Bab 4 Tentang Ghanimah

July 25, 2014 at 8:49 pm | Posted in Syarah Kitab Siyar min Sunan Tirmidzi | Leave a comment

بَابُ مَا جَاءَ فِي الغَنِيمَةِ

Bab 4 Tentang Ghanimah

 

Penjelasan Bab :

Ghanimah (rampasan perang) adalah harta yang didapat melalui pertempuran dengan orang-orang Kafir, sebagaimana dalam surat Al An’Aam ayat 1, Allah I berfirman :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ

“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul”.

Adapun harta rampasan yang tidak melalui pertempuran dinamakan dengan Fa’I, sebagaimana dalam Firman-Nya I :

وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (6) مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ(7)

“Dan apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan (tidak pula) seekor untapun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”. (QS. Al Hasyr (59) 6-7: )

 

Imam Tirmidzi berkata :

1553 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ المُحَارِبِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا أَسْبَاطُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ سَيَّارٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ فَضَّلَنِي عَلَى الأَنْبِيَاءِ»، أَوْ قَالَ: «أُمَّتِي عَلَى الأُمَمِ، وَأَحَلَّ لَنَا الْغَنَائِمَ» وَفِي البَاب عَنْ عَلِيٍّ، وَأَبِي ذَرٍّ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، وَأَبِي مُوسَى، وَابْنِ عَبَّاسٍ: حَدِيثُ أَبِي أُمَامَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَسَيَّارٌ هَذَا يُقَالُ لَهُ سَيَّارٌ مَوْلَى بَنِي مُعَاوِيَةَ وَرَوَى عَنْهُ سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ بَحِيرٍ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ العَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” فُضِّلْتُ عَلَى الأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ: أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الغَنَائِمُ، وَجُعِلَتْ لِيَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، وَأُرْسِلْتُ إِلَى الخَلْقِ كَافَّةً، وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّونَ ” هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

6). Hadits no. 1553

Haddatsanaa Muhammad bin Ubaid al-Muhaaribiy ia berkata, haddatsanaa Asbaath bin Muhammad dari Sulaimaan at-Tamiimiy dari Sayyaar dari Abi Umaamah rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam beliau bersabda : “sesungguhnya Allah melebihkanku atas para Nabi lainnya – atau Beliau sholallahu alaihi wa salam bersabda : “Allah melebihkan umatku atau umat lainnya dan menghalalkan untuk kita harta rampasan perang”-”.

Dalam bab ini terdapat hadits dari Ali, Abi Dzar, Abdullah bin ‘Amr, Abu Musa dan Ibnu Abbas rodhiyallahu anhum ajma’in.

Hadit Abu Umaamah hadits Hasan Shahih dan Sayaar (perowi hadits-pent.) adalah Sayyaar maula Bani Mu’awiyyah, diambil haditsnya oleh Sulaimaan at-Taimiy, Abdullah bin Bakhiir dan selainnya.

Haddatsanaa Ali bin Hujr ia berkata, haddatsanaa Ismail bin Ja’far dari al-‘Alaa’ bin Abdur Rokhman dari Bapaknya dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu, bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “aku dilebihkan atas para Nabi dengan enam perkara yaitu : “aku diberi jawaami’ul kalim, aku ditolong dengan menjadikan musuh takut ketika akan akan berperang, dihalalkan untukku ghonimah, dijadikan bumi untukku sebagai tempat sholat dan tempat bersuci, aku diutus kepada seluruh makhluk dan kenabian ditutup denganku”.

Ini adalah hadits hasan shahih.

Penjelasan kedudukan hadits :

Muhammad al-Muhaaribiy, perowi shoduq.

Asbaath dan Sulaimaan at-Taimiy, perowi tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim.

Sayaar, perowi shoduq.

Hadits ini shahih lighoirihi, sanad haditsnya hasan karena Muhammad al-Muhaaribiy dan Sayyaar. Untuk al-Muhaaribiy mendapatkan penguat dalam riwayat Imam Baihaqi dalam as-Sunan (no. 1098) dan Imam Thabrani di Mu’jam Kabiir (no. 7928) semuanya dari jalan Yaziid bin Ruzai’ dari Sulaimaan at-Taimiy dari Sayyaar dst… sedangkan Sayyaar, kami belum mendapatkan penguat untuknya, sehingga tetaplah sanadnya hasan karena Sayyaar ini. Namun karena adanya penguat dari sahabat-sahabat lainnya, maka naiklah hadits ini menjadi Shahih lighoirihi, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Albani dalam Ta’liqnya terhadap Sunan Tirmidzi, sedangkan Imam Tirmidzi sendiri menilainya Hasan Shahih.

Sanad kedua kondisi perowinya sebagai berikut :

Ali bin Hujr, perowi tsiqoh Hafidz, perowi Bukhori-Muslim.

Ismail bin Ja’far, perowi tsiqoh tsabat, perowi Bukhori-Muslim.

Al-‘Alaa’, perowi shoduq terkadang wahm (keliru), perowi Muslim.

Bapaknya, Abdur Rokhman, perowi tsiqoh, perowi Muslim.

Hadits ini shahih, sanad haditsnya sesuai dengan persyaratan Imam Muslim dan Imam Muslim juga mengeluarkan hadits ini dalam Shahihnya (no. 523). Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Shahih Ibnu Hibban.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Umat Islam adalah umat yang terbaik yang ada di alam semesta ini. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (QS. Ali Imroon : 110).

Adapun Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa kepada Bani Isroil :

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat (QS. Al-Baqoroh : 47).

Imam Ibnul Jauzi dalam Tafsirnya menukil dari Aimah Tafsir :

على عالمي زمانهم ، قاله ابن عباس وأبو العالية ومجاهد وابن زيد . قال ابن قتيبة : وهو من العام الذي أريد به الخاص

Yakni maksudnya bani Isroiil unggul dari umat-umat lain pada zaman tersebut, ini dikatakan oleh Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu, Abul ‘Aaliyah, Mujaahid dan Ibnu Zaid. Ibnu Qutaibah berkata : ini adalah kalimat umum, tapi maksudnya khusus.

Keunggulan yang diberikan kepada Bani Isroil adalah keunggulan fisik dari nikmat-nikmat Allah yang dianugerahkan kepada mereka, sebagaimana perkataan Imam Ibnu Katsiir dalam tafsirnya :

وَمَا كَانَ فَضَّلهم بِهِ مِنْ إِرْسَالِ الرُّسُلِ مِنْهُمْ وَإِنْزَالِ الْكُتُبِ عَلَيْهِمْ وَعَلَى سَائِرِ الْأُمَمِ مِنْ أَهْلِ زَمَانِهِمْ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَلَقَدِ اخْتَرْنَاهُمْ عَلَى عِلْمٍ عَلَى الْعَالَمِينَ} [الدُّخَانِ: 32] ، وَقَالَ تَعَالَى: {وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ} [الْمَائِدَةِ: 20]

Yakni berupa apa yang telah dilebihkan kepada mereka dengan diutusnya para Rasul dari kalangan mereka, diturunkannya kitab kepada mereka, dibandingkan umat-umat lainnya pada waktu itu, sebagaimana Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman : {Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan (Kami) atas bangsa-bangsa} (QS. Ad-Dukhoon : 32) dan Firman-Nya : { Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain.”} (QS. Al-Maidah : 20).

Na’am itulah kelebihan mereka dari segi sarana dan prasarana yang Allah mudahkan untuk mereka beribadah kepada Allah. Namun kelebihan itu tidak mereka syukuri dengan baik, Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa banyak membongkar kedok kejahatan mereka dalam surat Al Baqoroh, sehingga seandainya ada seorang yang mau menulis kejahatan mereka, niscaya ia akan menemukan ratusan bentuknya. Maka umat yang seperti ini tidak bisa dibandingkan dengan umatnya Muhammad sholallahu alaihi wa salam dan bagi yang berkenan untuk menuliskan kelebihan umat Muhammad sholallahu alaihi wa salam atas bani Isroil, niscaya mereka akan menemukan ratusan kelebihan. Oleh karenanya Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِنَّكُمْ وَفَّيْتُمْ سَبْعِينَ أُمَّةً، أَنْتُمْ خَيْرُهَا، وَأَكْرَمُهَا عَلَى اللَّهِ

Sesungguhnya kalian telah didahului oleh 70 umat dan kalian adalah yang terbaik dan yang termulia menurut Allah Azza wa Jalla (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi dan selainnya, ini lafadz ibnu Majah, dihasankan oleh Imam Tirmidzi, Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth).

Namun sayangnya umat Islam sekarang telah jauh dari agama mereka, lebih bangga meniru jalannya orang-orang Yahudi dan Nashrani, dan kepedihan ini telah diungkapkan oleh Imam ibnu Utsaimin dalam Syarah Ushulus Tsalasah kata beliau :

ولا ينبغي أن نقيس الإسلام بما عليه المسلمون اليوم، فإن المسلمين قد فرطوا في أشياء كثيرة وارتكبوا محاذير عظيمة حتى كأن العائش بينهم في بعض البلاد الإسلامية يعيش في جو غير إسلامي.

Hendaknya jangan membandingkan agama Islam dengan apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin pada hari ini, karena kaum Muslimin pada hari ini telah banyak meremehkan perkara-perkara (yang diwajibkan) sangat banyak sekali dan mereka melakukan bahaya-bahaya (dosa-dosa) yang besar, sehingga seolah-olah orang yang hidup di sebagian negeri Islam, ia merasa hidup di lingkungan yang bukan Islami.

  1. Kelebihan lainnya yang diberikan kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam adalah Beliau diberikan Jawaami’ul Kalim, yakni suatu ungkapan yang ringkas, tapi padat maknanya. Sehingga sabda-sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam adalah kalimat-kalimat yang ringkas kebanyakan, namun mengandung arti yang mendalam, seperti sabda Beliau innamaal A’malu bin Niyaat (sesungguhnya amalan tergantung niatnya), maka ini adalah ungkapan yang ringkas, namun jika dijabarkan akan mendalam maknanya, sampai-sampai Aimah kita mengatakan poros agama bertumpu pada dua hadits yaitu hadits innamaal A’malu bin Niyaat dan hadits man ‘amila amalan laisa alaihi amrunaa, fahuwa roddun (Barangsiapa yang beramal tanpa ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak). Maka hadits yang pertama berbicara tentang amalah batin dan yang kedua berbicara tentang amalan lahir, mana saja yang tidak bisa menggabungkan keduanya, maka amalannya akan sia-sia.
  2. Kelebihan lainnya lagi adalah Beliau ditolong agar musuh sudah takut duluan sebelum berjumpa dengan pasukan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam dan kelebihan ini tidak khusus kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, tapi berlaku juga kepada umatnya yang meneladani Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, lihatlah bagaimana pada zaman Umar Rodhiyallahu ‘anhu, tentara Islam yang dipimpin oleh para sahabat ketika menghadapi Romawi, maka para panglima Romawi memerintahkan prajuritnya agar tiap 10 orang dirantai kakinya satu sama lainnya, karena apa? Karena ketakutan mereka ketika dikabari bahwa tentara Islam akan berperang melawan mereka. Sehingga harapannya para prajurit romawi tidak lari ketika menghadapi kaum Muslimin, padahal dari segi jumlah dan persenjataan mereka lebih banyak dan lebih canggih –seandainya cerita-cerita heroic ini ditampilkan di buku-buku sejarah anak-anak sekolah kita- tentu diharapkan akan lahir generasi-generasi seperti para sahabat. Namun sayangnya cerita-cerita sejarah diisi dengan khayalan dan khurofat, seperti nenek moyang kita yang konon membangun candi dalam satu malam, perahu ditendang kebalik, akhirnya menjadi gunung dan seterusnya-Wallahul Musta’an.

Dalam sebuah hadits (dapat dilihat ada penjelasan hadits di bab sebelumnya) dikatakan bahwa ketakutan musuh sudah ada semenjak 1 bulan sebelum hari –H- peperangan dengan kaum Muslimin –subhaanallah-.

  1. Kelebihan lainnya lagi yaitu dihalalkan ghonimah (harta rampasan perang) bagi Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam dan umatnya, karena nabi-nabi dulu jika mereka berperang, maka mereka akan mengumpulkan seluruh ghonimah yang ada lalu dimusnahkan, karena harta itu diharamkan bagi mereka. Imam Bukhori dan Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya :

غَزَا نَبِيٌّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ، فَقَالَ لِقَوْمِهِ: لاَ يَتْبَعْنِي رَجُلٌ مَلَكَ بُضْعَ امْرَأَةٍ، وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَبْنِيَ بِهَا؟ وَلَمَّا يَبْنِ بِهَا، وَلاَ أَحَدٌ بَنَى بُيُوتًا وَلَمْ يَرْفَعْ سُقُوفَهَا، وَلاَ أَحَدٌ اشْتَرَى غَنَمًا أَوْ خَلِفَاتٍ وَهُوَ يَنْتَظِرُ وِلاَدَهَا، فَغَزَا فَدَنَا مِنَ القَرْيَةِ صَلاَةَ العَصْرِ أَوْ قَرِيبًا مِنْ ذَلِكَ، فَقَالَ لِلشَّمْسِ: إِنَّكِ مَأْمُورَةٌ وَأَنَا مَأْمُورٌ اللَّهُمَّ احْبِسْهَا عَلَيْنَا، فَحُبِسَتْ حَتَّى فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَجَمَعَ الغَنَائِمَ، فَجَاءَتْ يَعْنِي النَّارَ لِتَأْكُلَهَا، فَلَمْ تَطْعَمْهَا فَقَالَ: إِنَّ فِيكُمْ غُلُولًا، فَلْيُبَايِعْنِي مِنْ كُلِّ قَبِيلَةٍ رَجُلٌ، فَلَزِقَتْ يَدُ رَجُلٍ بِيَدِهِ، فَقَالَ: فِيكُمُ الغُلُولُ، فَلْيُبَايِعْنِي قَبِيلَتُكَ، فَلَزِقَتْ يَدُ رَجُلَيْنِ أَوْ ثَلاَثَةٍ بِيَدِهِ، فَقَالَ: فِيكُمُ الغُلُولُ، فَجَاءُوا بِرَأْسٍ مِثْلِ رَأْسِ بَقَرَةٍ مِنَ الذَّهَبِ، فَوَضَعُوهَا، فَجَاءَتِ النَّارُ، فَأَكَلَتْهَا ثُمَّ أَحَلَّ اللَّهُ لَنَا الغَنَائِمَ رَأَى ضَعْفَنَا، وَعَجْزَنَا فَأَحَلَّهَا لَنَا “

Ada salah seorang Nabi yang berperang, lalu ia berkata kepada umatnya : “jangan ikut perang orang yang baru saja menikah dan ia sedang melangsungkan malam pertamanya, jangan juga orang yang sedang membangun rumah dan belum sempat memasang atapnya dan jangan juga orang yang membeli kambing atau Unta bunting, kemudian ia sedang menunggu kelahiran anak binatang ternaknya”. Lalu Nabi ‘alaihi as-Salaam tersebut pun berperang, ketika mendekati daerah musuh waktunya sudah masuk sholat Ashar atau mendekatinya, maka ia berkata kepada Matahari : “sesungguhnya kamu matahari diperintah dan saya juga diperintah, Ya Allah tahanlah matahari (agar jangan terbenam dahulu)”, maka Mataharinya pun ditahan, sampai Allah membukakan kemenangan untuknya. Lalu dikumpulkan ghonimah, kemudian api datang yakni untuk memusnahkannya, namun ia tidak mau membakarnya, maka Nabi tersebut berkata : “sesungguhnya diantara kalian ada yang korupsi, maka berbaitlah kepadaku setiap kabilah satu orang, lalu ada seorang yang tangannya melekat, maka katanya : “anggota kabilahmu ada yang korupsi, maka berbaitlah seluruh anggota kabilahmu, lalu menempellah di tangan Nabi tersebut dua atau tiga orang”. Maka ia berkata : “kalian telah melakukan korupsi!”, maka mereka pun membawa emas seukuran kepala sapi, lalu dikumpulkan bersama harta ghonimah lainnya, maka datanglah api memakan semua harta tersebut. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’alaa menghalalkan untuk kita harta ghonimah, ketika melihat kondisi kita yang lemah dan kekurangan, sehingga dihalalkan kepada kita”.

  1. Kelebihan berikutnya adalah bahwa bumi tempat kita berpijak dapat dijadikan tempat beribadah untuk sholat kepada Allah. Para Nabi dan umatnya sebelum kita, hanya boleh beribadah di gereja atau mihrab mereka, sebagaimana dalam sebuah hadits :

وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسَاجِدَ وَطَهُورًا ، أَيْنَمَا أَدْرَكَتْنِي الصَّلَاةُ تَمَسَّحْتُ وَصَلَّيْتُ، وَكَانَ مَنْ قَبْلِي يُعَظِّمُونَ ذَلِكَ، إِنَّمَا كَانُوا يُصَلُّونَ فِي كَنَائِسِهِمْ وَبِيَعِهِمْ

Dijadikan bumi sebagai masjid dan bersuci, maka dimanapun engkau mendapati sholat, engkau mengusap (bertayamum), lalu sholat. Sedangkan umat sebelumku, dilarang seperti itu, mereka hanyalah sholat di gereja dan biara-biara mereka (HR. Ahmad, dihasankan oleh Imam Al Albani)

Dalam riwayat lain, Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

وَلَمْ يَكُنْ نَبِىٌّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ يُصَلِّى حَتَّى يَبْلُغَ مِحْرَابَهُ

Para Nabi ‘alaihimus as-Salaam tidaklah sholat, sebelum mereka sampai ke mihrobnya (HR. Baihaqi dan selainnya, Imam al-Haitsami mengatakan dalam al-majmu : ‘diriwayatkan oleh al-Bazaar dan ada perowi yang saya tidak mengenalnya’. Imam al-Albani mengisyaratkan hadits ini Hasan lighoirihi, karena dijadikan penguat untuk hadits sebelumnya (lihat ashlu shifat sholat 2/787)).

Adapun bumi dijadikan alat bersuci adalah tanahnya dapat digunakan untuk bertayamum, ketika tidak mendapatkan air, sehingga tidak ada alasan bagi orang yang tersesat, umpamanya di tengah hutan untuk tidak melaksanakan sholat, karena mereka bisa sholat dimana saja dan dapat bersuci dengan tanahnya, jika tidak mendapatkan air. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur (QS. Al Maidah : 6).

  1. Kelebihan berikutnya Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam diutus kepada umat manusia seluruhnya, sebagaimana Firman-Nya :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui (QS. Saba’ : 28).

Dalam riwayat shahihain, Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً

Para Nabi sebelumnya diutus kepada kaumnya secara khusus saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia.

Maka risalah Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam adalah universal, tidak terbatas lagi oleh tempat dan waktu semenjak Beliau diutus sampai hari kiamat. Oleh karenanya orang-orang Yahudi dan Nashrani yang memiliki Nabi sebelumnya dan juga bangsa lain wajib mengikuti risalah Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam dan barangsiapa yang tidak mau mengikuti berarti ia adalah orang kafir yang wajib mendapatkan siksa neraka yang kekal. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi jiwa Muhammad yang berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini yang mendengar dakwahku, baik dari kalangan Yahudi dan Nashroni, kemudian mati dan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, melainkan ia akan menjadi penghuni neraka (HR. Muslim).

Bahkan Nabi Isa ‘alaihi as-Salaam yang nanti di akhir zaman akan turun ke dunia, pun berhukum dengan syariatnya Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam :

لَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ – يَعْنِي عِيسَى – وَإِنَّهُ نَازِلٌ …. فَيُقَاتِلُ النَّاسَ عَلَى الْإِسْلَامِ، فَيَدُقُّ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ، وَيُهْلِكُ اللَّهُ فِي زَمَانِهِ الْمِلَلَ كُلَّهَا إِلَّا الْإِسْلَامَ، وَيُهْلِكُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ، فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً، ثُمَّ يُتَوَفَّى فَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ

Tidak ada Nabi lagi antaraku denganya –yakni Nabi Isa ‘alaihi as-Salaam- Beliau akan turun ke dunia….. Beliau akan berjihad melawan orang kafir diatas Islam, Beliau akan mematahkan salib, membunuh babi dan menghapus jizyah, pada zamannya Allah akan menghancurkan seluruh agama, kecuali Islam, Beliau akan membinasakan al-Masiih ad-Dajjaal. Beliau akan tinggal di bumi selama 40 tahun, lalu wafat dan jenazahnya disholati oleh kaum Muslimin (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

  1. Adapun Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam sebagai nabi terakhir dan penutup para Nabi, telah kami singgung di penjelasan bab sebelum ini.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: