalam menerima hal ini, karena jika seorang sudah mengetahui bahwa suatu hal, sudah menjadi ketetapan Allah, maka biasanya ia akan berlapang dada.
  2. Haidh tidak menghalangi seorang wanita untuk menunaikan haji dan hajinya tetap sah, hanyalah mereka dilarang melakukan ritual-ritual yang memang butuh kesucian dari haidh, seperti sholat, puasa, thowaf dan semisalnya. Penjelasan lebih lanjut dalam masalah haji –in syaa Allah-.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: