Bab 4 Apa yang Diucapkan ketika Marah

August 6, 2014 at 10:36 pm | Posted in Syarah Kitab Adab min Sunan Abi Dawud | Leave a comment

بَابُ مَا يُقَالُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Bab 4 Apa yang Diucapkan ketika Marah

 

Penjelasan Bab :

Syariat telah memberikan tuntunan kepada umatnya ketika dalam kondisi marah. Nabi Musa alaihi salam beristighfar kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa untuk menurunkan tensi kemarahannya, ketika melihat umatnya jatuh kedalam kesyirikan. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa menceritakannya kepada kita :

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الْأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ وَلَا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (150) قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (151)

Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”. Musa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Al A’raaf : 150-151).

 Imam Abu Dawud berkata :

4780 – حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، قَالَ: اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَغَضِبَ أَحَدُهُمَا غَضَبًا شَدِيدًا حَتَّى خُيِّلَ إِلَيَّ أَنَّ أَنْفَهُ يَتَمَزَّعُ مِنْ شِدَّةِ غَضَبِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُهُ مِنَ الْغَضَبِ؟» فَقَالَ: مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: ” يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ” قَالَ: «فَجَعَلَ مُعَاذٌ يَأْمُرُهُ، فَأَبَى وَمَحِكَ، وَجَعَلَ يَزْدَادُ غَضَبًا»

8). Hadits no. 4780

Haddatsanaa Yusuf bin Musa, haddatsanaa Jariir bin Abdul Hamiid dari Abdul Malik bin ‘Umair dari Abdur Rokhman bin Abi Lailaa dari Mu’adz bin Jabal ia berkata : “dua orang saling mencela disisi Nabi sholallahu alaihi wa salam, salah satunya marah dengan kemarahan yang sangat, hingga hidungnya kembang kempis karena sangat marah, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata : “aku mengetahui sebuah kalimat, seandainya seorang mengatakannya, maka akan hilang kemarahannya”. Laki-laki tadi berkata : “apa itu wahai Rasulullah?”. Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “katakanlah, Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaithon yang terkutuk”. Lalu Mu’adz rodhiyallahu anhu pun menyuruh orang tersebut untuk mengatakannya, namun ia enggan dan membantah, sehingga dirinya bertambah marah”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim, kecuali Yusuf bin Musa, hanya dipakai oleh Imam Bukhori. Kemudian Abdur Rokhman bin Abi Laila tidak pernah mendengar dari Mu’adz, sebagaimana ditegaskan oleh Imam ali ibnul Madini, Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Khuzaimah (Tahzibut Tahdzib).

Hadits ini shahih lighoirihi, sebenarnya sana hadits in lemah, dengan sebab keterputusan antara ibnu Abi Laila dengan Mu’adz rodhiyallahu anhu. Imam Al Albani dalam Ta’liq Sunan Abu Dawud menilai hadits ini dhoif. Begitu juga asy-Syaikh Muqbil bin Hadi dalam Ahaadits Mu’allah Dhoohiruhu ash-Shihah (no. 390) mengisyaratkan kedhoifan hadits ini :

الحديث رجاله رجال الصحيح، ولكن عبد الرحمن بن أبي ليلى لم يسمع من معاذ كما في”جامع التحصيل” وحديث متفق عليه من حديث سليمان بن صرد

Hadits ini para perowinya, perowi shahih, namun Abdur Rokhman bin Abi Lailaa tidak mendengar dari Mu’adz, sebagaimana dalam “Jaami’ut Tahshiil”. Hadits yang disepakati Bukhori-Muslim dari haditsnya Sulaimaan bin Shurod rodhiyallahu anhu.

Namun Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Sunan Abu Dawud menilai hadits ini shahih lighoirihi. Beliau menemukan penguat dari jalan lain dalam Sunan Nasa’i al-Kubro (no. 10151) dari jalan :

عن يوسف ابن عيسى، عن الفضل بن موسى، عن يزيد بن زياد، عن عبد الملك بن عمير، عن عبد الرحمن بن أبي ليلى، عن أبي بن كعب. فجعل أُبياً مكان معاذ

Dari Yusuf bin Isa dari al-Fadhl bin Musa dari Yaziid bin Ziyaad dari Abdul Malik bin Umair dari Abdur Rokhman bin Abi Lailaa dari Ubay bin Ka’ab rodhiyallahu anhu, maka ia menjadikan Ubay tempatnya Mu’adz rodhiyallahu anhu.

Kemudian Syaikh Syu’aib Arnauth berkata :

وهذا إسناد رجاله ثقات رجال الشيخين غير يزيد بن زياد، وهو ابن أبي الجعد، فقد روى له البخاري في “خلق أفعال العباد” والنسائي وابن ماجه، وهو صدوق حسن الحديث، وقال المنذري: والحديث من طريق عبد الرحمن بن أبي ليلى، عن أبي بن كعب متصل. ويشهد له حديث سليمان بن صرد الآتي بعده. وهو متفق عليه.

Sanad ini para perowinya tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim, selain Yaziid bin Ziyaad beliau adalah ibnu Abil Ja’di, Bukhori telah meriwayatkan haditsnya dalam “Kholqu Af’aalil ‘Ibaad”, lalu oleh Nasa’I dan Ibnu Majah, beliau shoduq hasanul hadits.

Al-Mundziri berkata : ‘hadits dari jalan Abdur Rokhman bin Abi Lailaa dari Ubay bin Ka’ab mutashil (bersambung sanadnya)’. Dan hal ini diperkuat dengan hadits Sulaimaan bin Shurod Rodhiyallahu ‘anhu –yang nanti akan dibawakan Imam Abu Dawud- dan hadits ini disepakati Bukhori-Muslim.

 

Imam Abu Dawud berkata :

4781 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ، قَالَ: اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَعَلَ أَحَدُهُمَا تَحْمَرُّ عَيْنَاهُ وَتَنْتَفِخُ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْرِفُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا هَذَا لَذَهَبَ عَنْهُ الَّذِي يَجِدُ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ” فَقَالَ الرَّجُلُ: هَلْ تَرَى بِي مِنْ جُنُونٍ؟

9). Hadits no. 4781

Haddatsanaa Abu Bakar bin Abi Syaibah, haddatsanaa Abu Mu’awiyyah dari al-A’masy dari ‘Adiy bin Tsaabit dari Sulaimaan bin Shurod Rodhiyallahu ‘anhu ia berkata : “dua orang saling mencela disisi Nabi sholallahu alaihi wa salam, salah satunya marah ssampai memerah matanya dan mengembang urat lehernya (karena saking marahnya-pent.), maka Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata : “aku mengetahui sebuah kalimat, seandainya seorang mengatakannya, maka akan hilang kemarahannya”. (katakanlah), aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaithon yang terkutuk”. Laki-laki tadi berkata : “apakah engkau melihatku seperti orang gila?”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim.

Hadits ini Shahih, dishahihkan oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Diriwayatkan juga oleh Imam Bukhori (no. 6115) dan Imam Muslim (no. 2610), dalam lafadz Bukhori :

فَقَالُوا لِلرَّجُلِ: أَلاَ تَسْمَعُ مَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: إِنِّي لَسْتُ بِمَجْنُونٍ

Para sahabat berkata kepada orang tersebut : “apakah engkau tidak mendengar ucapan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam?”, ia malah berkata : ‘aku bukan orang gila’.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Dalam hadits ini menunjukkan bahwa sifat marah adalah dari syaithon, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. Al A’raaf : 200).

Pada pembahasan selanjutnya Imam Abu Dawud akan membawakan hadits tentang masalah ini.

  1. Dengan memohon perlindungkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa, kita akan terhindar dari sikap emosi yang nantinya akan menjadi penyesalan, ketika sesuatu diputuskan dalam kondisi marah. Oleh karenanya, Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam tidak memperbolehkan seorang hakim memutuskan suatu perkara dalam kondisi marah :

لاَ يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ

Janganlah seorang hakim memutuskan sebuah perkara diantara 2 orang, dalam kondisi marah (Muttafaqun ‘alaihi).

  1. Dikisahkan bahwa Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu ‘anhu ketika dalam suatu peperang sudah hampir pedangnya menebas leher musuh, lalu musuh tersebut meludahi muka Ali Rodhiyallahu ‘anhu, sehingga membuat Beliau naik pitam, namun ketika dalam kondisi seperti itu, beliau urung membunuh musuhnya. Maka para sahabatnya pun heran dan ketika ditanyakan, Ali Rodhiyallahu ‘anhu menjawab bahwa tadinya ia berperang karena ikhlas di jalan Allah, namun ketika tadi marah, beliau khawatir jika berperangnya tadi karena membela diri pribadinya yang terhina ketika diludahi musuh.

Namun penulis belum mengetahui keshahihan kisah ini.

Imam Abu Dawud berkata :

4782 – حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ، عَنْ أَبِي حَرْبِ بْنِ أَبِي الْأَسْوَدِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنَا: «إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ»

10). Hadits no. 4782

Haddatsanaa Ahmad bin Hanbal, haddatsanaa Abu Mu’awiyyah, haddatsanaa Dawud bin Abi Hindin dari Abi Harb bin Abil Aswad dari Abi Dzar Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata, sesungguhnya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam berkata kepada kami : “Jika kalian marah, dalam posisi berdiri, maka duduklah, maka akan hilang kemarahannya, jika belum hilang juga, maka berbaringlah”.

4783 – حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ، عَنْ خَالِدٍ، عَنْ دَاوُدَ، عَنْ بَكْرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ أَبَا ذَرٍّ، بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ أَبُو دَاوُدَ: وَهَذَا أَصَحُّ الْحَدِيثَيْنِ

11). Hadits no. 4783

Haddatsanaa Wahab bin Baqiyyah dari Khoolid dari Dawud dari Bakr bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengutus Abu Dzar Rodhiyallahu ‘anhu… dst.

Abu Dawud berkata : ‘ini sanad yang paling shahih’.

Penjelasan kedudukan hadits :

Sanad yang pertama, semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim, kecuali Dawud bin Abi Hindin dan Abi Harb bin Abil Aswad, hanya dipakai oleh Imam Muslim. Kemudian Abi Harb tidak pernah mendengar dari Abu Dzar. Imam al-Mizzi mengatakan yang shahih beliau mendengar dari Bapaknya dari Abu Dzar Rodhiyallahu ‘anhu.

Sedangkan sanad yang kedua, semua perowinya perowi Bukhori-Muslim, kecuali Wahab, beliau hanya dipakai oleh Imam Muslim. Sanad ini mursal, karena Bakr bin Abdullah adalah seorang tabi’I wasith. Dan nampaknya Imam Abu Dawud lebih merajihkan hadits ini mursal.

Hadits ini dhoif, Imam Al Albani dalam Ta’liq Sunan Abu Dawud, menshahihkan kedua hadits ini. Adapun Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Sunan Abu Dawud, tidak memberikan penilaian yang jelas terhadap hadits ini, namun dalam ta’liq Shahih Ibnu Hibban, beliau memberikan penilaian Shahih.

Kemudian saya mendapati dalam adh-Dhoifah (no. 6664), Imam Al Albani rujuk dari pendapatnya yang menshahihkan hadits ini, kata beliau :

والخلاصة؛ أن مدار الحديث على داود بن أبي هند، وأنه اختلف عليه على وجوه ثلاثة:

الأول: أبو معاوية عنه عن أبي حرب عن أبي ذر منقطعاً.

الثاني: خالد عنه عن بكر – وهو: ابن عبد الله المزني – مرسلاً.

الثالث: عبد الرحيم بن سليمان عنه عن بكر عن أبي ذر منقطعاً.

قلت: ورواة هذه الوجوه عنه كلهم ثقات، وهذا يعني أن داود بن أبي هند لم يتقن إسناده، وقد وصفه بعض الحفاظ بشيء من الوهم مع اتفاقهم على توثيقه، فقال ابن حبان في “الثقات ” (6/ 278) : ” كان من خيار أهل البصرة من المتقنين في الروايات؛ إلا أنه كان يهم إذا حدث من حفظه “. وقال أحمد: “كان كثير الاضطراب والخلاف “. ولذلك قال الحافظ في ” التقريب “: ” ثقة متقن، وكان يهم بأخرة “.

وثمة وجه آخر من الخلاف عليه سنداً ومتناً؛ إلا أن راويه ممن لا يوثق به، وهو إسحاق بن عبد الواحد الموصلي: ثنا خالد بن عبد الله عن داود بن أبي هند عن بكر بن عبد الله المزني عن عمران بن حصين قال: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: ” إذا غضبت؛ فاجلس “. أخرجه الخرائطي في ” مساوئ الأخلاق ” (161/ 342) .

وإسحاق هذا: قال الذهبي في” الميزان “: ” واه، قال أبو علي الحافظ: متروك “.

هذا؛ وقد كنت ذهبت قديماً إلى تصحيح الحديث جرياً على ظاهر إسناد أحمد، وتبعاً لمن قواه ممن سلف، والآن وقد تبينت علته، فأنا راجع عنه، وقد يعجب هذا ناساً، ويغضب آخرين، وليس يهمني هذا ولا هذا، وانما إرضاء رب العالمين، وهو ولي التوفيق.

Kesimpulannya : poros hadits bersumber dari Dawud bin Abi Hindin, dan ada 3 variasi jalan periwayatannya, yaitu :

  1. Abu Mu’awiyyah dari Dawud dari Abi Harb dari Abu Dzar Rodhiyallahu ‘anhu, dengan sanad terputus.
  2. Khoolid dari Dawud dari Bakr bin Abdullah al-Muzaniy secara mursal.
  3. Abdur Rokhim bin Sulaimaan dari Dawud dari Bakr dari Abi Dzar Rodhiyallahu ‘anhu dengan sanad terputus.

Aku (Al Albani berkata) : ‘jalan-jalan ini semua perowinya tsiqoh, ini yakni Dawud bin Abi Hindin menunjukkan sanadnya tidak mapan, sebagian hufadz telah mensifati Dawud dengan sedikit wahm (keliru), sekalipun mereka bersepakat atas ke-tsiqoh-annya, Ibnu Hibban dalam “Ats-Tsiqoot” (6/278) berkata : ‘Dawud adalah orang pilihan Bashroh, termasuk orang yang kokoh riwayatnya, kecuali ada sedikit wahm jika meriwayatkan dari hapalannya’. Ahmad berkata : ‘beliau banyak idhthirob (goncang) dan menyelisihi’. Oleh karenanya, Al Hafidz dalam “at-Taqriib” berkata : ‘tsiqoh, mutqin, namun beliau wahm pada akhir hayatnya’.

dan akhirnya ada sisi lain berupa perselihan padanya dalam sanad dan matannya, namun telah diriwayatkan oleh perowi yang tidak ditsiqohkan yaitu Ishaq bin Abdul Waahid al-Maushuliy, haddatsanaa Khoolid bin Abdullah dari Dawud bin Abi Hindin dari Bakr bin Abdullah al-Muzaniy dari ‘Imroon bin Khushoin ia berkata, aku mendengar Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “jika engkau marah, maka duduklah!” (diriwayatkan oleh al-Khoroithiy dalam “Musaawiul Akhlaaq (161/342)).

Ishaaq ini, dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam al-Miizaan : ‘waahin (lemah), al-Hafidz Abu Ali menilainya, matruk’.

Ini yang dulu aku berpendapat atas keshahihan hadits ini, karena dhohir sanadnya Imam Ahmad dan mengikuti ulama salaf yang menguatkannya, namun sekarang telah jelas cacatnya, aku rujuk kepadanya. Telah mengherankan hal ini sebagian orang dan yang lainnya marah, namun bagiku tidak penting orang ini dan orang itu, hanyalah yang diharapkan ridho Rabb semesta alam, dan Dia yang memberikanku taufiq.

Imam Daruquthni dalam al-Illal (no. 1135) menilai yang rajih hadits ini mursal dan mursal adalah hadits dhoif. Demikian juga yang dilakukan oleh asy-Syaikh Muqbil dalam kitabnya Ahaadits Mu’alah (no. 107).

Barangkali tips yang diberikan oleh Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam selain mengucap ta’awudz bagi orang yang marah adalah hendaknya ia diam ketika marah, sebagaimana sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam :

إذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Jika engkau marah, maka diamlah (hadits ini dishahihkan oleh Al Albani dalam ash-Shahihah (no. 1375)).

 Imam Abu Dawud berkata :

4784 – حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ، وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْمَعْنَى، قَالَا: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو وَائِلٍ الْقَاصُّ، قَالَ: دَخَلْنَا عَلَى عُرْوَةَ بْنِ مُحَمَّدٍ السَّعْدِيِّ، فَكَلَّمَهُ رَجُلٌ فَأَغْضَبَهُ، فَقَامَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ رَجَعَ وَقَدْ تَوَضَّأَ، فَقَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ جَدِّي عَطِيَّةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ، وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ، فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ»

 12). Hadits no. 4784

Haddatsanaa Bakr bin Kholaf dan al-Hasan bin Ali al-Ma’naa mereka berdua berkata, haddatsanaa Ibrohiim bin Khoolid, haddatsanaa Abu Wail al-Qoosh ia berkata, kami masuk menemui Urwah bin Muhammad as-Sa’diy, maka seorang berbicara kepadanya, lalu membuatnya marah, kemudian Urwah berdiri dan berwudhu, lalu kembali dalam kondisi berwudhu, lalu ia berkata, haddatsani Bapakku dari kakekku ‘Athiyyah Rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “sesungguhnya kemarahan itu dari syaithon, dan syaithon itu diciptakan dari api, dan api itu dapat dipadamkan dengan air, jika kalian marah, maka berwudhulah”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Bakr bin Kholaf, perowi shoduq.

Al-Hasan bin Ali, perowi Bukhori-Muslim.

Ibrohim bin Khoolid, perowi tsiqoh.

Abu Wail, namanya Abdullah bin Bukhair, perowi tsiqoh.

Urwah bin Muhammad, perowi maqbul.

Bapaknya, Muhammad bin ‘Athiyyah, perowi majhul.

Hadits ini dhoif, didhoifkan oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Sunan Abu Dawud. Imam Al Albani telah mentakhrij hadits ini dalam adh-Dhoifah (no. 582), kemudian beliau menyebutkan syahid penguat hadits ini, kata beliau :

رواه أبو نعيم في ” الحلية ” (2 / 130 ) و ابن عساكر ( 16 / 365 / 1 ) عن الزبير بن بكار : أخبرنا عبد المجيد

بن عبد العزيز بن أبي رواد عن ياسين بن عبد الله بن عروة عن أبي مسلم الخولاني عن معاوية بن أبي سفيان

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam “al-Hilyah (2/130) dan Ibnu ‘Aasakir (1/365/16) dari az-Zubair bin Bakaar, akhbaronaa Abdul Majiid bin Abdul Aziiz bin Abi Rowaad dari Yaasin bin Abdullah bin Urwah dari Abi Muslim al-Khoulaaniy dari Mu’awiyyah bin Abi Sufyan Rodhiyallahu ‘anhu….bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

الْغَضَبُ مِنْ الشَّيْطَانِ وَالشَّيْطَانُ خُلِقَ مِنْ النَّارِ ، وَالْمَاءُ يُطْفِئُ النَّارَ ، فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَغْتَسِلْ

kemarahan itu dari syaithon, dan syaithon itu diciptakan dari api, dan api itu dapat dipadamkan dengan air, jika kalian marah, maka mandilah.

Lalu Imam Al Albani menjelaskan kedudukan sanadnya, kata beliau :

قلت : و هذا إسناد ضعيف أيضا ، ياسين بن عبد الله بن عروة لم أجد له ترجمة . و عبد المجيد بن عبد العزيز فيه ضعف ، قال الحافظ : صدوق يخطيء ، و كان مرجئا ، أفرط ابن حبان فقال : متروك ” . قلت : لفظ ابن حبان ( 2 / 152 ) : ” منكر الحديث جدا ، يقلب الأخبار ، و يروي المناكير عن المشاهير فاستحق الترك ” .

Sanad ini lemah juga, Yaasiin bin Abdullah bin Urwah aku tidak menemukan biografinya. Abdul Majiid bin Abdul Aziiz ada kelemahan padanya, Al Hafidz berkata : ‘shoduq, keliru, ia murjiah, Ibnu Hibban berlebihan dengan mengatakannya, matruk’.

Aku (Al Albani) katakan, lafadz Ibnu Hibban (2/152) adalah : ‘mungkar hadits sekali, membolak-balikkan hadits, meriwayatkan hadits-hadits mungkar dari perowi yang masyhur, maka berhak untuk ditinggalkan’.

Al Hafidz al-‘Iroqiy dalam Takhrij Ihyaa Ulumuddiin juga berkata tentang hadits ini, kata beliau :

وَفِي أَوله قصَّة رَوَاهُ أَبُو نعيم فِي الْحِلْية وَفِيه من لَا أعرفهُ

Pada awalnya ada ceritanya, diriwayatkan oleh Abu Nu’aim didalamnya ada perowi yang aku tidak mengenalnya.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: