TAHNI’AH KEPADA ORANG TUA YANG BARU MELAHIRKAN ANAK

November 3, 2014 at 2:32 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

TAHNI’AH KEPADA ORANG TUA YANG BARU MELAHIRKAN ANAK

 

Salah satu keindahan Islam agar mempererat persaudaraan sesama pemeluknya adalah saling memberikan ucapan sukacita/tahni’ah ketika saudaranya mendapatkan kenikmatan dari Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa atau ucapan dukacita/takziyyah ketika ditimpa musibah.

Salah satu ucapan yang diajarkan oleh Nabi kita sholallahu alaihi wa salam terkait kelahiran seorang anak adalah ucapan tahni’ah berikut :

باركَ الله لكَ في الموهوب لك، وشكرتَ الواهبَ، وبلغَ أشدَّه ورُزقت برّه

‘Baarokallohu laka fil mauhuubi laka wa sayakartal Waahib wa balagho asyuddahu wa ruziqta birrohu’.”

“Semoga Allah memberkahimu dalam anak yang diberikan kepadamu. Kamu pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa, serta kamu dikaruniai kebaikannya.”

Kemudian bagi orang tua si bayi yang diberikan ucapan selamat untuk menjawab :

باركَ الله لك، وبارَك عليك، وجزاكَ الله خيرًا، ورزقك الله مثلَه، أو أجزلَ الله ثوابَك

“Baarokallohu laka wa baaroka ‘alaika wa jazaakallohu khoiron wa rozaqokallohu mitslahu aw ajzalallohu tsawaabak.

“Semoga Allah juga memberkahimu dan melimpahkan kebahagiaan untukmu. Semoga Allah membalasmu dengan sebaik-baik balasan, mengaruniakan kepadamu sepertinya dan melipat gandakan pahalamu.”

Atsar ini disebutkan oleh syaikh DR. Sa’id bin Ali al-Qohthoni dalam Hisnul Muslim sebuah kitab kecil yang cukup terkenal dan bermanfaat yang berisi doa-doa harian yang seharusnya diamalkan oleh seorang Muslim. Setelah beliau menyebutkan doa diatas, lalu beliau berkata :

انظر الأذكار للنووي ص 349 وصحيح الأذكار للنووي لسليم الهلالي 2 / 713

Lihat al-Adzkaar an-Nawawi (h. 349) dan shahih al-Adzkaar an-Nawaawi oleh syaikh Saliim al-Hilaali (2/713).

Namun setelah saya melihat langsung kitab al-Adzkaar, Imam Nawawi tidak menyebutkan siapa periwayat hadits ini sehingga bisa diketahui status sanadnya dan qodarullah saya juga tidak memiliki kitab shahih al-Adzkaar karya Syaikh Saliim al-Hilaaly, sehingga bisa diketahui alasan beliau menshahihkan hadits ini.

Akan tetapi saya menemukan ada salah seorang ikhwan yang bernama Abu Haazim Fikri Zainal Abidin dalam multaqo ahlul hadits telah melakukan takhrij hadits ini, kata beliau :

قلت للتهنئة بالمولود صيغ مشهورة منها:

الصيغة الأولى : شكرت الواهب وبورك لك في الموهوب وبلغ أشده ورزقت بره و هو أثر عن الحسن سنده ضعيف

قال علي ابن الجعد في (( مسنده )) (1448/3398) : أخبرني الهيثم بن جماز قال قال رجل عند الحسن : يهنيك الفارس فقال الحسن وما يهنيك الفارس لعله أن يكون بقارا أو حمارا ولكن قل شكرت الواهب وبورك لك في الموهوب وبلغ أشده ورزقت بره0

قلت : و أخرجه كذلك ابن عدي ((الكامل)) (7/101) ، وابن أبي الدنيا ((العيال)) (1/365/201) جميعاً من طريق الهيثم ابن جماز قال : قال : رجلٌ عند الحسن به نحوه .قلت : وهذا إسناد ضعيف جداً من أجل الهيثم ابن جماز .

قال ابن عدي ((الكامل في الضعفاء)) (7/101): الهيثم بن جماز بصري ثنا احمد بن على بن بحر ثنا عبد الله بن الدورقي ثنا يحيى بن معين قال الهيثم بن جماز الحنفي كان بالبصرة ضعيف وثنا محمد بن علي ثنا عثمان بن سعيد سألت يحيى عن الهيثم بن جماز قال ليس بشيء ثنا عبد الله بن محمد بن عبد العزيز ثنا عباس سمعت يحيى بن معين يقول الهيثم بن جماز ضعيف وفي موضع آخر الهيثم قاص كان بالبصرة ليس بذلك يروي عنه هشيم ثنا بن أبى عصمة ثنا أبو طالب سألت احمد بن حنبل عن الهيثم بن جماز قال كان منكر الحديث ترك حديثه ثنا بن حماد قال قال السعدي الهيثم بن جماز كان قاصا ضعيفا روى عن ثابت معاضيل

Kukatakan bahwa tahni’ah kepada anak yang baru lahir, ada beberapa bentuk kalimat yang masyhur, diantaranya :

Yang pertama lafadznya : sayakartal Waahib Baarokallohu laka fil mauhuubi wa balagho asyuddahu wa ruziqta birrohu.

Atsar ini dari al-Hasan dengan sanad dhoif, Ali ibnul Ja’di dalam “musnadnya (3398/1448) berkata : ‘akhbaroni al-Haitsaam bin Jamaaz, ada seorang laki-laki berkata kepada al-Hasan : ‘engkau mengucapkan selamat kepada pemilik kuda? Al-Hasan menjawab, apa itu mengucapkan selamat kepada kuda, mungkin saja itu berupa sapi atau keledai, namun ucapkanlah : ayakartal Waahib Baarokallohu laka fil mauhuubi wa balagho asyuddahu wa ruziqta birrohu.

Kukatakan : ‘dikeluarkan oleh Ibnu Adiy “al-Kaamil” (7/101) dan ibnu Abid Dunya dalam “al-‘Iyaal” (1/365/201) semuanya dari jalan al-Haitsam bin Jamaaz ia berkata, ada seorang laki-laki berkata al-Hasan seperti diatas. Kukatan, sanad ini sangat lemah sekali karena al-Haitsam bin Jamaaz.

Ibnu Adiy dalam “al-Kaamil fii Dhufaa’aa” (7/101) : ‘al-Haitsam bin Jamaaz bashriy, haddatsanaa Ahmad bin Ali bin Bahr, haddatsanaa Abdullah ibnud Duuroqiy, haddatsanaa Yahya bin Ma’in ia berkata, al-Haitsam bin Jamaaz al-Hanafiy beliau tinggal di Bashroh  dhoif.

Haddatsanaa Muhammad bin Ali, haddatsana Utsman bin Sa’id, aku bertanya kepada Yahya dari al-Haitsam bin Jamaaz ia berkata, ‘laisa bisyain’.

Haddatsanaa Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz, haddatsanaa ‘Abbaas ia berkata, aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata, al-Haitsam bin Jamaaz dhoif. Dalam riwayat lain, al-Haitsam tukang cerita yang tinggal di Bashroh, tidak ada apa-apanya, meriwayatkan darinya Husyaim.

Haddatsanaa ibnu Abi ‘Ishmah, haddatsanaa Abu Thoolib aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang al-Haitsam bin Jamaaz?, beliau menjawab : ‘al-Haitsam mungkarul hadits, tinggalkan haditsnya’.

Haddatsanaa ibnu Hammad ia berkata, as-Sa’diy berkata, al-Haitsam bin Jamaaz ia tukang cerita yang dhoif, meriwayatkan dari Tsaabit Mu’aadhiil….-selesai-.

Kemudian ikhwaan kita ini menyebutkan sanad lain, namun didalam sanadnya ada perowi yang bernama Kultsuum bin Juusyan, seorang perowi dhoif juga. Sehingga kesimpulannya, riwayat yang pertama ini, berporos kepada sanadnya al-Haitsam dan Kultsuum dan keduanya adalah perowi yang lemah.

Pendhoifan ini juga dikuatkan oleh fadhilatus syaikh Yahya bin Ali al-Hajuri, sebagaimana dinukil oleh salah seorang ikhwan berikut :

هذا الأثر ذكر عن الحسن البصري رحمه الله واخرجه ابن الجعد فى مسنده وابن أبي الدنيا فى العيال من طريق الهيثم بن جماز . والحديث ضعيف جداً وآفته الهيثم بن جماز والأثر يطول تخريجه والتنبيه أن البعض يذكره أنه حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم وهو ليس بصحيح وانما هو أثر عن الحسن ولايصح أيضاً .

والذي يصح عنه رحمه الله هو قوله : جعله الله مباركا عليك وعلى أمة محمد كما بين ذلك الشيخ العلامة أبو عبدالرحمن يحيى بن علي الحجوري حفظه الله في تحقيقه لكتاب أصول الأماني بأصول التهاني للحافظ السيوطي رحمه الله, ولينتبه لذلك

Atsar ini disebutkan oleh al-Hasan al-Bashri yang diriwayatkan oleh ibnul Ja’di dalam Musnadnya dan Ibnu Abid Dunya dalam “al-‘Iyaal” dari jalan al-Haitsam bin Jamaaz. Hadits ini sangat lemah sekali, kesalahan ada pada al-Haitsam bin Jamaaz.

Atsar ini telah dibahas lengkap oleh sebagian ulama dan mereka menyabutkan bahwa hadits ini berasal dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, namun itu tidak benar, yang benar adalah ini atsar dari al-Hasan, namun tidak shahih juga.

Yang shahih dari al-Hasan adalah ucapannya : “semoga Allah menjadikannya sebagai keberkahan atasmu dan kepada umat Muhammad juga”, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh syaikh al-‘Alamah Abu Abdir Rokhman Yahya bin Ali al-Hajuriy dalam tahqiq kitab ushul Amaaniy bi Ushuulit Tahaaniy karya al-Hafidz as-Suyuthi, beliau telah menjelaskannya disana. nJa’itsam dan Kultsuum dan keduanya adalah perowi yang lemah.

Sumber : http://www.ghamid.net/vb/showthread.php?t=35002

Ucapan al-Hasan yang diisyaratkan oleh ikhwan kita tadi, telah diriwayatkan juga dari Ayyub bin Abi Taimiyyah rodhiyallahu anhu dengan sanad yang kemungkinaan besar hasan. Sedangkan atsar al-Hasan, ikhwanunaa Fikri Zainal Abidin, menilai sanadnya laa ba’saa bih.

Alaa Kulli Haal, syariat telah menganjurkan umatnya agar mereka memberikan ucapan sukacita atas kelahiran seorang anak saudaranya, sebagai perwujudan rasa kasih sayang diantara mereka. Bagaimana tidak Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa juga bergembira dan menyampaikan kabar gembira ini kepada para Nabi-Nya, ketika mereka diberikan anak, sebagaimana Firman-Nya :

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh (QS. Ali Imraan : 39).

إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat[195] (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah) (QS. Ali Imraan : 39).

Ketika Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa memberitahu Nabi Ibrohim alaihi salam tentang kelahiran Nabi Ishaq alaihi salam, Allah berfirman :

قَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ

Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim (QS. Al Hijr : 53).

 

Kesimpulan :

  1. Syariat sangat menganjurkan seorang Muslim untuk menyampaikan tahni’ah (ucapan sukacita) kepada saudaranya yang baru saja dikaruniai anak.
  2. Tidak ada lafadz ucapan tahni’ah atas kelahiran anak dari Nabi sholallahu alaihi wa salam yang shahih.
  3. Terdapat lafadz ucapan tahni’ah dari sahabat Abu Ayyub bin Abi Taimiyyah rodhiyallahu anhu dan Hasan al-Bashri –rohimahullah-, dengan sanad yang insya Allah hasan yakni ucapan : “semoga Allah menjadikan anakmu suatu keberkahan kepadamu dan juga kepada umat Muhammad sholallahu alaihi wa salam”.
  4. Adapun doa yang masyhur sebagaimana hadits yang kami bahas diatas, maka tidak shahih baik dari Nabi sholallahu alaihi wa salam maupun dari Hasan al-Bashri. Namun jika seseorang meyakini bahwa ucapan tersebut bukan dari Nabi sholallahu alaihi wa salam, lalu ia ucapkan kepada saudaranya yang baru memilki anak, maka kami harap ini masuk kedalam keumuman untuk mengucapkan sukacita atas kelahiran bayi
  5. Begitu juga dengan ucapan balasan kepada saudaranya yang telah mengungkapkan sukacita atas kelahiran anaknya, maka sama tidak shahih. Cukup baginya mengucapkan “Jazakallah khoir”, berdasarkan keumuman sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

مَنْ صُنِعَ إِلَيْه مَعْرُوفٌ فَقالَ لِفاعِلِهِ: جَزَاك اللَّهُ خَيْرًا، فَقَدْ أبْلَغَ في الثَّناء

Barangsiapa yang diberikan kebaikan, maka ucapkanlah pada orang yang berbuat baik : “Jazakallah khoir”. Maka jika ia melakukan hal tersebut, berarti telah tertunaikan balasan kebaikan kepadanya (HR. Tirmidzi, dikatakan hasan shahih olehnya).

  1. Ucapan tahni’ah atas kelahiran anak, sekurang-kurang doa kepada Allah agar dengan kehadiran anak tersebut dapat menjadi berkah kepada orang tua, keluarga, masyarakat dan agamanya. Amiin.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: