PUASA ARAFAH TERIKAT DENGAN WAKTU BUKAN TEMPAT

October 3, 2014 at 5:19 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

PUASA ARAFAH TERIKAT DENGAN WAKTU BUKAN TEMPAT

 

Sebelum membahas permasalahan ini ada beberapa point yang perlu disampaikan :

  1. Telah dimaklumi bahwa hari Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzhulhijjah dalam kalender hijriyyah.
  2. Dalam bulan hijriyyah satu bulannya berisi antara 29 atau 30 hari, tidak lebih dan tidak kurang.
  3. Cara penentuan awal tanggal dalam bulan hijriyyah adalah dengan memperhitungkan apakah hilal bulan sudah terlihat atau belum? Sebagaimana Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji (QS. Al Baqoroh : 189).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil riwayat dari Abdur Rozaq dari Abdul Aziz bin Abi Rowwaad dari Naafi’ dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu beliau berkata, Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

جَعَلَ اللَّهُ الْأَهِلَّةَ مَوَاقِيتَ لِلنَّاسِ فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنَّ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ يَوْمًا

Allah menjadikan bulan sabit sebagai pertanda waktu bagi manusia, maka berpuasalah karena melihat hilal, berbukalah karena melihatnya dan jika tertutup mendung, maka genapkan bulannya menjadi 30 hari. (sanad ini hasan).

  1. Bahwa kenyataan yang ada didunia ini masing-masing wilayah memiliki mathla’ (waktu terbitnya bulan) yang berbeda-beda tergantung letak geografis wilayahnya. Para ulama berbeda pendapat apakah perbedaan mathla’ dapat dijadikan acuan dalam penetapan waktu untuk bulan-bulan hijriyyah di masing-masing negeri yang se-mathla’ dengannya. Sebagian mereka mengatakan bahwa masing-masing negara Islam dapat menentukan sendiri awal masuknya bulan berdasarkan penglihatan hilal di negerinya masing-masing.

Kembali kepada inti permasalahan, maka jika hari arofah merupakan tanggal 9 bulan Dzulhijjah, padahal di masing-masing negeri berbeda-beda dalam penentuan awal bulannya, sehingga konsekuensinya tanggal 9 Dzulhijjah alias hari arofah akan berbeda-beda juga di masing-masing negara. Namun untuk pelaksanaan wukuf pada waktu haji, karena Arafah hanya ada satu tempat di dunia ini, yakni sekarang berada dibawah pemerintahan Saudi Arabia, maka waktu pelaksanaanya adalah sesuai dengan penentuan awal bulan pemerintahan Saudi Arabia, berdasarkan kondisi nampak tidaknya hilal di wilayah mereka.

Adapun negara lain, maka penentuan awal bulan bisa saja berbeda dengan pemerintahan Saudi Arabia, tergantung nampak-tidaknya hilal di wilayah masing-masing. Sehingga bisa saja tanggal 9 Dzhulhijjah di Saudi Arabia jatuh pada hari Jum’at, sedangkan di Indonesia jatuh pada hari Sabtu –misalnya-. Oleh karenanya kaum Muslimin di Indonesia melaksanakan puasa Arafah pada hari Sabtu dan keesokan harinya mengadakan sholat Iedhul Adha, berbeda dengan Saudi Arabia yang berpuasa Arafah pada hari Jum’at dan sholat Iednya pada hari Sabtu. Yang jadi patokan adalah puasa terikat dengan waktu bukan dengan tempat.

Yang menguatkan bahwa puasa terikat dengan waktu adalah dalil-dalil berikut :

  1. Hadits riwayat Imam Bukhori dan Muslim dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu –ini lafadz Muslim- bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda :

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمُ الشَّهْرُ فَعُدُّوا ثَلَاثِينَ

Berpuasalah karena melihat hilal, berbukalah karena melihatnya dan jika tertutup mendung, maka genapkan bulannya menjadi 30 hari.

Sehingga dalam permasalahan kita ini, ketika hilalnya tidak nampak di Indonesia, sekalipun mungkin ternyata nampak di Saudi Arabia, maka yang dijadikan patokan adalah hilal di negeri dimana kita tinggal. Jika hilal nampak maka telah masuk awal bulan, namun jika belum nampak, berarti digenapkan bulan tersebut menjadi 30 hari dan lusanya baru masuk tanggal 1 bulan berikutnya.

ِA. Sebagian orang ada yang mengatakan bahwa hadits ini khusus untuk bulan Romadhon, maka dapat kita jawab :ِزTidak ada dalil pengkhususan bahwa hal tersebut adalah untuk bulan Romadhon saja, sehingga seharusnya dibawa kepada keumumannya. Maka bagi yang mengatakan bahwa hadits ini berlaku hanya untuk bulan romaadhon saja, ia harus membawa dalil pengkhususannya.

B. Hadits ini sesuai dengan surat Al Baqoroh ayat 189 sebagaimana yang kami nukil sebelumnya, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa menjadikan hilal sebagai tanda waktu-waktu bagi manusia dan kapan pelaksanaan haji berdasarkan waktu-waktu tersebut.

2. Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

Waktu puasa adalah hari dimana orang-orang berpuasa, berbuka adalah hari dimana orang-orang berbuka dan menyembelih adalah hari dimana orang-orang menyembelih (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini berkomentar :

وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ هَذَا الحَدِيثَ، فَقَالَ: إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالفِطْرَ مَعَ الجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ

Sebagian ulama menafsirkan bahwa hadits ini maknanya adalah berpuasa dan berbuka bersama jamaah dan mayoritas masyarakatnya.

Sehingga berdasarkan dalil-dalil diatas dan dalil lainnya bahwa puasa Arafah adalah terikat dengan waktu bukan dengan tempat yang artinya masing-masing negara akan berbeda-beda sesuai dengan perbedaan penentuan tanggal dalam bulan mereka.

Sebagian ulama mengatakan bahwa puasa Arafah terikat dengan tempat, yakni puasa ini dilakukan pada saat jamaah haji sedang wukuf di Arafah yang berarti bahwa puasa ini mengikuti penentuan tanggal 9 Dzulhijjah pemerintah Arab Saudi yang memiliki wilayah Arafah. Dalil mereka adalah Rasulullah sholallahu alaihi wa salam menyebut puasa ini dengan puasa Arafah sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

Puasa Arafah aku berharap kepada Allah akan diampuni dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.

Istidlalnya adalah Arafah yakni maksudnya wukuf arafah hanya terjadi di padang Arafah yang menjadi wilayahnya Saudi Arabia, tidak ada tempat wukuf lain selain Arafah disana, sehingga orang-orang dinegara lain yang ingin berpuasa harus mengikuti waktu wukufnya jamaah haji disana. Terhadap hal ini maka dapat kami diskusikan sebagai berikut :

  1. Dimaklumi bahwa hari Arafah adalah tanggal 9 Dzulhijjah dan telah diketahui bersama bahwa terjadi perbedaan penentuan awal bulan Dzulhijjah berdasarkan hilal yang terlihat atau tidak pada masing-masing negara, sehingga otomatis tanggal 9 Dzulhijjah juga berbeda-beda tergantung penetapan masing-masing negara, sehingga tidak ada halangan untuk mengatakan bahwa tanggal 9 di negaranya merupakan hari Arafah yang mungkin saja berbeda dengan tanggal pelaksanaan wukuf Arafah di Saudi Arabia, sebagaimana boleh mengatakan bahwa tanggal 10 Dzulhijjah di negaranya adalah Iedhul Adha, sekalipun di Saudi Arabia –misalnya itu- adalah tanggal 11 Dzulhijjah yang merupakan hari Tasyirk. Karena Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

Menyembelih adalah hari dimana orang-orang menyembelih

  1. Puasa Arafah adalah rangkaian dari puasa 10 hari pada bulan Dzulhijjah yang memiliki keutamaan yang besar, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ» يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرٍِ

Tidak ada satu hari yang ketika beramal sholih pada hari-hari tersebut lebih dicintai Allah yaitu 10 hari (awal) bulan Dzulhijjah (HR. Ashabus Sunah, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Dalam riwayat lain Nabi sholallahu alaihi wa salam mengisi hari-hari tersebut dengan puasa padanya, sebagaimana hadits berikut :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berpuasa pada 9 hari bulan Dzulhijjah (HR. Abu Dawud dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad dalam Syarah Sunan Abu Dawud berkata :

العشر من ذي الحجة ما عدا يوم العيد

(maksudnya) 10 hari pada bulan Dzulhijjah, kecuali pada hari Iednya.

Berdasarkan kedua hadits tersebut, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengikat puasa 9 hari awal Dzulhijjah dengan waktu, bukan dengan tempat. Seandainya puasa ini terikat dengan tempat sebagaimana puasa Arafah menurut mereka, maka Rasulullah akan menjelaskan bahwa keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah mengacu kepada pelaksanaan haji, namun nyatanya disini Rasulullah sholallahu alaihi wa salam mengikatnya dengan waktu yakni bulan Dzulhijjah. Sehingga puasa Arafah yang merupakan rangkain dari keutamaan 10 hari awal bulan Dzulhijjah, seharusnya terikat dengan waktu bukan dengan tempat.

Kesimpulannya yang rajih menurut kami puasa Arafah terikat dengan waktu bukan tempat, sekalipun kami memandang ini adalah masalah ijtihadiyyah yang ada keluasaan untuk berbeda pendapat sesuai dengan keyakinan dari petunjuk para ulama kita. akhirnya Kami tutup dengan jawaban fatwa dari Markaz Fatwa ulama Saudi Arabia, sebagai berikut :

Menurut penelitian Muhaqiqin bahwa perbedaan mathla’ bisa dijadikan acuan. Hal ini berlaku untuk semua bulan. Telah dimaklumi bahwa antar mathla’ terjadi selisih waktu. Yang menjadi dalil bahwa hal ini dapat dijadikan acuan adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari hadits Kuroib maula Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu, bahwa Ummu Fadhl bintu al-Harits mengutusnya untuk suatu keperluan ke Muawiyyah rodhiyallahu anhu di Syam, Kuroib bercerita :

فقدمت الشام فقضيت حاجتها واستهل علي رمضان وأنا بالشام، فرأيت الهلال ليلة الجمعة، ثم قدمت المدينة في آخر الشهر فسألني عبد الله بن عباس ثم ذكر الهلال، فقال: متى رأيتم الهلال؟ فقلت: رأيناه يوم الجمعة، فقال: أنت رأيته؟ فقلت: نعم، ورآه الناس وصاموا وصام معاوية فقال: لكنا رأيناه ليلة السبت، فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين أو نراه، فقلت: فلا تكتفي برؤية معاوية وصيامه؟ فقال: لا هكذا أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم

aku mendatangi Syam untuk menunaikan suatu keperluan, lalu hilal Romadhon sudah masuk pada waktu aku masih di Syam, aku melihat Hilal pada malam jum’at. Kemudian aku pulang ke Madinah pada akhir bulan, Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu menanyaiku lalu diceritakan tentang masalah Hilal, beliau berkata : ‘kapan kalian melihat Hilal?’, aku menjawab : ‘kami melihatnya pada malam Jum’at’. Beliau menyahut lagi : ‘engkau melihatnya?’. Kujawab : ‘iya, orang-orang juga melihatnya, lalu mereka berpuasa dan Mu’awiyyah pun berpuasa’. Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu berkata : ‘namun kami melihatnya pada malam sabtu, sehingga kami belum berpuasa sehingga menggenapkan bulan (Sya’ban) 30 hari atau kami melihatnya. aku berkata : ‘kenapa engkau tidak mencukupkan diri dengan penglihatan Mu’awiyyah dan puasanya?’, beliau menjawab : ‘tidak, demikian Rasulullah sholallahu alaihi wa salam memerintahkan kami’.

Sisi pendalilan dari hadits ini sangat jelas dan ada beberapa point yang menjadi catatan :

  1. Kaum muslimin pada waktu itu daulahnya satu dan Mu’awiyyah rodhiyallahu anhu adalah kholifahnya, sedangkan Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu adalah rakyatnya, seandainya perbedaan mathla’ tidak dianggap, maka tidak ada keluasan dalam perselisihan ini.
  2. Kuroib mengabari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu bahwa dirinya melihat hilal dan manusia juga mellihatnya, ia pun berpuasa, begitu juga orang-orang, namun Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu tidak mengambil rukyahnya. Kuroib adalah Tabi’i besar termasuk ulama utama yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan para sahabat lainnya, beliau banyak diriwayatkan haditsnya oleh Bukhori-Muslim dan selainnya.
  3. Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu mengatakan bahwa “demikian Rasulullah sholallahu alaihi wa salam memerintahkan kami”. Beliau menyandarkan hal tersebut kepada perintah Nabi sholallahu alaihi wa salam, maka ini adalah istidlal untuk menyandarkan hal tersebut kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam, yang tidak dikatakan secara nash dan isyarat dari Nabi sholallahu alaihi wa salam secara langsung.
  4. Perbedaan waktu tenggelamnya matahari antara Syam dengan Madinah cukup panjang, sebagaimana diketahui.

Berdasarkan ini kaum Muslimin akan senantiasa berbeda dalam penentuan awal dan akhir puasa, begitu juga penentuan hari Arafah dan hari Ied, selama mathla’ mereka berbeda, karena yang dijadikan patokan adalah masuknya bulan dengan rukyah Hilal atau menggenapkannya menjadi 30 hari (jika tidak terlihat hilal-pent.). sehingga hari Arafah dan hari Ied yang ada di Mekkah dapat berbeda dengan hari Arafah dan hari Ied yang ada di tempat lain yang berbeda mathla’ nya seperti di Syam dan negara lain. Jika hilal terlihat lebih akhir daripada hilalnya penduduk Mekkah –misalnya-, maka tidak bisa dikatakan bahwa mereka berpuasa hari Arafah pada waktu penduduk Mekkah sedang Ied dan puasanya terlarang, karena pada waktu itu hari Ied belum masuk menurut penduduk negara lain. Adapun negara yang memiliki satu mathla’, maka mengharuskan mereka untuk sama puasa dan Iednya jika melihat hilal atau menggenapkan 30 hari, lalu mereka berpuasa atau berkurban secara bersama-sama, karena tetapnya hilal disisi mereka atau menggenapkan bulannya.

Tidak benar ia mengikuti negara lain, tidak benar juga ia menyelisihi dan berbeda dalam masalah ini, karena telah tetap dalam Sunan Abu Dawud bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

Waktu puasa adalah hari dimana orang-orang berpuasa, berbuka adalah hari dimana orang-orang berbuka dan menyembelih adalah hari dimana orang-orang menyembelih.

Adapun jika ia tidak menggenapkan bulan dan tidak melihat hilal, lalu diberitahu bahwa telah masuk atau habis bulan dari penduduk negara lain yang berbeda mathla’nya, dan ia mengambil pendapat madzhab kebanyakan Fuqoha yang mengatakan tidak dianggapnya perbedaan mathla’, maka ia berpuasa atau berbuka bersama mereka, sekalipun menyelisihi penduduk negerinya, maka tidak diingkari, karena ia berpegang kepada pendapat mu’tabar dari kalangan ulama. Kesimpulannya perkara ini luas, Wallahu A’lam.

Sumber : http://jalaan.com/forum/showthread.php?t=31350

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: