TENTANG UJUB (TA’LIQ AL KABAAIR)

August 3, 2014 at 3:36 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment

” ٤ ” باب ذكر العجب

وقول الله تعالى : { وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ } [المعارج : ٢٧]

روي عن ابن مسعود أنه قال : « الهلاك في اثنين – القنوط والعجب » .

٨ – عن أبي بكرة « أَنَّ رَجُلًا ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَثْنَى عَلَيْهِ رَجُلٌ خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” وَيْحَكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ – يَقُولُهُ مِرَارًا – إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا لاَ مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يُرَى أَنَّهُ كَذَلِكَ، وَحَسِيبُهُ اللَّهُ، وَلاَ يُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا “» رواه البخاري ومسلم .

٩ – وللبيهقي عن أنس – رضي الله عنه – مرفوعا : « لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَخَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَشَدُّ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ».

  • TENTANG UJUB

 Allah I berfirman :

“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabbnya”. {QS. Al Ma’aarij (70) : 27}

Penjelasan :  wallahu A’lam, saya belum menemukan keterangan dari ahli tafsir tentang hubungan ayat ini dengan bab tentang ujub, sebagaimana yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab. Hanya saja saya bisa menebak bahwa ayat ini berbicara tentang sifat-sifat al-Mushollin (orang-orang yang sholat), sebagaimana dalam ayat-ayat sebelumnya. Kemudian salah satu sifat Musholliin adalah :

وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (27) إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ (28)

dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). (QS. Al Ma’aarij : 27-28).

Yakni orang Musholliin tidak akan merasa ujub dengan amal-amal yang telah diperbuatnya, sehingga dirinya merasa sudah mendapatkan jaminan surga dari Allah, karena tidak ada seorang pun yang merasa aman dari adzab Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman :

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi (QS. Al A’raaf : 99).

Oleh karenanya, Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa pada awalnya menimpakan kekalahan kepada pasukan kaum Muslimin pada peperangan Hunain, karena sebagian orang merasa ujub dengan jumlah kekuatan kaum Muslimin, belum pernah sebelumnya, kaum Muslimin berperang dengan jumlah personil yang lebih banyak dari musuh. Sehingga sebagian orang sempat berkata : ‘kita tidak akan terkalahkan hari ini, karena (biasanya jumlah kita) sedikit’. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa menegur mereka, sebagaimana Firman-Nya :

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. (QS. At Taubah : 25).

  • Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud t, ia berkata : “Kebinasaan ada dua, yaitu putus asa dan ujub”.

Tahqiqiy : saya menemukan ucapan Ibnu Mas’ud rodhiyallahu anhu tersebut, dinukil oleh Imam al-Ghozali dalam Ihya Ulumuddiin, tanpa sanad. Sehingga ucapan ini belum bisa saya ketahui statusnya. Wallahu A’lam.

Penjelasan : putus asa adalah ciri orang Kafir, sebagaimana Firman-Nya :

وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir (QS. Yusuf : 87).

 8. Dari Abu Bakrah t ia berkata : seorang laki-laki dipuji-puji dengan kebaikan di sisi Nabi r, maka Nabi r pun bersabda : “Jangan begitu, apakah engkau akan memutuskan leher temanmu?” Beliau r mengulang-ulanginya beberapa kali. Lalu bersabda :

“Jika salah seorang diantara kalian harus memuji, maka hendaklah ia berkata, ‘saya mengira ia begini-begini. Jika ia memandang orang tersebut layak dipuji, (katakanlah) : Hasbiyallah dan aku tidak mensucikan seorangpun di hadapan Allah I”. (Muttafaqun ‘Alaih)

Tahqiqiy : diriwayatkan oleh Imam Bukhori (no. 6061) dan Imam Muslim (no. 3000).

Penjelasan : memuji seseorang secara berlebihan, dikhawatirkan membuat pelakunya ujub, kemudian merasa tinggi hati, sehingga hapuslah amalannya. Oleh karenanya Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam memberikan terapi, jika ada orang yang memujinya secara berlebihan, dengan apa yang diriwayatkan :

عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ، قَالَ: قَامَ رَجُلٌ يُثْنِي عَلَى أَمِيرٍ مِنَ الْأُمَرَاءِ، فَجَعَلَ الْمِقْدَادُ يَحْثِي عَلَيْهِ التُّرَابَ، وَقَالَ: «أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ نَحْثِيَ فِي وُجُوهِ الْمَدَّاحِينَ التُّرَابَ»

Dari Abi Ma’mar ia berkata, seorang memuji salah seorang Gubernur, maka al-Miqdaad Rodhiyallahu ‘anhu menaburkan debu kepadanya, lalu beliau Rodhiyallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam memerintahkan kami, untuk menaburkan debu kepada orang-orang yang suka memuji”. (HR. Muslim).

Namun al-Hafidz dalam “Fathul Bari” mengatakan larangan memuji ini tidak termasuk, jika yang dipuji memang seperti itu, karena Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pernah dipuji dalam syair, khutbah dan pembicaraan, namun Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam tidak menaburkan debu kepada orang yang memuji tersebut.

Imam Bukhori dalam Adaabul Mufrod (no. 761), dishahihkan sanadnya oleh Imam Al Albani meriwayatkan sebuah petunjuk bagi seorang Muslim yang dipuji :

اللَّهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ

Dari Adiy bin Arthoah beliau berkata : “salah seorang sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam , ketika dipuji Beliau berdoa : “Ya Allah, janganlah engkau siksa aku dengan apa yang mereka katakan dan ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui”.

 9. Imam Baihaqi meriwayatkan dari Anas t secara marfu’ (Nabi r bersabda) :

“Seandainya kalian tidak berbuat dosa, aku masih mengkhawatirkan kalian terjatuh kedalam sesuatu yang lebih dahsyat darinya, yaitu sifat ‘Ujub”.

Tahqiqiy : hadits ini diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman (no. ), Imam al-Qodhii dalam al-Musnad (no. ) dan Imam al-Khoroithy dalam Musawiul Akhlaq (no. 568) semuanya dari :

ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْحَجَبِيُّ، ثنا سَلَّامُ بْنُ أَبِي الصَّهْبَاءِ، ثنا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

Haddatsanaa Abdullah bin Abdul Wahhab al-Hijabiy, haddatsanaa Sallaam bin Abis Shohbaa’, haddatsanaa Tsaabit al-Bunaaniy dari Anas bin Malik rodhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “al-Hadits”.

Semua perowinya tsiqoh, kecuali Sallaam bin Abis Shohbaa’, para ulama berselisih tentangnya, Imam Bukhori mengatakan. “Mungkarul Hadits”, didhoifkan Imam Ibnu Ma’in dan Imam Ibnu Hibban mengatakan, tidak boleh berhujjah dengannya ketika sendirian. Imam Ahmad menilainya Hasanul hadits.

Kemudian Imam Al Albani dalam ash-Shahihah (no. 658) mendapatkan syahid (penguat) untuk hadits ini, kata beliau :

قلت : هو حسن على الأقل بشاهده الآتي و غيره ، فقد أخرجه أبو الحسن القزويني في ” الأمالي ” ( 12 / 1 ) عن كثير بن يحيى قال : حدثنا أبي عن الجريري عن أبي نضرة عن أبي سعيد مرفوعا .

قلت : و هذا إسناد لا بأس به في الشواهد ، رجاله ثقات غير يحيى والد كثير و هو يحيى بن كثير أبو النضر صاحب البصري ، قال الحافظ : ” ضعيف ” . و ابنه كثير ثقة ، فقد روى عنه أبو زرعة ، و قد علم عنه أنه لا يروي إلا عن ثقة

Aku (Al Albani) berkata : ‘hadits ini Hasan minimalnya, dengan penguat yang akan datang dan selainnya. Telah diriwayatkan oleh Abul Hasan al-Qozwainiy dalam “al-Amaaliy” (1/12) dari Katsiir bin Yahya ia berkata, haddatsanaa Bapakku dari al-Jariiriy dari Abi Nadhroh dari Abi Sa’id rodhiyallahu anhu secara marfu’ku dari al-Jariiriy dari Abi Nadhroh dari Abi Sa’’.

Aku berkata : ‘hadits ini tidak mengapa untuk penguat, perowinya tsiqoh, selain Yahya ayahnya Katsiir yaitu Yahya bin Katsiir abun Nadhor penduduk Bashroh, Al Hafidz berkata, dhoif. Dan anaknya Katsiir adalah tsiqoh, telah meriwayatkan darinya Abu Zur’ah, dan telah diketahui bahwa Abu Zur’ah tidaklah meriwayatkan, kecuali dari orang yang tsiqoh’.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: