MUKADIMAH KITAB TAUHID

August 3, 2014 at 11:51 pm | Posted in Syarah Kitab Tauhid min Shahih Bukhori | Leave a comment

97 – كِتَابُ التَّوْحِيدِ

Kitab Tauhid

Mukadimah Kitab Tauhid

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، سيدنا محمد صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم

أما بعد

Pada kesempatan yang baik ini, kami akan memberikan penjelasan ringkas Shahih Bukhori pada pembahasan masalah Tauhid, dimana perkara tauhid adalah perkara yang sangat penting dan paling utama untuk diketahui oleh setiap Muslim.

Tauhid itu sendiri didefinisikan oleh Imam Ibnu Utsaimin dalam al-Qoulu Mufiid ‘alaa Kitabit Tauhid dengan :

والتوحيد في اللغة: مشتق من وحد الشيء إذا جعله واحداً، فهو مصدر وحد يوحد، أي: جعل الشيء واحداً.

وفي الشرع: إفراد الله – سبحانه – بما يختص به من الربوبية والألوهية والأسماء والصفات.

أقسامه: ينقسم التوحيد إلى ثلاثة أقسام:

1- توحيد الربوبية. 2- توحيد الألوهية. 3- توحيد الأسماء والصفات.

… وقد اجتمعت في قوله تعالى: { رب السماوات والأرض وما بينهما فاعبده واصطبر لعبادته هل تعلم له سمياً } [مريم: 65].

Tauhid secara bahasa adalah pecahan dari kata ‘wahhada asy-Syai’i’, jika ia menjadikan sesuatu itu satu. Ia adalah masdar dari wahhada-yuwahhidu, yakni menjadikan sesuatu itu satu.

Adapun secara istilah adalah : ‘menunggalkan Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa dengan apa yang dikhususkan berupa Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Sifat’.

Tauhid dibagi menjadi 3 yaitu : Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid Asmaa’ wa Sifat. Ketiga jenis ini telah terkumpul dalam Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa : {Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? } (QS. Maryam : 65).

Misi utama para Rasul ditugaskan ke muka bumi ini adalah agar manusia hanya menyembah Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa semata, sebagaimana Firman-Nya :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS. An Nahl : 36).

Imam Ibnu Utsaimin dalam Tafsirnya menukil penafsiran Syaikhul Islam Ibnu Qoyyim tentang Thoghut, kata beliau :

و «الطاغوت» فسره ابن القيم بأنه كل ما تجاوز به العبد حده من معبود، أو متبوع، أو مطاع

Thaghut ditafsirkan oleh Ibnul Qoyyim yaitu setiap hal yang menjadikan seorang hamba melampaui batasan (Allah) dari sesuatu yang diibadahi, diikuti atau ditaati.

Dan tauhid dalam pembahasan ini adalah bukan sekedar tauhid Rububiyyah, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdur Rokhman bin Hasan Alu Syaikh dalam kitabnya Fathul Majiid :

وليس المراد بالتوحيد : مجرد توحيد الربوبية ، وهو اعتقاد أن الله وحده خلق العالم ، كما يظن ذلك من يظنه من أهل الكلام والتصوف . ويظن هؤلاء أنهم إذا أثبتوا ذلك بالدليل فقد أثبتوا غاية التوحيد . وأنهم إذا شهدوا هذا وفنوا فيه فقد فنوا في غاية التوحيد . فإن الرجل لو أقر بما يستحقه الرب تعالى من الصفات ، ونزهه عن كل ما ينزه عنه ، وأقر بأنه وحده خالق كل شيء ، لم يكن موحدا حتى يشهد بأن لا إله إلا الله وحده ، فيقر بأن الله وحده هو الإله المستحق للعبادة : ويلتزم بعبادة الله وحده لا شريك له

Bukan yang dimaksud denga tauhid adalah sekedar tauhid Rububiyyah, yaitu keyakinan bahwa Allah saja pencipta alam semesta, sebagaimana yang disangka oleh ahli kalam dan sufi. Mereka menyangka jika sudah menetapkan hal tersebut dengan dalilnya, berarti dirinya sudah menetapkan puncak tauhid dan mereka jika sudah bersaksi tentang hal ini dan mengakui ini, maka dirinya merasa sudah mengakui puncak tauhid.

Sesungguhnya seseorang jika seandainya mengakui dengan apa yang berhak bagi Rabb semesta alam dari sifat-sifat-Nya dan mensucikan semua apa yang harus disucikan darinya serta mengakui bahwa Dia hanya Pencipta Tunggal terhadap segala sesuatu, maka belumlah dikatakan sebagai orang yang bertauhid, sampai dirinya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah saja. Dirinya mengakui bahwa Allah saja Tuhan yang berhak untuk disembah, maka ini mengharuskan beribadah kepada Allah saja tidak menyekutukannya.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Mukadimah kitab Kasyfu Syubhat berkata :

Ketahuilah rahimakallah, Sesungguhnya tauhid adalah mengesakan Allah  dalam beribadah. Dan tauhid ini merupakan agama para rasul yang Allah   mengutus mereka dengannya kepada hamba-hamba-Nya. Rasul yang pertama adalah Nuh  , beliau diutus kepada kaumnya tatkala mereka berbuat ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang shalih, yaitu Wadd, Suwa’, Yaghuuts, Ya’uuq dan Nasr. Sedangkan rasul yang terakhir adalah Muhammad . Beliaulah  yang telah menghancurkan patung orang-orang shalih tersebut. Beliau   diutus oleh Allah  kepada suatu kaum yang senantiasa beribadah, berhaji, bershadaqah dan banyak berdzikir kepada Allah . Akan tetapi mereka masih menjadikan sebagian makhluk sebagai perantara antara mereka dengan Allah . Mereka mengatakan : “(dengan perantara tersebut), kami ingin mendekatkan diri kepada Allah dan kami menginginkan syafa’at mereka  seperti para malaikat, Isa dan Maryam serta orang-orang shalih lainnya di hadapan Allah . Maka Allah   mengutus Nabi Muhammad   untuk memperbaharui agama nenek moyang mereka, Ibrahim  dan untuk mengabarkan kepada mereka bahwa segala bentuk pendekatan diri dan I’tiqad (keyakinan) itu hanya hak Allah  semata. Tidak boleh sedikitpun diberikan kepada selain Allah , baik kepada malaikat yang didekatkan ataupun kepada para nabi yang diutus  apalagi kepada selain keduanya.

Akan tetapi orang-orang musyrik itu bersaksi bahwa hanya Allah  lah yang Maha Pencipta, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang memberi rizqi selain Dia, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan selain Dia, tidak ada yang mengatur urusan selain Dia dan bahwasanya seluruh langit dan apa yang ada di dalamnya serta tujuh lapis bumi dan apa yang ada didalamnya merupakan hamba-hamba-Nya dan mereka semuanya tunduk dibawah kekuasaan dan pengaturan-Nya.

Jika kamu menginginkan dalil yang menunjukkan bahwa orang-orang musyrik yang diperangi oleh Rasulullah   itu mengakui hal tersebut diatas, maka bacalah firman Allah  :

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?””. {QS. Yunus (10): 31}

Dan firman-Nya:

“Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?  Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya ‘Arsy yang besar? Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?  Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka dari jalan manakah kamu ditipu?”. {QS. Al Mu’minuun (23): 84-89}

Serta ayat-ayat lain yang semakna.

Maka telah jelas bagimu bahwa mereka, orang-orang musyrik, mengakui (tauhid rububiyyah) ini, akan tetapi hal tersebut belum menunjukkan bahwa mereka bertauhid seperti yang didakwahkan Rasulullah   kepada mereka. Dan kalian juga mengetahui bahwa tauhid yang mereka ingkari adalah tauhid ‘ibadah yang oleh orang-orang musyrik pada zaman kita sekarang disebut dengan Al I’tiqad (keyakinan hati). Kaum musyrikin senantiasa berdo’a kepada Allah   pada malam dan siang hari. Kemudian diantara mereka ada yang berdo’a kepada para malaikat karena keshalihan dan kedekatannya kepada Allah , dengan harapan malaikat itu dapat memberikan syafa’at kepada mereka. Ada juga diantara mereka yang berdo’a kepada orang-orang shalih seperti Latta, dan kepada seorang nabi seperti Nabi Isa . Dan kamu juga mengetahui bahwa Rasulullah   memerangi mereka karena kesyirikan ini, menyeru mereka  untuk mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah  semata. Sebagaimana firman Allah  :

“Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah”. {QS. Al Jin (72): 18}

Dan firman-Nya:

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka,”. {QS. Ar Ra’du (13): 14}

Telah jelas bagimu bahwa Rasulullah   memerangi orang-orang musyrik itu agar segala doa-do’a, penyembelihan, nadzar  dan istighatsah (memohon pertolongan) serta segala bentuk ibadah lainnya ditujukan hanya untuk Allah  semata. Dan kamu juga mengetahui bahwa pengakuan mereka terhadap tauhid rububiyyah belum memasukkan mereka ke dalam islam, dan bahwa ibadah yang mereka tujukan kepada para malaikat, para nabi atau para wali untuk mendapatkan syafa’at mereka dan mendekatkan diri kepada Allah   merupakan hal-hal yang menjadikan darah dan harta mereka halal. Maka jelaslah bagimu jenis tauhid yang didakwahkan oleh para rasul akan tetapi ditolak oleh orang-orang musyrik.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: