TAFSIR AYAT-AYAT SUJUD TILAWAH (Bag. 6)

August 10, 2014 at 3:40 am | Posted in Tafsir | Leave a comment

TAFSIR AYAT-AYAT SUJUD TILAWAH

 Ayat berikut yang menjadi tempat sujud tilawah adalah ayat ke-18 dari surat Al Hajj, yakni Firman Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa :

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

Dalil bagi ayat ini sebagai tempat sujud tilawah adalah hadits-hadits dan kesepakatan para ulama yang memasukkan ayat ini sebagai tempat sujud tilawah, sebagaimana dalil untuk ayat ke-206 surat Al A’raaf pada pembahasan bagian ke-1.

Kemudian saya mendapati dalam tafsir Ibnu Katsiir (surat Al Hajj : 18), beliau menyebutkan beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa dalam surat Al Hajj, terdapat dua sujud. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam al-Maroosil (no. 75), Imam al-Qoosim bin Salaam dalam Fadhoilul Qur’an (no. 390) dan selainnya dari jalan :

من طريق عامر بن جشيب، عن خالد بن معدان، أن رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: “فُضِّلت سورة الحج على القرآن بسجدتين”

‘Aamir bin Khusyaib dari Khoolid bin Ma’daan bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “Surat Al Hajj diunggulkan karena memiliki 2 ayat sajadah”.

Khoolid bin Ma’daan seorang tabi’I pertengahan, perowi Bukhori-Muslim yang tsiqoh. Oleh karenanya ini adalah hadits mursal.

Namun saya mendapatkan penguat untuk hadits mursal ini sebagai berikut :

  1. Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya (no. 578), Imam Ahmad dalam al-Musnad (no. 17364) dan selainnya dari jalan :

حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ مِشْرَحِ بْنِ هَاعَانَ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فُضِّلَتْ سُورَةُ الْحَجِّ بِأَنَّ فِيهَا سَجْدَتَيْنِ قَالَ « نَعَمْ وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهُمَا فَلاَ يَقْرَأْهُمَا »

Haddatsanaa Ibnu Luhaiyah dari Misyroh bin Haa’aan dari ‘Uqbah bin ‘Aamir Rodhiyallahu ‘anhu beliau bertanya : “wahai Rasulullah, apakah surat al Hajj diunggulkan karena didalamnya terdapat 2 ayat sajadah?”. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menjawab : “iya, barangsiapa yang tidak mau sujud, maka jangan membaca kedua ayat ini”.

Imam Tirmidzi setelah membawakan hadits ini berkata : ‘sanad ini tidak kuat’.

  1. Dari ‘Amr ibnu ‘Ash Rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’, diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. 1401) dan selainnya dari jalan :

عَنِ الْحَارِثِ بْنِ سَعِيدٍ الْعُتَقِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُنَيْنٍ، مِنْ بَنِي عَبْدِ كُلَالٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَأَهُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَجْدَةً فِي الْقُرْآنِ، مِنْهَا ثَلَاثٌ فِي الْمُفَصَّلِ، وَفِي سُورَةِ الْحَجِّ سَجْدَتَانِ»

Dari al-Haarits bin Sa’id al’-‘Utaqiy dari Abdillah bin Muniin dari Bani Abdu Kulaal dari ‘Amr ibnul Ash Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam membacakan untuk 15 ayat sajadah, 3 diantara didalam surat Al Mufashol dan dalam surat Al Hajj ada 2 ayat.

Syaikh Syu’aib Arnauth mendhoifkan hadits ini, karena kata beliau al-Haarits salah satu perowinya majhul. Imam Al Albani juga mendhoifkan hadits ini dan keterangannya telah kami muat pada awal pembahasan.

  1. Dari Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu ‘anhu secara mauquf, diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Ma’rifatul Atsar (no. 4441) dari jalan Imam Syafi’I :

قَالَ الشَّافِعِيُّ فِيمَا بَلَغَهُ عَنْ هُشَيْمٍ، عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْجُعْفِيِّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ، عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: «كَانَ يُسْجَدُ فِي الْحَجِّ سَجْدَتَيْنِ»

Syafi’I meriwayatkan dari Husyaim dari Abi Abdillah al-Ju’fiy dari Abi Abdir Rokhman as-Sulamiy dari Ali Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Beliau sujud dalam surat Al Hajj dua kali.

Semua perowinya, perowi tsiqoh.

  1. Dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu secara mauquf, diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Sunannya (no. 3894), Imam Abdur Rozaq dalam al-Mushonaf (no. 5894) dan selainnya semuanya dari jalan

عنْ عَاصِمٍ الأَحْوَلِ عَنْ أَبِى الْعَالِيَةِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : فُضِّلَتْ سُورَةُ الْحَجِّ بِسَجْدَتَيْنِ

Dari ‘Aashim al-Ahwal dari Abil ‘Aaliyah dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata : “idem”.

Semua perowinya adalah perowi tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim.

Sehingga berdasarkan hal ini, bahwa dalam surat Al Hajj terdapat 2 ayat sajadah dan akan kami bahas perbedaan pendapat ulama tentang masalah ini pada pembahasan berikutnya –Insya Allah-.

 Tafsir ayat 18 surat Al Hajj

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

Makna ayat ini :

Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa mengabarkan bahwa Diri-Nya lah yang paling berhak disembah, semua yang ada di alam semesta ini tunduk sujud kepada Allah, baik secara sukarela, maupun terpaksa. Sampai-sampai bayangan pun sujud kepada-Nya. Seandainya ada seorang kafir yang sangat menentang Allah dan agamanya, bahkan mengklaim dirinya adalah tuhan, sangat enggan jidatnya ditempelkan ke tanah untuk sujud kepada Allah, tetap saja bayangan dirinya sujud kepada Allah. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman :

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّأُ ظِلَالُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمَائِلِ سُجَّدًا لِلَّهِ وَهُمْ دَاخِرُونَ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri? (QS. An Nahl : 48).

Bahkan makhluk-makhluk Allah yang banyak disembah oleh manusia-manusia bodoh, pun hanya sujud kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa. Yaitu Matahari, Bulan dan Bintang. Dulu kaum Saba’ adalah para penyembah Matahari dengan dipimpin oleh rajanya dari kalangan wanita yang bernama Ratu Balqis. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa mengisahkan kepada kita dalam ayat-Nya yang mulia, bagaimana seekor burung Hud-Hud memberikan informasi yang akurat kepada Nabi Sulaiman alaihi salam, bahwa disebuah negeri yang bernama Saba, penduduknya menyembah Matahari. Berikut kisahnya :

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ (20) لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ (21) فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ (22) إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ (23) وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ (24) أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ (25) اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (26)

Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.” Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar.” (QS. An Naml : 20-26).

Adapun penyembah matahari hari pada zaman ini masih eksis yakni bangsa Jepang, dengan kepintaran mereka dalam masalah teknologi dunia, ternyata mereka sangat bodoh terhadap perkara akidah. Otak encer mereka tidak mampu menemukan kebenaran sejati. Padahal kalau mereka mau berpikir sedikit saja tentang urusan agamanya, niscaya mereka akan mendapatkan kebenaran Islam. Dan pada akhirnya mereka akan menyesal pada hari kiamat, sebagaimana Firman-Nya :

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk : 10).

Kepintaran dan kekayaan yang dimilikinya tidak mengantarkan mereka kepada surga, namun karena rasa enggan menerima kebenaran, akhirnya mereka malaj diseret ke neraka. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلَا تَعْقِلُونَ (60) أَفَمَنْ وَعَدْنَاهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لَاقِيهِ كَمَنْ مَتَّعْنَاهُ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ هُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْمُحْضَرِينَ (61)

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah ke- nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Maka apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi; kemudian dia pada hari kiamat termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)? (QS. Al Qashash : 60-61).

Oleh karena itu, kita semua yang masih menjadikan makhluk sebagai tuhannya, sebelum ajal menjemput agar bertaubat dan kembali kepada Allah, jadikanlah Allah Subhanahu wa Ta’alaa hanya Tuhan yang berhak diibadahi, dan selainnya jika dijadikan tuhan, maka itu adalah batil semuanya. Matahari, Bulan dan Bintang semuanya adalah makhluk Allah yang sujud kepada-Nya, sebagaimana Firman-Nya :

لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah. (QS. Fushilaat : 37).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: