Bab 2 Tentang Kewibawaan

July 17, 2014 at 10:25 pm | Posted in Syarah Kitab Adab min Sunan Abi Dawud | Leave a comment

بَابٌ فِي الْوَقَارِ

Bab 2 Tentang Kewibawaan

 

Penjelasan Bab :

الْوَقَارِ” menunjukkan sebuah sikap yang penuh ketenangan dan kematangan dalam bertindak dengan memperlihatkan sikap-sikap yang simpatik penuh keteladanan, sehingga dihormati orang lain. Lawan dari ini adalah sifat terburu-buru atau tegesa-gesa, dan ini sifatnya setan, sebagaimana dalam sebuah hadits Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

التأني من الله والعجلة من الشيطان

Ketelitian dari Allah, sedangkan tergesa-gesa dari syaithon (dihasankan oleh Imam Al Albani dalam “ash-Shahihah” (no. 1795)).

Oleh karenanya, sekalipun seorang datang terlambat dalam sholat, Nabi sholallahu alaihi wa salam tetap memerintahkan kita untuk berjalan tenang menuju masjid, sabda Beliau sholallahu alaihi wa salam :

إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ، فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالوَقَارِ، وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Jika kaliian mendengarkan iqomah, maka berjalanlah untuk sholat dan kalian wajib tenang dan berwibawa, jangan terburu-buru. Apa yang kalian dapati dari sholat, maka sholatlah dan apa yang kalian luput, maka sempurnakan (muttafaqun alaih).

 

Imam Abu Dawud berkata :

4776 – حَدَّثَنَا النُّفَيْلِيُّ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنَا قَابُوسُ بْنُ أَبِي ظَبْيَانَ، أَنَّ أَبَاهُ، حَدَّثَهُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ الْهَدْيَ الصَّالِحَ، وَالسَّمْتَ الصَّالِحَ، وَالِاقْتِصَادَ جُزْءٌ مِنْ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ»

4). Hadits no. 4776

Haddatsanaa an-Nufailiy, haddatsanaa Zuhair, haddatsanaa Qoobuus bin Abi Dhobyaan bahwa Bapaknya meriwayatkan hadits Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “sesugguhnya pendapat (pandangan) orang sholih, ketenangan orang sholih serta kebersahajaannya adalah seperduapuluh lima bagian dari kenabian”.

Penjelasan kedudukan hadits :

An-Nufailiy adalah Abdullah bin Muhammad, perowi Bukhori.

Zuhair yakni ibnu Mu’awiyyah, perowi Bukhori-Muslim.

Qoobuus bin Abi Dhobyaan, terdapat kelemahannya padanya.

Bapaknya Abu Dhobyaan Khusain bin Jundub, perowi Bukhori Muslim.

Hadits ini Hasan, dihasankan olehal-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Fath, Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Sebenarnya sanad hadits ini lemah, dengan sebab kelemahan yang ada pada Qoobuus, perowi hadits ini. Namun Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad dan Ta’liq Sunan Abu Dawud, menemukan penguat yakni mutaba’ah dalam riwayat Imam al-Qodhoo’Iy dalam Musnad asy-Syihaab (no. 306) dari jalan Bahr bin Kaniiz dari ats-Tsauriy dari al-A’masy dari Saalim bin Abil Ja’di dari Kuroib dari Ibnu Abbas dengan lafadz semakna, hanya saja dikatakan seperduapuluh enam bagian kenabian. Namun sanad ini lemah, karena Bahr bin Kaniiz, seorang perowi dhoif.

Mutaba’ah lainnya diriwayatkan Imam Malik dalam al-Muwatho (2/954-955) secara mu’alaq dari Ibnu Abbas, namun mauquf kepadanya.

Barangkali yang menjadikan hadits dalam bab ini menjadi Hasan lighoirihi adalah syahid (penguat) dari sahabat Abdullah bin Sarjis rodhiyallahu anhu dalam riwayat Imam Tirmidzi di Sunannya (no. 2010), namun disebutkan seperduapuluh enam bagian kenabian. Lalu Imam Tirmidzi mengomentari hadits ini sebagai hasan ghorib.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Pandangan orang sholih, kewibawaan dan kebersahajaan adalah sifat-sifat mulia yang merupakan sifat yang menghiasi para Nabi alaihimus salam. Para Nabi alaihi salam tidak memperkaya dirinya karena dakwah yang mereka lakukan, yakni mereka tidak meminta-minta kepada umatnya untuk memberikan upah atas dakwah yang mereka lakukan. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman tentang Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Sholih, Nabi Luth, dan Nabi Syu’aib alaihimus salam yang berkata kepada kaumnya masing-masing ketika mendakwahi mereka :

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam (QS. Asy Syu’araa’ : 109, 127, 145, 164, 180)

Dan terakhir Nabi kita Muhammad sholallahu alaihi wa salam yang menjadi panutan umatnya, Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman kepada Beliau :

 قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَنْ شَاءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلًا

Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya. (QS. Al Furqoon : 57).

  1. Maksud bahwa sifat-sifat diatas adalah bagian dari kenabian, bukan berarti seorang yang telah memiliki sifat-sifat diatas dan sifat-sifat lain yang merupakan sifat nubuwah, maka orang tersebut bisa menjadi Nabi. Karena kenabian bukan sesuatu yang bisa diusahakan, namun ia adalah karunia Allah yang Allah berikan kepada siapa yang dikehendakinya, sebagaimana Firman-Nya :

وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آَيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّى نُؤْتَى مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ

Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.” Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya (QS. Al An’aam : 124).

Dalam ayat lain Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar (QS. Al Baqoroh : 105).

Dan kenabian pada zaman ini telah ditutup dengan Muhammad sholallahu alaihi wa salam, barangsiapa yang mengaku sebagai nabi setelah kerasulan Muhammad sholallahu alaihi wa salam, maka ia adalah dajjal pendusta yang paling bodoh. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al Ahzaab : 40).

Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلاَثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ

Tidaklah terjadi hari kiamat hingga akan muncul para Dajjaal lagi pendusta yang jumlahnya sekitar 30 orang, semuanya mengaku dirinya adalah utusan Allah (Rasul).

Diantara Dajjaal tersebut adalah Mirza Ghulam Ahmad, nabinya Ahmadiyyah.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: