TAFSIR AYAT-AYAT SUJUD TILAWAH (Bag. 8)

August 24, 2014 at 2:06 am | Posted in Tafsir | Leave a comment

TAFSIR AYAT-AYAT SUJUD TILAWAH

 

Ayat berikut yang menjadi tempat sujud tilawah adalah ayat ke-60 dari surat Al Furqoon, yakni Firman Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang”, mereka menjawab:”Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).

Para ulama kita telah bersepakat bahwa ayat ini adalah tempat sujud tilawah, Imam ibnu Katsiir dalam tafsirnya berkata :

وَقَدِ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ -رَحِمَهُمُ اللَّهُ -عَلَى أَنَّ هَذِهِ السَّجْدَةَ الَّتِي فِي الْفُرْقَانِ مَشْرُوعٌ السجودُ عِنْدَهَا لِقَارِئِهَا وَمُسْتَمِعِهَا

Para ulama telah bersepakat bahwa ayat Al Furqoon ini disyariatkan untuk sujud tilawah bagi pembaca dan pendengarnya.

 

Tafsir ayat 60 surat Al Furqoon

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang”, mereka menjawab:”Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).

Makna ayat ini :

Ar Rakhmaan adalah salah satu dari nama Allah yang merupakan Asma’ul Husna-Nya. Asy-Syaikh Abdul Hamiid al-Faroohiy (w. 1349) dalam Mufroodaatul Qur’an (1/185-cet. Darul Ghurobil Islamiy) berkata :

وزعم أكثر الناس خلاف ذلك، فظنّوا أن العرب لم تعرف هذا الاسم لله تعالى

Kebanyakan orang menyelisihi hal tersebut, mereka menduga bahwa orang Arab dulu tidak mengenal nama Allah ini (yakni maksudnya Ar Rokhman-pent.).

Mereka berdalil dengan ayat yang kita bahas ini, yakni ketika orang Arab jahiliyyah bertanya siapa itu Ar Rokhman?. Kemudian dalam catatan kaki kitab diatas yang ditulis oleh DR. Muhammad Ajmal Ayyub al-Islaahiy, beliau menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Syaikh Abdul Hamiid yang mengklaim bahwa orang Arab tidak mengenal Ar Rokhman sebagai nama Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa, kata beliau :

انظر تفسير سورة الفرقان في معاني الفراء 2: 270، والكشاف 3: 98، والعجب منه – وهو اللغوي الأديب- أنه قال: {وَمَا الرحَمَنُ} يجوز أن يكون سؤالاً عن المجهول بما ويجوز أن يكون سؤالاً عن معناه، لأنه لم يكن مستعملاً في كلامهم كما استعمل الرحيم والرحوم والراحم”! والحق أن استعمال “الرحمن” في كلام العرب أكثر من استعمال “الرحوم”. ونقل النسفي كلام الزمخشري بحروفه وزاد في أوله (3: 385): “أي لا نعرف الرحمن فنسجد له، فهذا سؤال عن المسمى به لأنهم ما كانوا يعرفونه بهذا الاسم”! وقال الرازي في مفاتيح الغيب (24: 105): “يحتمل أنهم جهلوا الله تعالى، ويحتمل أنهم وإن عرفوه لكنهم جحدوه، ويحتمل أنهم وإن اعترفوا به، لكنهم جهلوا أن هذا الاسم

من أسماء الله تعالى. وكثير من المفسرين على هذا القول الأخير، قالوا: الرحمن اسم من أسماء الله مذكور في الكتب المتقدمة والعرب ما عرفوه”! وهذا القول الأخير قول الزجاج انظر معاني القرآن له 4: 73 و (اللسان رحم) وانظر ابن كثير 6: 129.

Lihat tafsir surat Al Furqoon dalam “Ma’aanil Faroo’(2/270)” dan “al-Kasyaaf (3/98)” yang menakjubkan (Zamakhsyariy, penulis al-Kasyaaf) adalah pakar bahasa, tapi ia berkata : Firman-Nya {Siapakah yang Maha Penyayang itu?}, maka Zamakhsyariy mengomentari : ‘bisa jadi pertanyaan ini tentang ketidaktahuan siapa itu Ar-Rakhman dan bisa jadi ketidaktahuan tentang makna nama tersebut, karena Ar-Rokhman tidak biasa digunakan dalam pembicaraan orang Arab, sebagaimana mereka biasa menggunakan Ar-Rohiim, Ar Rohuum dan Ar Roohim’.

Dan yang benar bahwa penggunaan ar-Rohmaan dalam pembicaraan orang Arab lebih banyak daripada penggunaan ar-Rohuum. An-Nasafiy menukil komentar az-Zamakhsyariy apa adanya, lalu membantahnya dalam awal kitabnya (3/385) : ‘yaitu kami tidak mengenal ar-Rohmaan yang kami sujud kepadanya, maka pertanyaan ini tentang penamaan dengannya, karena mereka mengenal nama ini’.

Ar-Rooziy dalam “Mafaatiihul Ghoib (24/105)“ berkata : ‘dimunkinkan bahwa mereka tidak Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa, mungkin juga mereka sebenarnya tahu tapi mengingkarinya dan mungkin juga, sekalipun mereka tahu, namun mereka tidak tahu bahwa itu adalah nama Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa’.

Kebanyakan ahli tafsir terhadap ucapan terakhir ini mereka berkata : ‘ar Rohmaan nama dari nama-nama Allah yang disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu dan orang arab sudah mengenalnya’. Ucapan yang terakhir inilah yang kuat, silakan lihat “Ma’aanil Qur’an (4/37)“ dan “Lisaanu Rohim” dan lihat ibnu Katsiir (6/129).

Kemudian syaikh Abdul Hamiid membantah orang-orang yang mengatakan bahwa orang Arab tidak mengenal ar-Rohmaan. Beliau menunjukkan kepada kita beberapa bukti sebagai berikut :

  1. Syair yang dibuat oleh orang Arab jahiliyyah, seperti syairnya Haatim ath-Thoo’iy (Bapaknya Adiy bin Hatim rodhiyallahu anhu) katanya :

يَقُولُونَ لِي أهْلَكْتَ مَالَك فَاقْتَصِدْ … وَمَا كُنتُ لَولاَ مَا تقولونَ سَيِّدَا

كُلُوا الآنَ مِنْ رِزْقِ الإلهِ وأيْسِرُوا … فإنَّ عَلَى الرَّحْمنِ رِزْقكُمُ غَدَا

  1. Orang arab jahiliyyah sudah menamai anaknya dengan Abdur Rohmaan. Lalu pentahqiq kitabnya, DR. Muhammad Ajmal menyebutkan beberapa nama orang arab jahiliiyah yang bernama Abdur Rohman, yaitu : Abdur Rohmaan bin ‘Aamir bin ‘Utwaaroh (kata Ibnu Hazm, ia adalah orang arab yang pertamakali menggunakan nama Abdur Rohmaan), Abdur Rohmaan bin Jumaanah al-Muhaaribiy, Abdur Rohmaan bin ‘Uyyainah yang dibunuh oleh Abu Qotaadah rodhiyallahu anhu dan selainnya.
  2. Al Qur’an turun dengan bahasa kaum nabi kita, maka bagaimana mungkin digunakan sebuah nama untuk makna yang baru?
  3. Al Qur’an menukil ucapan kaum musyrikin tentang penamaan Rabb kita dengan nama Ar Rohmaan dalam Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa :

وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ

Dan mereka berkata: “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat). (QS. Az Zukhruur : 20).

Firman-Nya : (أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا) kata Imam Thobari dalam Tafsirnya :

واختلفت القرّاء في قراءة ذلك، فقرأته عامة قرّاء المدينة والبصرة: (لِمَا تَأْمُرُنَا) بمعنى: أنسجد نحن يا محمد لما تأمرنا أنت أن نسجد له. وقرأته عامة قرّاء الكوفة “لمَا يَأْمُرُنا”بالياء، بمعنى: أنسجد لما يأمر الرحمن

Para ulama qiroat berselisih pendapat tentang bacaan diatas. Umumnya ahli qiroah Madinah dan Bashroh membacana dengan لِمَا تَأْمُرُنَا maknanya adalah ‘apakah kami harus sujud wahai Muhammad dengan apa yang engkau perintahkan kepada kami untuk bersujud kepadanya’. Adapun ahli qiroah Kufah membacanya لمَا يَأْمُرُنا dengan huruf “Yaa”, maknanya ‘apakah kami harus sujud dengan apa yang diperintahkan oleh Ar Rohmaan’.  

Tentu seorang mukmin ketika diperintahkan bersujud kepada Rabb-nya mereka tidak akan bertanya dan ragu untuk langsung bersujud kepada-Nya. Tidak ada perasaan enggan atau sombong dihati kaum Mukminin ketika mereka harus sujud kepadanya, karena memang Dia yang pantas untuk disujudi. Berbeda dengan orang kafir disatu sisi mereka enggan sujud kepada Allah, pencipta mereka, namun kepada makhluk mereka mau sujud kepadanya. Abdullah bin Abi Aufa menceritakan kepada kita :

لَمَّا قَدِمَ مُعَاذٌ مِنَ الشَّامِ سَجَدَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَا هَذَا يَا مُعَاذُ؟» قَالَ: أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ، فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَلَا تَفْعَلُوا، فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ»

“ketika Mu’adz rodhiyallahu anhu tiba dari Syam, beliau langsung sujud kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam, sehingga Beliau bersabda : “apa-apan ini, wahai Mu’adz?. Mu’adz rodhiyallahu anhu berkata : “aku mendatangi Syam dan aku mendapati mereka bersujud kepada para uskup dan pemimpinnya, maka aku berkeinginan untuk melakukan hal tersebut kepadamu”. Maka Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “jangan engkau melakukannya, karena seandainya aku boleh memerintahkan seorang sujud kepada orang lain -selain Allah-, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Demi yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang wanita dianggap menunaikan hak Rabbnya, sampai ia menunaikan hak suaminya, seandainya seorang suami meminta dirinya melayani suaminya –sekalipun sedang berada diatas punggung unta-, maka hal tersebut tidak menghalangi istri melayani suaminya” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth).

Dan sebagian lagi anehnya menyembah syaithon, padahal syaithon itu sendiri enggan diperintahkan untuk sujud oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman mengisahkan ucapan Nabi Ibrohim ‘alaihi as-Salaam kepada bapaknya sang penyembah berhala :

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا

Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah (QS. Maryam : 44).

Na’am orang-orang kafir ketika diperintahkan untuk sujud hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa, malah perintah tersebut semakin menjauhkan mereka dari kebenaran “dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman)”. Sedangkan orang mukmin perintah sujud ini semakin menambah keimanan mereka dan khusyu’ kepada Rabbnya. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآَيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. (QS. As Sajdah : 15).

أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS. Az Zumar : 9).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: