TAFSIR AN-NISAA’ AYAT 6

August 18, 2014 at 10:59 pm | Posted in Syarah Kitab Tafsir min Shahih Muslim | Leave a comment

Imam Muslim berkata :

10 – (3019) حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، فِي قَوْلِهِ: {وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ} [النساء: 6] قَالَتْ: «أُنْزِلَتْ فِي وَالِي مَالِ الْيَتِيمِ الَّذِي يَقُومُ عَلَيْهِ وَيُصْلِحُهُ، إِذَا كَانَ مُحْتَاجًا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهُ»

10). Hadits no. 3019

Haddatsanaa Abu Bakar bin Abi Syaibah, haddatsanaa ‘Abadah bin Sulaimaan dari Hisyaam dari Bapaknya dari Aisyah rodhiyallahu anha tentang Firman-Nya : { dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut} (QS. An Nisaa’ : 6). Aisyah rodhiyallahu anha berkata : “diturunkan berkenaan pengasuh harta Yatim yang ia menunaikan dan membaguskan haknya, jika ia butuh untuk makan darinya”.

Diriwayatkan juga oleh Imam Bukhori no. 2212.

Imam Muslim berkata :

11 – (3019) وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ، وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ} [النساء: 6]، قَالَتْ: «أُنْزِلَتْ فِي وَلِيِّ الْيَتِيمِ، أَنْ يُصِيبَ مِنْ مَالِهِ، إِذَا كَانَ مُحْتَاجًا، بِقَدْرِ مَالِهِ، بِالْمَعْرُوفِ»،

11 – وَحَدَّثَنَاهُ أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ بِهَذَا الْإِسْنَادِ

11). Hadits no. 3019

Haddatsanaa Abu Kuroib, haddatsanaa Abu Usaamah, haddatsanaa Hisyaam dari Bapaknya dari Aisyah rodhiyallahu anha tentang firman-Nya : { Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut} (QS. An Nisaa’ : 6). Aisyah rodhiyallahu anha berkata : “diturunkan berkenaan pengasuh harta Yatim, yang menggunakan harta yatim jika ia butuh, sesuai dengan kebutuhannya dengan sewajarnya.

Haddatsanaa Abu Kuroib, haddatsanaa ibnu Numair, haddatsanaa Hisyaam dengan sanad tersebut.

Diriwayatkan juga oleh Imam Bukhori no. 2212.

 

Penjelasan Hadits :

  1. ayat-ayat diatas menerangkan hak dan kewajiban pengasuh anak Yatim. Jika pengasuh anak yatim adalah orang yang berkecukupan, dalam artian ia sudah memiliki penghasilan lain, disamping mengasuh anak yatim, maka wajib bagi dirinya untuk menahan diri dari memakan harta yang diperuntukkan bagi anak yatim asuhannya.
  2. Namun jika ia faqir, dalam artian ia tidak memiliki penghasilan, karena waktunya tersibukkan untuk mengurus anak yatim, maka dirinya diperbolehkan untuk mengambil bagian dari harta anak yatim, sesuai dengan kebutuhannya dan masih dalam taraf yang wajar. Janganlah ia berlebih-lebihan melampaui batasnya. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil dari para ulama fiqih tentang batasan bagi orang yang faqir untuk memakan harta anak yatimm kata beliau :

قَالَ الْفُقَهَاءُ: لَهُ أَنْ يَأْكُلَ أَقَلَّ الْأَمْرَيْنِ: أجْرَةَ مِثْلِهِ أَوْ قَدَرَ حَاجَتِهِ

Ia makan berdasarkan yang paling minim dari dua hal ini, yaitu gaji pekerjaan yang semisalnya atau sekedar kebutuhannya.

  1. Memakan harta anak yatim, dianggap syariat sebagai dosa yang sangat besar, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: «الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ

Jauhilah 7 dosa besar!. Para sahabat bertanya : apa saja 7 dosa besar itu?, Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “menyekutukan Allah, Sihir, Membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan kebenaran, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan tempur, dan menuduh wanita baik-baik berzina” (muttafaqun ‘alaih).

  1. Adapun orang-orang yang berhasil mengasuh anak yatim sebagaimana mestinya, maka balasan yang besar telah menantinya dan kedudukannya di surga sangat dekat sekali dengan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

أَنَا وَكَافِلُ اليَتِيمِ فِي الجَنَّةِ هَكَذَا» وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى

Saya (nabi sholallahu alaihi wa salam) dengan pengasuh anak yatim di surga seperti ini. Beliau mengisyaratkan jari telunjuknya dengan jari tengah (muttafaqun ‘alaih, ini lafadz Bukhori).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: