MENGURUT KEMALUAN SEHABIS KENCING

November 5, 2014 at 1:31 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

SELESAI KENCING, DISYARIATKAN MENGURUT KEMALUAN?

 

Sebagian ulama ketika menyebutkan adab-adab buang air, mereka menganjurkan agar seorang selesai kencing, mengurut kemaluannya sebanyak 3 kali, hal ini dimaksudkan agar air kencingnya dapat tuntas keluar tidak ada yang menetes lagi setelah dicuci. Imam Shon’ani dalam Subulus Salam berkata :

والحكمة في ذلك حصول الظن بأنه لم يبق في المخرج ما يخاف من خروجه

Hikmahnya adalah agar tidak ragu ada sisa air kencing yang belum keluar, yang dikhawatirkan nanti akan keluar lagi (jika tidak diurut-pent.).

Barangkali mereka berdalil dengan hadits bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلْيَنْتُرْ ذَكَرَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Jika kalian kencing, urutlah kemaluannya sebanyak 3 kali.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunannya (no. 326), Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. 19054) dan selainnya semuanya dari jalan Isa bin Yazdaad al-Yamaaniy dari Bapaknya ia berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “Al-Hadits”.

Para ulama menyebutkan bahwa hadits ini minimal memiliki kelemahan dari sisi sanadnya yaitu :

  1. Isa bin Yazdaad dan Bapaknya adalah dua perowi yang majhul menurut para ulama. Imam Abi Hatim dalam al-Illaal mengomentarinya :

و هو و أبوه مجهولان

Ia (Isa) dan Bapaknya (Yazdaad) adalah dua perowi majhul.

Demikian juga yang dikatakan oleh Imam Ibnu Ma’in :

لا يعرف عيسى هذا و لا أبوه

Tidak diketahui siapa Isa ini, begitu juga Bapaknya.

Imam Bukhori mengomentarinya : tidak shahih haditsnya. (lihat adh-Dhoifah karya Al Albani (no. 1621)).

  1. Sebagian ulama mengatakan bahwa Yazdaad bukan seorang sahabat, sehingga haditsnya mursal. Oleh karenanya Imam Abu Dawud memasukkan hadits ini dalam al-Maroosiil (no. 4). Imam Abu Hatim dalam al-Ilaal berkata :

و ليس لأبيه صحبه

Bapaknya bukan sahabat.

Imam Al Albani dalam adh-Dhoifah (no. 1621) berkata :

و كان أبوه لم يصرح بسماعه من النبي صلى الله عليه وسلم

Bapaknya tidak jelas mendengarnya dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam.

Oleh sebab itu para ulama tidak ragu lagi untuk mendhoifkan hadits ini, Imam Nawawi dalam al-Majmu berkata :

وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ ضَعِيفٌ وقال الاكثرون هو مرسل

Para ulama bersepakat bahwa hadits ini dhoif dan kebanyakan mereka mengatakan hadits ini juga mursal.

Ini adalah dari sisi sanad, adapun yang menunjukkan kelemahannya dari sisi matan yaitu apa yang dikatakan oleh Imam ibnu Baz dalam Majmu Fatawanya :

ومما يدل على ضعفه أن هذا العمل يسبب الوسوسة والإصابة بالسلس، فالواجب ترك ذلك .

Yang juga menunjukkan kelemahan hadits ini adalah beramal dengannya menyebabkan rasa waswas dan bisa terkena penyakit beser, maka wajib untuk meninggalkan beramal dengan hadits ini.

Terkait hukum mengamalkan hadits ini, memang betul sebagian ulama menganjurkannya, seperti Imam Abil Khoir dalam al-Bayaan, dimana beliau berkata :

وإذا بال، تنحنح ومسح ذكره من مجامع عروقه؛ لما روي: أن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قال: «إذا بال أحدكم، فلينتر ذكره ثلاث مرات» . ولأنه يخرج إن كان هناك بقية.

Jika kencing mengusap dan mengurut kemaluan dari seluruh uratnya, berdasarkan hadits (diatas). Karena akan keluar air kencing, jika masih ada sisanya.

Namun yang benar adalah apa yang dikatakan oleh Imam bin Baz sebelumnya dan kami tambahkan penjelasan asy-Syaikh Shoolih bin Abdil Aziz Alu Syaikh dalam Syarah Bulughul Marom :

لا يشرع على الصحيح أن ينتر الذكر إذا أراد أن ينتره في بعض الأحيان لغرض لا للعبادة، والاستنزاه، والتقرب بذلك، فهذا أمر بحسب الحال، لكن أن يعتاد عليه، وأن ينتره دائما، وأنه يرى أنه لا يستبرئ، ولا يستنزه حتى يفعل ذلك، فهذا ليس بجيد

Tidak disyariatkan menurut pendapat yang benar untuk mengurut kemaluan. Jika ia ingin mengurutnya sesekali untuk tujuan tertentu bukan karena ibadah, ia ingin membersihkannya, maka ini adalah perkara yang melihat situasi dan kondisi.

Namun jika ia menjadikan hal tersebut sebagai sebuah kebiasan, ia senantiasa mengurutnya dan berpandangan bahwa tidak akan bersih dan suci, kecuali jika diurut kemaluannya, maka ini tidak bagus.

Syaikh Shoolih sebelumnya menukil ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang membid’ahkan orang yang mengurut kemaluan sebagai bagian dari ibadah, kata beliau :

ن التعبد بالنتر بدعة

Sesungguhnya beribadah dengan mengurut kemaluan (selepas kencing) adalah bid’ah. (sumber : http://www.taimiah.org/index.aspx?function=item&id=936&node=2886).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: