Bab 3 Pembakaran dan Pemotongan Pohon

July 19, 2014 at 10:30 pm | Posted in Syarah Kitab Siyar min Sunan Tirmidzi | Leave a comment

بَابٌ فِي التَّحْرِيقِ وَالتَّخْرِيبِ

Bab 3 Pembakaran dan Pemotongan Pohon

 

Penjelasan Bab :

Yakni hukum melakukan pembakaran dan pemotongan pohon atau tanaman milik orang kafir ketika berperang di negeri mereka. Para ulama berpeda pendapat tentang masalah tersebut, Imam Tirmidzi nanti akan menukilkan kepada kita pendapat para ulama tentang masalah ini.

 

Imam Tirmidzi berkata :

1552 – حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” حَرَّقَ نَخْلَ بَنِي النَّضِيرِ وَقَطَعَ، وَهِيَ البُوَيْرَةُ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: {مَا قَطَعْتُمْ مِنْ لِينَةٍ أَوْ تَرَكْتُمُوهَا قَائِمَةً عَلَى أُصُولِهَا فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيُخْزِيَ الفَاسِقِينَ} [الحشر: 5] ” وَفِي البَاب عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ ذَهَبَ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ إِلَى هَذَا، وَلَمْ يَرَوْا بَأْسًا بِقَطْعِ الأَشْجَارِ، وَتَخْرِيبِ الحُصُونِ، وَكَرِهَ بَعْضُهُمْ ذَلِكَ، وَهُوَ قَوْلُ الأَوْزَاعِيِّ قَالَ الأَوْزَاعِيُّ: وَنَهَى أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ أَنْ يَقْطَعَ شَجَرًا مُثْمِرًا، أَوْ يُخَرِّبَ عَامِرًا، وَعَمِلَ بِذَلِكَ المُسْلِمُونَ بَعْدَهُ وقَالَ الشَّافِعِيُّ: لَا بَأْسَ بِالتَّحْرِيقِ فِي أَرْضِ العَدُوِّ وَقَطْعِ الأَشْجَارِ وَالثِّمَارِ وقَالَ أَحْمَدُ: وَقَدْ تَكُونُ فِي مَوَاضِعَ لَا يَجِدُونَ مِنْهُ بُدًّا، فَأَمَّا بِالعَبَثِ فَلَا تُحَرَّقْ وقَالَ إِسْحَاقُ: التَّحْرِيقُ سُنَّةٌ إِذَا كَانَ أَنْكَى فِيهِمْ

5). Hadits no. 1552

Haddatsanaa Qutaibah ia berkata, haddatsanaa al-Laits dari Naafi’ dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam membakar pohon kurma bani Nadhiir dan juga memotongnya –yakni di daerah Buwairoh-, maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya : { Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik} (QS. Al Hasyr : 5).

Di bab ini ada juga riwayat Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu. Hadits ini hasan shahih. Sebagian ulama telah berpendapat dengan hadits ini, yakni mereka memandang tidak masalah untuk pohon dan ranting-rantingnya. Sebagian ulama lagi memakruhkannya, seperti Al Auzaa’i, kata beliau : ‘Abu Bakar rodhiyallahu anhu melarang untuk memotong pohon yang sedang berbuah atau memotong pohon yang sedang masak, lalu hal ini diamalkan oleh kaum Muslimin setelahnya’.

Syafi’i berkata : ‘tidak mengapa untuk melakukan pembakaran di negeri musuh dan memotong pohon yang berbuah’. Ahmad berkata : ‘terkadang dibeberapa tempat mereka tidak melakukan itu sama sekali, adapun sekedar untuk bersenang-senang atau bermain-main, maka tidak boleh melakukan pembakaran’. Ishaq berkata : ‘pembakaran itu sunnah, jika bisa mengalahkan mereka’.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim.

Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Imam Al Albani. Lafadz yang mirip, yakni pada ucapan Nabi sholallahu alaihi wa salam Allahu Akbar dst.. diriwayatkan juga oleh Imam Bukhori (no. 2945) dan Imam Muslim (no. 1365).

 

Penjelasan Hadits :

  1. Islam adalah agama yang memilki pengaturan yang sempurna, hingga sampai dalam kondisi menghadapi musuh, Islam tetap memiliki aturan main dan adab-adab yang harus dilaksanakan oleh tentara Islam.
  2. Pada dasarnya Islam adalah agama kasih sayang, sehingga Islam datang untuk melepaskan umat manusia dari penyembahan kepada makhluk, menjadi hanya menyembah Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa semata. Oleh karenanya, Islam menawarkan agama yang hak ini kepada penduduk negeri-negeri kafir, namun jika mereka enggan, maka azab akan segera ditimpakan kepada mereka, dengan kekalahan yang menghinakan.  Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ (171) إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ (172) وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ (173) فَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّى حِينٍ (174) وَأَبْصِرْهُمْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ (175) أَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُونَ (176) فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمْ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ (177)

Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang, Maka berpalinglah kamu (Muhammad) dari mereka sampai suatu ketika. Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat (azab itu). Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan? Maka apabila siksaan itu turun dihalaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu (QS. Ash-Shaaffaat : 171-177).

  1. Maksud pasukan Islam disebut al-Khomiis oleh orang Yahudi, kalahan yang menghinakan. afir, namun jika mereka enggan, maka akibat hukum karena tentara Islam dibagi menjadi 5 bagian yaitu bagian depan, tengah, sayap kanan, sayap kiri dan belakang, sebagaimana dikatakan Imam Mubarokfuri dalam Tuhfathul Ahwadzi. Hal ini sekaligus juga menunjukkan, bahwa Yahudi telah melakukan aktivitas intelijen, sehingga dapat mengetahui formasi pasukan Muslimin.
  2. Selain sebagai pemimpin agama, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam juga sebagai panglima perang yang memiliki strategi-strategi yang jitu dalam menghadapi musuh.
  3. Harap diingat bahwa kejayaan Islam diperoleh dengan mentaati Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa dibawah pimpinan Imam kaum Muslimin. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Jika kalian telah berjual beli dengan ‘inah (salah satu sistem ribawi), memegangi ekor sapi (sibuk dengan peternakan), ridho (sibuk) dengan pertanian dan meninggalkan jihad, Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dicabut kehinaan tersebut, sampai kalian kembali kepada ajaran agama kalian (HR. Abu Dawud dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

  1. Dengan keimanan yang kuat, maka Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa akan menolong kaum Muslimin, sebagaimana dulu zaman Nabi sholallahu alaihi wa salam dengan keterbatasan personil dan peralatan perang yang ada, namun berbekal keimanan yang tinggi, Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa menolong mereka dalam menghadapi musuh-musuhnya. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. Al Baqoroh : 249).

Dalam ayat lain :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (QS. Muhammad : 7).

  1. Perkataan Yahudi dalam hadits diatas menunjukkan kegentaran mereka menghadapi pasukan Muslimin, padahal mereka berperang didaerah mereka sendiri dengan peralatan dan persiapan yang jauh lebih baik dari kaum Muslimin, namum nyali mereka ciut ketika menghadapi kaum Muslimin. Karena Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa menolong kaum Muslimin yang menjaga agamanya. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مِنْ مَسِيرَةِ شَهْرٍ يَسِيرُ بَيْنَ يَدَيَّ

Aku ditolong dengan ketakutan musuh sebulan sebelum dilakukan peperangan kepada mereka (HR. Ahmad dan selainnya, dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Arnauth, hadits Shahih lighoirihi).

  1. Makna Nabi sholallahu alaihi wa salam tinggal 3 hari terlebih dahulu di negeri musuh, banyak dijelaskan oleh para ulama, menurut kami penjelasan yang terbaik adalah Nabi sholallahu alaihi wa salam ingin menghidupkan negeri kafir tersebut dengan beribadah kepada Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa terlebih dahulu, karena di negeri tersebut, kekafiran telah mendominasinya, sehingga tanah Allah kosong dari peribadatan kepada-Nya. Demikian yang ternukil dalam Tuhfatul Ahwadzi.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: