TAFSIR AYAT-AYAT SUJUD TILAWAH (SURAT AL ISRAA’ : 109)

July 27, 2014 at 12:26 am | Posted in Tafsir | Leave a comment

TAFSIR AYAT-AYAT SUJUD TILAWAH

 

Ayat berikut yang menjadi tempat sujud tilawah adalah ayat ke-107 sampai 109 dari surat Al Israa’, yakni Firman Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa :

قُلْ آَمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا (107) وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (108) وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا (109)

Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.

Dalil bagi ayat ini sebagai tempat sujud tilawah adalah hadits-hadits dan kesepakatan para ulama yang memasukkan ayat ini sebagai tempat sujud tilawah, sebagaimana dalil untuk ayat ke-206 surat Al A’raaf pada pembahasan bagian ke-1.

 

Tafsir ayat 107 – 109 surat Al Israa’

Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.

Makna ayat ini :

Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa memerintahkan kepada Nabi-Nya sholallahu alaihi wa salam untuk mengatakan kepada orang-orang yang kafir terhadap Al Qur’an yang Beliau bawa : “berimanlah kalian kepada Al Qur’an atau tidak usah beriman!” yakni sama saja apakah kalian beriman atau tidak beriman Al Qur’an ini tetap merupakan sebuah kebenaran yang datangnya dari Rabb semesta alam.

Orang-orang Ahli kitab ketika dibacakan Al Qur’an kepada mereka,  sebagian mau beriman, sebagaimana dalam Firman-Nya :

وَإِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ قَالُوا آَمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ

Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya) (QS. Al Qoshosh : 53).

Namun kebanyakannya tidak mau beriman, karena hawa nafsunya, Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman :

فَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا لَوْلَا أُوتِيَ مِثْلَ مَا أُوتِيَ مُوسَى أَوَلَمْ يَكْفُرُوا بِمَا أُوتِيَ مُوسَى مِنْ قَبْلُ قَالُوا سِحْرَانِ تَظَاهَرَا وَقَالُوا إِنَّا بِكُلٍّ كَافِرُونَ (48) قُلْ فَأْتُوا بِكِتَابٍ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ هُوَ أَهْدَى مِنْهُمَا أَتَّبِعْهُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (49) فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (50)

Maka tatkala datang kepada mereka kebenaran (yakni Al Qur’an) dari sisi Kami, mereka berkata: “Mengapakah tidak diberikan kepadanya (Muhammad) seperti yang telah diberikan kepada Musa dahulu?.” Dan bukankah mereka itu telah ingkar (juga) kepada apa yang telah diberikan kepada Musa dahulu?; mereka dahulu telah berkata: “Musa dan Harun adalah dua ahli sihir yang bantu membantu.” Dan mereka (juga) berkata: “Sesungguhnya kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu.” Katakanlah: “Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih (dapat) memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan Al Quran) niscaya aku mengikutinya, jika kamu sungguh orang-orang yang benar.” Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesung- guhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesung- guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al Qoshosh : 48-50).

Begitulah kondisi orang-orang kafir, mereka enggan menerima kebenaran. Namun keenggenan mereka bukan berarti bahwa Al Qur’an bukan sebuah kebenaran, karena Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman :

المر تِلْكَ آَيَاتُ الْكِتَابِ وَالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Quran). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar: akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya). (QS. Ar Ra’du : 1).

 

Para Ulama Ahlu Kitab yang Ikhlas Kepada Allah Menerima Kebenaran Al Qur’an yang Dibawa Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa salam

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa :

مِنْ صَالِحِ أَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِينَ يُمَسَّكون بِكِتَابِهِمْ وَيُقِيمُونَهُ، وَلَمْ يُبَدِّلُوهُ وَلَا حَرَّفُوهُ

Orang-orang sholih ahli kitab yang mereka berpegang dengan kitab suci mereka, tidak mengganti dan merubahnya.

apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.”

Karena mereka adalah ulama-ulama ahli kitab yang murni, yang mereka mengetahui bahwa kelak akan muncul Nabi penerus dengan membawa Al Kitab (Al Qur’an) yang merupakan kebenaran dari Rabbnya. Sesungguhnya pengetahuan tentang kemunculan Risalah Muhammad sholallahu alaihi wa salam dikalangan ahli kitab adalah perkara yang jelas dan gamblang, sejelas mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman :

لَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. Al Baqoroh : 146).

Syakh Abdul Majiid az-Zindani telah menulis sebuah kitab yang berjudul “Al Bisyaarot bimuhammadin fill Kutubis Samaawiyatis Saabiqoh”. Di kitab tersebut beliau melakukan penelitian tentang kedatangan Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa salam dalam kitab-kitab suci agama mereka, berikut kami nukilkan sebagian isi buku tersebut :

Senantiasa naskah Taurat dengan bahasa Ibroni mengandung nama Muhammad dengan jelas dan terang sampai hari ini. Dalam salah satu teks di Taurat di pasal kelima butir ke-16 terdapat kalimat berikut : ‘Hikuu mamtakiim Fikullu Muhamadiim Zaih duudiy fazaih rii’iy’. Terjemahannya adalah : ‘ucapannya adalah sebaik-baik ucapan, dialah Muhammad yang agung, dia kekasihku dan kholilku’.  Bahasa ibroni menyebutkan nama Muhammad dengan jelas dan terang yang diikuti hurug ‘M’ yang biasa dipakai dalam bahasa ibroni sebagai pengagungan. Nama Muhammad juga tercantum dalam daftar kamus untuk Taurat.

Ketika sedang menjelaskan hal ini terkait teks sebelumnya Muhammadiim, namun ternyata tangan-tangan Yahudi dan Nashroni merubah lafadz tersebut dan mereka enggan untuk menerima bahwa lafadz Muhammadim adalah nama Nabi, mereka menggambarkan bahwa itu adalah sifat untuk Nabi, bukan nama untuknya. Mereka berkata, makna lafadz Muhammadiim adalah sesuatu yang disifati dengan sifat terpuji, sebagaimana terdapat dalam naskah Injil raja James yang menjadi pegangan orang Nashroni, oleh karenanya dalam teks Injil raja James disebutkan : ‘ucapannya adalah ucapan yang sangat bagus, dialah pemilik sifat yang terpuji’. Maka siapakah dia yang dimaksud wahai ahli kitab? selain Muhammadiim yaitu Muhammad yang agung Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, yang mana ucapannya adalah sebaik-baik ucapan, dialah yang terpuji sifat-sifatnya seluruhnya, dialah kekasih dan kholilullah, sebagaimana datang hal tersebut dalam teks taurat setelah menyebutkan namanya ‘ini adalah kekasihku dan kholilku’.

Adapun Nama Nabi sholallahu alaihi wa salam dalam kitabnya orang kristen ada di beberapa tempat, diantaranya terdapat didalam Injil Yohaana tentang ucapan Nabi Isa alaihi salam yang sedang berbicara kepada para sahabatnya : “namun aku katakan kepada kalian, bahwa termasuk kebaikan bagi kalian adalah kalian beranjak pergi, karena jika kalian tidak beranjak pergi tidak akan datang al-Mu’ziy al-Faariqoliith”. Kata “al-Mu’ziy” asalhnya adalah saduran dari bahasa Yunani Barkolotus yang merupakan perubahan dari kata Biiroklotus yakni maknanya Muhammad atau Ahmad, sehingga perbedaan kedua kata tersebut sangat sedikit sekali, huruf-huruf Yunani saling memiliki kemiripan, sehingga perubahan Biiroklutus menjadi Baroklotus dalam sebagian naskah mirip dengan qiyas, lalu penganut trinitas menguatkan naskah ini dibandingkan naskah lainnya.

Disana ada Injil lain yang bernama Injil Barnabaa, terdapat dalam gereja yang berdiri pada tahun 492 Masehi di Baba Jalasiyus, dilarang untuk dibaca dan disegel setiap sisinya, namun perpustakkan Baba memiliki kitab ini. Allah menghendaki untuk menampakkan injil ini melalui tangan pendeta yang bernama Faromeronu yang menulis risalah Ibroyanus, yang didalamnya disebutkan tentang injil barnabaa yang disaksikannya, lalu beliau menelitinya. Didalam injil ini didapati bahwa kelak Nabi Isa alaihi salam akan dianggap anak Allah dan hal ini terus berlangsung sampai datang Muhammad Rasulullah yang dengan kedatangannya akan menyingkap tipu daya ini bagi orang yang beriman dengan syariatnya. Akhirnya Feromeronu masuk islam dan menyebarkan injil ini yang mendapatkan penentangan dari gereja.

Nama Nabi sholallahu alaihi wa salam termaktub dengan keagungan di kitab-kitabnya orang yahudi dan nashroni di pembahasan sejarah. Ulama Muslimin telah berhujjah kepada para rahib dan pendeta dengan sesuatu yang termaktub penyebutan Muhammad sholallahu alaihi wa salam di kitab-kitab mereka. Berikut contohnya :

  • Dalam safar Asy’iyaa tertulis : “sesungguhnya aku menjadikan namamu Muhammad, wahai Muhammad, wahai quduusur Rabb, namamu akan tetap abadi“. Teks ini disebutkan oleh Ali bin Robban ath-Thobariy yang dulunya seorang nashroni, lalu Allah memberinya petunjuk kepada Islam. Beliau menyebutkannya di kitabnya “ad-Diin wa ad-Daulah”. Beliau wafat pada tahun 247 H.
  • Dalam safar Asy’iyaa juga : “kami mendengar dari ujung bumi, suara Muhammad”.
  • Dalam safar Habuquuq : “sesunggunya Allah datang dari Tiimaan dan ruh qudus (Jibril) datang dari gunung Faroon, sungguh langit menjadi cerah karena cahaya Muhammad dan bumi penuh dengan pujian”. Teks ini disebutkan oleh Ali bin Roban ath-Thobariy dalam kitabnya “ad-Diin”. Kisah ini disebutkan oleh Ibrohim kholiilu Ahmad yang ia sebelumnya adalah uskup nashroni, lalu masuk Islam pada zaman ini, kemudian menyebarkan teks-teks tersebut didalam kitabnya pada tahun 1409 H.
  • Dalam safar Asy’iyaa terdapat teks : “aku tidak memberinya, tidaklah aku memberinya kepada selainnya, aku memuji orang yang dipuji Allah dengan pujian yang baru, manusia yang terbaik di muka bumi, maka bergembira dengan lautan dan daratan, mereka semuanya mentauhidkan Allah atas segala kemulian-Nya dan mengagungkan-Nya atas segala bimbingan-Nya”. Teks ini disebutkan oleh Abdullah at-Turjamaan yang nama aslinya Engslam Tormedo yang sebelumnya sebagai uskup Spanyol, lalu masuk Islam dan beliau meninggal tahun 832 H.

Jubair bin Muth’im rodhiyallahu anhu berkata : ‘aku mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِنَّ لِي أَسْمَاءً، أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِيَ الْكُفْرَ، وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي،وَأَنَا الْعَاقِبُ

“aku memiliki beberapa nama, aku Muhammad, aku Ahmad, aku al-Maahiy yang dengannya Allah menghapus kekafiran, aku al-Haasyir yang mana manusia akan dikumpulkan dibawah kedua telapak kakiku dan aku al-‘Aaqib”.

Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata ” (QS. Ash-Shof : 6).

  • Berkata Prof. Abdul Ahad Dawud Al-Asyuuraa dalam kitabnya “Muhammad didalam kitab-kitab suci” : ‘sesungguhnya ungkapan yang biasa diucapkan oleh Nashroni “Pujian kepada Allah di surga yang tinggi, kesejahteraan diatas bumi dan kebahagian kepada manusia ” yang benar ungkapannya tidak seperti itu tapi “Pujian kepada Allah di surga yang tinggi, kesejahteraan diatas bumi dan kepada manusia Ahmad

Sungguh terdapat juga penyebutan nama Nabi sholallahu alaihi wa salam dalam kitab sucinya Hindu, dalam kitab ‘Saamaafedo’ demikian teksnya : “Ahmad menerima syariat dari Rabbnya dan itu penuh dengan hikmah, terang bendarang seperti nyala api, sebagaimana terangnya sinar Matahari.

Dalam kitab ‘Adrowaafiidem Adharowidem’ salah satu kitab suci Hindu termaktub : “wahai manusia dengarkan dan perhatikan Muhammad yang diutus ketengah-tengah manusia…keagungannya dan pujiannya hingga ke surga dan tunduklah kepadanya karena ia sangat terpuji”.

Dalam kitab hindu lainnya yaitu Bafusiyaa Baroonam teksnya : “diutus ditengah-tengah sahabatnya orang yang bernama Mahaamid yang dijuluki sebagai Ustadz alam semesta dan raja yang mensucikan dirinya dengan 5 pensucian”. Ucapannya 5 pensucian mengisyaratkan kepada sholat 5 waktu yang dapat mensucikan dosa seorang Muslim setiap harinya.

Namun jika ada pertanyaan kenapa orang-orang ahlu kitab zaman sekarang tidak mengetahui atau tidak mau beriman kepada risalah Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa salam? Maka pertanyaan ini telah dijawab oleh asy-Syaikh DR. Abdullah al-Faqiih dalam fatwanya sebagai berikut :

Adapun tidak tahunya orang Kristen tentang hal ini, maka diantara mereka ada yang sengaja mengingkari setelah mengetahui, ada yang buta hatinya, ada yang sombong, ada yang menyembunyikan kebenaran dan ada yang hasad kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

“karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah” (QS. Al An’aam : 33).

Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui” (QS. Al Baqoroh : 146).

Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

“Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran” (QS. Al Baqoroh : 109).

Wallahu A’lam.

 

Orang-orang Ahli Kitab yang Murni ketika Mendengar Al Qur’an Mereka Menyungkurkan Muka Meraka dengan Bersujud sambil Menangis

Mereka bersujud sebagai ketundukan penuh kepada Allah Azza wa Jalla dengan keimanan dan pembenaran terhadap Al Qur’an dan Rasul-Nya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa menambahkan untuk mereka kekhusyu’an yakni Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa menambahkan keimanan dan keislaman kepada mereka, sebagaimana Firman-Nya :

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya. (QS. Muhammad : 17).

Oleh karenanya, kita sebagai orang yang beriman, disyariatkan untuk sujud ketika melewati ayat diatas, sebagaimana perbuatan orang-orang ahli kitab yang masih murni, mereka sujud setelah mendapatkan kebenaran Al Qur’an dan risalah Muhammad sholallahu alaihi wa salam. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa menyebutkan sifat-sifat orang yang beriman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al Anfaal :2).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: