Bab 9 Tentang Ahlu Dzimah yang Berperang bersama Kaum Muslimin Apakah diberikan Saham Ghonimah?

October 31, 2014 at 3:11 pm | Posted in Syarah Kitab Siyar min Sunan Tirmidzi | Leave a comment

بَابُ مَا جَاءَ فِي أَهْلِ الذِّمَّةِ يَغْزُونَ مَعَ المُسْلِمِينَ هَلْ يُسْهَمُ لَهُمْ؟

Bab 9 Tentang Ahlu Dzimah yang Berperang bersama Kaum Muslimin Apakah diberikan Saham Ghonimah?

 

Penjelasan Bab :

Ahlu Dzimmah adalah orang kafir yang hidup di negeri kaum muslim dengan membayar jizyah sebagai jaminan keamanan kepadanya. Bisa saja seorang pemimpin kaum Muslimin membuat peraturan bagi ahli Dzimmah, jika negara dalam situasi perang mereka wajib turut serta, sebagaimana dulu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pernah mengikat perjanjian dengan beberapa kabilah Yahudi agar mereka turut membantu kaum Muslimin ketika kota Madinah diserang oleh pihak lain.

Pada saat kondisinya seperti ini, dimana kaum kufar ahli dzimmah ikut serta berperang bersama kaum Muslimin, kemudian kaum Muslimin memperoleh kemenangan, apakah ahlu dzimmah mendapatkan saham ghonimah? Berikut penjelasannya :eroleh kemenangan, apakah ahlu dzimmah mendapatkan saham ghonimah?  berperang bersama kaum Muslimin, kemudian kaum Muslimin m

Imam Tirmidzi berkata :

1558 – حَدَّثَنَا الأَنْصَارِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا مَعْنٌ قَالَ: حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ، عَنْ الفُضَيْلِ بْنِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نِيَارٍ الأَسْلَمِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ،  عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى بَدْرٍ حَتَّى إِذَا كَانَ بِحَرَّةِ الوَبَرَةِ لَحِقَهُ رَجُلٌ مِنَ المُشْرِكِينَ يَذْكُرُ مِنْهُ جُرْأَةً وَنَجْدَةً، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ؟»، قَالَ: لَا، قَالَ: «ارْجِعْ، فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ» وَفِي الحَدِيثِ كَلَامٌ أَكْثَرُ مِنْ هَذَا، هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ العِلْمِ، قَالُوا: لَا يُسْهَمُ لِأَهْلِ الذِّمَّةِ، وَإِنْ قَاتَلُوا مَعَ المُسْلِمِينَ العَدُوَّ، وَرَأَى بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ: أَنْ يُسْهَمَ لَهُمْ إِذَا شَهِدُوا القِتَالَ مَعَ المُسْلِمِينَ

وَيُرْوَى عَنْ الزُّهْرِيِّ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْهَمَ لِقَوْمٍ مِنَ اليَهُودِ قَاتَلُوا مَعَهُ» حَدَّثَنَا بِذَلِكَ قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَارِثِ بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ عَزْرَةَ بْنِ ثَابِتٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ

11). Hadits no. 1558

Haddatsanaa al-Anshoriy ia berkata, haddatsanaa Ma’nun ia berkata, haddatsanaa Maalik bin Anas, dari al-Fudhoil bin Abi Abdillah, dari Abdillah bin Niyaar al-Aslamiy, ‘Urwah, dari ‘Aisyah rodhiyallahu anha, bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam keluar menuju Badr, hingga ketika Beliau sholallahu alaihi wa salam sampai di sumur al-Wabaroh, salah seorang Musyrikin yang disebut pemberaninya Najed ingin ikut perang, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata kepadanya : “engkau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?”. Ia berkata : “tidak”. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “kembalilah! Aku tidak butuh bantuan orang Musyrik”.

Dalam hadits diatas ada cerita yang lebih lengkap dari ini. Hadits ini Hasan ghorib.

Sebagian ulama berpegang dengan hadits ini, mereka berkata : ‘ahli dzimmah tidak diberikan saham, sekalipun mereka turut serta memerangi musuh bersama kaum Muslimin’.

Sebagian ulama berpendapat bahwa ahli dzimmah diberikan saham jika turut beserta berperang bersama kaum Muslimin.

Diriwayatkan dari az-Zuhriy bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam memberikan saham kepada suatu kaum dari kalangan Yahudi yang turut serta berperang bersama Beliau.

Hadits ini diriwayatkan dengan haddatsanaa Qutaibah bn Sa’id ia berkata, haddatsanaa Abdul Waarits bin Sa’id dari ‘Urwah bin Tsaabit dari az-Zuhriy.

Penjelasan kedudukan hadits :

Al-Anshoriy kemungkinan adalah Ishaq bin Musa, karena beliau adalah gurunya Imam Tirmidzi sekaligus muridnya Ma’nun. Ma’nun memiliki dua murid yang berlaqob al-Anshori, yaitu Ishaq bin Musa dan Ahmad bin Abdus Shomad, hanya saja nama yang terakhir bukan gurunya Imam Tirmidzi. Ishaq perowi tsiqoh mutqin dijadikan hujjah oleh Imam Muslim.

Sisa perowinya adalah para perowi Bukhori-Muslim, kecuali Fudhoil dan ibnu Niyaar, hanya dipakai oleh Imam Muslim.

Hadits ini Shahih, Imam Tirmidzi menilainya, Hasan, dishahihkan oleh Imam Al Albani. Lafadz yang mirip diriwayatkan dalam HR. Muslim (no. 1817).

Sanad kedua adalah hadits mursal, sedangkan mursal dikategorikan sebagai hadits yang dhoif, terlebih lagi ini adalah mursalnya Az-Zuhri yang merupakan selemah-lemahnya mursal sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama. Imam Mubarokfuri dalam Tuhfathul Ahwadzi  berkata tentang hadits mursal ini, katanya :

وَمَرَاسِيلُ الزُّهْرِيِّ ضَعِيفَةٌ

Mursal-mursalnya az-Zuhri adalah lemah.

Imam Al Albani dalam Ta’liq Sunan Tirmidzi  juga mendhoifkan sanad mursal ini.

 

Imam Tirmidzi berkata :

1559 – حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الأَشَجُّ قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ قَالَ: حَدَّثَنَا بُرَيْدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ جَدِّهِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ: «قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَفَرٍ مِنَ الأَشْعَرِيِّينَ خَيْبَرَ، فَأَسْهَمَ لَنَا مَعَ الَّذِينَ افْتَتَحُوهَا» هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ، وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ العِلْمِ  قَالَ الأَوْزَاعِيُّ: مَنْ لَحِقَ بِالمُسْلِمِينَ قَبْلَ أَنْ يُسْهَمَ لِلْخَيْلِ أُسْهِمَ لَهُ وَبُرَيْدٌ يُكْنَى أَبَا بُرْدَةَ وَهُوَ ثِقَةٌ، وَرَوَى عَنْهُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، وَابْنُ عُيَيْنَةَ، وَغَيْرُهُمَا

 12). Hadits no. 1559

Haddatsanaa Abu Sa’id al-Asyajj ia berkata, haddatsanaa Hafsh bin Ghiyaats ia berkata, haddatsanaa Buraid bin Abdillah bin Abi Burdah dari kakejnya Abi Burdah dari Abi Musa rodhiyallahu anhu beliau berkata : “aku bersama beberapa orang al-Asy’ariyyin mendatangi Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pada waktu perang Khoibar, lalu Beliau sholallahu alaihi wa salam memberikan saham kepada kami dan juga orang-orang yang bersama-sama menaklukkan musuh”.

Hadits ini Hasan Shahih Ghoriib, sebagian ulama berpegang dengan hadits ini. Al-Auzaa’i berkata : ‘barangsiapa yang ikut bersama kaum muslimin sebelum dibagikan sahamnya kepada kuda, maka ia diberikan saham’.

Buraid berkunyah dengan Abu Burdah, beliau perowi tsiqoh, diriwayatkan haditsnya oleh Sufyan ats-Tsauriy dan ibnu Uyyainah, serta selainnya.

Penjelasan kedudukan hadits :

Abu Sa’id al-Asyajj adalah Abdullah bin Sa’id, seorang perowi Bukhori-Muslim, begitu juga dengan sisa perowi lainnya adalah perowinya Syaikhain.

Hadits ini Shahih, Imam Tirmidzi menilainya, Hasan Shahih, dishahihkan oleh Imam Al Albani. Lafadz yang mirip diriwayatkan dalam HR. Bukhori (no. 3136) dan HR. Muslim (no. 2502).

 

Penjelasan Hadits :

  1. Pendapat yang rajih bahwa ahlu dzimmah tidak diberikan saham ghonimah, namun mereka diberikan bagian, jika pemimpin kaum Muslimim memandangnya seperti itu. Imam Mubafarokfuriy menukil ucapan Imam Syaukani dalam Nailul Author :

قَالَ الشَّوْكَانِيُّ فِي النَّيْلِ : وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ لَا يُسْهَمُ لِلنِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ وَالْعَبِيدِ وَالذِّمِّيِّينَ ، وَمَا وَرَدَ مِنْ الْأَحَادِيثِ مِمَّا فِيهِ إِشْعَارٌ بِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْهَمَ لِأَحَدٍ مِنْ هَؤُلَاءِ فَيَنْبَغِي حَمْلُهُ عَلَى الرَّضْخِ وَهُوَ الْعَطِيَّةُ الْقَلِيلَةُ جَمْعًا بَيْنَ الْأَحَادِيثِ

Yang jelas bahwa wanita, anak-anak, hamba dan ahli dzimmah tidak diberi saham. Apa yang datang dari hadits-hadits yang memberikan isyarat bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam memberikan saham kepada salah satu golongan diatas, maka hendaknya dibawa kepada pengertian bahwa itu adalah pemberian yang sedikit, dalam rangka mengkompromikan hadits-hadits tersebut.

  1. Imam Mubarokfuriy juga merajihkan bahwa ahli dzimmah tidak mendapatkan saham ghonimah.
  2. Terkait dengan meminta bantuan orang kafir dalam memerangi musuh, maka Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menukil ucapan Imam Syafi’i :

وقال الشافعي وآخرون إن كان الكافر حسن الرأى في المسلمين ودعت الحاجة إلى الاستعانة به أستعين به وإلا فيكره

Syafi’i dan selainnya berkata : ‘jika orang kafirnya memiliki pandangan yang baik terhadap kaum Muslimin dan kita memang butuh kepada pertolongan mereka, maka kita dapat meminta tolong, jika tidak seperti itu maka dimakruhkan / dibenci.

Imam ibnu Baz memiliki sebuah artikel yang sangat bagus terkait hukum meminta bantuan kufar dalam peperangan kaum Muslimin, dimana beliau menyebutkan ucapan para ulama beserta dalil-dalilnya terkait hal ini, silakan merujuk kesana.

Barangkali pendapat Imam Syafi’i inilah yang rajih.

  1. Adapun meminta bantuan orang munafik, maka para ulama berijma akan kebolehannya, sebagaimana dinukil oleh Imam bin Baz dari Imam Shon’ani dalam Subulus Salam, kata beliau :

ويجوز الاستعانة بالمنافق إجماعا لاستعانته صلى الله عليه وسلم بعبد الله بن أبي وأصحابه

Boleh meminta bantuan orang munafik berdasarkan kesepakatan ulama, karena Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah meminta bantuan kepada Abdullah bin Ubai dan antek-anteknya.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: