KEMATIAN MALAIKAT

October 14, 2014 at 4:24 pm | Posted in Aqidah | 2 Comments

KEMATIAN MALAIKAT

 

Asy-Syaikh Muhammad Sholih al-Munajid pernah menjawab pertanyaan berkaitan dengan riwayat tentang wafatnya para malaikat, berikut jawaban beliau :

Malaikat adalah termasuk hal ghoib yang kita diperintahkan Allah untuk mengimaninya dan meneliti hakikatnya. Allah mewajibkan bagi kita untuk menerima apa yang datang berupa wahyu terkait hal tersebut dan melarang kita untuk berpaling dalam masalah ini tanpa dalil dan petunjuk. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman :

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS. Al Israa’ : 36).

Barangsiapa yang berbicara tentang Malaikat tanpa hujjah yang shahih, maka sungguh ia telah melapai batas dan menyeleweng ketika ditanya tentang ilmu ghoib.

Berkaitan kematian malaikat, para ulama terbagi menjadi 2 pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa malaikat akan mati juga, ini adalah ucapannya kebanyakan ulama, sampai-sampai al-Munawiy menukil adanya ijma (kesepakatan) tentang hal ini dalam Faidhul Qodiir (3/561). Lalu jika mereka mati, Allah akan menghidupkannya sebelum manusia dihidupkan. Mereka berdalil dengan dalil-dalil sebagai berikut :

  1. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman :

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah (QS. Al Qoshosh : 88).

Mereka berkata : ‘Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa telah menetapkan kehancuran segala sesuatu kecuali Diri-Nya, Dia tidak mengecualikan seorang pun dari makhluknya, maka hal ini mencakup juga para malaikatnya’ (Tafsir al-Qurthubi : 17/165).

Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu berkata : ‘ketika turun ayat ini yaitu :

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa (QS. Ar Rahmaan : 26).

Maka Malaikat berkomentar : ‘binasalah penduduk bumi’., maka Allah menurunkan ayat :

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah (QS. Al Qoshosh : 88).

Maka malaikat pun ikut fana dengan kebinasaan, dikatakan oleh Muqootil-selesai-.

Namun hal ini dapat disanggah bahwa atsar yang berkaitan dengan Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu aku tidak menemukannya dengan sanad yang shahih dan keumuman ayat tersebut mencakup penduduk bumi, bukan penghuni jannah, karena yang tinggal di jannah tidak mati berdasarkan kesepakatan ulama, oleh karenanya mungkin saja malaikat diikutkan kepada penghuni jannah seperti bidadari dan selainnya.

  1. Didalam hadits yang panjang yang dikenal dengan hadits “Sangkakala” yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu, ditulis haditsnya oleh sekelompok ahli hadits dengan lafadz yang hampir mirip dengan penambahan dan pengurangan, namun semua lafadznya menyepakati penyebutan kematian malaikat yang agung yaitu : Jibril, Mikaail, Isrofiil dan Malaikat Maut. Lafadnya sebagai berikut :

( ثم يجيء ملك الموت إلى الجبار ، فيقول : يا رب ، قد مات حملة العرش ، فيقول الله وهو أعلم : من بقي ؟ ، فيقول : بقيت أنت يا رب ، الحي الذي لا تموت ، وبقي جبريل وميكائيل ، وبقيت أنا ، فيقول الله : فليمت جبريل وميكائيل ، فيموتان ، وينطق الله العرش فيقول : يا رب ، تميت جبريل وميكائيل ؟ فيقول الله له : اسكت ، فإني كتبت الموت على من تحت عرشي ، ثم يجيء ملك الموت إلى الجبار فيقول : يا رب ، مات جبريل وميكائيل ، فيقول الله وهو أعلم : فمن بقي ؟ فيقول : بقيت أنت الحي الذي لا تموت ، وبقيت أنا ، فيقول الله : أنت خلق من خلقي ، خلقتك لما قد ترى ، مت … ثم قال : أنا الجبار ، ثم ينادي : لمن الملك اليوم ؟ ثم يرد على نفسه : لله الواحد القهار ، يقول ذلك ثم ينادي : ألا من كان لي شريكا فليأت ، فلا يأتيه أحد ، قال ذلك ثلاثا

Lalu Malaikat maut melapor kepada Al Jabaar (Allah), beliau berkata : “wahai Rabb, telah meninggal malaikat pembawa Arsy”. Maka Allah berfirman –dan Dia Maha Tahu- : “siapa lagi yang tersisa?”. Malaikat maut menjawab : “tersisa Engkau wahai Rabb Yang Maha Hidup tidak akan mati, lalu tersisa Jibril, Mikaail dan saya”. Kemudian Allah berfirman : “matikanlah Jibril dan Mikaail! Sehingga kedianya mati. lalu malaikat maut menghadap Allah di Arsy-Nya dan berkata : “wahai Rabb, telah engkau akan mematikan Jibril dan Mikaail?”, Allah berfirman : “diamlah!, karena aku telah menulis kematian bagi siapa saja yang ada dibawah Arasy”. Lalu malaikat maut datang menghadap kepada Allah dan berkata : “wahai Rabb, Jibril dan Mikaail telah mati”. Allah berfirman –dan Dia Maha Mengetahui- : “siapa lagi yang tersisa?”. Malaikat maut menjawab : “tersisa Engkau yang Maha hidup tidak akan mati dan tersisa saya”. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman : “engkau adalah makhluk dari para makhluk-Ku, Aku telah menciptakan engkau dengan apa yang telah engkau lihat, matilah…, lalu Allah berfirman : “aku Al Jabaar, kemudian memanggil : “siapakah raja yang menguasai hari ini?”, kemudian dijawab sendiri : “Allah lah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. Lalu Allah memanggil : “siapa yang mampu berserikat dengan-Ku, maka datanglah!”, dan tidak ada seorang pun yang datang. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa mengucapkan hal tersebut sebanyak 3kali.

Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Abid Dunyaa dalam Al Ahwaal (54) dan ini lafadznya, lalu Ishaq bn Rohawiyah sebagaimana dalam al-Mathoolibul ‘Aaliyah (7/555), Ibnu Abi Haatim dalam Tafsirnya (9/2928-2931), Abu Ya’laa sebagaimana disandarkan dalam Ittihaaful Mahiroh (8/56), ath-Thobariy dalam Tafsirnya (21/331), ath-Thabrani dalam al-Ahaadits ath-Thiwaal (36), al-Laalikaa’i dalam Syarah Ushul I’tiqoodi Ahlis Sunnah wal Jama’ah (2/222), Baihaqi dalam al-Ba’tsu wa an-Nusyuur (no. 593), Abus Syaikh dalam al-‘Udhmah (3/821-839) dan disandarkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baariy (11/368) kepada Abdu bin Humaid dan Ali bin Ma’bad dalam kitabnya ath-Thoo’aah wal Ma’shiyah, sebagaimana juga disandarkan oleh Suyuthi dalam ad-Durorul Mantsuur (7/256)  oleh Abil Hasan al-Qothoon dalam al-Muthowwalaat dan Ibnul Mundzir serta Abu Musa al-Madiiniy dalam al-Muthowwalaat. Semuanya dari jalan talaqiy Ismail bin Roofi’ al-Madaniy Abu Roofi’ al-Anshooriy dari Muhammad bin Yaziid Abi Ziyaad dari Muhammad biin Ka’ab al-Qurodhiy dari seorang laki-laki Anshor dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu dst..

Hadits ini mungkar dan ma’luul (memiliki cacat), cacatnya adalah Muhammad bin Yaziid Abi Ziyaad, terdapat dalam Tahdzibut Tahdziib (9/524) : ‘Bukhori berkata, meriwayatkan hadits sangkakala, namun tidak shahih. Al-Kholaal berkata : ‘Ahmad diitanya tentang haditsnya, beliau menjawab, perowi yang mereka tidak mengenalnya’. Ibnu Hibban berkata : ‘aku tidak berpegang dengan sanad khobarnya’. Al-Azdiy berkata : ‘tidak kokoh, dalam sanadnya perlu ditinjau’. Daruquthni berkata : ‘sanadnya tidak tsabit, Muhammad, Ayyub dan perowi yang meriwayatkan darinya adalah majhul’. –selesai-.

Demikian juga rowi Ismail bin Roofi’, para muhadditsiin sepakat atas pendhoifannya, sampai an-Nasaa’i berkata : ‘matrukul hadits’, Abu Hatim berkata : ‘mungkarul hadits’. Lihat Tahdzibut Tahdzib (1/195).

Ibnu Hajar dalam Fathul Baariy (11/368) berkata : ‘poros hadits berkisar kepada Ismail bin Roofi’ dan ia idhthirob (goncang) dalam sanadnya sekaligus ia adalah perowi dhoiif. Ia meriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurodhiy terkadang tanpa perantara dan kesempatan lain dengan perantara seorang perowi mubham (yang tidak disebutkan namanya). Lalu dari Muhammad (bin Ka’ab) dari Abu Huroiroh terkadang tanpa perantara dan pada kesempatan lain dengan perantara dari perowi Anshor yang mubham juga.

Dikeluarkan oleh Ismail bin Abi Ziyaad asy-Syaamiy salah satu perowi dhoif juga dalam Tafsirnya dari Muhammad bin ‘Ajlaan dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurodhiy. Mugholothiy menyanggah Abdul Haq yang mendoifkan hadits Ismail bin Roofi’ dan tersembunyi baginya bahwa asy-Syaamiy lebih dhoif darinya, mungkin ia mencuri lalu memasukkan Muhammad bin ‘Ajlaan. Daruquthni berkata tentang (asy-Syaamiy) : ‘ia matruk memalsukan hadits’. Al-Kholiliy berkata : ‘syaikh dhoif, tertolak tafsirnya tanpa ada yang menguatkannya’.

Al-Hafidz ‘Imaaduddiin Ibnu Katsiir berkata tentang hadits sangkakala : ‘Ismail bin Roofi’ telah mengumpulkan berbagai atsar dan asalnya adalah cuma dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu, lalu ia menyebutkan konteks yang seluruhnya adalah satu konteks.

Telah dishahihkan hadits ini dari jalan Ismail bin Roofi’ oleh al-Qodhoy Abu Bakar ibnul Arobiy dalam Siroojnya, namun disanggah oleh al-Qurthubiy dalam at-Tadzkiroh  dan pendapat Abdul Haq yang mendhoifkan lebih unggul, telah didhoifkan sebelumnya oleh Baihaqi –selesai-.

Saya katakan : ‘telah didhoifkan penyandaran tambah sebagai yang disebutkan sebelumya oleh Ahmad, Bukhori, Ibnu Hibban, Abul Fath al-Azdiy, Daruquthni, Ibnu Jariir ath-Thobari berkata (18/558) : ‘dalam sanadnya perlu diteliti’. Baihaqi berkata dalam Syu’abul Iman (1/309)  : ‘dalam sanadnya ada kritikan’. Demikian juga Ibnul Qoyyim dalam Haadiyl Arwaah (87), Ibnu Rojab dalam at-Takhwiifu minan Naar (229), Al Albani dalam Dhof ath-Tharghiib wa Tarhiib (2/252) berkata : ‘mungkar’. Serta Ahmad Syakir dalam ‘Umdatut Tafsiir (1/778) berkata : ‘dhohirnya nakarah’.

Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu memiliki 2 syahid (penguat) :

  1. Dari Anas bin Malik dengan lafadz yang mirip namun ringkas, diriwayatkan oleh ath-Thobari dalam Tafsirnya (21/330), Baihaqi dalam al-Ba’tsu, dan Ibnu Mardawaih sebagaimana disandarkan oleh Suyuthi dalam ad-Durul Mantsuur (7/250). Didhoifkan oleh Al Hafidz dalam Al-Fath (11/371) yang mana didalam sanadnya ada Yaziid ar-Ruqosyi ia perowi dhoif sebagaimana dalam Tadzibut Tahdzib (11/311) dan ibnu akhinya al-Fadhl bin Isan yang mana Muhadditsiin telah sepakat atas pendhoifan dan nakarah haditsnya (Tahdzibut Tahdzib (8/284).
  2. Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syu’abul Iman (1/261) beliau berkata : ‘dhoif parah’. Karena didalamnya ada Mujaasyi’’bin ‘Amr salah satu pendusta.

Jelaslah ini bahwa 2 syahid tersebut gugur dan tidak layak untuk menguatkan asal hadits dari sisi manapun. Wallahu A’lam. Saya telah menyebutkan kedhoifan hadits ini pada jawaban pertanyaan no. 49009.

Adapun lafadz yang ditanyakan oleh saudara yang bertanya, maka aku tidak melihat seorang ulama pun yang meriwayatkannya –sepanjang yang aku ketahui-, tidak disebutkan kecuali oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya Bustaanul Waa’idzhiin (hal. 35-39), secara mutlak tanpa sanad dan tautsiq, dan telah diketahui bahwa asal hadits yang bersanad adalah mungkar tidak shahih, maka bagaimana lagi dengan yang tidak ada sanadnya sama sekali.

  1. Mereka berdalil juga dengan hadits Laqiith bin ‘Aamir ath-Thowiil dalam kisah kedatangan utusan ibnul Muntafiq kepada Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dan didalamnya ada sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

تَلْبَثُونَ مَا لَبِثْتُمْ ، ثُمَّ يُتَوَفَّى نَبِيُّكُم ، ثُمَّ تَلْبَثُونَ مَا لَبِثْتُمْ ، ثُمَّ تُبْعَثُ الصَّائِحةُ ، فَلَعَمْرُ إلهِكَ ما تَدَعُ عَلى ظَهّرِها شَيْئاً إلا مَاتَ ، والمَلائِكَةُ الَّذِينَ مَعَ رَبِّكَ ..الخ

Lalu mereka tinggal sesuai dengan yang kalian tinggal, kemudian wafatlah Nabi kalian, lalu kalian tinggal sesuai dengan yang kalin tinggal, kemudian ditiupkan sangkakal, maka tidaklah tersisa seorang pun kecuali akan mati dan juga malaikat yang bersama Rabbnya…

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Zawaaidul Musnad (4/13-14), Ibnu Abi ‘Aashim dalam as-Sunnah (951), ath-Thobroni dalam al-Kabiir (19/477), Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid (122-125), al-Hakim dalam al-Mustadrok (4/560), Bukhori dalam Taariikh al-Kabiir (3/249)  dan Abu Dawud (3266) dengan ringkas yang tidak ada hal yang sesuai dengan tema ini.

Semuanya dari jalan Abdur Rokhman bin ‘Iyaasy as-Sam’iy dari Dalhim bin al-Aswad dari Bapaknya. Ketiga perowi ini adalah majhul yang tidak ditsiqohkan oleh seorang ulama pun kecuali hanya disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam ats-Tsiqoot dan hal ini tidak mencukupi untuk mentautsiqnya, khususnya bahwa hadits ini lafadznya mungkar yang berkonsekuensi dibantah dan didhoifkan.

Al Hafidz Ibnu Katsiir berkata dalam al-Bidayah wa an-Nihayah (5/82) : ‘ghorib sekali, lafadznya sebagian nakarah’. Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Tahdzibut Tahdzib (5/75) berkata : ‘ini adalah hadits ghorib sekali’. Haditsnya didhoifkan oleh pentahqiq Musnad Ahmad (26/121).

Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma’aad (3/679) berkata : ‘ucapannya “malaikat yang berada disisi Rabbmu”, aku tidak tahu tentang kematian malaikat telah datang hadits yang jelas kecuali ini dan hadits sangkakala-selesai-.

Kesimpulannya tidak ada dalil yang shahih bagi pendapatnya mayoritas ulama tentang kematian malaikat kecuali keumuman ayat.  Dan selain hal itu berupa hadits-hadits maka itu mungkar dan dhoif tidak shahih untuk dijadikan penguat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmul Fatawaa’ (4/259) berkata : ‘pendapat yang dikatakan oleh kebanyakan manusia bahwa seluruh makhluk akan mati, hingga malaikat sekalipun, hingga ‘Izrooil juga mati, diriwayatkan oleh hadits yang marfu’ kepada Nabi sholallahu alaihi wa salam. Kaum Muslimin, Yahudo dan Nashroni bersepakat tentang kemungkin hal itu dan qudrohnya Allah atas hal tersebut-selesa- (lihat Suyuthi dalam al-Habaaik fii Akhbaaril Malaikat (91).ri Bapaknya. idak ada hal sa seorang pun kecuali akan mati dan juga malaikat yang bersama Rabbnya.

 

Pendapat yang kedua : bahwa malaikat tidak mati, yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Hazm dan sebagian ahli tafsir. Mungkin mereka berdalil dengan berikut ini :

 

 

  1. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاء اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُم قِيَامٌ يَنظُرُونَ

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing) (QS. Az Zumar : 68).

Kebanyakan salaf menafsirkan pengecualian dalam ayat diatas dengan malaikat. Ini adalah pendapat pilihan Ibnu Jariir ath-Thabari dalam Tafsirnya (21/330), lalu disandarkan kepada Qotadah yang berucap : ‘Allah telah mengecualikan –wallahu A’lam apa yang dikecualikan’.

Namun mungkin dapat disanggah pendalilan ayat diatas bahwa pengecualian malaikat dari peniupan sangkakala, tidak mengharuskan pengecualian dari kematian. Mereka bisa jadi mati setelah ditiup sangkakala yang dengannya semua penduduk bumi mati.

Al-Hasan al-Bashri berkata : ‘Allah mengecualikan dan Allah tidak membiarkan seorang pun dari penduduk langit dan bumi, kecuali akan merasakan mati.

Ibnu Katsiir dalam Tafsirul Qur’anil ‘Adhiim (7/116) berkata : ‘tiupan ini adalah yang kedua yaitu tiupan yang membinasakan yaitu yang mati dengan makhluk-makhluk yang hidup dari kalangan penduduk langit dan bumi, kecuali yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits tentang sangkakala yang masyhur. Lalu dicabut arwah yang masih tersisa, sehingga yang paling akhir mati adalah Malaikat maut. Dan tinggalah Dzat yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri…

  1. Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa :

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْءَاتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَـذِهِ الشَّجَرَةِ إِلاَّ أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga) (QS. Al A’raaf : 20).

Imam al-Wahidiy berkata dalam al-Wajiiz fii Tafsiiril Kitaabil Aziiz (389) : ‘{melainkan supaya kamu berdua} isim laa disini adalah dhomir yakni, melainkan supaya kamu (Adam dan Hawa) tidak menjadi malaikat yang mana mereka kekal tidak akan mati, sebagaimana malaikat yang tidak mati. Hal ini ditunjukkan makna dari Firman-Nya : {atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)} –selesai-.

Terdapat juga penafsiran serupa dalam Bahrul Uluum (2/102) karya Samarqondiy.

Namun pendalilan diatas dapat disanggah bahwa terkadang ucapan au (atau) dalam ayat ini menunjukkan untuk sesuatu yang berbeda dengan sebelumnya, yakni bahwa malaikat tidaklah kekal. Ini adalah penafsiran dari (sebagian) salaf seperti dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu ketika beliau membaca ayat ini, beliau berkomentar : ‘jika (keputusan mendekati pohon) itu keliru, maka kalian berdua akan menjadi malaikat, namun jika keputusan itu benar tidak keliru, maka kalian akan kekal tidak akan mati selama-lamanya’ (ad-Durorul Mantsuur (3/431)).

Seandainya diterima bahwa malaikat kekal, maka ini juga tidak melazimkan mereka tidak pernah mati, karena syaithon membujuk Adam untuk makan dari pohon, agar panjang umurnya dan tetap kekal didalamnya, untuk mendapatkan apa saja kenikmatan dalam waktu yang sangat lama, sebagaimana kondisi malaikat yang jika mereka mati, maka kematiannya adalah sebentar pada hari kiamat saja, lalu dihidupkan kembali.

Al-Qurthubi berkata dalam Tafsirnya (7/178) : ‘dikatakan tamaknya Adam untuk mendapatkan kekekalan, kerena Beliau alaihi salam tahu bahwa malaikat tidak akan mati sampai hari kiamat –selesai- (lihat ad-Durorul Mantsuur (3/179)).

  1. Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “aku berlindung dengan Kemulian yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Dzat yag tidak akan mati, sedangkan Jin dan manusia akan mati (HR. Bukhori (no. 7383) & Muslim (no. 2717).

Mereka berkata : ‘mafhumul hadits, bahwa selain jin dan manusia tidak mati’.

Mayoritas ulama menyanggah hal tersebut, Ibnu Hajar dalam Fathul Baariy (13/370) : ‘sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam : {jin dan manusia mati}, diambil dalil darinya bahwa Malaikat tidak mati. Namun hal ini tidak ada hujjah, karena mafhum laqob tidak bisa dijadikan pegangan. Maka berdasarkan ini, mafhum hadits ini tidak bisa menentang apa yang lebih kuat darinya, yaitu keumuman Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa : {Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah} (QS. Al Qoshosh : 88)., bersama hal ini tidak menghalangi (malaikat) untuk dimasukkan kedalam nama Jin, karena kesamaan antara Jin dan malaikat yang sama-sama terhalang dari pandangan manusia’-selesai-.

Ibnul Hazm berkata dalam al-Fashl fil Milaal wal Ahwaa’ wan Nihaal (4/4-21) : ‘tidak ada nash dan juga ijma bahwa malaikat akan mati, seandainya ada nash kami akan mengatakan seperti itu, namun ternyata penjelasan menunjukkan bahwa mereka tidak mati, karena jannah adalah negeri yang tidak ada kematian didalamnya, dan malaikat adalah penghuni jannah, didalamnya diciptakan makhluk yang kekal didalamnya, yaitu bidadari. Juga karena kematian adalah lepasnya jiwa dari badan yang terbentuk. Rasulullah sholallahu alaihi wa salam telah menashkan bahwa malaikat diciptakan dari api, maka tidak ada pada mereka sesuatu yang terlepas darinya yang dinamakan dengan kematian-selesai-.

Kesimpulannya bahwa perselisihan dalam masalah ini khilaf yang mu’tabar. Para Aimah telah bersungguh-sungguh membahas mana yang rajih dari salah satu pendapat, namun mereka menganggap bahwa masalah ini bukan perkara yang besar, bahkan ini adalah ilmu ghoib yang tidak masalah ketika tidak mengetahuinya. Seandainya ini adalah masalah yang penting dalam agama ini, niscaya akan datang nash yang tegas dan shahih. Oleh karenanya, perkara ini kembali kepada ijtihad dan penelitian, mungkin diam dari membahasnya lebih utama.

Telah datang Fatwa Lajnah Daimah (2/185-186) :

Soal : berikan fatwa kepada kami tentang malaikat yang bertugas mencatat amal manusia pada saat hidupnya, yaitu Roqiibun ‘Atiid. Ketika manusia mati, maka apakah malaikat yang bertugas tersebut juga ikut mati. Atau dimana mereka tinggal setelah wafatnya manusia?

Jawab :

Keadaan para malaikat dan perkara mereka adalah urusan ghoib, tidak diketahui kecuali dari sisi sam’i (dalil). Tidak ada nash tentang kematian malaikat penulis kebaikan dan kejelekan ketika matinya orang yang ditulis kebaikan dan kejelekannya, tidak ada juga nash tentang masih hidupnya dan juga dimana tinggalnya, hal tersebut kembali kepada Allah.

Bukanlah apa yang anda tanyakan itu merupakan sesuatu yang kita dibebani dalam masalah aqidah, dan tidak berkaitan dengan amal. Pertanyaan tentang hal ini adalah masuk kedalam perkara yang tidak bermakna. Sehingga kami menasehati penanya untuk tidak masuk kedalam sesuatu yang tidak bermakna, hendaknya mengerahkan usahanya untuk bertanya tentang sesuatu yang bermanfaat bagi kaum muslimin dalam perkara agama dan dunianya-selesai-.

Telah lewat jawaban seperti pertanyaan ini dengan bentuk yang ringkas dalam website kami (no. 26071 dan 96306). Wallahu A’lam.

 

Sumber : http://www.fjr-aleman.com/vb/showthread.php?t=8864

 

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Allah swt berfirman :
    Tiap tiap yg bernyawa pasti akan merasakan mati (QS . ALI IMRON : 185 ) .

    Itu artinya malaikat jg akan mengalami mati ..

    Like

  2. Facebook saya fendy_nst@yahoo.com

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: