HUKUM TA’AWUDZ PADA SETIAP RAKAAT

September 5, 2014 at 5:35 pm | Posted in fiqih | 1 Comment

HUKUM TA’AWUDZ PADA SETIAP RAKAAT

  

Setelah para ulama sepakat bahwa membaca ta’awudz pada rakaat pertama disyariatkan, kemudian mereka berbeda pendapat apakah disyariatkan juga pada rakaat-rakaat sholat berikutnya?. Dalam kitab al-Mashuu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah pada point 23 disebutkan :

الاستعاذة مشروعةٌ في الرّكعة الأولى باتّفاقٍ

Ta’awudz disyariatkan pada rakaat pertama berdasarkan kesepakatan ulama.

Kemudian pensyariatan ini apakah hukumnya wajib atau sunnah? Maka mayoritas ulama menghukuminya sunnah, sedangkan madzhab dhohiri menghukuminya wajib dan yang rajih –wallahu A’lam- adalah pendapatnya jumhur ulama, silakan lihat pembahasannya dalam artikel kami : https://ikhwahmedia.files.wordpress.com/2012/06/tafsir-taawudz.pdf

Kembali kepada pokok pembahasan, bahwa para ulama menjadi 2 madzhab dalam menghukumi untuk membaca ta’awudz pada setiap rakaat. Madzhab pertama mengatakan bahwa ta’awudz disyariatkan pada rakaat pertama saja, sedangkan rakaat-rakaat berikutnya tidak disyariatkan. Ini adalah pendapatnya Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah. Dalil mereka adalah :

  1. Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu yang dikeluarkan oleh Imam Muslim bahwa beliau rodhiyallahu anhu berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا نَهَضَ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ اسْتَفْتَحَ الْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) وَلَمْ يَسْكُتْ

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam jika bangkit dari Rakaat kedua memulai bacaan dengan Alhamdulillah dan Beliau sholallahu alaihi wa salam tidak diam.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shoolih al-Munajid dalam fatwanya menukil dari Imam Ibnu Qudamah yang mengambil istimbat hukum dari hadits ini, kata beliau :

وهذا يدل على أنه لم يكن يستفتح ولا يستعيذ

Ini menunjukkan bahwa Beliau tidak membaca doa istiftah dan juga Isti’adzah…

Jadi maksud Imam Ibnu Qudamah dan yang sepakat dengannya bahwa dari hadits ini ketika Rasulullah sholallahu alaihi wa salam memulai rakaat kedua dan begitu seterusnya, Beliau sholallahu alaihi wa salam memulainya dengan Hamdalah, bahkan disebutkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam tidak diam terlebih dahulu, sehingga memberi isyarat beliau tidak memulai membaca apapun sebelum bacaan Al Fatihahnya.

  1. Bahwa bacaan sholat adalah satu paket yang tidak terpisahkan, sehingga ketika diawal rakaat pertama sudah membaca ta’awudz hal tersebut sudah mencukupi untuk seluruh bacaan Al Qur’an. Imam Ibnu Utsaimin dalam fatawanya pernah menjawab pertanyaan sebagai berikut :

واختلف العلماء – رحمهم الله – هل يستعيد في كل ركعة، أم في الركعة الأولى فقط بناء على القراءة في الصلاة هل هي قراءة واحدة أم لكل ركعة قراءة منفردة؟

والجواب: الذي يظهر لي: أن قراءة الصلاة واحدة، فتكون الاستعاذة في أول ركعة

Para ulama berselisih pendapat apakah ta’awudz setiap rokaat atau hanya rakaat pertama saja, berdasarkan pandangan bahwa dalam sholat bacaaan Al Qur’an itu satu kesatuan atau setiap sholat bacaan Al Qur’annya merupakan sesuatu yang sendiri-sendiri.

Jawabannya, yang nampak bagiku bahwa bacaan sholat itu satu kesatuan, oleh karenanya istia’aadzah hanya pada rokaat pertama.

  1. Tidak dinukil secara jelas dan tegas dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa Beliau membaca ta’awudz kecuali pada rakaat pertama saja, seandainya membaca ta’awudz dianjurkan tentu akan dinukil dari Beliau sholallahu alaihi wa salam sifat sholatnya yang membaca ta’awudz pada setiap rokaat. Asy-Syaikh Khoolid Abdul Mun’im dalam fatwannya mengatakan sebagai berikut :

وقد صحَّ عن النَّبيِّ صلَّى الله عليه وسلَّم في حديث أبي سعيد الخدْري: أنَّه صلَّى الله عليه وسلَّم كان إذا قام إلى الصَّلاة استفتح، ثم يقول: “أعوذ بالله السَّميع العليم من الشَّيطان الرَّجيم، من همْزِه ونفْخِه ونفثه” (رواه أبو داود والترمذي)، ولَم ينقَل عنه أنَّه كرَّر الاستعاذة، ولو فعل لنُقل؛ لتوافر الهمم على نقل مثل ذلك

Telah sahih dari Nabi sholallahu alaihi wa salam dalam hadits Abi Sa’id al-Khudriy Rodhiyallahu ‘anhu  bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam jika berdiri sholat, Beliau memulai dengan mengucapkan Audzubillahi as-Samii’il ‘Aliim minasy Syaithoonir Rojiim min Hamzihi wa Nafkhihi wa Naftsihi (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, (dishahihkan oleh Imam Al Albani-pent.).

Namun tidak dinukil dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa Beliau mengulangi ta’awudz, seandainya Beliau sholallahu alaihi wa salam melakukannya tentu akan dinukil, karena banyaknya penukilan seperti hadits ini.

(lihat : http://ar.islamway.net/fatwa/37941/).

  1. Terdapat hadits larangan untuk berbicara didalam sholat, yaitu hadits Mu’awiyyah ibnul Hakaam rodhiyallahu anhu tentang kisah beliau menjawab bersin, kemudian pada akhir kisah Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda kepadanya :

إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ

sesungguhnya sholat itu tidak pantas ada ucapan manusia didalamnya (diluar bacaan sholat-pent.) (HR. Muslim).

Sisi pendalilannya adalah memang benar terdapat ayat dalam Al Qur’an yang memerintahkan (nanti in syaa Allah akan kami tampilkan-pent.) untuk membaca ta’awudz sebelum membaca Al Qur’an, namun dengan tidak adanya dalil khusus yang mengatakan adanya bacaan ta’awudz pada rokaat kedua dan seterusnya, maka ini dianggap sesuatu diluar sholat yang tidak boleh dimasukkan kedalam sholat, sebagaimana jawaban yarhamukallah disyariatkan diluar sholat, namun ketika hal itu dibaca oleh Mu’awiyyah didalam sholat, maka para sahabat langsung menegurnya. Imam Syaukani dalam Nailul Author (2/213) berkata :

وقد ذهب الحسن وعطاء وإبراهيم إلى استحبابه في كل ركعة واستدلوا بعموم قوله تعالى { فإذا قرأت القرآن فاستعذ بالله } ولا شك أن الآية تدل على مشروعية الاستعاذة قبل قراءة القرآن وهي أعم من أن يكون القارئ خارج الصلاة أو داخلها . وأحاديث النهي عن الكلام في الصلاة يدل على المنع منه حال الصلاة من غير فرق بين الاستعاذة وغيرها مما لم يرد به دليل يخصه ولا وقع الإذن بجنسه فالأحوط الاقتصار على ما وردت به السنة وهو الاستعاذة قبل قراءة الركعة الأولى فقط

Al-Hasan, ‘Athoo’, dan Ibrohiim berpendapat dianjurkannya membaca ta’awudz pada setiap rakaat, mereka berdalil dengan Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa : { Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah } (QS. An Nahl : 98). Tidak ragu lagi bahwa ayat ini menunjukkan disyariatkannya Isti’aadzah sebelum membaca Al Qur’an dan ini umum mencakup diluar dan didalam sholat. Lalu datang hadits-hadits larangan untuk berbicara didalam sholat yang menunjukkan larangan pada waktu sholat tanpa ada perbedaan antara isti’aadzah dan lainnya yang tidak datang dalil khusus (yang disyariatkan dibaca didalam sholat-pent.) dan tidak terdapat izin (dari pembuat syari’at-pent.) untuk membolehkan dibaca didalam sholat.

Maka yang lebih hati-hati adalah mencukupkan untuk melakukan apa yang terdapat dalam as-Sunnah yaitu isti’aadzah sebelum membaca Al Qur’an pada rokaat pertama saja.

Pendapat yang mencukupkan diri untuk membaca ta’awudz hanya pada rokaat pertama dianut juga oleh banyak ulama kontemporer, diantaranya : lajnah Daimah yang diketuai oleh Imam bin Baz (namun nanti akan kami nukilkan pendapat yang berbeda dari beliau –pent.), Imam Ibnu Utsaimin, asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Munajid, asy-Syaikh DR. Abdullah al-Faqiih dan selainnya.

 

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa ta’awudz pada setiap rokaat disyariatkan. Ini adalah pendapatnya Imam ibnu Hajiib dari Malikiyyah, pendapat yang rojih dikalangan syafi’iyyah, satu riwayat dari Imam Ahmad, ucapan Imam ‘Athoo’, Imam al-Hasan, Imam Ibrohim an-Nakho’iy, pilihannya Imam Ibnu Hazm dan pilihannya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga, beliau dalam al-Ikhtiyaaroot berkata :

ويستحبّ التعوُّذ أوَّل كلّ قراءة

Disunnahkan ta’awudz pada awal setiap membaca Al Qur’an (dalam sholat-pent.).

Demikian nukilan dari Syaikh Khoolid dalam sumber yang kami sebutkan sebelumnya. Dalil mereka telah disinggung oleh Imam Syaukani sebelumnya, yakni keumuman perintah yang terkandung dalam surat An Nahl ayat 98, dimana Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa memerintahkan untuk membaca ta’awudz sebelum membaca Al Qur’an.

Berdasarkan pemaparan diatas maka kami memilih pendapat kedua yakni disyariatkannya membaca ta’awudz pada setiap rokaat. Alasan pentarjihannya adalah keumuman ayat diatas dan nanti akan kami bawakan hadits yang menunjukkan berlakunya keumuman tersebut. Adapun dalil-dalil yang disampaikan oleh madzhab pertama, bisa kami diskusikan sebagai berikut :

  1. Persaksian dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah tidak diam terlebih dahulu ketika selesai bangkit pada rokaat kedua dan langsung membaca Alhamdulillah sebagaimana hadits diatas, maka hal ini tidak menunjukkan bahwa ta’awudz begitu juga Basmallah tidak dibaca ketika itu. Memang benar bahwa hadits tersebut menunjukkan bahwa doa iftitaah tidak diulangi lagi pada rokaat berikutnya, namun hal ini tidak menafikan untuk membaca ta’awudz dan basmallah ketika itu. Imam Al Albani dalam Ashlu Sifat Sholat Nabi sholallahu alaihi wa salam (3/826) menukil dari al-‘Alamah Muhammad Hamid al-Faqqi komentar beliau tentang tidak diam tersebut katanya :

أما سكتة التعوذ والبسملة؛ فلطيفة جداً لا يحس بها المأموم؛ لاشتغاله بحركة النهوض للركعة

Adapun diamnya (Imam) untuk membaca ta’ awudz dan basmallah ketika itu, maka ini adalah waktu yang sebentar dan makmum tdak terasa, karena mereka sedang sibuk bangkit menuju rokaat kedua.

Mungkin maksud Syiakh Hamid al-Faqqi adalah bahwa Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu sebagai makmum tidak merasa bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam yang bertindak sebagai Imam sholat diam, namun langsung membaca Alhamdulillah. Padahal bisa saja Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam membaca Ta’awudz dan Basmallah, sedangkan pada waktu itu Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu tidak perhatian karena tentunya seorang makmum ketika itu sedang sibuk bangkit menuju rokaat berikutnya, sedangkan sang Imam mendahului makmum dan sempat saja membaca ta’awudz dan basmallah, karena tidak memerlukan diam yang lama -Wallahu A’lam- dan sekaligus juga ini sebagai dalil bahwa ta’awudz dan basmallah dibaca secara sirriyyah.

  1. Adapun bacaan sholat dianggap satu paket atau satu kesatuan, maka tidak bisa dimutlakkan seperti itu, buktinya bahwa seorang yang sengaja tidak membaca Al Fatihah pada rokaat kedua dan seterusnya, padahal sebenarnya ia sempat membaca Al Fatihah, maka sholatnya batal, karena Al Fatihah adalah rukun dalam sholat yang harus dibaca dalam setiap rokaat. Seandainya itu satu paket, maka tentu orang yang tidak membaca Al Fatihah pada rokaat-rokaat berikutnya, maka tidak batal sholatnya, karena mencukupi bacaan Al fatihah yang pada rokaat pertama. Imam Al Albani dalam Sifat Sholat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam telah membuat sebuah pasal pembahasan tentang wajibnya membaca Al Fathah pada setiap rokaat, lalu beliau berdalil dengan hadits orang yang salah sholatnya dimana disitu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengajarkan kepada orang tersebut mulai dari takbir sampai sujud kedua, kemudian pada akhir hadits Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda kepadanya :

ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا

Kemudian lakukan hal tersebut dalam seluruh (rokaat) sholatmu (Muttafaqun ‘alaih).

Oleh karena itu bacaan Al Fatihah merupakan bacaan yang berdiri sendiri dalam hukumnya pada setiap rokaatnya, sehingga ayat 98 An Nahl masuk kedalam keumuman untuk membaca ta’awudz sebelum membaca Al Qur’an.

  1. Tidak dinukilnya hal tersebut dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, padahal seharusnya kalau membaca ta’awudz merupakan sunnah sholat, tentu akan banyak dinukil dari Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam, karena tentunya ini sering dikerjakan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam. Maka kami katakan bahwa telah dinukil dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, Beliau membaca ta’awudz sebelum membaca Al Fatihah pada rokaat pertama dan rokaat-rokaat berikutnya merupakan pengulangan dari rokaat pertama, kecuali ada hal lain maka Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam akan menjelaskan, misalnya pada rokaat kedua dalam sholat yang terdiri dari 3 atau empat rokaat bahwa disana ada tambahan duduk tasyahud, maka Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam menerangkan kepada umatnya begitu juga misalnya adanya salam pada rokaat terakhir dan seterusnya. Tentunya kalau dilazimkan bahwa untuk setiap rokaat harus ada dalilnya, maka kami boleh menanyakan apakah ada dalil yang langsung secara leterleck misalnya bahwa pada waktu ruku’ di rokaat kedua harus membaca dzikir-dzikir ruku sebagaimana yang dikenal? Apakah ada juga dalil bahwa pada waktu sujud kedua pada rokaat kedua harus membaca dzikir-dzikir sujud dan seterusnya. Justru dengan tidak adanya penukilan tersebut menunjukkan bahwa sebelum membaca Al Fatihah disyariatkan membaca ta’awudz seperti pada rokaat pertama.

Jika ada yang mengatakan seharusnya juga dibaca doa iftitah seperti rokaat pertama? Maka hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu yang disebutkan pada point pertama sebagai dalil madzhab yang pertama, menunjukkan tidak dibacanya doa iftitah. Imam Al Albani dalam al-Ashlu (3/825) :

فالحديث نص في نفي مشروعية دعاء الاستفتاح، ولكنه لا ينفي مشروعية الاستعاذة.

Maka hadits ini (hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu diatas, -pent.) nash penafian disyariatkannya doa istiftaah (pada semua rokaat), namun hal ini tidak menafikan disyariatkannya isti’aadzah.

  1. Pendapat Imam Syaukani bahwa keumuman perintah membaca ta’awudz sebelum membaca Al Qur’an dalam ayat 98 surat An Nahl, dibatasi oleh hadits larangan untuk memasukan ucapan yang bukan sebagai hal yang disyariatkan dalam sholat, maka ada beberapa hal yang bisa didiskusikan :

A. Bacaan ta’awudz adalah bacaan yang sah sebagai bacaan sholat sebelum membaca Al Fatihah, sebagaimana dalil yang telah disebutkan diatas, sehingga orang yang membaca ta’awudz bukan menambahkan ucapan yang asalnya tidak sah didalam sholat, seperti misalnya membaca yarhamukallah bacaan bagi orang yang mendengar saudaranya membaca Hamdalah ketika bersin, sebagaimana asbabul wurud dari hadits larangan pembicaraan diluar sholat yang dimasukkan kedalam sholat, yang diisyaratkan oleh Imam Syaukani.

B. Kemudian Imam Syaukani menyebut tidak adanya izin untuk membaca ta’awudz didalam sholat pada setiap rokaatnya, maka disini kami ingin menyampaikan sebuah hadits yang merupakan dalil lain yang menguatkan madzhab kedua bahwa keumuman ayat perintah ta’awudz bisa diterapkan dalam sholat. Haditsnya adalah berasal dari riwayat Ustman bin Abil ‘Aash Rodhiyallahu ‘anhu bahwa :

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي وَقِرَاءَتِي يَلْبِسُهَا عَلَيَّ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ، فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ، وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلَاثًا» قَالَ: فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللهُ عَنِّي

Beliau mendatangi Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam lalu bertanya : “wahai Rasulullah, sesungguhnya syaithon mengganggu sholat dan bacaanku, sehingga aku dibuat samar olehnya”. Maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “itu syaithoon yang bernama khonzab, jika ia membuat was-was kepadamu, maka mohonlah perlindungan kepada Allah darinya, lalu meludahlah 3 kali kesamping kirimu”. Ustman Rodhiyallahu ‘anhu berkata : “lalu aku melaksanakan tips Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam tersebut, maka Allah menghilangkan gangguannya kepadaku” (HR. Muslim).

Dari hadits ini dapat diambil faedah bahwa kapan pun seorang mendapatkan gangguan dari syaithoon ketika sholat, maka hendaknya ia berta’awudz lalu meludah kekiri sebanyak 3 kali. Bisa saja ketika ruku’ diganggu maka berta’awudz ketika itu, atau pada saat sujud di rakaat berapapun asalkan merasa terganggu, maka lakukanlah perintah Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam tersebut.

Maka hampir serupa dengan ini adalah izin dari Allah Subhanahu wa Ta’alaa dalam ayat-Nya yang mulia bagi setiap Muslim untuk membaca ta’awudz sebelum membaca Al Qur’an dan termasuk didalamnya ketika sedang sholat. Wallahu A’lam.

 

Kesimpulannya, disyariatkan untuk membaca ta’awudz pada setiap rokaat sebelum membaca Al Fatihah dan surat lainnya.

Dan pada akhir pembahasan kami nukilkan fatwa dari Imam bin Baz agar saling menghormati perbedaan pendapat dalam masalah ini, berikut perkataan beliau  :

أما التسمية فالسنة في كل الركعات، إذا كنت تقرأ سورة مستقلة تسمي قبلها، أما الاستعاذة فسنة في الركعة الأولى، أما الركعات الأخرى فاختلف فيها العلماء هل تشرع الاستعاذة أم لا؟

 

فمن استعاذ فلا بأس ومن ترك فلا بأس في الركعات الأخرى، لكن تشرع الاستعاذة في الركعة الأولى بتأكيد وهكذا التسمية، أما في الركعات الأخرى فيسن.. رجل أو امرأة، يسن إذا افتتح سورة، أما إذا كان يقرأ بعض آيات فلا حاجة إلى التسمية تكفي التسمية الأولى عند قراءته الفاتحة.

Adapun tasmiyyah pada setiap rokaat jika engkau membaca surat tersendiri maka bertasmiyyah sebelumnya. Adapun isti’aadzah maka sunnah di rokaat pertama, adapun rokaat-rokaat yang lain, maka terjadi perselisihan ulama apakah disyariatkan isti’aadzah pada setiap rokaat atau tidak?

Barangiapa berta’awudz maka tidak mengapa, barangsiapa yang tidak berta’awudz juga tidak mengapa, namun disyariatkan isti’aadzah pada rokaat pertama dengan perintah yang kuat, demikian juga tasmiyyah, adapun pada rokaat berikutnya, maka disunahkan…

Seorang laki-laki dan wanita disunnahkan jika membaca surat (membaca ta’awudz dan Basmalah), adapun jika ia membaca sebagian ayat, maka tidak perlu tasmiyyah lagi, cukup tasmiyyah yang pertama ketika membaca Al Fatihah.

Sumber : http://www.binbaz.org.sa/mat/4431

Advertisements

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Terimakasih dengan penjelasannya, sangat membamembantu kami untuk mendalami ilmu agama Islam

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: