SAHKAH SHOLAT WANITA DI LANTAI ATAS MASJID?

September 12, 2014 at 2:43 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

SAHKAH SHOLAT WANITA DI LANTAI ATAS MASJID?

 

Soal : ana membaca fatwa (no. 45611) : apa pendapat anda wahai Syaikh terhadap kebanyakan masjid yang membangun tempat sholat wanita di lantai atas masjid, apa ini termasuk tidak bersambung shofnya?

Adapun pertanyaannya adalah : kami memiliki masjid di kampung yang memiliki tempat khusus bagi wanita yang ada di lantai atas. Pada saat sholat tarawih, masjid menjadi sesak dengan kehadiran para wanita didalamnya. Pada suatu hari Imam Masjid menukilkan kepada kami sebuah fatwa bahwa sholat wanita di rumah-rumah mereka dibelakang Imam Masjid boleh dengan syarat mendengar suara Imam yang mana diketahui gerakan sholat imamnya dan seterusnya. Oleh sebab itu, salah satu pemilik rumah yang ada didekat masjid yang memiliki ruangan luas menyediakan bagi para wanita untuk sholat tarawih di rumahnya dibelakang Imam. Sekarang salah satu wanita tersebut bertanya kepadaku setelah keluarnya fatwa syaikh, apakah sah sholatku di kamarku dibelakang Imam.a  WANITA DI LANTAI ATAS MASJID?

Jawab :

Yang pertama : jika tempat sholat wanita di lantai atas masjid atau di lantai bawah, maka sholat mereka sah, karena masih tercakup kedalam masjid, tidak dipersyaratkan tersambung shofnya. Hal ini kondisinya berbeda dengan perselisihan yang ada dikalangan ulama tentang persyaratan bersambungnya shof bagi orang yang sholat diluar masjid (lihatlah al-Inshof 2/293).

Syaikh Ibnu Utsaimin –Rahimahullah-  pernah ditanya : apa hukumnya sholat wanita di masjid yang tidak melihat Imamnya juga makmum (laki-lakinya-pent.), hanya sekedar mendengar suaranya saja?

Beliau menjawab : boleh bagi wanita dan juga laki-laki untuk sholat berjamaah di masjid, sekalipum tidak melihat Imam dan juga Makmum lainnya, jika masih bisa mengikutinya. Jika suara Imam sampai kepada para wanita didalam masjid dan memungkinkan bagi mereka untuk mengikuti Imam, maka sah sholat berjamaahnya bersama Imam. Karena tempatnya satu dan mengikuti imam masih bisa dilakukan, sama saja apakah melalui pengeras suara atau mendengar suara Imamnya secara langsung atau suara orang yang mengeraskannya lagi.

Hal ini tidak merusak sholatnya, sekalipun tidak melihat Imam dan Makmumnya, hanyalah sebagian ulama mempersyaratkan melihat Imam dan Makmumnya jika sholatnya berada diluar masjd, karena para fuqoha mengatakan sah makmum mengikuti sholat diluar masjid jika melihat imam atau makmumnya. Namun yang rajih menurutku bahwa tidak sah bagi makmum diluar masjid untuk mengikuti imam, sekalipun melihat Imam dan Makmum, jika di masjid masih ada tempat yang memungkinkan ia sholat didalamnya, yang demikian karena maksud sholat berjamaah adalah berkumpul didalam satu tempat dan satu perbuatan. Adapun jika masjidnya penuh dan mengharuskan ada beberapa orang yang sholat diluar masjid bersama imam dan memungkinkan baginya untuk mengikuti gerakan imam, maka pendapat yang rojih bolehnya mengikuti dan bermakmum kepada Imam, sama saja apakah ia melihat Imamnya atau tidak, jika shafnya menyambung.

Untuk menjelaskan masalah ini aku katakan :

  1. Jika makmum dalam satu masjid, maka bermakmumnya ia kepada Imam adalah Sah dalam kondisi apapun. Sama saja apakah ia melihat imam atau tidak, melihat makmumnya atau tidak, karena ia berada satu tempat (bersama imam-pent.).

Misalnya : makmum berada di lantai atas atau bawah dan Imam berada diatasnya yangmana diantara mereka terhalangi oleh pembatas, tembok atau sutroh.

  1. Jika makmum berada diluar masjid, namun masjidnya masih lapang, maka bermakmum dengan Imam tidak sah, sama saja apakah ia melihat imam atau makmum atau tidak melihat mereka semua, karena yang wajib untuk berjamaah adalah dalam satu tempat.
  2. Jika tidak didapati tempat kosong didalam masjid, sehingga harus sholat diluar masjid, maka jika shofnya bersambung sah untuk bermakmum kepada imam, sekalipun tidak melihatnya, karena shof yang bersambung, seolah-olah mereka dalam satu masjid –selesai- (majmu’ fatawa asy-Syaikh Ibnu Utsaimin (15/213).

Yang kedua : sholatnya wanita di rumah yang bertetangga dengan masjid, yang mana ia tidak melihat Imam dan makmumnya dan tidak tersambung shofnya, dan ia hanya mendengarkan suaranya saja, maka para ulama berbeda pendapat padanya, sebagian melarangnya dan sebagian membenarkannya. Dari ucapan Syaikh ibnu Utsaimin sebelumnya, diambil faedah bahwa sah sholatnya jika tersambung shofnya sampai ke rumah wanita tersebut, maka ketika itu tidak mengapa sholat di rumahnya. Adapun jika tidak bersambung shofnya sampai ke rumahnya, maka sholatnya bersama Imam tidak sah di rumahnya.

Imam Nawawi –Rahmahullah- berkata : seandainya ia sholat di rumah atau yang sejenisnya dengan mengikuti imam di masjid dan diantara jaraknya dengan masjid terhalang tembok, maka sholatnya tidak sah menurut kami dan ini adalah pendapatnya Ahmad. Maalik berkata : sah sholatnya pada waktu sholat jum’at. Abu Hanifah berkata : sah secara mutlak –selesai- (al-Majmu’ (4/200).

Ibnu Qudamah berkata : jika ada antara imam dengan makmumnya penghalang dari tembok yang menghalangi penglihatannya kepada imam atau makmum dibelakangnya, maka Ibnu Haamid berkata : dalam masalah ini ada 2 pendapat :

  1. Tidak sah bermakmum kepadanya
  2. Sah

(al-Qoodhi memilih pendapat bahwa sholatnya sah jika didalam masjid dan tidak sah diluar masjid –selesai- al-Mughni (3/45). Yang dijadikan patokan dalam madzhabnya Hanabilah adalah tidak sah bermakmum kepadanya (lihat al-Inshof (2/296) dan Kasyful Qonaa’ (1/491)).

Kesimpulannya, permasalahan ini adalah yang diperselisihkan oleh para ulama tentang sahnya bermakmum dalam kondisi seperti itu. Oleh karenannya, yang lebih hati-hati para wanita untuk sholat di masjid lain yang lebih luas tempatnya atau mendatangkan orang yang akan mengimami sholat mereka, sekalipun imamnya membaca dari mushaf, maka ini lebih baik bagi mereka untuk menunaikan ibadah yang masih diperselisihkan keabsahannya.

Lajnah Daimah telah berfatwa tentang tidak sahnya mengikuti imam dalam bentuk seperti itu, kecuali jika shofnya tersambung. Lajnah ditanya : apa hukum sholat jamaah di rumah karena merasa cukup mendengar pengeras suara dari masjid dan tidak tersambung shofnya antara Imam dan makmumnya, hal ini banyak terjadi di Madinah dan di Mekkah pada musim haji?

Jawab :

Tidak sah sholatnya, ini adalah madzhabnya Syafi’iyyah dan pendapatnya Imam Ahmad, kecuali jika bersambung shofnya dan memungkinkan baginya untuk mengikuti imam dengan melihat atau mendengar suaranya, maka sholatnya sah, sebagaimana sahnya sholat shof yang bersambung sampai ke rumahnya. Adapun tanpa syarat yang telah disebutkan, maka tidak sah, karena yang wajib bagi setiap muslim untuk menunaikan sholat jamaah di rumah-rumah Allah Azza wa Jalla bersama kaum Muslimin. Berdasarkan sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam : “barangsiapa yang mendengar adzan, lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada sholat baginya, kecuali karena udzur” (HR. Ibnu Majah, Daruquthni dan Al Hakim, Al Hafidz berkata : sanadnya atas syarat Muslim).

Dan Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah berkata kepada orang buta yang meminta keringanan untuk sholat di rumahnya, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam bertanya kepadanya : “apakah engkau mendengar adzan?”. Ia menjawab : “betul”, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “penuhilah panggilannya” (HR. Muslim) –selesai- dari fatwa Lajnah Daimah (8/31).

Wallahu A’lam.

 

Mufti : asy-Syaikh al-Faqiih Muhammad bin Sholih al-Munajid

Teks asli lihat di : http://islamqa.info/ar/93369

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: