Bab 4 Hak Seorang Suami atas Istrinya

July 26, 2014 at 12:28 am | Posted in Syarah Kitab Nikah min Sunan Ibnu Majah | Leave a comment

بَابُ حَقِّ الزَّوْجِ عَلَى الْمَرْأَةِ

Bab 4 Hak Seorang Suami atas Istrinya

 

Penjelasan Bab :

Yakni penjelasan hak-hak apa saja yang seharusnya didapatkan dari seorang istri. Dalam bab sebelumnya telah disinggung juga hak suami atas istrinya atau dengan kata lain kewajiban istri kepada suami.

 

Imam Ibnu Majah berkata :                                

1852 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَلَوْ أَنَّ رَجُلًا أَمَرَ امْرَأَتَهُ أَنْ تَنْقُلَ مِنْ جَبَلٍ أَحْمَرَ إِلَى جَبَلٍ أَسْوَدَ، وَمِنْ جَبَلٍ أَسْوَدَ إِلَى جَبَلٍ أَحْمَرَ، لَكَانَ نَوْلُهَا أَنْ تَفْعَلَ»

8). Hadits no. 1852

Haddatsanaa Abu Bakr bin Abi Syaibah ia berkata, haddatsanaa ‘Affaan ia berkata, haddatsanaa Hammaad bin Salamah dari Ali bin Zaid bin Jud’aan dari Sa’id ibnul Musayyib dari ‘Aisyah rodhiyallahu anha, bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “seandainya saya boleh memerintahkan seorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan istri sujud kepada suaminya. Seandainya seorang suami memerintahkan istrinya untuk berjalan dari gunung merah ke gunung hitam dan balik lagi dari gunung hitam ke gunung merah, maka hal itu adalah kewajiban yang harus ditunaikan istri”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori dan Muslim, kecuali Hammaad dan Ali bin Yaziid, keduanya hanya dipakai Muslim. Namun khusus untuk Ali bin Yaziid, beliau adalah perowi dhoif.

Hadits ini dhoif, didhoifkan oleh Imam al-Bazar, Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Hanya saja penggalan kalimat yang pertama yaitu masalah sujudnya seorang istri kepada suami, terdapat penguat dari jalan lain, diantaranya pada hadits berikutnya yang nanti akan dibawakan oleh Imam Ibnu Majah. Sehingga kesimpulannya penggalan kalimat yang pertama adalah shahih.

Imam Tirmidzi dalam Sunannya (no. 1159) setelah meriwayatkan hadits dengan penggalan kalimat pertama dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu, beliau berkomentar :

وَفِي البَاب عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، وَسُرَاقَةَ بْنِ مَالِكِ بْنِ جُعْشُمٍ، وَعَائِشَةَ، وَابْنِ عَبَّاسٍ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى، وَطَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ، وَأُمِّ سَلَمَةَ، وَأَنَسٍ، وَابْنِ عُمَرَ.

Dalam bab ini terdapat hadits dari Mu’adz bin Jabal, Surooqoh bin Maalik bin Ju’tsam, Aisyah, Abdullah bin Abi Aufaa, Tholaq bin Ali, Ummu Salamah, Anas dan Ibnu Umar rodhiyallahu anhum ajma’in.

 

Imam Ibnu Majah berkata :

1853 – حَدَّثَنَا أَزْهَرُ بْنُ مَرْوَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ الْقَاسِمِ الشَّيْبَانِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى، قَالَ: لَمَّا قَدِمَ مُعَاذٌ مِنَ الشَّامِ سَجَدَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَا هَذَا يَا مُعَاذُ؟» قَالَ: أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ، فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَلَا تَفْعَلُوا، فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ»

9). Hadits no. 1853

Haddatsanaa Azhar bin Marwaan ia berkata, haddatsanaa Hammaad bin Zaid dari Ayyub dari al-Qoosim asy-Syaibaaniy dari Abdullah bin Abi Aufaa rodhiyallahu anhu ia berkata : “ketika Mu’adz rodhiyallahu anhu tiba dari Syam, beliau langsung sujud kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam, sehingga Beliau bersabda : “apa-apan ini, wahai Mu’adz?. Mu’adz rodhiyallahu anhu berkata : “aku mendatangi Syam dan aku mendapati mereka bersujud kepada para uskup dan pemimpinnya, maka aku berkeinginan untuk melakukan hal tersebut kepadamu”. Maka Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “jangan engkau melakukannya, karena seandainya aku boleh memerintahkan seorang sujud kepada orang lain -selain Allah-, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Demi yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang wanita dianggap menunaikan hak Rabbnya, sampai ia menunaikan hak suaminya, seandainya seorang suami meminta dirinya melayani suaminya –sekalipun sedang berada diatas punggung unta-, maka hal tersebut tidak menghalangi istri melayani suaminya”.s dan Ibnu Umar raa , maka hal itu adalah kewajiban yang

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim, kecuali Azhar, seorang perowi shoduq dan al-Qoosim, perowi Muslim yang shoduq.

Hadits ini Shahih lighoirihi, dikatakan oleh Syaikh Syu’aib Arnauth. Imam al-Bazaar mengatakan : ‘diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya’. Kemudian hal ini dikomentari oleh Imam as-Sindiy dalam Hasiyyahnya : ‘seakan-akan Imam al-Bazaar hendak mengatakan bahwa hadits ini shahih sanadnya’. Sementara itu Imam Al Albani menilainya : ‘Hasan Shahih’. Mungkin yang beliau maksud sanad hadits ini hasan dan terdapat riwayat dari jalan lain yang shahih.

Na’am, sebagaimana telah berlalu bahwa penggalan kalimat pertama telah diriwayatkan oleh sejumlah sahabat, sedangkan penggalan yang kedua yakni seorang istri harus melayani permintaan (berhubungan badan), sekalipun sedang sibuk sebagai suatu kewajiban yang besar, telah diriwayatkan syahid (penguat) hadits ini dari jalan sahabat Tholaq bin Ali rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِذَا الرَّجُلُ دَعَا زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ فَلْتَأْتِهِ، وَإِنْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّورِ

Jika suami meminta istrinya untuk berhubungan badan, maka sang istri harus memenuhinya, sekalipun sedang berada di dapur (HR. Tirmidzi no. 1160).

 

Imam Ibnu Majah berkata :

1854 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ أَبِي نَصْرٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ مُسَاوِرٍ الْحِمْيَرِيِّ، عَنْ أُمِّهِ، قَالَتْ: سَمِعْتُ أُمَّ سَلَمَةَ، تَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ، وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ، دَخَلَتِ الْجَنَّةَ»

10). Hadits no. 1854

Haddatsanaa Abu Bakar ibnu Abi Syaibah ia berkata, haddatsanaa Muhammad bin Fudhoil dari Abu Nashr Abdullah bin Abdir Rokhman dari Musaawir al-Khimyaariy dari Ibunya ia berkata, aku mendengar Ummu Salamah rodhiyallahu anhu berkata, aku mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “siapa saja seorang istri meninggal dunia, sedangkan suaminya dalam keadaan ridho, ia akan masuk surga”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Abu Bakar ibnu Abi Syaibah dan Muhammad bin Fudhoil, keduanya perowi Bukhori-Muslim.

Abu Nasr, perowi tsiqoh.

Muasaawir dan ibunya, perowi majhul.

Hadits ini hasan lighoirihi, Imam Al Albani dalam ta’liqnya menilai hadits ini dhoif, kemudian dalam adh-Dhoifah (no. 1426), Imam Al Albani menjelaskan alasan pendhoifannya yakni karena kemajhulan Musaawir dan ibunya, serta penilaian Imam adz-Dzahabi bahwa haditsnya Musaawir mungkar.

Namun Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits dengan lafadz ini (no. 1161), lalu berkomentar : ‘hadits ini hasan ghorib’. Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liqnya menghukuminya sebagai hadits hasan lighorihi, karena beliau menemukan penguat hadits ini yaitu :

  1. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (no. 19003) dan selainnya dengan sanadnya dari jalan :

الْحُصَيْنِ بْنِ مِحْصَنٍ، أَنَّ عَمَّةً لَهُ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ، فَفَرَغَتْ مِنْ حَاجَتِهَا، فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ ؟ ” قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: ” كَيْفَ أَنْتِ لَهُ ؟ ” قَالَتْ: مَا آلُوهُ إِلَّا مَا عَجَزْتُ عَنْهُ، قَالَ: ” فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ “

Al-Khushoin bin Mihshon bahwa bibinya mendatangi Nabi sholallahu alaihi wa salam untuk suatu keperluan, setelah selesai urusannya, Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata kepadanya : “apakah engkau memiliki suami?”. Bibiku menjawab, iya. Lanjut Nabi : “bagaimana engkau memperlakukannya?”. Bibiku menjawab : “tidaklah aku melayaninya, kecuali aku merasa tidak mengurangi haknya”. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “perhatikanlah, dimana posisimu, karena sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu”.-

Semua sanadnya perowi Bukhori-Muslim, kecuali Khushoin bin Mihshon, para ulama berbeda pendapat tentang shuhbahnya, yakni apakah ia seorang sahabat atau tabi’in?. Al Hafidz Ibnu Hajar merajihkannya sebagai seorang sahabat. Maka sanad hadits ini shahih.

  1. Imam Ahmad dalam al-Musnad (no. 1661) meriwayatkan :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِي جَعْفَرٍ، أَنَّ ابْنَ قَارِظٍ، أَخْبَرَهُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ “

Haddatsani Yahya bin Ishaq, haddatsanaa Ibnu Luhaiyyah dari Abdullah bin Abi Ja’far bahwa ibnu Qooridh mengabarinya dari Abdur Rokhman bin ‘Auf rodhiyallahu anhu beliau berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “jika seorang wanita sholat 5 waktu, puasa pada bulan Romadhon, menjaga kemaluannya dan mentaati suaminya. Maka dikatakan kepadanya : “masuklah kedalam surga, dari pintu mana saja yang engkau mau!”.

Hadits ini lemah, karena kelemahan yang ada pada Abdullah bin Lahii’ah, beliau perowi mukhtalith yang berubah hapalannya setelah kitabnya terbakar. Namun hadits ini memiliki penguat dari jalan sahabat lain, sehingga naik menjadi hasan lighoirihi, sebagaimana dikatakan Syaikh Syu’aib Arnauth, bahkan Imam Al Albani dalam Adaabuz Zifaaf (286) berkata dalam catatan kakinya ketika menyebutkan hadits ini :

حديث حسن أو صحيح له طرق فرواه الطبراني في الأوسط 169/2 – من ترتيبه وكذا ابن حبان في صحيحه من حديث أبي هريرة كما في الترغيب 3/73 وأحمد رقم 1661 عن عبد الرحمن بن عوف وأبو نعيم 6/308 والجرجاني 291 عن أنس بن مالك.

Hadits Hasan atau shahih, diriwayatkan oleh at-Thabrani dalam Al Ausath (2/169-dari urutannya) demikan juga Ibnu Hibban dalam shahihnya dari hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu sebagaimana dalam at-Targhiib (3/73), serta Ahmad (no. 1661) dari Abdur Rokhman bin Auf, kemudian Abu Nu’aim (6/308) dan al-Jurjaaniy (291) dari Anas bin Maalik rodhiyallahu anhu.

Alaa kuli haal, hadits dalam bab sunan Ibnu Majah ini adalah hadits Hasan dengan penguat-penguatnya.

  Penjelasan Hadits :

  1. Begitu besarnya hak suami atas istrinya, yakni ketaatan seorang istri kepada suaminya. Istri wajib mentaati perintah suaminya, apapun kondisinya, asalkan perintah tersebut tidak bertentangang dengan syariat, karena jika itu perintah maksiat, maka tidak ada ketaatan kepadanya, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada Sang Pencipta (HR. Syarhus Sunnah, dishahihkan oleh Imam Al Albani)

Dalam lafadz lain :

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla  (HR. Ahmad dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth).

  1. Begitu mudahnya jalan mudah bagi wanita, ia cukup menjalankan kewajiban yang difadhukan sebagai seorang Muslim, ditambah dengan ketaatan kepada suaminya, maka pintu surga sudah terbentang didepan matanya. Namun qodarullah, kenyataannya banyak wanita yang durhaka kepada suaminya, apalagi jika ia merasa lebih tinggi statusnya dari suaminya, misalnya wanita karier yang memiliki penghasilan diatas suaminya, maka ia akan berbuat sewenang-wenang kepada suaminya, tidak mau mentaati suaminya. Sehingga Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengabarkan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita –nas’alullaha salamatan wal ‘aafiyah :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ » . قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ « يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

dari Ibnu Abbas t ia berkata, Nabi r bersabda : “aku diperlihatkan neraka, kebanyakan penduduknya adalah wanita, karena mereka melakukan kekufuran”. Para sahabat bertanya, apakah mereka kufur kepada Allah? Jawab Nabi : “mereka kufur Al ‘Asyiir yaitu, mengkufuri kebaikan (suaminya). Sekiranya kalian (para suami) melakukan kebaikan kepada mereka (para istri) sepanjang masa, lalu sang istri merasakan sebuah kejelekkan dari suaminya, maka si istri akan berkomentar, saya tidak pernah mendapatkan kebaikan (dari suaminya) sedikitpun” (muttafaqun alaih).

Dalam lafadz lain :

إِنَّ أَقَلَّ سَاكِنِى الْجَنَّةِ النِّسَاءُ

“Sesungguhnya penduduk Jannah yang paling sedikit adalah wanita” (HR. Muslim no. 7118 dari Imron bin Hushoin t).

  1. Para istri yang tidak memenuhi ajakan suaminya untuk berhubungan badan, tanpa ada udzur syar’i, maka terancam dengan laknat malaikat, sebagaimana dalam sebuah hadits :

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا المَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

Jika suami mengajak istrinya untuk berhubungan badan, lalu istrinya menolak, kemudian suaminya marah, maka Malaikat akan melaknatnya sampai waktu Subuh (Muttafaqun alaihi).

  1. Namun bagi anda para suami yang ditimpa musibah dengan kedurhakaan istrinya, maka bersabarlah, barangkali dengan kesabaran anda, Allah akan menggantikan istri yang lebih baik dan lebih cantik, dan memasukkan anda kedalam surganya, sehingga bertemu dengan bidadari yang tunduk patuh dan cantik jelita. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا، إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الحُورِ العِينِ: لَا تُؤْذِيهِ، قَاتَلَكِ اللَّهُ، فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya didunia, kecuali istrinya nanti dari kalangan bidadari di surga berkata kepada istri anda : “jangan engkau sakiti dia, semoga Allah membinasakanmu, sesungguhnya dia sebentar saja bersamamu, lalu dia akan berpisah denganmu dan nanti kembali kepada kami (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Imam Tirmidzi dan Syaikh Syu’aib Arnauth dan dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: