TAFSIR SURAT AN NISAA’ AYAT 93

September 3, 2014 at 11:36 pm | Posted in Syarah Kitab Tafsir min Shahih Muslim | Leave a comment

Imam Muslim berkata :

16 – (3023) حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ النُّعْمَانِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، قَالَ: اخْتَلَفَ أَهْلُ الْكُوفَةِ فِي هَذِهِ الْآيَةِ: {وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ} [النساء: 93] فَرَحَلْتُ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ فَسَأَلْتُهُ عَنْهَا، فَقَالَ: «لَقَدْ أُنْزِلَتْ آخِرَ مَا أُنْزِلَ، ثُمَّ مَا نَسَخَهَا شَيْءٌ»،

16). Hadits no. 3023

Haddatsanaa Ubaidillah bin Mu’adz al-‘Ambariy, haddatsanaa Bapakku, haddatsanaa Syu’bah dari al-Mughiiroh bin an-Nu’maan dari Sa’id bin Jubair ia berkata : “para ulama Kufah berselisihi tentang ayat ini : { Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam} (QS. An Nisaa’ : 93). Maka aku pergi ke Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu untuk menanyakan tentangnya, maka Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu berkata : “ayat tersebut diturunkan pada akhir-akhir, lalu tidak ada yang menasakhnya”.

Diriwayatkan juga oleh Imam Bukhori (no. 4590)

Imam Muslim berkata :

17 – (3023) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَابْنُ بَشَّارٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، ح وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا النَّضْرُ، قَالَا: جَمِيعًا حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، بِهَذَا الْإِسْنَادِ فِي حَدِيثِ ابْنِ جَعْفَرٍ: نَزَلَتْ فِي آخِرِ مَا أُنْزِلَ. وَفِي حَدِيثِ النَّضْرِ: إِنَّهَا لَمِنْ آخِرِ مَا أُنْزِلَتْ

17). Hadits no. 3023

Haddatsanaa Muhammad bin al-Mutsanaa dan ibnu Basysyaar mereka berdua berkata, haddatsanaa Muhammad bin Ja’far (ganti sanad).

Haddatsanaa Ishaaq bin Ibrohim, akhbaronaa an-Nadhor mereka berdua berkat, semuanya meriwayatkan dari Syu’bah dengan sanad ini. Dalam haditsnya ibnu Ja’far dengan lafadz : “diturunkan pada akhir-akhir dari ayat-ayat yang akhir-akhir diturunkan”. Dalam haditsnya an-Nadhor : “ayat ini termasuk yang akhir-akhir diturunkan”.

 

Imam Muslim berkata :

18 – (3023) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، قَالَ: أَمَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبْزَى، أَنْ أَسْأَلَ ابْنَ عَبَّاسٍ، عَنْ هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ: {وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا} [النساء: 93] فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ: «لَمْ يَنْسَخْهَا شَيْءٌ»

وَعَنْ هَذِهِ الْآيَةِ: {وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ، وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ} [الفرقان: 68] قَالَ: «نَزَلَتْ فِي أَهْلِ الشِّرْكِ»

18). Hadits no. 3023

Haddatsanaa Muhammad ibnul Mutsanaa dan Muhammad bin Basysyaar mereka berdua berkata, haddatsanaa Muhammad bin Ja’far, haddatsanaa Syu’bah dari Manshuur dari Sa’id bin Jubair ia berkata, Abdur Rokhman bin Abzaa memintaku untuk bertanya kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu tentang 2 ayat ini yaitu : { Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam} (QS. An Nisaa’ : 93). beliau rodhiyallahu anhu berkata : “tidak ada yang menasakhnya”.

Dan ayat ini : {Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar} (QS. Al Furqon : 68). Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu berkata : “diturunkan berkaitan dengan orang Musyrik”.

 

Imam Muslim berkata :

19 – (3023) حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ اللَّيْثِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ يَعْنِي شَيْبَانَ، عَنْ مَنْصُورِ بْنِ الْمُعْتَمِرِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: ” نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ بِمَكَّةَ: {وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ} [الفرقان: 68] إِلَى قَوْلِهِ: {مُهَانًا} [الفرقان: 69] فَقَالَ الْمُشْرِكُونَ: وَمَا يُغْنِي عَنَّا الْإِسْلَامُ، وَقَدْ عَدَلْنَا بِاللهِ، وَقَدْ قَتَلْنَا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ، وَأَتَيْنَا الْفَوَاحِشَ؟ فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا} [الفرقان: 70] إِلَى آخِرِ الْآيَةِ، قَالَ: «فَأَمَّا مَنْ دَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ وَعَقَلَهُ، ثُمَّ قَتَلَ، فَلَا تَوْبَةَ لَهُ»

19). Hadits no. 3023

Haddatsanaa Haaruun bin Abdillah, haddatsanaa Abun Nadhor Haasyim ibnul Qoosim al-Laitsi, haddatsanaa Abu Mu’awiyyah yakni Syaibaan dari Manshuur ibnul Mu’tamir dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu beliau berkata : “ayat berikut diturunkan di Mekkah : { Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),  (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina} (QS. Al Furqoon : 68-69)”. Lalu orang-orang musyrik berkata : ‘Apakah Islam bisa menerima kami? Karena sungguh kami telah menyekutukan Allah, kami telah membunuh orang yang diharamkan Allah dan kami melakukan perzinaan’. Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat setelah : { kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang} (QS. Al Furqoon : 70). Lalu Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu berkata : “adapun orang yang sudah masuk Islam dan sudah berakal, lalu membunuh, maka tidak ada taubat baginya”.

 

Imam Muslim berkata :

20 – (3023) حَدَّثَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ هَاشِمٍ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرٍ الْعَبْدِيُّ، قَالَا: حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ ابْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، حَدَّثَنِي الْقَاسِمُ بْنُ أَبِي بَزَّةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، قَالَ: قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ: أَلِمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا مِنْ تَوْبَةٍ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: فَتَلَوْتُ عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةَ الَّتِي فِي الْفُرْقَانِ: {وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ} [الفرقان: 68] إِلَى آخِرِ الْآيَةِ، قَالَ: «هَذِهِ آيَةٌ مَكِّيَّةٌ نَسَخَتْهَا آيَةٌ مَدَنِيَّةٌ»: {وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا} [النساء: 93]، وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ هَاشِمٍ: فَتَلَوْتُ عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةَ الَّتِي فِي الْفُرْقَانِ: {إِلَّا مَنْ تَابَ}

20). Hadits no. 3023

Haddatsani Abdullah bin Haasyim dan Abdur Rokhman bin Bisyir al-‘Abadiy mereka berdua berkata, haddatsanaa Yahya yaitu ibnu Sa’id al-Qohthoon dari Ibnu Juraij, haddatsani al-Qoosim bin Abi Bazah dari Sa’id bin Jubair ia berkata, aku bertanya kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu : “apakah orang yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja dapat bertaubat?”. Beliau rodhiyallahu anhu menjawab : “tidak ada”. Maka aku membacakan ayat ini : { Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang} (QS. Al Furqoon : 68-70). Maka Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu menanggapi : “ayat yang engkau bacakan adalah Makkiyah, maka apakah ia menasakhkan ayat Madaniyyah (maksudnya surat An Nisaa’ : 93-pent.)?”.

Dalam riwayat Ibnu Hisyaam : ‘Sa’id bin Jubair membacakan ayat ke-70 dari Surat Al Furqoon’.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Hadits ini membahas tentang hukum yang diambil dari Surat An Nisaa’ ayat ke-93, yakni apakah orang Islam yang membunuh orang muslim lain dengan sengaja tanpa hak, perbuatannya bisa ditaubati, sehingga tidak terancam dengan siksa neraka yang kekal atau tidak bisa?, lalu Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu sebagai salah satu pakar tafsir yang masih hidup dari kalangan sahabat, ditanya oleh murid-muridnya dari kalangan Tabi’in, seperti Sa’id bin Jubair. Maka beliau rodhiyallahu anhu memberikan fatwa, bahwa tidak ada taubat baginya. Imam Ibnu Bathool Syarah Bukhori mengatakan bahwa :

اختلف العلماء فى القاتل هل له توبة لاختلافهم فى تأويل هذه الآية، فروى عن زيد بن ثابت، وابن مسعود، وابن عباس، وابن عمر أنه لا توبة له

Para ulama berselisih pendapat apakah seorang yang membunuh (mukmin dengan sengaja, tanpa hak) dapat ditaubati? Karena perselisihan mereka dalam menafsirkan ayat ke-93 surat An Nisaa’. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsaabit, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar rodhiyallahu anhu bahwa tidak ada taubat bagi pembunuhnya.

Adapun Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu sebagaimana dalam hadits-hadits diatas, berpendapat dengan dhohir ayat 93 An Nisaa’ dan ketika diminta klarifikasi oleh muridnya yakni Sa’id bin Jubair berkaitan dengan kandungan surat Al Furqoon ayat 68 sampai 70 dimana Allah menerima taubat orang yang membunuh tanpa hak, maka Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu memberikan jawaban :

  1. Ayat tersebut turun berkaitan dengan orang musyrik, maka setelah ia masuk Islam, amal masuk Islamnya ini dapat menghapuskan kesalahan-kesalahannya yang lalu. Sedangkan ayat 93 An Nisaa’ turun berkaitan dengan pembunuh muslim yang membunuh orang Muslim lainnya.
  2. Ayat Al Furqoon adalah Makiyyah, sedangkan ayat An Nisaa’ Madaniyyah, maka bagaimana mungkin yang datangnya duluan menasakh yang datangnya kemudian.
  3. Namun pendapat yang rajih, bahwa pelaku pembunuhan sengaja dapat ditaubati, sebagaimana perkataan Imam Nawawi dalam Syarah Muslim :

وروى عنه أن له توبة وجواز المغفرة له لقوله تعالى ومن يعمل سوءا أو يظلم نفسه ثم يستغفر الله يجد الله غفورا رحيما وهذه الرواية الثانية هي مذهب جميع أهل السنة والصحابة والتابعين ومن بعدهم

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu juga bahwa pembunuh memiliki taubat, karena Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman : Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisa’ : 110). Ini adalah pendapat kedua Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu dan inilah madzhab semua ahlu sunnah, shahabat, Tabi’in dan orang-orang setelah mereka.

2. Hanyalah para salaf yang menyelisihi pendapat ini, dikarenakan suatu alas an yang disebutkan oleh Imam Nawawi juga :

وما روى عن بعض السلف مما يخالف هذا محمول على التغليظ والتحذير من القتل والتورية فى المنع منه

Adapun apa yang diriwayatkan dari sebagian salaf yang menyelisihi pendapat yang rajih ini, hal tersebut dibawa kepada pengertian besarnya urusan dan peringatan keras dari pembunuhan dan memberikan gambaran besarnya urusan larangan membunuh tanpa hak.

  1. Pendapat yang rajih, bahwa pelaku pembunuhan yang bertauhid adalah dibawah kehendak Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa, jika Allah mau akan mengadzabnya dan jika mau akan mengampuninya. Imam Nawawi berkata :

فالصواب فى معناها أن جزاءه جهنم وقد يجازى به وقد يجازى بغيره وقد لايجازى بل يعفى عنه فان قتل عمدا مستحلا له بغير حق ولاتأويل فهو كافر مرتد يخلد به فى جهنم بالاجماع وأن كان غير مستحل بل معتقدا تحريمه فهو فاسق عاص مرتكب كبيرة جزاؤه جهنم خالدا فيها لكن بفضل الله تعالى ثم أخبر أنه لايخلد من مات موحدا فيها فلا يخلد هذا ولكن قد يعفى عنه فلايدخل النار أصلا وقد لايعفى عنه بل يعذب كسائر العصاة الموحدين ثم يخرج معهم إلى الجنة ولا يخلد فى النار فهذا هو الصواب فى معنى الآية ولا يلزم من كونه يستحق أن يجازى بعقوبة مخصوصة أن يتحتم ذلك الجزاء وليس فى الآية إخبار بأنه يخلد فى جهنم وانما فيها أنها جزاؤه أى يستحق أن يجازى بذلك وقيل ان المراد من قتل مستحلا وقيل وردت الآية فى رجل بعينه وقيل المراد بالخلود طول المدة لاالدوام وقيل معناه هذا جزاؤه أن جازاه وهذه الأقوال كلها ضعيفة أوفاسدة لمخالفتها حقيقة لفظ الآية

Yang benar makna hadits bahwa balasannya adalah neraka jahanam adalah bisa saja si pembunuh masuk jahanam karena membunuh, atau bisa saja karena dosa lainnya atau bahkan bisa saja dimaafkan.

Jika ia membunuh dengan sengaja dalam kondisi menghalalkan membunuhnya tanpa hak dan takwil, maka ia telah kafir murtad dan kekal didalam neraka berdasarkan ijma ulama. Namun jika membunuhnya tanpa menghalalkannya, bahkan masih berkeyakinan haramnya, maka dia orang fasik yang bermaksiat yang melakukan dosa besar dan balasannya adalah neraka jahanam kekal didalamnya, namun dengan karunia Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa, Dia memberitahu bahwa tidak akan kekal didalam neraka orang yang mati dalam keadaan bertauhid, namun terkadang diberikan ampunan, sehingga tidak masuk neraka sama sekali dan bisa saja diampuni, namun disiksa terlebih dahulu kedalam neraka, sebagaimana pelaku maksiat lainnya, lalu dikeluarkan dan dimasukkan kedalam surga dan tidak kekal didalam neraka.

Inilah pendapat yang benar tentang makna ayat tersebut, tidak melazimkan bahwa sesuatu yang berhak mendapat siksaan, lalu orang yang melakukannya secara otomatis mendapatkan siksaan tersebut. Tidak ada dalam ayat tersebut pemberitahuan bahwa ia kekal didalam jahannam, hanyalah maknanya bahwa balasan orang yang melakukan pembunuhan dengan sengaja, seharusnya kekal didalam jahanam.

Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah pembunuhan dalam kondisi menghalalkan pembunuhan tanpa hak. Yang lain mengatakan ayat ini turun berkaitan dengan orang tertentu. Yang lain lagi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kekal adalah lama masa hukumannya bukan kekal abadi. Yang lain mengatakan makna balasan adalah melampainya. Pendapat-pendapat ini semuanya lemah atau rusak karena menyelisihi lafadz ayat.

  1. Masih berkaitan dengan pendapat sebagian salaf yang mengatakan bahwa pembunuhan seorang mukmin dengan sengaja, tidak terbuka pintu taubat baginya. Maka ini dibawa kepada kebijaksanaan mereka dalam berfatwa, dimana ketika terjadi pada zaman itu banyak pembunuhan kaum Muslimin, sedangkan orang-orang yang bertanya, misalnya kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu sebagaimana dalam hadits diatas dari penduduk yang sedang dilanda konflik perang saudara seperti itu, maka mungkin saja Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu berfatwa demikian agar tidak membuka pintu bagi pihak yang suka membunuh untuk melegitimasi tindakkannya yang melakukan pembunuhan secara serampangan. Perkataan saya ini didasari oleh sebuah riwayat dari Imam Bukhori dalam Adabul Mufrod (no. 85-cet. Maktabah al-Ma’aarif) :

عَنِ ابْنِ أَبِي نُعْمٍ قَالَ كُنْتُ شَاهِدًا ابْنَ عُمَرَ إِذْ سَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ دَمِ الْبَعُوضَةِ فَقَالَ: مِمَّنْ أَنْتَ؟ فَقَالَ: مِنْ أَهْلِ العراق. فقال: انظرو إِلَى هَذَا يَسْأَلُنِي عَنْ دَمِ الْبَعُوضَةِ، وَقَدْ قَتَلُوا ابْنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هما رَيْحَانَيَّ من الدنيا)

Dari Ibnu Abi Nu’min ia berkata, aku menyaksika Ibnu Umar rodhiyallahu anhu ketika ditanya oleh seorang laki-laki tentang darah nyamuk, beliau rodhiyallahu anhu berkata : “darimana engkau?”, laki-laki tadi menjawab : ‘dari Irak’. Maka Ibnu Umar rodhiyallahu anhu berkata : “lihatlah orang ini, ia bertanya kepadaku tentang darah nyamuk, sedangkan mereka (sebagian penduduk Irak) telah membunuh cucu Nabi sholallahu alaihi wa salam (yakni al-Husain bin Ali rodhiyallahu anhu –pent.), padahal aku mendengar Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “keduanya (yakni al-Hasan dan al-Husain rodhiyallahu anhumaa) adalah kesayanganku di dunia” (hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Juga telah masyhur dari salaf, untuk memberlakukan hadits-hadits ancaman sebagaimana datangnya. Imam Ibnu Utsaimin dalam Qoulul Mufiid Syarah Kitabit Tauhid berkata :

أن هذا من باب أحاديث الوعيد التي تمر كما جاءت ولا يتعرض لمعناها،بل يقال: هكذا قال الله وقال رسوله و نسكت؛ فمثلا : قوله تعالى : (وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُتَعَمِّداً فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ

وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً) (النساء:93)، هذه الآية من نصوص الوعيد؛ فنؤمن بها، ولا نتعرض لمعناها ومعارضتها للنصوص الأخرى، ونقول : هكذا قال الله، والله أعلم بما أراد، وهذا مذهب كثير من السلف ؛ كمالك وغيره، وهذا أبلغ في الزجر

Bahwa ini termasuk bab hadits-hadits ancaman yang diberlakukan sebagaimana datangnya tidak dipertentangkan makna, namun dikatakan demikian Allah berfirman dan Rasulnya bersabda lalu ia diam. Misalnya firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa :

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya  (QS. An Nisaa’ : 93).

Ayat diatas termasuk nash-nash ancaman, maka kita beriman dengannya dan tidak kita pertentangkan maknanya dengan nash-nash lain, kita katakan : ‘demikian Allah berfirman dan Allah lebih mengetahui apa yang dimaksud, ini adalah madzhabnya kebanyakan ulama salaf, seperti Maalik dan selainnya, serta hal ini lebih dapat mengena dalam menyampaikan larangan.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: