CUKUPKAH SALAM SATU KALI DALAM SHOLAT?

November 4, 2014 at 5:49 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

CUKUPKAH SALAM SATU KALI DALAM SHOLAT

 

Kali ini bidznillah kita akan membahas tentang salah satu sifat sholat Nabi sholallahu alaihi wa salam yakni terkait masalah salam, dimana salam dalam sholat adalah sebagai penutup sholat seorang Muslim, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Pembuka sholat adalah bersuci, pengharamnya adalah takbir dan yang menghalalkannya adalah salam (HR. Tirmidzi dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Namun pembahasan akan kami fokuskan kepada permasalahan apakah salam harus dengan dua kali salam yakni ke kanan dan ke kiri yang sudah rutin kita lakukan, ataukan yang wajib hanya satu kali saja, sedangkan selebihnya adalah sunnah? Para ulama kita berbeda pendapat dalam hal ini, terkait perbedaan mereka didalam memandang hadits-hadits berkaitan dengan informasi bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah melakukan salam satu kali. Sebelum kita menyebutkan perbedaan para ulama dalam menyikapi hal ini, alangkah baiknya kita memulai dengan membahas hadits-hadits terkait Nabi sholallahu alaihi wa salam melakukan salam satu kali dalam sholat, karena diharapkan dengan mengetahui kadar hadits-hadits tersebut, akan diketahui mana pendapat yang rajih dalam masalah ini.

Fiimaa na’lam, ada beberapa hadits dari jalan beberapa sahabat Nabi sholallahu alaihi wa salam yang memberikan informasi kepada kita bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pernah melakukan salam sebanyak satu kali. Diantara jalan-jalan tersebut telah disebutkan dengan baik oleh Imam Al Albani dalam kitab Ashlu Sifat Sholat Nabi dan kami akan menyebutkan dengan beberapa peringkasan kepada pembaca semuanya ditambah jalan-jalan lain yang –Alhamdulillah- penulis dapatkan diluar jalan-jalan yang telah ditulis oleh Imam Al Albani, berikut hadits-hadits yang ditulis oleh Imam Al Albani dalam kitabnya tersebut :

  1. Dari sahabat Anas bin Malik rodhiyallahu anhu, haditsnya diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Sunannya (2/179), Imam adh-Dhiyaa’ul Maqdisiy dalam al-Ahaadits al-Mukhtarooh dan Imam Thabrani dalam al-Ausath (2/32) semuanya dari jalan Mu’adz ibnul Mutsanaa, haddatsanaa Abdullah bin Abdul Wahhaab, haddatsanaa Abdul Wahhaab bin Abdil Majiid, dari Humaid, dari Anas rodhiyallahu anhu beliau berkata :

أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان يسلم تسليمة واحدة

Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pernah salam sebanyak satu kali salam.

Kata Imam Al Albani semua perowinya adalah para perowi Bukhori, kecuali Mu’adz ibnul Mutsana, beliau perowi tsiqoh, dikatakan demikian oleh Imam al-Khothiib al-Baghdadi dalam Tarikhnya (13/136).

Sehingga menurut Imam Al Albani hadits ini shahih.

  1. Dari sahabat Salamah ibnul Akwa’ Rodhiyallahu ‘anhu, haditsnya diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunannya (no. 920) dan selainnya bahwa Ibnul Akwa’ Rodhiyallahu ‘anhu berkata :

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى، فَسَلَّمَ مَرَّةً وَاحِدَةً

Saya melihat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam sholat, lalu Beliau salam sebanyak satu kali.

Namun didalam sanadnya ada seorang perowi yang bernama Yahya bin Roosyid, seorang perowi dhoif, sehingga hadits ini dhoif.

  1. Dari sahabat Sahal bin Sa’aad as-Saa’idiy Rodhiyallahu ‘anhu, haditsnya diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah juga (no. 918) dan selainnya, bahwa Sahal Rodhiyallahu ‘anhu berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلَّمَ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً تِلْقَاءَ وَجْهِهِ

Bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam salam sebanyak satu kali kearah depan.

Namun dalam sanadnya ada perowi yang bernama Abdul Muhaimin, yang dikomentari oleh Imam Bukhori sebagai Mungkarul Hadits. Jarh Imam Bukhori dengan lafadz tersebut adalah jarh yang sangat keras, sehingga hadits ini dhoif jiddan (sangat lemah).

  1. Dari sahabat Samurah bin Jundub Rodhiyallahu ‘anhu, haditsnya diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Sunannya (no. ), bahwa Samurah Rodhiyallahu ‘anhu berkata :

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” يُسَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ تَسْلِيمَةً قُبَالَةَ وَجْهِهِ فَإِذَا سَلَّمَ عَنْ يَمِينِهِ سَلَّمَ عَنْ يَسَارِهِ

Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam pernah salam dalam sholat sebanyak satu kali salam keearah depan, namun jika Beliau salam ke kanan, salam juga ke kiri.

Namun didalam sanadnya ada perowi yang bernama Ruuh bin ‘Athoo’ bin Abi Maimunah, Imam Ahmad mengomentarinya sebagai mungkarul hadits. Sehingga sanad hadits ini adalah dhoifun jiddan juga.

  1. Dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, Imam Al Albani menyebutkan ada beberapa versi riwayat dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha yang marfu’ dan yang mauquf. Yang marfu’ ada 2 lafadz, yaitu :

A. Riwayat Imam Ahmad dan selainnya dengan lafadz yang panjang, namun kami ringkas :

ثم يسلم تسليمة واحدة: ” السلام عليكم “. يرفع بها صوته حتى يوقظنا

…Kemudian Nabi salam satu kali : “As-Salaamu ‘alaiku”, dengan meninggikan suaranya, hingga membangunkan kami..

Kata Imam Al Albani sanadnya shahih, begitu juga penilaian syaikh Syu’aib Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad.

B. Riwayat Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Khuzaimah dan selainnya dengan lafadz :

أن رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان يسلم في الصلاة تسليمة واحدة تلقاء وجهه

Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam pernah salam dalam sholatnya sebanyak satu kali kearah depan…

Kata Imam Al Albani sanadnya adalah para perowi Shahih Bukhori dan Muslim, namun sebagian ulama mengkritik salah satu perowinya yaitu Zuhair bin Muhammad, karena beliau memiliki hadits-hadits mungkar dan hadits ini adalah salah satunya.

Kemudian riwayat berikutnya adalah mauquf hanya kepada Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dan Imam Baihaqi dari al-Qoosim bahwa beliau berkata :

أنها كانت تسلم في الصلاة تسليمة واحدة قِبَلِ وجهها: السلام عليكم

Adalah Aisyah Rodhiyallahu ‘anha pernah salam dalam sholatnya satu kali menghadap ke depan dan berucap : “As-Salaamu ‘alaiku”.

Kata Imam Al Albani hadits mauquf ini tidak bertentangan dengan hadits yang marfu’, karena bisa jadi Aisyah Rodhiyallahu ‘anha meriwayatkan perbuatan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam dan dari jalan lain beliau Rodhiyallahu ‘anha mempraktekannya langsung.

Kemudian saya ingin menambahkan riwayat dari beberap sahabat lagi yaitu :

6. Dari Sa’ad bin Abi Waqqoosh Rodhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Imam Thahawi dalam Syarah Ma’aanil Atsar bahwa Sa’ad Rodhiyallahu ‘anhu berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ فِي آخِرِ الصَّلَاةِ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً : السَّلَامُ عَلَيْكُمْ

Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam pernah salam diakhir sholatnya sebanyak satu kali salam : “As-Salaamu ‘alaikum”.

Namun kata Imam Thahawi dalam sanad ini yaitu ad-Daroowardiy, diselisihi oleh Imam Abdullah bin Mubarok dan Muhammad bin ‘Amr yang meriwayatkan dari guru yang sama yaitu Mus’ab nim Tsaabit bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam dalam sholatnya salam sebanyak 2 kali ke kanan dan ke kiri, sebagaimana riwayat yang masyhur lainnya, sehingga Imam Thahawi mengisyaratkan akan ke-Syadz-an hadits ini.

7. dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, Abu Bakar dan Umar Rodhiyallahu ‘anhumaa secara mursal dari Hasan al-Bashri, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonaf dari jalan Wakii’ dari ar-Robii’ dari al-Hasan :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ كَانُوا يُسَلِّمُونَ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً

Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam Abu Bakar dan Umar Rodhiyallahu ‘anhumaa mereka bersalam dengan satu kali salam.

Selain mursal hadits ini memiliki kelemahan pada perowinya yaitu ar-Robii’ bin Shubaih, walaupun shoduq tapi jelek hapalannya, sehingga sanad ini dhoif.

8. Dari Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu ‘anhu secara mauquf, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah sebagaimana diatas dari jalan Sa’id bin Marzubaan ia berkata :

صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ أَبِي لَيْلَى، فَسَلَّمَ وَاحِدَةً ثُمَّ قَالَ: «صَلَّيْتُ خَلْفَ عَلِيٍّ، فَسَلَّمَ وَاحِدَةً»

Saya pernah sholat dibelakang ibnu Abi Lailaa, beliau salam satu kali lalu berkata : “aku pernah sholat dibelakang Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu ‘anhu, beliau salam satu kali”.

Namun Sa’id bin Marzubaan perowi dhoif, didhoifkan oleh Imam al-‘Uqoiliy, sehingga atsar ini dhoif.

9. Dari Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu secara mauquf, diriwayatkan dalam kitab diatas dari jalan Abdul A’laa dari Khoolid dari Anas bin Siriin dari Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu :

أَنَّهُ كَانَ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً

Beliau salam sebanyak satu kali.

Para perowi atsar ini adalah para perowi tsiqoh, perowinya Bukhori-Muslim, sehingga atsar ini shahih sesuai dengan syarat Bukhori-Muslim.

Kemudian saya dapati juga dalam riwayat Imam ibnul Mundzir dalam al-Ausath dari jalan Abdur Rozaq dari Ibnu Juraij, akhabaronii Naafi’ :

وسألته كيف كان ابن عمر يسلم إذا كان إمامكم ؟ قال : « عن يمينه واحدة ، السلام عليكم »

Saya bertanya kepada Naafi’ bagaimana Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu bersalam ketika mengimami kalian?, beliau menjawab : “ke kanan satu kali : As-Salaamu ‘alaikum”.

Para perowinya Bukhori-Muslim, dan kemudalisan Ibnu Juraij telah terangkat dengan kejelasan riwayatnya, terlebih lagi disini beliau langsung bertanya kepada gurunya yaitu Imam Naafi’.

10. Dari Abdullah bin Abi Aufa Rodhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan dalam kitab yang sama dari jalan Wakii’ dari Sulaiman bin Zaid ia berkata :

رَأَيْتُ ابْنَ أَبِي أَوْفَى، يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً

Saya melihat Ibnu Abi ‘Aufaa salam satu kali.

Namun Sulaiman bin Zaid adalah perowi dhoif yang dituduh pendusta oleh Imam Yahya bin Ma’in, sehingga atsar ini dhoifun jiddan.

Kami hanya menyortir riwayat dari para sahabat Rodhiyallahu ‘anhum Ajma’in, karena masih banyak atsar dari para Tabi’in yang menunjukkan mereka pernah sholat dengan salam satu kali. Adapun terkait pendapat ulama madzhab, maka dapat kami ringkaskan bahwa Imam Abu Hanifah dan sahabatnya Imam Abu Yusuf, berpendapat salam sebanyak dua kali, sebagaimana dinukil oleh Imam Thahawi. Madzhab malikiyyah, sebagaimana dinukil oleh Imam as-Samarqindiy dalam kitabnya Tuhfatul Fuqohaa’ mengatakan salam sebanyak satu kali kearah depan. Sedangkan madzhab Syafi’iyyah sebagaimana diwakili oleh Imam Abil Khoir dalam kitabnya al-Bayaan fii Madzhabi Imam Syafi’I berkata :

والواجب: تسليمة واحدة، وبه قال أكثر أهل العلم

Yang wajib salam sebanyak satu kali, dan ini adalah pendapatnya kebanyakan ulama.

Imam Baihaqi juga berkata yang senada, sebagaimana dinukil oleh Imam Al Albani :

وروي عن جماعة من الصحابة رضي الله عنهم أنهم سلموا تسليمة واحدة

Diriwayatkan dari sejumlah sahabat Rodhiyallahu ‘anhum bahwa mereka salam sebanyak satu kali.

Adapun madzhab Hambali maka yang masyhur salam tidak cukup dengan satu kali, namun harus dua kali, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Utsaimin dalam Syarhul Mumti’.

Pendapat yang rajih adalah yang wajib salam sebanyak satu kali, bahkan Imam Ibnul Mundzir berlebihan ketika mengatakan adanya ijma dalam masalah ini, kata beliau dalam al-Ijma’ :

أجمع العلماء على أن صلاة من اقتصر على تسليمه واحدة جائزة

Para ulama bersepakat bahwa orang yang mencukupkan salam sebanyak satu kali adalah diperbolehkan -selesai-.

Namun dengan adanya pendapat yang berbeda dari Hanafiyyah dan Hanabilah, maka membatalkan klaim ijma ini.

Kemudian tatacara salam satu kali sebagaimana atsar yang shahih dari Aisyah Rodhiyallahu ‘anha adalah dengan mengarahkan wajah kedepan atau mengikuti atsar Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu yang shahih dengan menengok kekanan. Imam as-Samarqandi dalam Tuhfatul Fuqohaa’ berkata :

وقال بعضهم: يسلم تسليمة واحدة تلقاء وجهه، وهو قول مالك، وقيل إنه قول الشافعي أيضا.

وقال بعضهم: يسلم تسليمة واحدة عن يمينه لا غير.

Sebagian ulama berkata : ‘salam satu kali kearah depan, ini adalah pendapatnya Malik dan dikatakan juga pendapatnya Syafi’I’.

Sebagian ulama lain berkata : ‘salam satu kali ke kakan tidak kearah lainnya’.

 

Catatan :

Hendaknya para Imam Masjid mensosialisasikan tatacara sholat ini dengan sesekali mereka salam satu kali ketika mengimami jama’ah sholat, agar kaum Muslimim mengenal sunnah ini. Begitu juga ini menjadi pemutus jawaban dari pertanyaan, kapan makmum masbuq berdiri untuk menyempurnakan sholatnya? Jawabanya ia dapat mulai berdiri ketika sang Imam salam satu kali –sekalipun sang Imam salam sebanyak 2 kali, ke kanan dan ke kiri-, karena salam yang pertama sudah menggugurkan hubungan sholatnya dengan sang Imam, dimana salam keduaa sang Imam adalah tambahan yang hukumnya sunnah –menurut pendapat yang rajih diatas-.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: