Bab 3 Hak Seorang Istri atas Suaminya

July 26, 2014 at 12:24 am | Posted in Syarah Kitab Nikah min Sunan Ibnu Majah | Leave a comment

بَابُ حَقِّ الْمَرْأَةِ عَلَى الزَّوْجِ

Bab 3 Hak Seorang Istri atas Suaminya

 

Penjelasan Bab :

Yakni penjelasan hak-hak apa saja yang seharusnya didapatkan dari seorang suami. Dalam bab ini Imam Ibnu Ibnu Majah mendahulukan wanita terlebih dahulu, karena di bab berikutnya, beliau memberikan judul bab hak suami atas istrinya. Wallahu A’lam, mungkin ini suatu bentuk pemulian terhadap wanita, sehingga Beliau mendahulukannya, sebagaimana istilah yang ngetrend zaman ini ‘ladies first’. Atau bisa jadi Beliau adalah termasuk suami yang sayang istrinya, sebagaimana ini adalah akhlak Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, bahwa Beliau adalah manusia yang paling baik akhlaknya terhadap para istrinya.

Dalam Al Qur’an salah satu hak istri atau dengan kata lain kewajiban suami yang paling mendasar adalah pemberian nafkah. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka (QS. An Nisaa’ : 34).

 

Imam Ibnu Majah berkata :

1850 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ أَبِي قَزْعَةَ، عَنْ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا حَقُّ الْمَرْأَةِ عَلَى الزَّوْجِ؟ قَالَ: «أَنْ يُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمَ، وَأَنْ يَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَى، وَلَا يَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلَا يُقَبِّحْ، وَلَا يَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ»

6). Hadits no. 1850

Haddatsanaa Abu Bakr bin Abi Syaibah ia berkata, haddatsanaa Yaziid bin Haaruun dari Syu’bah dari Abi Qoz’ah dari Hakiim bin Mu’awiyyah dari Bapaknya bahwa seorang bertanya kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam, apa hak istri atas suami?, Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “memberinya makan jika kalian makan, memberinya pakaian jika kalian berpakaian, tidak memukul wajahnya, jangan berkata atau berbuat jelek kepadanya dan jangan diboikot kecuali di rumahnya”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori dan Muslim, kecuali Abu Qoz’ah yakni Suwaid bin Jubair, hanya dipakai Muslim dan Hakiim bin Mu’awiyyah, perowi shoduq, Bukhori hanya menggunakan sebagai mu’alaq. Bapaknya yaitu Mu’awiyyah bin Haidah rodhiyallahu anhu seorang sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam.

Hadits ini Hasan, dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Arnautth dalam Taliq Ibnu Majah, karena sebab kondisi perowi Hakiim bin Mu’awiiyah yang hanya shoduq saja. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Albani, namun -wallahu A’lam- penulis belum mengetahui alasan penshahihan beliau, barangkan Al Albani memandang bahwa Hakiim bin Mu’awiyyah, perowi tsiqoh, karena beliau ditsiqohkan oleh Imam al-‘Ijli dan Imam Ibnu Hibban (lihat tahdzibain). lafadz yang hampir mirip dalam HR. Abu Dawud (no. 2142).

 

Imam Ibnu Majah berkata :

1851 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِي، عَنْ زَائِدَةَ، عَنْ شَبِيبِ بْنِ غَرْقَدَةَ الْبَارِقِي، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْأَحْوَصِ حَدّثَنِي أَبِي: أَنَّهُ شَهِدَ حَجَّةَ الْوَدَاعِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَذَكَّرَ وَوَعَظَ، ثُمَّ قَالَ: “اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ عِنْدَكُمْ عَوَانٍ، لَيْسَ تَمْلِكُونَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ، إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ، فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا، إِنَّ لَكُمْ مِنْ نِسَائِكُمْ حَقًّا، وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا، فَأَمَّا حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ: فَلَا يُوَطِّئَنَّ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ، وَلَا يَأْذَنَّ فِي بُيُوتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُونَ، أَلَا وَحَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِي كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ”

6). Hadits no. 1851

Haddatsanaa Abu Bakar bin Abi Syaibah, haddatsanaa al-Khusain bin Ali dari Zaidah dari Syabiib bin Ghorqod al-Baariqiy dari Sulaimaan bin ‘Amr ibnul Ahwash, haddatsani Bapakku bahwa beliau menyaksikan haji Wada’ bersama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam. Lalu Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam (berkhutbah) mulai dengan puja puji kepada Allah, lalu memberi peringatan dan nasehat, (diantara isinya) : “nasehatilah para wanita dengan baik, jika mereka melakukan (kejelekan), maka boikotlah dari tempat tidurnya, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan, jika mereka sudah patuh, janganlah kalian mencari-cari kesalahannya lagi. Kalian memiliki hak terhadap para istri dan istri kalian juga memiliki ha katas kalian, adapun hak kalian atas istri adalah janganlah mereka memasukkan orang yang tidak kalian sukai di tempat tidur kalian, janganlah istri mengijinkan masuk orang yang kalian benci. Ingatlah hak istri atas kalian, yakni kalian memberikan yang terbaik untuk mereka makanan dan pakaian”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim, kecuali Sulaimaan bin ‘Amr ibnul Ahwaash, beliau hanya ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban, sedangkan Imam Ibnu Qothoon menilainya majhul (tahdzibain). Al-Hafidz dalam at-Taqriib menilainya maqbul. Bapaknya ‘Amr ibnul Ahwaash seorang sahabat.

Hadits ini Hasan lighoirihi, dihasankan oleh Imam Al Albani. Syaikh Syu’aib Arnauth menilai hadits ini shahih lighoirihi, karena beliau beranggapan sanad hadits ini hasan lidzatihi. Beliau menilai Sulaimaan bin ‘Amr, sebagai perowi shoduq karena Sulaimaan memiliki 2 murid dan 3 guru, 2 diantaranya adalah Bapak-Ibunya sendiri yang merupakan sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam. Ibunya bernama Ummu Jundub rodhiyallahu anha.

lafadz yang mirip diriwayatkan dalam HR. Tirmidzi (no. 1197), kemudian dengan adanya syahid (penguat) dari hadits Jaabir dalam riwayat Muslim (no. 1218) berikut, maka menaikkan hadits diatas menjadi hasan lighoirihi, bagi yang berpendapat sanad diatas lemah atau shahih lighoirihi bagi yang menganggap sanadnya hasan. Lafadznya :

فَاتَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ، فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ، وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ ، وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ، فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Bertakwalah kepada Allah terhadap urusan wanita, kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian telah menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kalian memiliki hak terhadap istri, yaitu agar istri kalian tidak memasukkan orang yang kalian benci ke tempat tidur kalian, jika mereka melakukan hal tersebut, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan dan para istri memiliki hak atas kalian, yaitu mendapatkan rizki dan pakaian dengan ma’ruf.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Hak istri atas suami adalah mendapatkan sandang, papan dan pangan yang layak.
  2. Istri tidak boleh mengajak laki-laki yang tidak disukai suaminya untuk ngobrol didalam rumah suaminya. Sehingga makna hadits ini bukan melakukan perbuatan zina dengan laki-laki lain, karena hal itu telah jelas. Tapi dahulu sebelum turun ayat hijab, kebiasan wanita ngobrol dengan laki-laki lain adalah hal biasa bagi bangsa arab, baru setelah turun ayat tersebut, laki-laki lain dilarang duduk dan ngobrol dengan wanita tanpa hijab. Demikian yang dikatan Imam al-Khothobi dalam Syarah Sunan Abu Dawud.
  3. Yang dimaksud dengan pukulan Ghoiru Mubarrih adalah pukulan yang tidak keras, sehingga sampai ada bekas luka pada tubuh istri. Imam Ahmad dalam al-Musnad (no. 20695) meriwayatkan bahwa :

قَالَ حُمَيْدٌ: قُلْتُ لِلْحَسَنِ  : مَا الْمُبَرِّحُ ؟ قَالَ: الْمُؤَثِّرُ

Humaid –ath-Thawiil- bertanya kepada al-Hasan –al-Bashri- : ‘apa itu al-Mubarrih?’, jawab al-Hasan : ‘yang membekas’.

  1. Syariat telah memberikan langkah-langkah ketika menghadapi istri yang tidak menunaikan haknya, yang diistilahkan dengan Tim penerjemah DEPAG RI mendefinisikan nusyuz dengan : Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. Nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya. Langkah-langkah tersebut, selain disebutkan pada hadits ditas (no. 1851), telah Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa sebutkan dalam Firman-Nya :

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Maksudnya, sebagaimana dikatakan oleh tim penerjemah DEPAG RI :

Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: