BAB 7 MENIKAHI WANITA PERAWAN

August 31, 2014 at 12:05 am | Posted in Syarah Kitab Nikah min Sunan Ibnu Majah | Leave a comment

بَابُ تَزْوِيجِ الْأَبْكَارِ

Bab 7 Menikahi Wanita Perawan

 

Penjelasan Bab :

Wanita dianggap perawan jika selaput daranya belum robek. namun bisa saja selaput daranya robek, misalnya karena aktivitas olah raga berat atau karena penyakit tertentu, yang mana misalnya alat kedokteran harus masuk dalam kemaluannya, sehingga akhirnya membuat robek selaput daranya –sekalipun jarang terjadi-. Sehingga yang dijadikan patokan bahwa wanita disebut perawan adalah bahwa alat kelamin laki-laki belum pernah masuk kedalam alat kelamin wanita tersebut.

Dalam Al Qur’an, terdapat ayat yang menyinggung tentang sifat bidadari yang perawan, berikut diantara sifatnya :

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin (QS. Ar Rahmaan : 56).

Allah Subhanahu wa Ta’alaa menceritakan tentang Maryam, ibunda Nabi Isa ‘alaihi as-Salaam, wanita yang suci lagi perawan, karena belum pernah disentuh oleh laki-laki :

قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia (QS. Ali Imroon : 47).

 

Imam Ibnu Majah berkata :

1860 – حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَتَزَوَّجْتَ يَا جَابِرُ؟» قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «أَبِكْرًا أَوْ ثَيِّبًا؟» قُلْتُ: ثَيِّبًا، قَالَ: «فَهَلَّا بِكْرًا تُلَاعِبُهَا؟» ، قُلْتُ: كُنَّ لِي أَخَوَاتٌ، فَخَشِيتُ أَنْ تَدْخُلَ بَيْنِي وَبَيْنَهُنَّ، قَالَ: «فَذَاكَ إِذَنْ»

 

 

16). Hadits no. 1858

Haddatsanaa Hannaad ibnus Suriy ia berkata, haddatsanaa ‘Abdah bin Sulaimaan dari Abdul Malik dari ‘Athoo’ dari Jaabir bin Abdullah rodhiyallahu anhu ia berkata : “aku menikahi seorang wanita pada masa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, lalu aku bertemu dengan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, Beliau berkata kepadaku : “apakah engkau baru saja menikah, wahai Jaabir?”, aku menjawab : “iya”. Beliau bertanya lagi : “perawan atau janda?”. Jawabku : “janda”. Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata : “kenapa engkau tidak menikahi perawan, sehingga engkau bisa bermain-main dengannya?”. Jawabku : “aku memiliki saudara wanita, aku khawatir terjadi perselisihan diantara mereka”. Lalu Nabi sholallahu alaihi wa salam menanggapi : “jika demikian, tidak mengapa”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Abdah dan ‘Athoo’ bin Abi Robaah, perowi Bukhori-Muslim. sedangkan Hannaad serta Abdul Maliik bin Abi Sulaimaan, perowi Muslim.

Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth. Lafadz yang mirip diriwayatkan dalam HR. Bukhori (no. 2309) dan HR. Muslim (no. 715).

 

Penjelasan Hadits :

  1. Dalam riwayat Imam Bukhori, Jaabir rodhiyallahu anhu memang sengaja memilih janda, karena beliau masih memiliki saudara perempuan yang masih menjadi tanggungannya, setelah ayah beliau meninggal dunia, sehingga beliau memilih istri yang dapat berperan juga sebagai pengasuh saudara perempuannya. Jaabir rodhiyallahu anhu berkata :

إِنَّ أَبِي تُوُفِّيَ، وَتَرَكَ بَنَاتٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَنْكِحَ امْرَأَةً قَدْ جَرَّبَتْ خَلاَ مِنْهَا

Sesungguhnya orang tuaku telah wafat dan meninggalkan anak-anak perempuan, maka aku ingin menikahi wanita yang dapat menggantikan ibunya.

  1. Menikahi wanita perawan dapat melanggengkan pernikahan, karena wanita tersebut kemungkinan baru mengenal laki-laki sebagai pendamping hidupnya, sehingga kecintaannya tulus bagi suaminya, karena ia belum memiliki pembanding ketika hidup dengan laki-laki lain, berbeda dengan janda yang berarti ia pernah memiliki suami sebelumnya, maka terkadang muncul sifat membanding-bandingkan suaminya yang dulu dengan sekarang.
  2. Keutamaan Jaabir rodhiyallahu anhu yang lebih mementingkan kepentingan keluarganya dibandingkan kepentingan dirinya sendiri. Seandainya mau tentu beliau rodhiyallahu anhu akan mencari gadis perawan untuk menjadi pendamping hidupnya, namun rasa sayang kepada saudara-saudaranya menghalangi dirinya untuk hanya mementingkan diri sendiri.
  3. Namun pada zaman yang rusak ini, dimana banyak wanita gadis, tapi sudah tidak perawan, karena melakukan perzinaan, entah dengan pacarnya atau lainnya, maka seorang mukmin dituntut hati-hati dalam memilih calon istri. Adapun hukum menikahi wanita yang berzina, begitu juga laki-laki pezina, maka haram bagi seorang Mukmin dan Mukminah. Penulis ‘Aunul Maubud menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah :

وَأَمَّا نِكَاح الزَّانِيَة فَقَدْ صَرَّحَ اللَّه بِتَحْرِيمِهِ فِي سُورَة النُّور وَأَخْبَرَ أَنَّ مَنْ نَكَحَهَا فَهُوَ زَانٍ أَوْ مُشْرِك

Adapun menikahi wanita pezina, maka Allah telah menjelaskan keharamannya dalam surat An Nuur dan mengabarkan bahwa orang yang layak menikahinya adalah laki-laki pezina atau orang musyrik.

Ayat yang dimaksud oleh Syaikhul Islam bunyinya sebagai berikut :

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin (QS. An Nuur : 3).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. 2052), dengan sanad yang dishahihkan oleh Imam Al Albani dari sahabat Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu, bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لَا يَنْكِحُ الزَّانِي الْمَجْلُودُ إِلَّا مِثْلَهُ

Tidaklah pezina yang didera dinikahi , kecuali oleh orang yang semisalnya.

Namun jika wanita atau laki-laki yang pernah berzina telah bertaubat dengan taubat nasuha, maka sebagian ulama membolehkan untuk menikahinya dan ini adalah pendapat yang kuat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa berkata :

نِكَاحُ الزَّانِيَةِ ” حَرَامٌ حَتَّى تَتُوبَ سَوَاءٌ كَانَ زَنَى بِهَا هُوَ أَوْ غَيْرُهُ . هَذَا هُوَ الصَّوَابُ بِلَا رَيْبٍ وَهُوَ مَذْهَبُ طَائِفَةٍ مِنْ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ : مِنْهُمْ أَحْمَد بْنُ حَنْبَلٍ وَغَيْرُهُ وَذَهَبَ كَثِيرٌ مِنْ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ إلَى جَوَازِهِ وَهُوَ قَوْلُ الثَّلَاثَةِ

Menikahi wanita yang berzina adalah haram sampai ia bertaubat, sama saja apakah yang menikahinya tersebut orang yang berzina dengannya atau orang lain. Ini adalah pendapat yang benar tanpa keraguan lagi. Ini madzhabnya sekelompok ulama salaf dan kholaf, diantaranya Ahmad bin Hanbal dan selainnya. Kebanyakan salaf dan kholaf berpendapat bolehnya menikahinya dan ini adalah ucapannya 3 Imam (yaitu Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i –pent.).

Jadi kebolehan menikahi wanita atau laki-laki yang berzina adalah setelah mereka bertaubat dengan taubat yang jujur, karena seorang yang bertaubat seolah-olah ia telah ‘diputihkan’ dari kesalahan sebelumnya, sebagaimana Firman-Nya :

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71)

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (QS. Al Furqoon : 70-71).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan dihasankan oleh Imam Al Albani bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ، كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

Orang yang bertaubat dari suatu dosa, maka seolah-olah ia seperti orang yang tidak punya dosa.

 

Imam Ibnu Majah berkata :

1861 – حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَلْحَةَ التَّيْمِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَالِمِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ عُوَيْمِ بْنِ سَاعِدَةَ الْأَنْصَارِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَلَيْكُمْ بِالْأَبْكَارِ، فَإِنَّهُنَّ أَعْذَبُ أَفْوَاهًا، وَأَنْتَقُ أَرْحَامًا، وَأَرْضَى بِالْيَسِيرِ»

17). Hadits no. 1861

Haddatsanaa Ibrohim ibnul Mundzir al-hizaamiy ia berkata haddatsanaa Muhammad bin Tholhah at-Taimiy ia berkata, haddatsanaa Abdur Rokhman bin Saalim bin ‘Utbah bin ‘Uwaim bin Saa’idah al-Anshooriy dari Bapaknya dari kakeknya ia berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “hendaknya kalian menikahi gadis perawan, karena mereka lebih bagus pergaulannya, lebih subur rahimnya dan lebih bisa menerima kekurangan”.

Penjelasan kedudukan hadits :

Ibrohim ibnul Mundzir, perowi shoduq, Imam Ahmad mengkritiknya karena masalah Al Qur’an.

Muhammad bin Tholhah, perowi shoduq yukhthiu (kadang keliru).

Abdur Rokhman, perowi majhul. Imam al-Bushiiri menukil perkataan Imam Bukhori bahwa ia tidak shahih haditsnya (az-Zawaid).

Bapaknya, Saalim bin Utbah juga majhul.

Sedangkan kakeknya Utbah bin Uwaim rodhiyallahu anhu adalah sahabat, begitu juga Uwaim bin Saa’adah rodhiyallahu anhu juga seorang sahabat yang berbaiat d aqobah dan veteran perang Badar.

Imam Thabrani memastikan bahwa hadits diatas masuk dalam musnadnya Uwaim bin Saa’adah rodhiyallahu anhu, sehingga perkataan kakeknya dalam riwayat diatas, dhomir ‘nya’ kembali kepada Saalim bin Utbah, bukan kepada Abdur Rokhman bin Saalim bin Utbah.

Hadits ini Hasan lihorihi, Imam Al Albani dalam ta’liqnya menilai hadits ini Hasan, kemudian dalam ash-Shahihah (no. 623), Imam Al Albani menemukan beberapa penguat untuk hadits ini, sebagai berikut :

  1. Syahid dari Jaabir rodhiyallahu anhu diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam al-Ausath (1/1/163) dari jalan : haddatsanaa Muhammad bin Musa al-Istikhoriy, anbaanaa ‘Ishomah ibnul Mutawakil dari Bahr as-Saqoo dari Abiz Zubair dari Jaabir rodhiyallahu anhu secara marfu’ dari Nabi sholallahu alaihi wa salam, namun ada tambahan lafadz : و أقل خبأ (lebih sedikit tipuannya).

Kemudian Imam Al Albani mengomentari hadits ini, bahwa didalamnya terdapat 3 kelemahan yaitu : ‘an’anah Abuz Zubair seorang perowi Mudallis, kedhoifan Bahr as-Saqoo dan kemajhulan ‘Ishomah ibnul Mutawakil.

  1. Syahid yang kedua dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu secara marfu, haditsnya diriwayatkan oleh Imam ibnul Mudhofir dalam Hadits Haabib bin Urkain (1/2/254) dari jalan Abdur Rokhman bin Zaid bin Aslam dari Bapaknya dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu secara marfu.

Lalu Imam Al Albani menilai hadits ini dhoifun Jiddan (sangat dhoif sekali), karena Abdur Rokhman bin Zaid, perowi yang tertuduh berdusta. Lalu Imam Al Albani menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf (1/7/27) meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari ‘Aashim dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu secara mauquf. Lalu Imam Al Albani mengatakan bahwa kemungkinan yang mauquf inilah yang benar.

  1. Syahid dari Sufyan bin Abdillah rodhiyallahu anhu, diriwayatkan oleh asy-Syairoziy dalam al-Alqoob sebagaimana dikatakan oleh Imam Suyuthi dalam Jaamiul Kabiir (no. 14340) dari Bisyir bin ‘Aashim dari Bapaknya dari Kakeknya secara marfu’ bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

عليكم بِشَوَابِّ النساء فإنهن أطيب أفواهًا وأنتق بطونًا وأسخن أقبالاً

Hendaknya kalian menikahi gadis perawan, karena mereka lebih suci mulutnya, lebih subur rahimnya dan lebih hangat kemaluannya.

Bisyir bin ‘Aashim perowi tsiqoh. bapaknya, ‘Aashim bin Sufyan perowi shoduq dan kakeknya lagi yaitu Sufyan bin Abdullah rodhiyallahu anhu adalah seorang sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam. Sehingga sanad hadits ini jayyid, namun Imam Al Albani mengatakan tidak ada informasi kejelasan sanadnya dari asy-Syairozi sampai kepada Bisyir bin ‘Aashim, karena Imam Suyuthi sendiri tidak menyebutkan sanadnya, begitu juga penulis syarahnya Imam al-Munawi.

Kemudian setelah menyebutkan syawahid ini, Imam Al Albani membuat kesimpulan :

لكن من الممكن أن يقال : بأن الحديث حسن بمجموع هذه الطرق ، فإن بعضها ليس شديد الضعف . و الله أعلم . ثم جزمت بذلك حين رأيت الحديث في ” كتاب السنن ” لسعيد بن منصور ( 512 ، 513 ، 514 ) عن عمرو بن عثمان و مكحول مرسلا .

Namun mungkin untuk dikatakan bahwa hadits ini Hasan dengan menggabungkan jalan-jalannya, karena sebagian jalannya tidak begitu parah kedhoifannya. Wallahu A’lam. Lalu aku memastikan hal tersebut ketika aku melihat hadits dalam kitab as-Sunan karya Sa’id bin Manshuur (no. 512, 513 dan 514) dari ‘Amr bin Utsman dan Makhuul secara mursal.

Adapun Syaikh Syu’aib Arnauth belum mau mengangkat hadits dalam bab ini ke derajat hasan. Beliau menyebutkan syawahid untuk hadist ini dalam Ta’liq Sunan Ibnu Majah, kata beliau :

وفي الباب عن عبد الله بن مسعود عند الطبراني في “الكبير” (10244) وفي إسناده أبو بلال الأشعري، ضعفه الدارقطني، وذكره ابن حبان في “الثقات” وقال: روى عنه أهل العراق، وترجمه ابن أبي حاتم وقال: روى عنه أبي رحمه الله.

وعن عبد الله بن عمر عند ابن السُّنِّي وأبي نعيم كلاهما في “الطب” قال الحافظ في “التلخيص” 3/ 145: وفيه عبد الرحمن بن زيد بن أسلم وهو ضعيف.

وعن جابر بن عبد الله عند ابن الجوزي في “العلل المتناهية” (1016) وفي إسناده إبراهم بن البراء متهم.

Dalam bab ini (ada syawahid) dari Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu dalam riwayat Thabrani di al-Kabiir (no. 10244) dalam sanadnya ada Abu Bilaal al-Asy’ariy, didhoifkan oleh Daruquthni. Ibnu hibban menyebutkan dalam ats-Tsiqoot : ‘penduduk Irak meriwayatkan darinya’. Ibnu Abi Hatim dalam biografinya menyebutkan bahwa Bapakku (Imam Abu Hatim) meriwayatkan darinya.

(yang kedua) dari Abdullah bin Umar Rodhiyallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Ibnus Suniy dan Abi Nu’aim keduanya dalam ath-Thibb, lalu al-Hafidz dalam at-Talkhiish (3/145) berkomentar : ‘didalamya ada Abdur Rokhman bin Zaid bin Aslam, beliau perowi dhoif’.

(yang ketiga) dari Jaabir bin Abdullah Rodhiyallahu ‘anhu dalam riwayat ibnul Jauzi dalam al-Illal al-Mutanaahiyyah (no. 1016) dalam sanadnya ada Ibrohim ibnul Baroo’ dituduh pendusta.

Kemudian saya melihat Al Hafidz dalam al-Fath (9/123-cet. Daarul Ma’rifah) berhujjah dengan hadits ini, kata beliau :

وفي الحديث الحث على نكاح البكر وقد ورد بأصرح من ذلك عند بن ماجة

Dalam hadits ada anjuran untuk menikahi gadis perawan, dan telah datang hadits yang lebih jelas tentang anjuran tersebut dalam riwayat Ibnu Majah…

Lalu diantara ulama kontemporer yang berhujjah dengan hadits ini adalah Syaikh Abdullah al-Faqiih dalam fatwa-fatwanya.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Anjuran ketika menikah untuk memilih gadis perawan, karena diharapkan akan banyak melahirkan keturunan. Syaikh Abdullah al-Faqiih dalam fatwanya berkata :

لكن جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم الترغيب في الزواج بالأبكار ومن هن في سن يمكن أن يلدن فيها ليكون أرجى لكثرة الولد، وذلك مطلوب شرعاً، بل هو من أساسيات مقاصد الزواج.

Namun telah datang dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam anjuran untuk menikahi perawan dan wanita yang seusianya, karena bisa bersenang-senang dengannya yang diharapkan dengannya akan memiliki anak yang banyak. Yang demikian itu dituntut oleh syariat, bahkan hal itu adalah tujuan utama dilangsungkannya pernikahan (yaitu memiliki banyak keturunan-pent.).

  1. Wanita yang perawan biasanya tutur katanya lebih sopan, karena masih malu-malu ketika baru pertama kali mengenal laki-laki yang nantinya akan menjadi pendamping hidupnya.
  2. Hendaknya wanita menjaga diri agar jangan sampai disentuh oleh laki-laki sampai halal bagi dirinya. Dan –qodarullah- kita hidup di negeri dan zaman dimana sekarang pencampur bauran antara laki-laki dan wanita sudah seperti tanpa batas. Padahal Al Qur’an sudah memerintahkan kepada para wanita untuk tetap tinggal di rumahnya, kecuali jika ada keperluan yang mendesak. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

 dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu (QS. Al Ahzab : 33).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: