WAJIBKAH ZAKAT PERDAGANGAN?

October 19, 2014 at 3:40 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

HUKUM ZAKAT PERDAGANGAN

 

Pada tulisan kali ini, kami biidznillah akan membahas tentang apakah usaha perdagangan diwajibkan zakat atau tidak?, demikian kira-kira inti dari tulisan ini, sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut.

Sebelum masuk kedalam pembahasan, maka kami ingin sampaikan beberapa point berikut :

  1. Ketika seorang telah mengikrarkan dirinya sebagai seorang Muslim dengan bersyahadat bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah, maka ia telah diharamkan harta dan darahnya oleh kaum Muslimin dimanapun berada, kecuali yang diizinkan oleh syariat. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ، إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan, bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan barangsiapa yang telah mengatakan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, maka telah terjaga harta dan dirinya. Kecuali haknya dan perhitungannya diserahkan kepada Allah (Muttafaqun ‘alaih).

Bahkan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam memperkuat keharaman harta seorang Muslim dalam khutbahnya pada waktu haji Wada’ pada penghujung umur Beliau yang disaksikan dan didengarkan oleh puluhan ribu kaum Muslimin pada waktu itu dan senantiasa dinukil oleh ulama kita sampai zaman ini. Beliau sholallahu alaihi wa salam bersabda :

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ

…Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah haram sesama kalian…(Muttafaqun ‘Alaih).

Oleh karena bukan suatu perkara yang gampang untuk mewajibkan mengambil harta seorang Muslim, kecuali dengan alasan yang jelas dan tepat dari pembuat syariat.

  1. Syariat telah memberikan peringatan yang keras bagi umatnya untuk tidak mengambil harta orang lain, tanpa alasan yang diterima. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu (QS. An-Nisaa’ : 29).

Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pernah mewanti-wanti kepada petugas zakatnya, agar mereka hati-hati didalam mengambil harta zakat. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu anhu yang pada waktu itu diutus untuk berdakwah ke negeri Yaman, kata Beliau :

فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً مِنْ أَمْوَالِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِذَا أَطَاعُوا بِهَا فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ

…maka beritahukan mereka bahwa Allah mewajibkan zakat dari harta mereka yang akan disalurkan kepada orang fakirnya. Jika mereka mematuhinya, maka ambillah zakat mereka dan hati-hatilah dari mengambil harta mereka yang paling berharga… (Muttafaqun ‘alaihi).

Lihatlah! Sekalipun pada kondisi tertentu seorang Muslim wajib mengeluarkan hartanya dan berhak diambil oleh pihak yang berwenang, namun tetap diwanti-wanti agar proposional didalam mengambil harta tersebut, tidak kemudian secara semena-mena mengambil jenis harta yang paling bagusnya. Misalnya seorang muslim memiliki peternakan Kambing yang jumlah telah cukup untuk ditunaikan zakat dan dari Kambing tersebut ada yang gemuk dan yang kurusnya, maka hendaknya yang diambil adalah kambing zakat yang berukuran rata-rata dalam peternakan tersebut, hati-hati untuk berbuat melampaui batas dengan mengambil kambing zakat yang paling gemuk misalnya.

 

Kembali kepada permasalahan, terkait wajib tidaknya zakat perdagangan maka para ulama berbeda pendapat. Jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa zakat perdagangan wajiib. Syaikh Sayyid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah (1/344-cet. Daarul Kitaabil ‘Arobiy) berkata :

ذهب جماهير العلماء من الصحابة، والتابعين ومن بعدهم من الفقهاء إلى وجوب الزكاة في عروض  التجارة

Mayoritas ulama dari kalangan sahabat, Tabi’in dan ulama berikutnya, berpendapat wajibnya zakat harta perdagangan –selesai-.

Namun ketika kami melihat dalil-dalil yang disampaikan oleh jumhur ulama, dapat kami simpulkan sebagai berikut :

  1. Dalil-dalil dari Al Qur’anul Kariiim tidak ada yang jelas dan tegas yang mewajibkan zakat perdagangan. Itu hanyalah dalil-dalil umum yang memerintahkan kepada hamba-Nya agar menginfakkan sebagian harta yang ia peroleh di jalan Allah. Imam Al Albani dalam Tamaamul Minnah berkata :

فيمكن حمله على زكاة مطلقة غير مقيدة بزمن أو كمية وإنما بما تطيب به نفس صاحبها فيدخل حينئذ في عموم النصوص الآمرة بالإنفاق كقوله تعالى : ( يا أيها الذين آمنوا أنفقوا مما رزقناكم ) وقوله جل وعلا : ( وآتوا حقه يوم حصاده )

Mungkin untuk dibawa kepada zakat secara mutlak tanpa terkait dengan waktu atau besarannya, namun sesuai dengan kerelaan jiwa pemiliknya, maka ini masuk kedalam keumuman nash-nash yang memerintahkan untuk berinfak, sebagaimana Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa : {Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu} (QS. Al Baqoroh : 254) dan Firman-Nya Azza wa Jalla : {dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin)} (QS. Al An’aam : 141).

  1. Tidak ada dalil dari sunnah atau hadits Nabi sholallahu alaihi wa salam yang shahih lagi jelas dan tegas yang mewajibkan zakat perdagangan. Imam Syaukni dalam as-Sailul Jaroor setelah menyebutkan hadits-hadits yang diduga sebagai dalil wajibnya zakat perdagangan, beliau lalu berkomentar :

والحاصل انه ليس في المقام ما تقوم به الحجة وان كان مذهب الجمهور كما حكاه البيهقي في سننه فإنه قال إنه قول عامة اهل العلم والدين

Kesimpulannya tidak ada dalil yang dapat dijadikan hujjah (untuk mewajibkannya-pent.), sekalipun ini adalah pendapatnya jumhur ulama, sebagaimana dinukil oleh Imam Baihaqi dalam sunnanya yang mana beliau berkata bahwa pendapat ( yang mewajibkan zakat perdagangan) adalah pendapatnya kebanyakan ulama agama-selesai-.

Barangkali Imam Bukhori telah mengisyaratkan akan hal tersebut bahwa tidak ada dalil dari As-Sunnah tentang kewajiban zakat perdagangan dimana Imam Bukhori telah memberikan sebuah judul dalam kitab Shahihnya yang terkenal dengan judul “بَابُ صَدَقَةِ الكَسْبِ وَالتِّجَارَةِ”, kemudian beliau hanya menyebutkan satu ayat yaitu surat Al Baqoroh ayat 267 dibawah judul bab tersebut.

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata :

هَكَذَا أَوْرَدَ هَذِهِ التَّرْجَمَةَ مُقْتَصِرًا عَلَى الْآيَةِ بِغَيْرِ حَدِيثٍ

Demikian Imam Bukhori menulis bab ini yang hanya mencantumkan satu ayat tanpa menuliskan sebuah hadits.

  1. Apa yang diklaim oleh sebagian ulama bahwa terjadinya ijma (kesepakatan ulama) tentang wajibnya zakat perdagangan, tidaklah benar. Imam Al Albani dalam Tamaamul Minnah membantah ucapan Imam Baghowi yang menukil adanya ijma, kata beliau :

وإن مما يبطل هذا الزعم أن أبا عبيد رحمه الله قد حكى في كتابه ” الأموال ” ( 427 / 1193 ) عن بعض الفقهاء أنه لا زكاة في أموال التجارة

Sesungguhnya diantara yang membatalkan adanya klaim ijma ini adalah apa yang dinukil oleh Imam Abu Ubaid (w. 224 H) dalam kitabnya al-Amwaal (427/2293) dari sebagian fuqoha yang mengatakan tidak ada zakat pada harta perdagangan-selesai-.

Ibnu Rusydi dalam Bidayatul Mujtahid (1/377) juga menukil adanya perbedaan pendapat tentang wajibnya zakat perdagangan, katanya :

واتفقوا على أن لا زكاة في العروض التي لم يقصد بها التجارة واختلفوا في أتجب الزكاة فيما اتخذ منها للتجارة ؟ فذهب فقهاء الأمصار إلى وجوب ذلك ومنع ذلك أهل الظاهر

Para ulama bersepakat bahwa tidak ada zakat dalam harta benda yang tidak dimaksudkan untuk perdagangan. Mereka berbeda pendapat tentang apakah zakat diwajibkan pada harta benda yang diperuntukkan bagi perdangan? Fuqoha beberapa negeri berpendapat wajibny, sedangkan ahlu dhohir tidak mewajibkannya.

  1. Apa yang dinukil secara shahih dari sahabat bahwa mereka mengatakan adanya zakat perdagangan sebagaimana yang dinukil dari :
  2. Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhu dengan sanad yang dishahihkan oleh Imam Ibnu Hazm, bahwa Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu berkata :

لا بَأْسَ بِالتَّرَبُّصِ حَتَّى يَبِيعَ، وَالزَّكَاةُ وَاجِبَةٌ فِيهِ

Tidak masalah mengumpulkan modal yang banyak hingga diperjualbelikan dan zakat wajib padanya.

  1. Abdullah bin Umar rodhiyallahu anhu dengan sanad yang dishahihkan oleh Imam Ibnu Hazm dan Imam Al Albani, bahwa beliau rodhiyallahu anhu berkata :

لَيْسَ فِي الْعُرُوضِ زَكَاةٌ إلا أَنْ تَكُونَ لِتِجَارَةٍ

Tidak ada dalam harta benda itu zakat, kecuali yang diperuntukkan untuk perdanganan.

  1. Adapun apa yang diriwayatkan dari Umar rodhiyallahu anhu tentang hal ini, maka semua jalannya didhoifkan oleh Imam Ibnu Hazm dalam al-Muhalla, silakan merujuknya bagi yang mau.

Berkaitan dengan perkataan Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu, maka Imam Ibnu Hazm mengatakan :

وَأَمَّا حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ فَكَذَلِكَ أَيْضًا، وَلا دَلِيلَ فِيهِ عَلَى إيجَابِ الزَّكَاةِ فِي عُرُوضِ التِّجَارَةِ، وَهُوَ خَارِجٌ عَلَى مَذْهَبِ ابْنِ عَبَّاسٍ الْمَشْهُورِ عَنْهُ فِي أَنَّهُ كَانَ يَرَى الزَّكَاةَ وَاجِبَةً فِي فَائِدَةِ الذَّهَبِ، وَالْفِضَّةِ، وَالْمَاشِيَةِ حِينَ تُسْتَفَادُ، فَرَأَى الزَّكَاةَ فِي الثَّمَنِ إذَا بَاعُوهُ.

Adapun hadits Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu demikian juga, tidak ada dalil wajibnya zakat harta perdagangan, karena ini berasal dari pendapat pribadinya Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu yang masyhur darinya bahwa beliau memandang adanya zakat wajib dalam keuntungan emas dan perak, lalu pekerjaan ketika gajian dan beliau memandanya adanya zakat pada keju jika mereka memperjualbelikannya.

Adapun terkait pendapatnya Ibnu Umar rodhiyallahu anhu, Imam Ibnu Hazm mengomentarinya :

وَأَمَّا خَبَرُ ابْنِ عُمَرَ: فَصَحِيحٌ؛ إلا أَنَّهُ لا حُجَّةَ فِي قَوْلِ أَحَدٍ دُونَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَكَمْ قَضِيَّةٍ خَالَفُوا فِيهَا عُمَرَ، وَابْنَهُ

Adapun hadits Ibnu Umar rodhiyallahu anhu adalah shahih, namun tidak ada hujjah perkataan seorang pun tanpa adanya (persetujuan) dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam. Berapa banyak perkara yang para ulama berbeda pendapat dengan Umar dan anaknya Ibnu Umar rodhiyallahu anhumaa.

Imam Al Albani dalam Tamaamul Minnah menambahkan komentar untuk pendapatnya Ibnu Umar rodhiyallahu anhu ini, kata beliau :

ومثل هذه القاعدة ليس من السهل نقضها أو على الأقل تخصيصها ببعض الآثار ولو صحت كقول عبد الله بن عمر رضي الله عنهما

Semisal kaedah ini (yakni terpeliharanya harta seorang Muslim-pent.) bukanlah perkara yang mudah membatalkan atau minimalnya mengkhususkannya dengan sebagian atsar, sekalipun itu shahih, seperti ucapan Abdullah bin Umar rodhiyallahu anhumaa (sebagaimana diatas-pent.).

 

Sehingga berdasarkan keterangan ringkas diatas, pendapat yang terpilih adalah tidak wajibnya zakat perdagangan. Alasannya adalah :

  1. Harta seorang Muslim adalah sangat dijaga dalam Islam, maka tidaklah mudah untuk mewajibkan mengambil harta seorang Muslim, tanpa alasan syar’i yang kuat. Terkait dengan masalah harta perdagangan, maka tidak ada nash yang tegas dari Allah dan Rasul-Nya tentang kewajiban zakat ini.
  2. Yang menguatkan tidak wajibnya, bahwa mereka yang mengatakan adanya kewajiban zakat perdangan tidak mampu menunjukkan dalil yang shahih berapa nishob dan haul untuk zakat ini. Imam Ibnu Hazm setelah menyebutkan hadits-hadits yang dijadikan dalil oleh jumhur yang mengatakan wajibnya zakat perdagangan, beliau berkomentar :

ثُمَّ لَوْ صَحَّ لَمَا كَانَتْ لَهُمْ فِيهِ حُجَّةٌ، لأَنَّهُ لَيْسَ فِيهِ: أَنَّ تِلْكَ الصَّدَقَةَ هِيَ الزَّكَاةُ الْمَفْرُوضَةُ؛ بَلْ لَوْ أَرَادَ عَلَيْهِ السَّلامُ بِهَا الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ لَبَيَّنَ وَقْتَهَا وَمِقْدَارَهَا وَكَيْفَ تُخْرَجُ، أَمِنْ أَعْيَانِهَا، أَمْ بِتَقْوِيمٍ، وَبِمَاذَا تُقَوَّمُ  وَمِنْ الْمُحَالِ أَنْ يَكُونَ عَلَيْهِ السَّلامُ يُوجِبُ عَلَيْنَا زَكَاةً لا يُبَيَّنُ كَمْ هِيَ. وَلا كَيْفَ تُؤْخَذُ. وَهَذِهِ الصَّدَقَةُ لَوْ صَحَّتْ لَكَانَتْ مَوْكُولَةً إلَى أَصْحَابِ تِلْكَ السِّلَعِ

Kemudian seandainya hadits-hadits tersebut shahih, yang didalamnya terkandung hujjah –padahal tidak seperti itu- yakni bahwa yang dimaksud dalam shodaqoh pada hadit-hadits tersebut adalah zakat yang diwajibkan, tentu seandainya Nabi sholallahu alaihi wa salam ingin mewajibkan zakat, Beliau akan menjelaskan waktu penunaiannya, ukurannya, bagaimana cara mengeluarkannya, dari harta apa saja atau taqwimnya. Maka bagaimana bisa Nabi sholallahu alaihi wa salam mewajibkan kepada kita zakat yang tidak dijelaskan bagaimana bentuk dan tatacara penunaiannya. Shodaqoh ini jika shah (diwajibkan), maka tentu cara penunaiannya akan dibebankan kepada pemilik harta perdagangan tersebut.

  1. Bangsa Arab dimana Rasulullah sholallahu alaihi wa salam hidup terkenal dengan perdagangannya. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman :

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2)

Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas (QS. Quraisy : 1-2).

Tim penerjemah DEPAG RI berkata dalam catatan kaki terjemahan mereka :

Orang Quraisy biasa mengadakan perjalanan terutama untuk berdagang ke negeri Syam pada musim panas dan ke negeri Yaman pada musim dingin. Dalam perjalanan itu mereka mendapat jaminan keamanan dari penguasa-penguasa dari negeri-negeri yang dilaluinya. Ini adalah suatu nikmat yang amat besar dari Tuhan mereka. Oleh karena itu sewajarnyalah mereka menyembah Allah yang telah memberikan nikmat itu kepada mereka-selesai-.

Berdasarkan keterangan ini suatu hal yang tidak masuk akal jika memang zakat perdagangan itu diwajibkan, namun kenyataannya Allah dan Rasul-Nya tidak secara tegas menjelaskan tatacara penunaian zakat perdagangan –jika benar diwajibkan- padahal pada waktu itu Rasulullah bermuamalah dengan suatu kaum yang perdagangan adalah suatu aktivitas yang mewarnai kehidupan mereka sehari-hari.

  1. Telah shahih dari Nabi sholallahu alaihi wa salam yang menunjukkan bahwa tidak ada kewajiban zakat harta perdagangan, sebagaimana dalam hadits-hadits berikut :
  2. Imam Muslim dan selainnya meriwayatkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ مِنْ الْوَرِقِ صَدَقَةٌ وَلا فِيمَا دُونَ خَمْسِ ذَوْدٍ مِنْ الإِبِلِ صَدَقَةٌ

Tidak ada zakat perak dibawah 5 uqiyah dan tidak juga adanya zakat unta yang kurang dari 5 ekor.

  1. Imam Bukhori dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لَيْسَ عَلَى الْمُسْلِمِ فِي: عَبْدِهِ، وَلا فَرَسِهِ، صَدَقَةٌ إلا صَدَقَةَ الْفِطْرِ

Tidak ada kewajiban zakat kepada seorang Muslim pada budak dan kudanya, kecuali zakat fitrah.

Imam Ibnu Hazm menjelaskan maksud hadits-hadits yang menunjukkan tidak adanya zakat pada harta benda, kata beliau :

فَمَنْ أَوْجَبَ الزَّكَاةَ فِي عُرُوضِ التِّجَارَةِ فَإِنَّهُ يُوجِبُهَا فِي الْخَيْلِ، وَالْحَمِيرِ، وَالْعَبِيدِ، وَقَدْ قَطَعَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِأَنْ لا زَكَاةَ فِي شَيْءٍ مِنْهَا إلا صَدَقَةُ الْفِطْرِ فِي الرَّقِيقِ؛ فَلَوْ كَانَتْ فِي عُرُوضِ التِّجَارَةِ، أَوْ فِي شَيْءٍ مِمَّا ذُكِرَ عَلَيْهِ السَّلامُ زَكَاةٌ إذَا كَانَ لِتِجَارَةٍ -: لَبَيَّنَ ذَلِكَ بِلا شَكٍّ؛ فَإِذْ لَمْ يُبَيِّنْهُ عَلَيْهِ السَّلامُ فَلا زَكَاةَ فِيهَا أَصْلا

Maka barangsiapa yang mewajibkan zakat perdagangan, sesungguhnya ia telah mewajibkan zakat pada kuda, keledai dan budak, padahal Rasulullah sholallahu alaihi wa salam telah memastkan tidak ada zakat pada hal-hal diatas, kecuali zakat fitrah bagi budak yang dimiliki.

Seandainya pada harta perdagangan ada kewajiban zakat atau harta (yang pada asalnya tidak ada zakat, sebagaimana disebutkan Nabi sholallahu alaihi wa salam), kemudian jika diperuntukkan untuk perdagangan menjadi wajib dizakati, niscaya Nabi sholallahu alaihi wa salam akan menjelaskannya kepada kita tanpa ragu lagi. Maka jika ternyata Nabi sholallahu alaihi wa salam tidak menjelaskannya kepada kita, hal ini menunjukkan tidak ada zakatnya pada asalnya.  

  1. Telah diriwayatkan atsar dari sahabat Abdullah bin Zubair rodhiyallahu anhumaa yang menyelisihi atsar Ibnu Umar rodhiyallahu anhu. Imam Ibnu Hazm dalam al-Muhalla meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Naafi’ al-Khuuziriy bahwa beliau berkata :

كُنْت جَالِسًا عِنْدَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ نَافِعٍ إذْ جَاءَهُ زِيَادٌ الْبَوَّابُ فَقَالَ لَهُ: إنَّ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ – يَعْنِي ابْنَ الزُّبَيْرِ – يَقُولُ: أَرْسِلْ زَكَاةَ مَالِك. فَقَامَ فَأَخْرَجَ مِائَةَ دِرْهَمٍ، وَقَالَ لَهُ: اقْرَأْ عَلَيْهِ السَّلامَ، وَقُلْ لَهُ: إنَّمَا الزَّكَاةُ فِي النَّاضِّ. قَالَ نَافِعٌ: فَلَقِيت زِيَادًا فَقُلْت لَهُ: أَبْلَغْته. قَالَ: نَعَمْ، قُلْت: فَمَاذَا قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ. فَقَالَ: قَالَ: صَدَقَ.

Saya sedang duduk-duduk disisi Abdur Rokhman bin Naafi’, lalu tiba-tiba datang Ziyaad al-Bawwaab berkata kepadanya : ‘sesungguhnya Amirul Mukminin –Abdullah bin Zubair- rodhiyallahu anhu berkata : “kirimkan zakat hartamu”. Maka Abdur Rokhman berdiri lalu menyerahkan uang 100 dirham, beliau berkata : “bacakan sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam kepadanya : “sesungguhnya zakat itu hanya untuk benda yang bergerak”. Naafi’ berkata : ‘aku lalu bertemu Ziyaad, aku bertanya kepadanya, sudahkah engkau sampaikan (pesan Abdur Rokhman)?’, maka Ziyaad menjawab, sudah. Tanyaku lagi, lalu apa yang dikatakan Ibnu Zubair?, jawabnya : “ia benar”.

 

Demikian akhir dari pembahasan kita, dimana kami merajihkan secara hitam putih tidak ada kewajiban zakat pada harta perdagangan. Namun kami sampaikan sebuah pendekatan yang pada era ekonomi modern saat ini, dikenal istilah CSR (Corporate Social Responsibility) dimana perusahaan-perusahaan, terutama yang berskala besar dituntut untuk peduli kepada lingkungannya. Kemudian hal ini menjadi trend bisnis, bahkan dengan program perusahaan untuk menyisihkan sebagian keuntungannya yang disalurkan kepada proyek-proyek sosial, nama branded perusahaan akan naik. Bukankah kita sering mendengar sebuah perusahaan beriklan bahwa jika anda membeli produk kami, maka itu sama saja anda telah menaman sebuah pohon. Ada juga yang beriklan, membeli produk kami berarti telah menyantuni anak yatim sekian rupiah dan iklan-iklan sejenisnya.

Namun tentunya bagi seorang Muslim yang kebetulan seorang pengusaha, pendekatan melalui hadits ini, barangkali akan menyentuh hatinya untuk menyisihkan sebagian keuntungannya untuk membantu kaum Muslimin lain yang sedang membutuhkan. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ اللَّغْوُ وَالْحَلْفُ، فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ

Sesungguhnya jual beli terkadang diselingi permainan dan sumpah palsu, maka bersihkanlah dengan shodaqoh (HR. Abu Dawud, Nasa’i dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Sehingga sekalipun seorang tidak mengikuti pendapat yang mewajibkan zakat perdagangan, bukan berarti hal itu sebagai pembenaran baginya untuk bersikap pelit, maka bagilah keuntungan hasil perniagaan anda, karena percayalah tidak ada orang yang bangkrut karena seiring memberi, bahkan kebalikannya jika anda terus-menerus pelit bukan tidak mungkin akan mengalami kebangkrutan. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Tidak ada satu hari pun pada pagi harinya, kecuali ada dua orang malaikat yang turun, salah satunya berdoa : “Ya Allah berikan kepada orang yang berinfak ganti yang lebih baik”, sedangkan yang satunya berkata : “Ya Allah berikan kepada orang yang pelit, kebangkrutan” (Muttafaqun ‘alaih).

Demikian juga ini diberlakukan apa yang pada masa ini dikenal dengan sebutan zakat penghasilan, maka pendapat yang terkuat tidak ada kewajiban pada zakat penghasilan, kecuali jika memang ia memiliki kelebihan penghasilan yang disimpan melebih haul dan telah mencapai nishob emas atau perak. Hendaknya bagi yang memiliki penghasilan, sekalipun tidak mampu menyimpan hartanya melebihi nishob, untuk rajin berinfak sesuai dengan kesanggupannya. Wallahu A’lam.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: