BAB 6 TENTANG BAGUS DALAM PERGAULAN (BAG. 1)

August 27, 2014 at 11:42 pm | Posted in Syarah Kitab Adab min Sunan Abi Dawud | Leave a comment

بَابٌ فِي حُسْنِ الْعِشْرَةِ

Bab 6 Tentang Bagus dalam Pergaulan

 

Penjelasan Bab :

Sebagai makhluk sosial, tentunya seseorang akan banyak berinteraksi dengan orang lain. Maka sangat wajar sekali sebagai agama yang sempurna Islam mengatur pergaulan antar sesama. Allah dan Rasul-Nya telah memberikan rambu-rambu dalam pergaulan kehidupan sehari-hari. Misalnya Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa menggambarkan bagaimana akhlak Nabi sholallahu alaihi wa salam dalam Firman-Nya :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS. Ali Imroon : 159).

Nabi sholallahu alaihi wa salam juga telah berpesan kepada umatnya agar senantiasa menjaga akhlak yang baik ketiga bergaul dengan orang lain, disamping tetap menjaga ketakwaannya. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, ikuti perbuatan jelek dengan perbuatan baik, niscara akan menghapusnya dan pergaulillah manusia dengan pergaulan yang baik (HR. Tirmidzi, dikatakan hasan shahih oleh beliau sendiri, dihasankan oleh Imam Al Albani).

Imam Ibnu Utsaimin dalam Syarah Riyaadhus Sholihin menjelaskan maksud hadits tersebut, berikut kami cuplikan sebagian penjelasannya :

الوصيتان الأوليتان في معاملة الخالق، والثالثة في معاملة الخلق، إن تعاملهم بخلق حسن تحمد عليه ولا تذم فيه، وذلك بطلاقة الوجه، وصدق القول، وحسن المخاطبة، وغير ذلك من الأخلاق الحسنة. وقد جاءت النصوص الكثيرة في فضل الخلق الحسن، حتى قال النبي عليه الصلاة والسلام: ((اكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا)) ، واخبر إن أولى الناس به صلي الله عليه وسلم وأقربهم من منزلة يوم القيامة أحسنهم أخلاقا

Dua wasiyat awal berkaitan dengan hubungan kepada sang Pencipta, sedangkan wasiat yang ketiga berkaitan dengan hubungan kepada sesama makhluk, yaitu bermuamalah dengan mereka dengan akhlak yang baik akan terpuji, tidak ada celaan padanya. Demikian itu dengan wajah yang berseri-seri, ucapan yang jujur, bagus hubungannya dan selainnya dari akhlak-akhlak yang baik.

Telah ada nash-nash yang sangat banyak tentang keutamaan akhlak yang bagus, sampai-sampai Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “sebaik-baiknya keimanan seorang mukmin adalah yang paling bagus akhlaknya”. Dan Beliau sholallahu alaihi wa salam juga memberitahukan bahwa manusia yang paling utama dan paling dekat kedudukannya dengan Nabi sholallahu alaihi wa salam pada hari kiamat adalah orang yang paling bagus akhlaknya.

 

Imam Abu Dawud berkata :

4788 – حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ يَعْنِي الْحِمَّانِيَّ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ مُسْلِمٍ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: ” كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَلَغَهُ عَنِ الرَّجُلِ الشَّيْءُ لَمْ يَقُلْ: مَا بَالُ فُلَانٍ يَقُولُ؟ وَلَكِنْ يَقُولُ: مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَقُولُونَ كَذَا وَكَذَا؟ “

16). Hadits no. 4788

Haddatsanaa Utsman bin Abi Syaibah, haddatsanaa Abdul Hamiid al-Khimaaniy, haddatsanaa al-A’masy dari Muslim dari Masruuq dari Aisyah rodhiyallahu anha beliau berkata : “Nabi sholallahu alaihi wa salam jika sampai kepadanya berita tentang seseorang, Beliau sholallahu alaihi wa salam tidak mengatakan : “apa urusanya fulan mengatakan ini dan itu?, namun Beliau berkata : “apa urusannya suatu kaum mengatakan ini dan itu?”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim, Muslim adalah ibnu Shubaih.

Hadits ini shahih, dikatakan shahih oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Hadits ini mengajarkan kepada kita agar tidak menyebutkan kejelekan seseorang secara langsung, jika tujuannya ketika menyampaikan kejelekan tersebut untuk menjadi pelajaran bagi yang lainnya. Tentu penyebutan nama tidak diperlukan disini.
  2. Apabila ada kemaslahatan untuk menyebutkan nama ketika menjelaskan kejelekannya, maka tidak mengapa untuk disebutkan namanya. Berikut fatwa al-‘Alamah Sholih al-Fauzan yang kami nukil dari : http://ashhabulhadits.wordpress.com/2014/03/25/6370/ :

س، ٥٦ : ما هو منهج أهل السنة في نقد الرجال و ذكر الأسماء ، وهل تبيين أخطاء بعض الدعاة فتنة يجب الكف عنها ؟

 Tanya : 56

Apa manhaj Ahlus sunnah dalam mengkritik pelaku penyimpangan dan menyebut nama mereka, dan apakah menjelaskan kesalahan sebagian para da’i adalah sebagai fitnah yang harus dihindari ?

ج / الخطأ يبين ، لابد أن يبين الخطأ من الصواب، أما الأشخاص فليس في تناول شخصياتهم فائدة ، بل فيها مضرة، نحن لا نعترض للأشخاص و إنما نبين الخطأ ، و نبين الصواب للناس ، من أن يأخذوا بالصواب ويتركوا الخطأ و ليس الهدف من ذالك هو النيل من الشخصيات أو التشفي منها ، ليس هذا هو الغرض ، الذي قصده لتشفي هذا صاحب هوى ، أما الذي قصده بيان الحق للناس هذا ناصح للمسلمين.

وإذا اقتضى أن يسمى الشخص المردود عليه من أجل أن يعرفه الناس ، فهذا من أجل المصلحة الراجحة

Jawab :

Kesalahan/penyimpangan itu harus dijelaskan, adapun pribadi-pribadi tertentu maka mencelanya tidak ada faedah bahkan mencela pribadi itu terdapat padanya mudhorat.

Kami tidak mencerca pribadi, kami hanya menjelaskan kesalahan-kesalahan/penyimpangan-penyimpangan, kami menjelaskan kebenaran kepada manusia agar mereka mengambil yang benar dan meninggalkan yang salah, bukanlah kami bermaksud dengan itu (dengan menerangkan penyimpangan) untuk mencela pribadi-pribadi atau menjatuhkannya, bukan itu tujuannya, yakni yang dimaksudkan untuk menjatuhkan shohibu hawa ini, adapun tujuannya adalah untuk menjelaskan kebenaran kepada manusia dan ini adalah sebagai nasihat bagi kaum muslimin.

Apabila (dalam keadaan tertentu) harus menyebutkan nama orang yang dibantah itu agar diketahui oleh manusia, maka ini karena ada maslahat yang rajih” (lihat Al-jawabul Mufidah ‘An As-ilati manaahiji al-jadidah cetakan ke enam lil kitab dan pertama li daar sabiilil mu’minin, hal 155-156, thn 1430 H / 2013 M)

 

Imam Abu Dawud berkata :

4789 – حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ مَيْسَرَةَ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، حَدَّثَنَا سَلْمٌ الْعَلَوِيُّ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلًا، دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ أَثَرُ صُفْرَةٍ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَلَّمَا يُوَاجِهُ رَجُلًا فِي وَجْهِهِ بِشَيْءٍ يَكْرَهُهُ، فَلَمَّا خَرَجَ قَالَ: «لَوْ أَمَرْتُمْ هَذَا أَنْ يَغْسِلَ ذَا عَنْهُ» قَالَ أَبُو دَاوُدَ: «سَلْمٌ لَيْسَ هُوَ عَلَوِيًّا، كَانَ يُبْصِرُ فِي النُّجُومِ، وَشَهِدَ عِنْدَ عَدِيِّ بْنِ أَرْطَاةَ عَلَى رُؤْيَةِ الْهِلَالِ فَلَمْ يُجِزْ شَهَادَتَهُ»

 17). Hadits no. 4789

Haddatsanaa Ubaidillah bin Umar bin Maisaroh, haddatsanaa Hammaad bin Zaid, haddatsanaa Salam al-‘Alawiy dari Anas rodhiyallahu anhu bahwa seorang laki-laki masuk menemui Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dan ada bekas warna kuning, lalu Nabi sholallahu alaihi wa salam mengisyaratkan kepada orang lain dengan menampakkan muka yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap hal tersebut. Maka setelah orang tersebut keluar, Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “seandainya kalian memerintahkan kepadanya untuk mencuci bekas kuningnya tersebut”.

Abu Dawud berkata : ‘salam bukan alawiy, ia suka mengamati bintang-bintang, ia bersama Adiy bin Arthooh menyaksikan melihat hilal, namun kesaksiannya tidak diterima’.

Penjelasan kedudukan hadits :

Semua perowinya, perowi Bukhori-Muslim. Kecuali salam al-Alawiy, beliau perowi dhoif.

Hadits ini dhoif, didhoifkan oleh Imam Imam Al Albani dan Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad. Syakh Syu’aib Arnauth berbeda pendapat beliau mengatakan bahwa hadits ini Hasan dengan sebab adanya syahid (penguat) dari hadits lainnya, yakni hadits yang diriwayatkan juga oleh Imam Abu Dawud sebelumnya (no. 4179) dan juga diriwayatkan oleh Imam Bukhori (no. 5846) dan Imam Muslim (no. 2101) dari jalan Anas bin Malik rodhiyallahu anhu beliau berkata :

«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ التَّزَعْفُرِ لِلرِّجَالِ»، وَقَالَ: عَنْ إِسْمَاعِيلَ: «أَنْ يَتَزَعْفَرَ الرَّجُلُ»

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melarang laki-lak untuk melumuri dengan za’faron (warna kuning). Dalam riwayat Ismail : “seorang laki-laki berza’faron”.

Mungkin dapat dikatakan bahwa hukum seorang laki-laki memakai za’faron adalah terlarang berdasarkan hadits dalam bab ini, dengan penguat dari hadits-hadits lainnya. Namun pembahasan dalam bab ini adalah sikap Nabi sholallahu alaihi wa salam yang tidak suka ketika melihat orang yang menggunakan za’faron seperti itu, namun Beliau sholallahu alaihi wa salam tidak secara langsung menegurnya, sebagai perwujudan akhlak yang baik. Beliau sholallahu alaihi wa salam berharap agar ada sahabat orang tersebut yang menegurnya, sehingga lebih mengena. Nah untuk bab inilah, ketika menggunakan hadits ini sebagai dalil, maka tidak kuat sebagaimana telah diisyaratkan sendiri oleh Imam Abu Dawud. Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad dalam Syarah Sunan Abu Dawud berkata :

والحديث في سنده سلم العلوي هذا، وهو ضعيف، لذا فالحديث ليس بثابت عن رسول الله صلوات الله وسلامه وبركاته عليه.

Hadits ini dalam sanadnya ada Salam al-‘Alawiy, beliau perowi dhoif. oleh karenanya hadits ini tidak tsabit dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: