Bab 5 Tentang Memaafkan dalam Urusannya

August 13, 2014 at 11:31 pm | Posted in Syarah Kitab Adab min Sunan Abi Dawud | Leave a comment

بَابٌ فِي التَّجَاوُزِ فِي الْأَمْرِ

Bab 5 Tentang Memaafkan dalam Urusannya

 

Penjelasan Bab :

Demikian judul bab yang saya dapati dari cetakan Sunan Abu Dawud yang saya jadikan pegangan dalam penulisan syarah ini, yakni cetakan Maktabah al-‘Ishriyyah, Beirut. Demikian juga dari cetakan-cetakan lain yang saya miliki seperti dari : Daaru Ibni Hazm, Beirut; Daarul Fikr, Beirut; kemudian dari syarahnya juga karya Imam Syamsul Haq yang berjudul ‘Aunul Maubud, cetakan Daarul Kutubil ‘Ilmiyyah.

Namun dalam cetakan lain yang saya miliki yang terdapat didalamnya tahqiq dari Syaikh Syu’aib Arnauth yaitu cetakan Daarul Risaalah al-‘Aalamiyyah, judul babnya :

باب في العفوِ والتجاوز

dan cetakan dari kementerian Wakaf Mesir, judul babnya adalah :

باب فِى الْعَفْوِ وَالتَّجَاوُزِ فِى الأَمْرِ

Saya rasa tidak terlalu jauh berbeda antara judul bab masing-masing yang intinya berisi sikap mudah memaafkan dalam perkara-perkara yang bisa dimaafkan.

Memaafkan perbuatan orang lain yang melakukan kejelekan kepada kita adalah sebuah perkara yang terpuji, namun terkadang memberi pelajaran kepada orang yang berbuat jelek, justru lebih baik. Oleh karenanya Imam Ibnu Utsaimin dalam Syarah Aqidah Washithiyyah memiliki penjelasan yang baik tentang hal ini, kata beliau :

فإذا أساء إليكم إنسان فعفوت عنه ؛ فإن الله سبحانه وتعالى يعلم ذلك. ولكن العفو يشترك للثناء على فاعله أن يكون مقروناً بالإصلاح ؛ لقوله تعالى : { فمن عفا وأصلح فأجره على الله } {الشورى : 40} ، وذلك أن العفو قد يكون سبباً للزيادة في الطغيان والعدوان ، وقد يكون سبباً للانتهاء عن ذلك، وقد لا يزيد المعتدي ولا ينقصه.

1-فإذا كان مسباً للزيادة في الطغيان ؛ كان العفو هنا مذموماً ، وربما يكون ممنوعاً ؛ مثل أن نعفوا عن هذا المجرم ، ونعلم – أو يغلب على الظن أنه يذهب فيجرم إجراماً أكبر ؛ فهنا لا يمدح العافي ؛ عنه ، بل يذم.

2-وقد يكون العفو سبباً للانتهاء عن العدوان ؛ بحيث يخجل ويقول : هذا الذي عفا عني لا يمكن أن أعتدي عليه مرة أخرى، ولا على أحد غيره. فيخجل أن يكون هو من المعتدين ، وهذا الرجل من العافين ؛ فالعفو محمود ومطلوب وقد يكون واجباً.

3-وقد يكون العفو لا يؤثر ازدياداً ولا نقصاً ؛ فهو أفضل لقوله تعالى : { وان تعفوا أقرب للتقوى } {البقرة : 237} .

Jika ada seorang yang berbuat jelek kepada kalian, maka maafkanlah, karena Allah Subhanahu wa Ta’alaa mengetahui hal tersebut, namun pemaafan yang dikaitkan dengan pujian kepada pelakunya, jika dihubungkan dengan perbaikan, karena Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman : { maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah} (QS. Asy-Syuuroo : 40). Hal ini karena terkadang memaafkan malah menjadi sebab tambah sewenang-wenang dan permusuhan dan terkadang juga menjadi sebab ia menghentikan kejelekannya dan terkadang tidak bertambah dan juga tidak berkurang. (maka perinciannya) :

  1. Jika memaafkan membuah ia menjadi bertambah semena-mena, maka memaafkan dalam hal ini tercela dan kadang dilarang memberi maaf. Contohnya memberi maaf kepada orang jahat dan nanti diketahui atau kuat dugaan ia akan membuat kejahatan yang lebih besar lagi, maka memaafkan dalam hal ini tidak terpuji bahkan tercela.
  2. Jika memaafkan membuat ia berhenti dari melakukan kejelekan, dimana ia kapok dan berkata : ‘ini adalah pemberian maaf yang tidak mungkin aku menyakitinya lagi atau kepada orang lainnya’. Ia kapok untuk menjadi orang yang menyakiti, karena mendapatkan pengampunan, maka memaafkan terpuji dan dituntut bahwa malah diwajibkan.

Memaafkan tidak memberikan efek apa-apa tidak bertambah, maupun berkurang, maka ketika itu yang lebih utama memaafkannya, karena Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman : { dan pema’afan kamu itu lebih dekat kepada takwa} (QS. Al Baqoroh : 237).  

Imam Abu Dawud berkata :

4785 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّهَا قَالَتْ: «مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَمْرَيْنِ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا، مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ، وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ، إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ تَعَالَى فَيَنْتَقِمُ لِلَّهِ بِهَا»

13). Hadits no. 4785

Haddatsanaa Abdullah bin Maslamah dari Maalik dari Ibnu Syihaab dari Urwah ibnuz Zubair dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha bahwa beliau berkata : “tidaklah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam memilih diantara dua perkara, kecuali Beliau memilih yang paling mudah, selama itu bukan dosa. Jika itu dosa, maka Beliau adalah manusia yang paling sangat menjauhinya. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam tidak pernah marah untuk dirinya kecuali jika larangan Allah dilanggar, maka Beliau akan marah karena Allah”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim, para Aimah di zamannya.

Hadits ini shahih, dikatakan shahih oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Lafadz yang mirip diriwayatkan oleh HR. Bukhori (no. 3560) dan HR. Muslim (no. 2327).

 

Penjelasan Hadits :

  1. Hadits ini memberi petunjuk agar ketika kita dihadapkan pada dua pilihan atau lebih ketika akan melakukan perkerjaan, amalan atau bermuamalah dengan orang lain, maka carilah metode atau cara yang paling mudah, selama hal itu tidak melanggar syariat, karena Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam selalu mengingatkan umatnya :

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا، وَلاَ تُنَفِّرُوا

Permudahlah, jangan dipersulit dan beri kabar gembira jangan dibuat lari (Muttafaqun alaih).

  1. Timbul pertanyaan apakah hadits ini mencakup juga, ketika kita mendapatkan perselisihan pendapat dikalangan ulama tentang suatu masalah, apakah kita langsung mengambil pendapat yang termudah. Persoalan ini telah dijawab oleh Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad dalam Syarah Sunan Abu Dawud :

  لا، ليس هذا مما يدخل تحت الحديث، والإنسان لا يبحث في كلام العلماء ويختار الذي تميل إليه نفسه ويشتهيه، وإنما عليه إذا كان عنده علم ومعرفة أن يبحث حتى يصل إلى الراجح، وإذا لم يكن عنده علم ومعرفة فإنه يسأل شخصاً يثق بعلمه ودينه، ثم يأخذ بكلامه، ولا يستفتي أناساً متعددين من أجل أن يتخير في الفتاوى التي يحصلها من هذا وهذا، فيبحث عن الشيء الذي يعتبر أيسر.

Tidak, perselisihan pendapat dikalangan ulama tidak masuk dalam hadits ini. Seorang tidak membahas pendapat ulama, lalu ia memilih pendapat yang jiwa dan nafsunya condong kepadanya, namun jika ia memiliki ilmu dan pengetahuan ia membahasnya, sampai menghasilkan pendapat yang rajih (kuat). Dan jika ia tidak memiliki ilmu dan pengetahuan, maka bertanya kepada orang yang ia percayai ilmu dan agamanya, lalu diambil pendapatnya. Jangan ia mencari fatwa kepada ulama yang banyak karena untuk memilih fatwa yang menghasilkan ini dan itu, lalu ia membahasnya mana pendapat yang paling ringan.

  1. Hadits ini menunjukkan bahwa dalam masalah dosa dan keharaman, maka tidak ada toleransi terhadapnya, harus segera ditinggalkan, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا  أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Dan jika aku melarang kalian, maka jauhilah serta jika aku memerintahkan kalian, maka lakukan semampu kalian (Muttafaqun ‘alaih).

 

Imam Abu Dawud berkata :

4786 – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَادِمًا وَلَا امْرَأَةً قَطُّ»

 14). Hadits no. 4786

Haddatsanaa Musaddad, haddatsanaa Yaziid bin Zurai’, haddatsanaa Ma’mar dari az-Zuhriy dari Urwah dari Aisyah rodhiyallahu anha beliau berkata : “Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tidak pernah sedikitpun memukul pembantu dan istrinya”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim. Kecuali Musaddad, beliau hanya dipakai oleh Imam Bukhori.

Hadits ini Shahih, dishahihkan oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim (no. 2328), dengan terdapat tambahan lafadz diakhirnya.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Sebagaimana telah disinggung di awal pembahasan kitab adab, kesaksian dari Anas bin Malik rodhiyallahu anhu yang pernah menjadi pembantu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam selama beberapa tahun, dimana Anas rodhiyallahu anhu tidak pernah mendapatkan makian dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, apalagi perlakuan fisik.
  2. Islam sangat melarang kekerasan dalam rumah tangga, jauh sebelum negara-negara barat mengkampanyekan hal tersebut. Namun ketika mendapatkan istri nusyuz (membangkang) terhadap suami, maka syariat memberikan beberapa tindakan agar istri dapat kembali mentaati suaminya dan pembahasan ini dapat dilihat di syarah kitab nikah min sunan Ibnu Majah dalam tulisan kami.
  3. Oleh karenanya ketika ada seorang Shahabiyyah yang meminta pendapat tentang siapa laki-laki yang layak menjadi suaminya kepada Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, maka Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tidak merekomendasikan salah satunya, karena dia sering menaruh tongkat di pundaknya, yakni gambaran dari seorang yang ringan tangan, menurut salah satu pendapat.

Imam Abu Dawud berkata :

4787 – حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطُّفَاوِيُّ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ الزُّبَيْرِ، فِي قَوْلِهِ {خُذِ الْعَفْوَ} [الأعراف: 199] قَالَ: «أُمِرَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَأْخُذَ الْعَفْوَ مِنْ أَخْلَاقِ النَّاسِ»

15). Hadits no. 4787

Haddatsanaa Ya’qub bin Ibrohim, haddatsanaa Muhammad bin Abdur Rokhman ath-Thufaawiy dari Hisyaam bin Urwah dari Bapaknya dari Abdillah yakni Ibnuz Zubair rodhiyallahu anhu tentang Firman Allah : {Jadilah engkau pema’af} (QS. Al A’raaf : 199). Beliau rodhiyallahu anhu berkata : “Nabi sholallahu alaihi wa salam memerintahkan kami untuk mudah memaafkan sebagai akhlaknya seorang”.

 

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim, kecuali Muhammad bin Abdur Rokhman hanya dipakai oleh Imam Bukhori.

Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Diriwayatkan dengan lafadz yang mirip dalam HR. Bukhori (no. 4644).

Penjelasan Hadits :

  1. Memaafkan merupakan akhlak yang terpuji, terlebih jika membawa kemaslahatan yang lebih besar terhadap agama. Nabi sholallahu alaihi wa salam adalah orang yang sangat pemaaf, lihat bagaimana Beliau memaafkan penduduk Mekkah ketika Fathu Mekkah, padahal mereka dulu adalah orang-orang yang menyiksa para sahabatnya yang masuk Islam. Atas nama memusuhi Islam, penduduk Mekkah pada waktu dulu melakukan kezaliman-kezaliman kepada Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa salam dan para pengikutnya. Namun ketika kondisi berubah pada waktu Fathu Mekkah, dimana Nabi sholallahu alaihi wa salam dan pasukan kaum Muslimin diatas angin, namun mereka tidak melakukan pembalasan kepada penduduk Mekkah. Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata kepada penduduk Mekkah pada waktu itu :

يا معشر قريش ما ترون أني فاعل بكم؟ قالوا خيرا أخ كريم وابن أخ كريم فقال: اذهبوا فأنتم الطلقاء)

Wahai orang Quraisy apa pendapatkan kalian tentang yang harus aku lakukan kepada kalian? Mereka menjawab : ‘kebaikan, saudara yang mulia dan anak saudara yang mulia’. Maka Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “pergilah kalian telah bebas” (HR. Baihaqi dan selainnya).

Imam Al Albani dalam Difaa’u ‘anil Hadits Nabawi berkata :

هذا الحديث على شهرته ليس له إسناد ثابت وهو عند ابن هشام معضل وقد ضعفه الحافظ العراقي كما بينته في (تخريج فقه السيرة) (ص 415)

Hadits ini sekalipun telah masyhur, namun ia tidak memiliki sanad yang kuat. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam secara mu’dhol (terputus sanadnya 2 atau lebih secara berturut-turut) dan telah didhoifkan oleh al-Hafidz al-‘Iroqiy, sebagaimana aku jelaskan dalam (Takhrij Fiqhus Siroh (hal. 415)).

  1. Dan sifat pemaaf telah dipraktekan oleh Umar rodhiyallahu anhu ketika menjabat sebagai Amirul Mukminin, dimana ada seorang yang membuat Beliau naik pitam. Berikut kisahnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori (no. 4642) dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu :

قَدِمَ عُيَيْنَةُ بْنُ حِصْنِ بْنِ حُذَيْفَةَ فَنَزَلَ عَلَى ابْنِ أَخِيهِ الْحُرِّ بْنِ قَيْسٍ ، وَكَانَ مِنَ النَّفَرِ الَّذِينَ يُدْنِيهِمْ عُمَرُ ، وَكَانَ الْقُرَّاءُ أَصْحَابَ مَجَالِسِ عُمَرَ وَمُشَاوَرَتِهِ كُهُولاً كَانُوا أَوْ شُبَّانًا . فَقَالَ عُيَيْنَةُ لاِبْنِ أَخِيهِ يَا ابْنَ أَخِى ، لَكَ وَجْهٌ عِنْدَ هَذَا الأَمِيرِ فَاسْتَأْذِنْ لِى عَلَيْهِ . قَالَ سَأَسْتَأْذِنُ لَكَ عَلَيْهِ . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَاسْتَأْذَنَ الْحُرُّ لِعُيَيْنَةَ فَأَذِنَ لَهُ عُمَرُ ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ قَالَ هِىْ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ ، فَوَاللَّهِ مَا تُعْطِينَا الْجَزْلَ ، وَلاَ تَحْكُمُ بَيْنَنَا بِالْعَدْلِ . فَغَضِبَ عُمَرُ حَتَّى هَمَّ بِهِ ، فَقَالَ لَهُ الْحُرُّ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ – صلى الله عليه وسلم – ( خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ) وَإِنَّ هَذَا مِنَ الْجَاهِلِينَ . وَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلاَهَا عَلَيْهِ ، وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّهِ

Uyyainah bin Khison bin Khudzaifah datang ke Madinah, lalu ia tinggal di rumah keponakannya al-Khurru bin Qois, al-Khurru ini adalah orang dekatnya Umar rodhiyallahu anhu, beliau ulama yang menjadi anggota musyawarahnya Umar rodhiyallahu anhu. Uyyainah berkata kepada al-Khurru : ‘wahai keponakanku, engkau memiliki kedekatan dengan kholifah, maka izinkan aku menemuinya’. Al-Khurr berkata : ‘nanti aku akan mintakan izin untuk menemuimu’.

Lalu kata Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu : “al-Khurru meminta izin, maka Umar rodhiyallahu anhu pun mengizinkannya, ketika Uyyainah masuk menemui Umar, ia berkata : ‘wahai ibnul Khothob, demi Allah engkau tidak memberi kami bagian yang banyak dan tidak menghukumi kami dengan adil’. Maka Umar pun marah, hingga ingin memukulnya, maka al-Khurr berkata kepadanya : “wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman kepada Nabi-Nya sholallahu alaihi wa salam : {Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh} dan orang ini adalah orang bodoh”. Demi Allah Umar pun tidak jadi memukulnya ketika dibacakan ayat tersebut, beliau adalah orang yang taat terhadap Kitabullah.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: