Bab 3 Barangsiapa yang Mampu Menahan Amarah

July 24, 2014 at 9:07 pm | Posted in Syarah Kitab Adab min Sunan Abi Dawud | Leave a comment

3 – باب من كَظَمَ غيظاً

Bab 3 Barangsiapa yang Mampu Menahan Amarah

 

Penjelasan Bab :

Menahan marah adalah akhlak terpuji, karena terkadang seorang yang sedang marah, dirinya menjadi tidak terkontrol. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa menyebutkan ketabahan dan kesadaran Nabi Ya’qub alaihi salam ketika kehilangan 2 anak tercintanya, oleh sebab anak-anaknya yang lain :

ارْجِعُوا إِلَى أَبِيكُمْ فَقُولُوا يَا أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ (81) وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا وَإِنَّا لَصَادِقُونَ (82) قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (83) وَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ (84)

Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah: “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar. Ya’qub berkata: “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya) (QS. Yusuf : 81-84).

Oleh karenanya, Nabi sholallahu alaihi wa salam ketika diminta nasehatnya oleh seseorang, Beliau sholallahu alaihi wa salam mengatakan “jangan marah” dan ketika orang tersebut minta nasehat lagi, Beliau pun mengulangi perkataan “jangan marah”. Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Bukhori (no. 6116) :

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: «لاَ تَغْضَبْ» فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: «لاَ تَغْضَبْ»

Seorang laki-laki (Syaikh Mushthofa al-Baghoo menyebutkan bahwa namanya adalah Jaariyyah bin Qudaamah-pent.) rodhiyallahu anhu berkata kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam : ‘mohon nasehati aku!’. Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “jangan marah”. Orang tersebut berkali-kali minta nasehat, Nabi sholallahu alaihi wa salam tetap bersabda : “jangan marah”.

Dalam beberapa ayat-Nya, Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa memuji orang-orang yang mampu menahan amarah, padahal dirinya sanggup untuk melampiaskannya, seperti :

فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آَمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (36) وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ (37)

Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal, Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf (QS. Asy-Syura : 36-37).

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali Imroon : 133-134).

Imam ibnu Utsaimin dalam Syarah Riyaadhus Shoolihiin membagi marah menjadi dua, yang pertama adalah marah dalam rangka membela diri, yakni ada seorang yang membuatnya marah, lalu dia ingin melampiaskan kemarahannya kepada orang tersebut untuk membela diri sendiri, maka ini adalah marah yang terlarang. Sulaiman bin Shurod rodhiyallahu anhu menceritakan kepada kita :

اسْتَبَّ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ عِنْدَهُ جُلُوسٌ، وَأَحَدُهُمَا يَسُبُّ صَاحِبَهُ، مُغْضَبًا قَدِ احْمَرَّ وَجْهُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً، لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ” فَقَالُوا لِلرَّجُلِ: أَلاَ تَسْمَعُ مَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: إِنِّي لَسْتُ بِمَجْنُونٍ

Dua orang saling mengejek disisi Nabi sholallahu alaihi wa salam, kami ketika itu sedang duduk-duduk disitu. Salah seorang dari mereka mencela temannya, sehingga membuatnya marah dan memerah wajahnya, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata kepada mereka : “saya akan mengajari bahwa ada satu kalimat, seandainya ia mengucapkannya, maka akan hilang apa yang didapati (berupa kemarahan pada dirinya) yakni seandainya ia mengucapkan : “aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithon yang terkutuk”. Maka para sahabat (yang hadir disitu) berkata kepada orang yang marah : “bukankah engkau telah mendengar apa yang dikatakan oleh Nabi sholallahu alaihi wa salam”. Ia pun berkata : “aku bukan orang gila” (muttafaqun alaih).

Jenis marah yang kedua adalah sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Utsaimin :

الغضب لله عز وجلّ، بأن يرى الإنسان شخصاً ينتهك حرمات الله فيغضب غيرة لدين الله، وحمية لدين الله، فإن هذا محمود ويُثاب الإنسان عليه؛ لأن الرسول صلى الله عليه وسلم كان هذا من سنته، ولأنه داخل في قوله تعالى: (وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ) (الحج: 30) ، (ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ) (الحج: 32) ، فتعظيم شعائر الله وتعظيم حرمات الله أن يجدها الإنسان عظيمة، وأن يجد امتهانها عظيماً فيغضب ويثأر لذلك، حتى يفعل ما أُمر به من الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وغير ذلك.

Marah karena Allah Azza wa Jalla, yakni seorang melihat orang lain melakukan perkara yang diharamkan Allah, maka ia pun marah karena cemburu kepada agama Allah dan menjaga agama Allah, maka ini adalah terpuji dan pelakunya mendapatkan pahala, karena ini adalah kebiasaannya Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dan masuk dalam cakupan firman Allah : {Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya} (QS. Al Hajj : 30) dan firman-Nya : {Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati} (QS. Al Hajj : 32).

Maka pengagungan syariat Allah adalah dengan mengagungkan apa yang Allah haramkan, yakni seorang menganggap larangan Allah adalah agung dan seorang menganggap meremehkan larangan Allah adalah perkara besar, sehingga ia pun marah jika larangan-Nya dilanggar, sampai ia pun memerintahkan agar meninggalkannya, sehingga termasuk dalam amar ma’ruf nahi mungkar dan semisalnya.

 

Imam Abu Dawud berkata :

4777 – حَدَّثَنَا ابْنُ السَّرْحِ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ سَعِيدٍ يَعْنِي ابْنَ أَبِي أَيُّوبَ، عَنْ أَبِي مَرْحُومٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ» قَالَ أَبُو دَاوُدَ: ” اسْمُ أَبِي مَرْحُومٍ: عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَيْمُونٍ “

5). Hadits no. 4777

Haddatsanaa ibnus Sarhi, haddatsanaa ibnu Wahab dari Sa’id ibnu Abi Ayyub dari abi Marhuum dari Sahl bin Mu’adz dari Bapaknya bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “barangsipa yang menahan kemarahan, padahal ia mampu melampiaskanya, maka Allah Azza wa Jalla akan memanggilnya di tengah-tengah orang pada hari kiamat, hingga Allah akan menyuruhnya memilih bidadari mana yang ia mau”.

Abu Dawud berkata : ‘nama Abu Marhuum adalah Abdur Rokhman bin Maimuun’.

Penjelasan kedudukan hadits :

Ibnus Surhi yakni Ahmad bin ‘Amr bin Abdullah bin ‘Amr ibnus Surhi, perowi Muslim.

Ibnu Wahab adalah Abdullah bin Wahab, perowi Bukhori-Muslim.

Sa’id, juga perowi Bukhori-Muslim.

Abu Marhuum Abdur Rokhman bin Maimun, perowi shoduq.

Sahal bin Mu’adz, ditsiqohkan oleh Imam al-‘Ijli dan Imam Ibnu Hibban, namun Imam Ibnu Hibban mengkritik haditsnya jika diriwayatkan oleh Zayaan bin Faid. Namun beliau didhoifkan oleh Ibnu Ma’in (tahdzibain). Lalu al-Hafidz Ibnu Hajar mencoba merangkum penilaian untuknya, sehingga menilainya : ‘لا بأس به إلا فى روايات زبان عنه’ (tidak mengapa, kecuali jika diriwayatkan oleh Zayaan).

Bapaknya Mu’adz bin Anas rodhiyallahu anhu, seorang sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam.

Hadits ini Hasan, dihasankan oleh Imam Tirmidzi, Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Lafadz yang mirip diriwayatkan dalam HR. Ibnu Majah (no. 4186) dan HR. Tirmidzi (no. 2012).

 

Imam Abu Dawud berkata :

4778 – حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ يَعْنِي ابْنَ مَهْدِيٍّ، عَنْ بِشْرٍ يَعْنِي ابْنَ مَنْصُورٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ، عَنْ سُوَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَبْنَاءِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَحْوَهُ قَالَ: «مَلَأَهُ اللَّهُ أَمْنًا وَإِيمَانًا» لَمْ يَذْكُرْ قِصَّةَ «دَعَاهُ اللَّهُ» زَادَ «وَمَنْ تَرَكَ لُبْسَ ثَوْبِ جَمَالٍ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ» قَالَ بِشْرٌ: أَحْسِبُهُ قَالَ «تَوَاضُعًا» كَسَاهُ اللَّهُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ، وَمَنْ زَوَّجَ لِلَّهِ تَعَالَى تَوَّجَهُ اللَّهُ تَاجَ الْمُلْكِ “

6). Hadits no. 4778

Haddatsanaa Uqbah bin Mukrom, haddatsanaa Abdur Rokhman yakni ibnu Mahdiy, dari Bisyir yakni ibnu Manshuur dari Muhammad bin ‘Ajlaan dari Suwaid bin Wahab dari seorang yang merupakan anak sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam dari Bapaknya, ia berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : seperti hadits sebelumnya.

Namun ada tambahan : “Allah akan memenuhinya dengan keamanan dan keimanan”. Tidak disebutkan kisah : “Allah memanggilnya”.

Lalu terdapat tambahan : “barangsiapa yang meninggalkan pakaian indah, padahal ia mampu membelinya”- Bisyir berkata : “karena tawadhu”, maka Allah akan memberinya pakaian kemulian dan barangsiapa yang menikah karena Allah Ta’alaa, maka akan dikenakan mahkota raja”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Uqbah, perowi Muslim.

Ibnu Mahdiy, Imam ahli hadits, perowi Bukhori-Muslim.

Bisyir dan ibnu ‘Ajlaan, perowi Muslim.

Suwaid, perowi majhul.

Anak sahabat yang dimaksud Suwaid juga tidak jelas, sehingga ini adalah perowi mubham.

Hadits ini Hasan lighoirihi, sanad hadits ini dhoif dengan sebab kelemahan Suwaid dan anak sahabat yang disebutkan oleh Suwaid. Imam Al Albani dalam Ta’liq Sunan Abu Dawud mendhoifkan hadits ini. Namun hadits ini memiliki penguat dalam riwayat Ahmad (no. 15631) dan Tirmidzi (no. 2481) dari jalan Abu Marhuum dari Sahal bin Mu’adz dari Mu’adz bin Anas rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ، وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ تَوَاضُعًا لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، دَعَاهُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ، حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي حُلَلِ الْإِيمَانِ أَيَّهَا شَاءَ

barangsiapa yang meninggalkan pakaian (bagus) padahal ia mampu memakainya, karena tawadhu kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa, Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa akan memanggilnya pada hari kiamat di depan makhluk-Nya, hingga ia disuruh memilih siapa teman mukmin yang dikehendakinya (untuk menemaninya di surga)”.

Sehingga berdasarkan penguat ini, Syaikh Syu’aib Arnauth mengatakan hadits dalam bab ini hasan lighoirihi. Bahkan Imam Al Albani telah mentakhrij hadits tersebut dalam ash-Shahihah (no. 718) dan menghukuminya sebagai hadits shahih lighoirihi.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Yang terpuji dalam hadit diatas adalah orang yang sebenarnya ia mampu melampiaskan kemarahan, namun ia bersabar dan menahan dirinya dari kemarahan dalam rangka mendapatkan pahala dari Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa.
  2. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa akan memberikan surga bagi siapa saja yang mampu menahan hawa nafsunya, sebagaimana Firman-Nya :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41)

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya) (QS. An Naazi’aat : 40-41).

 

Imam Abu Dawud berkata :

4779 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ سُوَيْدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا تَعُدُّونَ الصُّرَعَةَ فِيكُمْ؟» قَالُوا: الَّذِي لَا يَصْرَعُهُ الرِّجَالُ قَالَ: «لَا، وَلَكِنَّهُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ»

7). Hadits no. 4779

Haddatsanaa Abu Bakar bin Abi Syaibah, haddatsanaa Abu Mu’awiyyah dari Al A’masy dari Ibrohim at-Tamiimi dari al-Harits bin Suwaid dari Abdullah rodhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “siapakah yang kalian anggap sebagai orang yang kuat menurut kalian?”, mereka menjawab : “orang yang tidak mampu dikalahkan orang lain”. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “bukan, yakni orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya adalah perowi Bukhori-Muslim, Abu Mu’awiyyah adalah Muhammad bin Khoozim, sedangkan sahabat Abdullah yang dimaksud adalah ibnu Mas’ud rodhiyallahu anhu.

Hadits ini Shahih, dishahihkan Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Lafadz yang mirip diriwayatkan dalam HR. Bukhori (no. 6114) dan HR. Muslim (no. 2608).

 

Penjelasan Hadits :

  1. Orang yang kuat adalah orang yang bisa mengalahkan hawa nafsunya sendiri, karena terkadang orang tersebut mampu mengalahkan orang lain, namun terhadap dirinya sendiri betapa banyak orang yang tidak sanggup menahan hawa nafsunya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Khothiib al-Baghdadi dalam Tarikhnya dan Imam Baihaqi dalam az-Zuhud diriwayatkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam berabda :

وقدمتهم من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر قالوا: وما الجهاد الأكبر يا رسول الله؟ قال: مجاهدة العبد هواه

Kalian telah kembali dari jihad kecil menuju jihad besar. Mereka bertanya : “apa itu jihad besar wahai Rasulullah?”. Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “seorang hamba memerangi hawa nafsunya”.

Namun hadits ini sangat lemah sekali, Imam Al Albani telah mentakhrijnya dalam adh-Dhoifah (no. 2460).

  1. Dalam hadits lain, diriwayatkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah bersabda :

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga hawa nafsunya mengikuti seperti apa yang aku bawa (HR. Syarhus Sunnah dan selainnya).

Hadits ini dishahihkan oleh Imam Nawawi dalam arbain Nawawi, namun didhoifkan oleh beberapa ulama diantaranya oleh Imam Al Albani.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: