BOLEHKAH RUKU’ SAMBIL BERJALAN DI BELAKANG SHOF?

October 28, 2014 at 11:02 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

BOLEHKAH RUKU’ SAMBIL BERJALAN DI BELAKANG SHOF

KETIKA MELIHAT IMAM SHOLAT SUDAH RUKU’

 

Beberapa waktu yang lalu ketika saya sedang sholat berjamaah di Masjid, pada saat kami sedang ruku’ tiba-tiba dari belakang saya ada seorang ikhwah yang berjalan dalam posisi ruku’, sehingga akhirnya beliau sampai disamping kanan saya persis. Barangkali ikhwah tersebut khawatir jika ia melakukan ruku’ setelah berada di posisi shof, ia akan ketinggalan ruku’ bersama Imam, sehingga ia tidak mendapatkan rakaat sholat. Terlintas dalam benak saya pembahasan tentang masalah ini dari guru-guru kita, namun terlupakan bagi saya qoul yang rajih berkaitan apakah masih diperbolehkan bagi seorang makmum berjalan sambil ruku’ agar mendapatkan ruku’ bersama Imam sholat?. Oleh karenanya untuk “melawan lupa”, saya mencoba menuliskan artikel untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Permasalahan yang kita bahas adalah diluar masalah terkait seorang yang ruku’ sambil berjalan, misalnya ketika melihat didepan atau disampingnya ada celah shof yang kosong karena ditinggal oleh salah satu atau beberapa jama’ah sholat yang menggugurkan sholatnya karena batal wudhunya atau sebab lainnya. Maka untuk permasalahan seperti ini, para ulama tidak berbeda pendapat tentang kebolehan orang tersebut berjalan walaupun sambil ruku’ untuk mengisi kekosongan shof yang kosong. Imam Ibnu Bathol dalam Syarah Bukhori  menukil ucapan Imam Thohawi berikut :

قال الطحاوى: ولا يختلفون فيمن صلى وراء إمام فى صف، فخلا موضع رجل أمامه أنه ينبغى له أن يمشى إليه

Imam Thohawi berkata : ‘mereka (para ulama) tidak berbeda pendapat bagi orang sholat dibelakang Imam dalam shof, lalu ada celah shof didepannya, maka hendaknya ia berjalan menuju shof yang kosong tersebut.

Namun sebelum kita bahas permasalahan ruku’ sambil berjalan ketika mendapati jama’ah sholat sedang ruku’, perlu kita ketahui bahwa syariat memerintahkan kepada orang yang hendak mendatangi sholat agar mereka bersikap tenang, berwibawa dan grasa-grusu (bs. Jawa), sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ، فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالوَقَارِ، وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا،  وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Jika engkau mendengar iqomah sholat, maka berjalanlah ke tempat sholat dan wajib atas kalian untuk bersikap tenang dan berwibawa, jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapati (dari gerakan sholat), maka ikutilah sholatnya dan apa yang terluput darinya, maka sempurnakan kemudian (Muttafaqun ‘alaih).

Akan tetapi pada masa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam masih hidup, pernah ada salah seorang sahabatnya yang bernama Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu, ruku’ sambil berjalan masuk kedalam shof ketika mendapati Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam sedang ruku’ mengimami sholat jama’ah, kisah ini cukup masyhur diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan selainnya dari al-Hasan al-Bashri dari Abi Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu :

أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِعٌ، فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ»

Bahwa beliau mendapati Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam sedang ruku’, maka beliau Rodhiyallahu ‘anhu ruku’ sebelum sampai ke shof. Lalu hal tersebut sampai kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, maka beliau bersabda : “semoga Allah menambah semangatmu, namun jangan diulangi lagi”.

Dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Arnauth, ceritanya lebih jelas yakni :

أَنَّهُ جَاءَ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاكِعٌ، فَرَكَعَ دُونَ الصَّفِّ، ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ هَذَا الَّذِي رَكَعَ، ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ؟ “، فَقَالَ أَبُو بَكَرَةَ: أَنَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” زَادَكَ اللهُ حِرْصًا، وَلَا تَعُدْ “

Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu mendatangi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam sedangkan beliau dalam kondisi ruku’, lal’ beliau Rodhiyallahu ‘anhu ruku’ dibelakang shoff, sambil berjalan menuju shoff. Kemudian Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bertanya (setelah selesai sholat) : “siapa yang tadi ruku’, lalu berjalan menuju shoff?”, maka Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu menjawab : “saya”. Lalu Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda kepadanya : “semoga Allah menambah semangatmu dan jangan kamu ulangi lagi”.

Kemudian para ulama berbeda pendapat terkait hukum ruku’ sambil berjalan. Berikut kami nukilkan pendapat ashabul madzhaib terkait hal tersebut :

  1. Madzab Hanafi, akan saya wakilkan kepada Imam al-Kasani dalam kitabnya Badaai’us Shonaai’ (1/503) berkata :

وَيُكْرَهُ لِمَنْ أَتَى الْإِمَامَ وَهُوَ رَاكِعٌ أَنْ يَرْكَعَ دُونَ الصَّفِّ وَإِنْ خَافَ الْفَوْتَ

Dimakruhkan bagi orang yang menjumpai Imam sedang ruku’, kemudian ia melakukan ruku’ dibelakang shoff, sekalipun (alasannya) karena khawatir tdak mendapatkan (rakaat sholat).

Alasan beliau bahwa orang yang melakukan hal tersebut tidak terlepas dari 2 keadaan : yang pertama ia akan berjalan menuju shoff, berarti ini adalah langkah gerakan, sebagian ulama menurut Imam al-Kasani, sampai mengatakan batalnya sholat orang yang melangkah dengan gerakan dua langkah-dua langkah, namun kata Imam al-Kasani, minimalnya hal melangkah dalam sholat tersebut makruh. Kemudian yang kedua, orang yang melakukan ruku’ di belakang shoff berarti ia melakukan sholat dibelakang shoff, padahal Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

لَا صَلَاةَ لِمُنْفَرِدٍ خَلْفَ الصَّفِّ

 Tidak ada sholat bagi orang yang sholat sendirian dibelakang shoff (HR. Ibnu Hibban dan Daruquthni, dihasankan oleh Imam Tirmidzi, sebagaimana dinukil oleh Imam Syaukani dalam Nailul Author).

Kata Imam al-Kasani mengomentari hadits ini, bahwa peniadaan disitu minimalnya adalah peniadaan kesempurnaan sholat, sehingga minimalnya makruh bagi orang yang sholat dibelakang shoff sendirian.

  1. Madzhab Maliki, saya akan menukilkan langsung dari pendapat Imamnya, yaitu Imam Malik. Penulis kitab Mawaahibul Jaliil, yaitu asy-Syaikh ar-Ru’aniy (w. 954 H) menukil adanya 3 pendapat Imam Malik dalam masalah ini, sebagai berikut :

A. Dalam al-Mudawanah dinukil Imam Malik berpendapat, orang tersebut ruku’ mengikuti Imam, lalu berjalan menuju shoff.

B. Imam Al-Asyhab menukil bahwa Imam Malik berpendapat ia tidak boleh bertakbir lalu ruku’, kecuali setelah sampai di shoff jama’ah sholat.

C. Imam Ibnu Hajiib menukil bahwa Imam Malik berpendapat ia tidak boleh takbir lalu ruku’, kecuali setelah sampai di shoffnya. Hal ini diperbolehkan jika ia sudah dekat dengan shoffnya.

3. Madzhab Syafi’I, sepertinya madzhab kita memakruhkan hal tersebut, sebagaimana diisyaratkan oleh Imam al-Muzani dalam Mukhtashornya, dimana beliau berkata ketika mengomentari hadits Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu :

فكأنه أحب له الدخول في الصف ولم ير عليه العجلة بالركوع حتى يلحق بالصف ولم يأمره بالاعادة بل فيه دلالة على أنه رأى ركوعه منفردا مجزئا عنه

Seolah-olah Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menyukai untuk Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu masuk dulu kedalam shoff dan tidak tergesa-gesa untuk ruku’ sebelum menempati shoffnya. Namun Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam tidak memerintahkannya untuk mengulangi sholatnya, yang mana ini menunjukkan bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam berpandangan ruku’nya orang yang sholat dibelakang shoff sendirian sah sholatnya.

Kemudian terdapat nash tegas dari Imam Zakariya al-Anshori dalam Manhajut Thulaab  bahwa beliau memakruhkan seorang makmum yang sholat dibelakang shoff sendirian. Kemudian sebagaimana dinukil oleh Imam al-Kasani diatas bahwa orang yang ruku’ di luar shoff berarti ia sholat dibelakang shoff sendirian.

  1. Madzhab Hanbali, saya akan nukilkan penjelasan Imam Ibnu Qudamah dalam Syarhul Kabiir, beliau membagi orang yang ruku’ dibelakang shoff, lalu ia masuk kedalam shoff menjadi 3 keadaan :

A. Ia sudah sholat satu rokaat dibelakang shoff, kemudian pada rokaat berikutnya ia baru masuk kedalam shoff, maka menurut Imam Ibnu Qudamah tidak sah sholatnya.

B. Ia ruku’ kemudian berjalan menuju shoff dan sampai di shoff sholat, sebelum Imam Mengangkat kepalanya dari ruku’ (untuk I’tidal), maka sah sholatnya.

C. Ia ruku’ kemudian berjalan menuju shoff dan sampai di shoff sholat, setelah Imam Mengangkat kepalanya dari ruku’ (untuk I’tidal), maka kata beliau ada 3 pendapat, yang pertama sah sholatnya, yang kedua batal sholatnya dan yang ketiga jika ia tidak tahu hukumnya, maka sah sholatnya, namun jika ternyata sudah tahu, maka ia harus mengulangi sholatnya, alias batal.

5. Madhzab dhohiri, sebagaimana diwakili oleh Imam Ibnu Hazm mengatakan bahwa orang yang sholat dibelakang shoff batal sholatnya bagaimanapun kondisinya, kata beliau dalam al-Muhalla :

وَأَيُّمَا رَجُلٍ صَلَّى خَلْفَ الصَّفِّ بَطَلَتْ صَلاتُهُ، وَلا يَضُرُّ ذَلِكَ الْمَرْأَةَ شَيْئًا

Kapan saja seorang laki-laki sholat dibelakang shoff, maka batal sholatnya. Namun bagi wanita hal ini tidak mengapa.

Kemudian Imam Ibnu Hazm mengomentari para ulama yang berdalil dengan hadits Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu yang menunjukkan bahwa orang yang sholat dibelakang shoff tidak batal sholatnya. Imam Ibnu Hazm menakwil bahwa apa yang dilakukan oleh Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu adalah sebelum turun larangan dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bagi seorang untuk sholat sendirian dibelakang shoff, sehingga menurut beliau, seandainya kejadian Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu ini terjadi setelah turun larangan, maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam tidak akan lupa untuk memerintahkan Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu untuk mengulangi sholatnya.

Kemudian untuk merajihkan pendapat dalam masalah ini, maka kita perlu melihat dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa berjalannya seorang ketika ruku’ dalam sholat agar tidak ketinggalan kemudian melangkahkan kakinya ke tempat shoff yang semestinya diperbolehkan atau tidak? Pembahasan akan kita mulai dengan melakukan istimbat hukum terhadap hadits Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu. Menurut kami ada 2 point penting dalam hadits tersebut yaitu : sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam “jangan diulangi” dan tidak adanya perintah dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam untuk mengulangi sholatnya Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu.

Sekilas telah kami singgung pendapat ulama yang beristimbat dengan tidak adanya perintah dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam agar Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu mengulangi sholatnya, menunjukkan bahwa sholatnya sah. Pendapat ini diselisih oleh Imam Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa hadits Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu terjadi sebelum adanya larangan untuk sholat sendirian dibelakang shoff, seolah-olah beliau ingin mengatakan hadits Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu mansuukh (dihapus) hukumnya. Namun perkara naasikh-mansuukh haruslah diketahui tarikh (sejarah) keluarnya hadits tersebut, dimana yang keluar lebih dahulu itulah yang mansuukh yang akan di-naasikh oleh hadits yang keluarnya belakangan. Dalam kasus kita ini hadits-hadits yang memerintahkan untuk mengulangi sholat bagi yang bermakmum dibelakang shoff atau hadits yang menunjukkan penafian sholat bagi yang bermakmum sendirian dibelakang tidak dapat dipastikan bahwa itu adalah hadits-hadits yang keluar belakangan setelah haditsnya Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu. Terlebih lagi sebagian Aimah mendhoifkan hadits-hadits tersebut.

Hadits yang memerintahkan untuk mengulangi sholat bagi yang bermakmum sendirian dibelakang shoff, diriwayatkan dari Waabishoh bin Ma’bad Rodhiyallahu ‘anhu :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يُصَلِّي خَلْفَ الصَّفِّ وَحْدَهُ ، فَأَمَرَهُ أَنْ يُعِيدَ الصَّلَاةَ

Bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam melihat seorang laki-laki yang sholat dibelakang shoff sendirian, lalu Beliau memerintahkannya untuk mengulangi sholatnya (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban, Imam Al Albani dan Syaikh Syu’aib Arnauth serta dihasankan oleh Imam Tirmidzi).

Namun Imam Syafi’I mengisyaratkan kedhoifan hadits ini, sebagaimana dinukil oleh Imam al-Muzani dalam Mukhtashornya :

قال الشافعي وقد سمعت من أهل العلم بالحديث من يذكر أن بعض المحدثين يدخل بين هلال بن يساف ووابصة فيه رجلا ومنهم من يرويه عن هلال عن وابصة سمعه منه وسمعت بعض أهل العلم منهم كأنه يوهنه بما وصفت

Syafi’I berkata : ‘aku telah mendengar (sebagian) ulama hadits yang menyebutkan bahwa sebagian perowi hadits memasukkan antara Hilaal bin Yasaaq dengan Waabishoh Rodhiyallahu ‘anhu seorang laki-laki. Sebagian ulama hadits menganggap bahwa Hilaal mendengar dari Waabishoh Rodhiyallahu ‘anhu. Ana mendengar sebagian ulama diantara mereka seolah-olah melemahkan haditsnya karena apa yang saya sifatkan tadi.

Adapun hadits yang mengatakan bahwa tidak ada sholat bagi yang sholat sendirian dibelakang shoff, sebagaimana kami nukil diatas diriwayatkan dari Tholaq bin Ali Rodhiyallahu ‘anhu. Imam Syaukani dalam Nailul Author menukil pendhoifan hadits ini dari Imam Ibnu Abdil Bar yang mana beliau berkata :

وَقَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ : إنَّهُ مُضْطَرِب الْإِسْنَاد وَلَا يُثْبِتهُ جَمَاعَة مِنْ أَهْل الْحَدِيث

Haditsnya mudhthorib (goncang) sanadnya dan sekelompok ahli hadits tidak menshahihkannya (baca : mendhoifkannya).

Yang kedua tentang perkataan “jangan diulangi”, maka para ulama berbeda pendapat tentang penafsiran kalimat tersebut. Imam Al Albani telah merangkumkannya bagi kita dalam Silsilah Ahaadits Shahihah (no. 230) dimana kata beliau ada 3 makna tentang sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam tersebut :

  1. Jangan engkau menganggap mendapatkan rakaat sholat yang engkau hanya mendapatkan ruku’nya saja.
  2. Jangan engkau mengulangi ketergesa-gesaanmu dalam berjalan menuju sholat, karena dalam riwayat Imam Ahmad Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam mendengar suara sandal Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu yang gedebukan (bs. Jawa) yang terburu-buru untuk mendapatkan rakaat sholat.
  3. Jangan engkau ulangi lagi ruku’mu yang dibelakang shoff, lalu engkau berjalan menuju shoff.

Kemudian Imam Al Albani mencoba merajihkan salah satu makna yang benar terhadap tafsiran sabda “jangan engkau ulangi”. Adapun point yang pertama, kata beliau tidak tepat, karena seandainya seperti itu tentu Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam akan memerintahkannya untuk mengulangi sholat, padahal tidak ada perintah tersebut, sehingga menunjukkan bahwa tafsiran yang pertama tidak benar. Imam Ibnu Qudamah sebagaimana telah dinukil begitu juga Imam ash-Shon’ani dalam Subulus Salam mentakwil bahwa mungkin Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam tidak memerintahkan orang tersebut untuk mengulangi sholat karena ia tidak tahu hukumnya, sehingga ketidaktahuannya diberikan udzur oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam. Namun Imam Al Albani membantah bahwa takwilan seperti ini tidak tepat, buktinya Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam memerintahkan sebanyak 3 kali kepada orang yang jelek sholatnya untuk mengulangi sholat padahal ia mengaku dirinya tidak tahu tatacara sholat lebih dari itu. Kisah ini terdapat dalam hadits yang masyhur yang terkenal dengan nama hadits musi’u sholat (orang yang jelek sholatnya). Seadainya kebodohan sebagai udzur, tentu Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam tidak akan memerintahkan orang yang jelek sholatnya untuk mengulangi sholatnya sebanyak 3 kali.

Adapun penafsiran yang kedua, maka Imam Al Albani tidak ragu untuk mengatakan bahwa ini tercakup dalam kalimat “jangan diulangi”. Adapun tafsiran yang ketiga ini adalah masalah yang butuh penelitian dan pembahasan, karena dhohir konteks kalimat menunjukkan akan hal tersebut, dimana urutan kronologis kejadiannya, Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu  ruku’ dibelakang shoff lalu berjalan sambil ruku’ menuju shoff. Kemudian ketika tahu, Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengatakan “jangan engkau ulangi”. Maka perkataan ini sepintas ditangkap adalah jangan engkau ulangi lagi perbuatanmu tadi yang ruku’ dibelakang shoff lalu berjalan sambil ruku’ ke shoff. Hal ini diperkuat oleh hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

إذا أتى أحدكم الصلاة، فلا يركع دون الصف حتى يأخذ مكانه من الصف

Jika kalian mendatangi sholat, maka janganlah ruku’ dibelakang shoff, hingga kalian menempati shoffnya (HR. Thohawi).

Imam Al Albani menilai hadits ini dhoif jiddan dalam adh-Dhoifah (no. 977), hadits ini juga diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Ajlan secara mauquf dari Abu Huroiroh, namun didhoifkan juga oleh Imam Al Albani.

Kemudian Imam Al Albani untuk menguatkan bahwa tafsiran yang ketiga bukan makna yang dikehendaki dari hadits Abu Bakrah, beliau membawakan kepada kita atsar-atsar para sahabat baik ucapan dan perbuatan yang menunjukkan mereka memperbolehkan sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu, berikut atsar-atsar tersebut :

  1. Dari Abdullah bin Zubair Rodhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu’jamul Ausath dari jalan Ibnu Juraij dari ‘Athoo’ bahwa ia mendengar Abdullah bin Zubair Rodhiyallahu ‘anhu berkhutbah di masjidil haram :

إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ وَالنَّاسُ رُكُوعٌ فَلْيَرْكَعْ حِينَ يَدْخُلُ ثُمَّ يَدِبُّ رَاكِعًا حَتَّى يَدْخُلَ فِي الصَّفِّ فَإِنَّ ذَلِكَ السُّنَّةُ ” قَالَ عَطَاءٌ قَدْ رَأَيْته يَصْنَعُ ذَلِكَ قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ وَقَدْ رَأَيْت عَطَاءً يَصْنَعُ ذَلِكَ

Jika kalian masuk masjid, sedangkan jama’ah sholat sedang ruku’ maka ruku’lah ketika masuk, lalu ia berjalan sambil ruku’ sampai masuk shoff, karena yang demikian adalah sunnah.

‘Athoo’ berkata : ‘aku melihat Ibnu Zubair Rodhiyallahu ‘anhu melakukan hal tersebut’.

Ibnu Juraij berkata : ‘aku melihat ‘Athoo’ melakukan hal tersebut’.

Imam Al Albani mengomentari bahwa khutbah Ibnu Zubair Rodhiyallahu ‘anhu di masjidil harom yang didengarkan oleh sebagian sahabat dan mengumumkan bahwa perbuatan diatas adalah sunnah yang berarti hukumnya marfu’ kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, serta tidak adanya pengingkaran dari sahabat lainnya terhadap khutbah Ibnu Zubair Rodhiyallahu ‘anhu menunjukkan bahwa ruku’ sambil berjalan ke shoff adalah sunnahnya Nabi kita Sholallahu ‘alaihi wa salaam.

2. Perbuatan Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit Rodhiyallahu ‘anhumaa yang pernah ruku’ lalu berjalan menuju shoff. Imam Al Albani menukil riwayat Imam Baihaqi dalam Sunannya dari jalan Abu Bakar bin Abdur Rokhman bin al-Haarits bin Hisyaam :

أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ دَخَلاَ الْمَسْجِدَ وَالإِمَامُ رَاكِعٌ ، فَرَكَعَا ثُمَّ دَبَّا وَهُمَا رَاكِعَانِ حَتَّى لَحِقَا بِالصَّفِّ

Bahwa Abu Bakar ash-Shidiq dan Zaid bin Tsaabit keduanya masuk masjid, sedangkan Imam dalam kondisi ruku’, maka keduanya ruku’, lalu berjalan dalam posisi ruku’ hingga sampai kedalam shoff (HR. Baihaqi).

Imam Al Albani menilai sanadnya hasan, namun Abu Bakar bin Abdur Rokhman hanya bertemu dengan Zaid bin Tsabit Rodhiyallahu ‘anhu, sedangkan dengan Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu, beliau pernah bertemu. Namun mungkin saja beliau mendapatkan informasi dari Zaid Rodhiyallahu ‘anhu tentang kisah Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu bersamanya.

3. Perbuatan Zaid bin Tsaabit Rodhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam sunannya dari jalan Abu Umaamah Sahl bin Hunaif bahwa :

أَنَّهُ رَأَى زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَالإِمَامُ رَاكِعٌ فَمَشَى حَتَّى إِذَا أَمْكَنَهُ أَنْ يَصِلَ الصَّفَّ وَهُوَ رَاكِعٌ كَبَّرَ ، فَرَكَعَ ثُمَّ دَبَّ وَهُوَ رَاكِعٌ حَتَّى وَصَلَ الصَّفَّ

Ia melihat Zaid bin Tsaabit Rodhiyallahu ‘anhu masuk masjid sedangkan Imam sedang ruku’, lalu ia berjalan hingga ketika hampir sampai ke tempat shoff, beliau Rodhiyallahu ‘anhu bertakbir lalu ruku’ dan beliau Rodhiyallahu ‘anhu berjalan sambil ruku’, sampai ke tempat shoff.

Imam Al Albani menshahihkan sanadnya.

4. Perbuatan Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Imam Baihaqi dalam Sunannya dari jalan Zaid bin Wahab bahwa ia berkata :

خَرَجْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ يَعْنِى ابْنَ مَسْعُودٍ مِنْ دَارِهِ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَلَمَّا تَوَسَّطْنَا الْمَسْجِدَ رَكَعَ الإِمَامُ ، فَكَبَّرَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَكَعَ وَرَكَعْتُ مَعَهُ ، ثُمَّ مَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الصَّفِّ حِينَ رَفَعَ الْقَوْمُ رُءُوسَهُمْ ، فَلَمَّا قَضَى الإِمَامُ الصَّلاَةَ قُمْتُ وَأَنَا أَرَى أَنِّى لَمْ أُدْرِكْ ، فَأَخَذَ عَبْدُ اللَّهِ بِيَدِى وَأَجْلَسَنِى ، ثُمَّ قَالَ : إِنَّكَ قَدْ أَدْرَكْتَ

Ana bersama Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu keluar dari rumahnya menuju ke masjid, ketika kami sampai di tengah-tengah masjid, sang Imam ruku’, maka Abdullah Rodhiyallahu ‘anhu bertakbir lalu ruku’, aku pun ikut ruku’ bersama beliau. Kemudian kami berdua berjalan sambil ruku’ sampai kami ke tempat shoff, ketika jama’ah sholat mengangkat kepalanya dari ruku’. Ketika Imam sholat sudah selesai, maka aku segera berdiri, karena aku berpikiran bahwa aku tidak mendapatkan rokaat sholat, lalu Abdullah menarik tanganku dan mendudukkanku, lalu berkata : ‘engkau sudah mendapatkan rokaat sholat’.

Imam Al Albani mengatakan sanadnya shahih.

Sehingga kesimpulannya dari perbuatan dan ucapan kibar ulama shahabat yang mereka berjalan sambil ruku’ menunjukkan hal tersebut diperbolehkan bahkan itu adalah sunnah ketika mendapati Imam sudah ruku’, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Zubair Rodhiyallahu ‘anhu. Sehingga makna “jangan mengulangi” ditujukan kepada perbuatan Abu Bakrah Rodhiyallahu ‘anhu yang tergesa-gesa (grasa-grusu) ketika sholat. Wallahu A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: